Menuju konten utama

Kenapa Kita Suka Beli Make Up Berlebihan? Ketahui Alasannya

Suka menumpuk skincare dan make up? Simak alasan di balik kebiasaan beli make up berlebihan serta tips agar tetap mindful saat belanja produk kecantikan.

Kenapa Kita Suka Beli Make Up Berlebihan? Ketahui Alasannya
Ilustrasi Beli Make Up. foto/istockphoto

tirto.id - Sebagian dari kita mungkin pernah kalap beli make up, menumpuk berbagai shade dan merek hanya untuk satu jenis produk. Entah sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan atau produk yang akhirnya tak terpakai, kebiasaan beli make up berlebihan ini seolah tak bisa dihilangkan.

Make up maupun skincare memang sudah jadi kebutuhan penting bagi kaum hawa karena setiap wanita tentu ingin tampil cantik memesona. Namun, tak sedikit orang yang tanpa sadar memiliki koleksi produk jauh lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Laci meja rias kerap dipenuhi berbagai lipstik dengan warna yang tak jauh beda, palet eyeshadow yang jarang tersentuh, berbagai varian moisturizer atau foundation yang belum sempat dipakai.

Meski beberapa produk masih layak digunakan, kehadiran produk baru sering membuat koleksi lama terlupakan dan terus bertambah seiring waktu. Kebiasaan ini akhirnya membuat meja rias penuh dengan berbagai produk kecantikan yang menumpuk.

Dikutip dari situs PR Newswire, Stowaway Cosmetics pernah melakukan survei dan hasilnya adalah 75% konsumen tidak pernah menghabiskan produk make up mereka, bukan karena produknya kedaluwarsa, tapi karena memang tidak menggunakannya.

Fakta lainnya adalah rata-rata seseorang memiliki 40 produk make up, tapi hanya 5 produk yang benar-benar dipakai dan dibawa setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar koleksi makeup sering kali hanya tersimpan tanpa dimanfaatkan secara maksimal.

Lantas, kenapa hal ini bisa terjadi? Dan adakah cara untuk menghentikan kebiasaan membeli make up berlebihan ini?

Kenapa Kita Suka Beli Make Up dan Skincare Berlebihan?

Ilustrasi Kosmetik

Ilustrasi Beli Make Up. foto/istockphoto

Membeli make up atau skincare memang sah-sah saja, bahkan dalam jumlah banyak sekalipun. Namun, ketika sudah terlalu banyak produk yang menganggur ketimbang yang digunakan secara rutin, maka itu sudah masuk kategori berlebihan.

Situs Pop Sugar mengungkapkan beberapa fakta menarik bahwa pembelian yang berlebihan itu bukan karena kita butuh, tapi karena alasan-alasan berikut:

1. Euphoria Moment

Membeli make up bisa memberi perasaan senang ketika mencoba produk baru dan melihat hasilnya di cermin. Kita mungkin pernah membeli make up dan langsung merasa cantik setelah mencobanya hingga merasa sangat senang.

Hal ini berkaitan dengan dopamin, zat kimia di otak yang memunculkan rasa euforia. Di kemudian hari, kita akhirnya terus membeli produk baru karena terobsesi untuk menciptakan kembali “momen ajaib” tersebut.

Sayangnya, perasaan puas yang dulu pernah muncul sering kali tidak terulang lagi. Alhasil, belanja kosmetik menjadi perilaku kompulsif mirip kecanduan. Kita terus membeli hanya untuk mengejar dopamin atau rasa senang sesaat yang sebenarnya sulit ditangkap kembali.

2. Standar Kesempurnaan Media Sosial

Kita hidup di era gratifikasi instan yang didorong oleh pengaruh selebriti, tren kecantikan, dan media sosial. Semuanya seolah mendikte bahwa kita membutuhkan produk A, B, C, dan seterusnya untuk mencapai wajah yang "sempurna”.

Tekanan ini menciptakan mindset bahwa kecantikan adalah sesuatu yang bisa dibeli. Padahal, kesempurnaan tersebut tidak nyata dan tidak pernah ada.

Namun, narasi media sosial, tren, dan berbagai promosi berhasil meyakinkan konsumen bahwa mereka memang butuh produk baru, bahwa kesempurnaan bisa dicapai lewat satu transaksi pembelian lagi.

Ilustrasi Kosmetik

Ilustrasi Kosmetik. FOTO/iStockphoto

3. Fenomena Lipstick Effect

Secara psikologis, make up sering dijadikan "obat" untuk melupakan masalah atau kesedihan. Banyak orang membeli kosmetik untuk meningkatkan mood dan membuat diri merasa lebih baik, terutama saat sedang stres atau tidak percaya diri.

Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect dan hal ini pernah diteliti secara ilmiah dalam jurnal Social and Psychological Determinants of Consumption: Evidence for the Lipstick Effect During the Great Recession.

Studi ini membuktikan bahwa pengeluaran terkait kosmetik meningkat selama krisis ekonomi. Dalam masa sulit, seorang wanita cenderung mengganti pengeluaran dari barang mahal ke “kemewahan kecil” seperti kosmetik sebagai cara untuk tetap mendapatkan rasa senang atau self-reward.

Make up akhirnya menjadi pelarian dari rasa tidak aman dan terus membelinya, seolah-olah hidup kita bergantung pada produk tersebut untuk bisa menghadapi dunia.

4. Ilusi untuk Memiliki Banyak Pilihan

Banyak orang mengoleksi berbagai eyeshadow palette atau lipstik dengan beragam shade bukan karena benar-benar menggunakan semua warnanya, melainkan karena mereka merasa sedang membeli "opsi”.

Ada perasaan aman saat mengetahui bahwa mereka memiliki banyak pilihan. Padahal, kenyataannya kebanyakan orang hanya menggunakan beberapa warna yang sama setiap hari.

Membeli banyak palet atau produk lain sering kali merupakan manifestasi dari harapan bahwa "suatu hari nanti saya akan tampil berbeda", meskipun pada akhirnya kita tetap terjebak dalam rutinitas yang sama.

5. Kurangnya Kesadaran Diri dan FOMO

Kebiasaan membeli secara berlebihan sering terjadi karena kita tidak memperhatikan suasana hati saat berbelanja. Tanpa kesadaran diri (mindfulness), kita terjebak dalam siklus membeli hanya untuk sekadar membeli, dan ujung-ujungnya hanya menyisakan penyesalan.

Apalagi jika ada produk make up yang limited edition atau dijual dengan promo terbatas. Hal ini berkaitan dengan konsep scarcity, yaitu ketika barang yang dianggap langka atau terbatas cenderung terasa lebih berharga sehingga memicu pembelian impulsif atau penimbunan barang.

Kelangkaan atau promo terbatas membuat seseorang menjadi takut kehilangan atau ketinggalan tren (Fear of Missing Out/FOMO). Alhasil, tanpa pertimbangan yang rasional, pembelian tetap dilakukan hingga make up semakin menumpuk.

Cara Agar Tetap Mindful dan Tidak Belanja Make Up Berlebihan

Ilustrasi make up

Ilustrasi make up. FOTO/iStockphoto

Membeli make up dan skincare sering kali terasa menyenangkan, apalagi ketika ada produk baru yang sedang tren atau ada diskon besar. Namun, tanpa disadari kebiasaan ini bisa membuat koleksi produk kecantikan menumpuk dan tidak semuanya terpakai.

Agar tetap bijak dalam berbelanja, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan beli make up berlebihan:

1. Menyadari Peran Make Up

Hal pertama yang perlu diterapkan adalah berlatih untuk menyadari tentang peran make up yang sebenarnya. Selain sebagai kebutuhan, kita bisa mulai memperlakukan make up sebagai "hadiah" (self reward) atas kerja keras, bukan sebagai pelarian atau "obat" saat emosi sedang tidak stabil.

Penting juga untuk menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari membeli produk baru. Kita harus menerima bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri yang autentik sebenarnya berada di luar toko kosmetik.

Alih-alih terus mengejar "high" dari produk terbaru yang dijanjikan tren dan media sosial, ada baiknya kita mulai belajar melepaskan ketergantungan emosional pada kosmetik. Dengan demikian, kita bisa berhenti menumpuk make up yang pada akhirnya hanya akan menganggur.

2. Periksa Kembali Koleksi Lama

Sebelum membeli produk baru, cobalah mengecek kembali koleksi make up atau skincare yang sudah ada di rumah. Tidak jarang seseorang membeli produk dengan fungsi atau warna yang sebenarnya sudah dimiliki sebelumnya.

Dengan memeriksa kembali isi meja rias atau tas make up, kita bisa mengetahui produk mana yang masih layak digunakan dan mana yang perlu dihabiskan terlebih dahulu.

Cobalah untuk membiasakan diri menggunakan produk yang ada hingga benar-benar habis sebelum melakukan pembelian baru. Selain membantu mengurangi pemborosan, cara ini juga membuat kita lebih menghargai produk yang sudah dibeli.

Ilustrasi kosmetik

Ilustrasi kosmetik. Getty Images/iStockphoto

3. Buat Daftar Kebutuhan sebelum Berbelanja

Salah satu cara paling efektif untuk menghindari pembelian impulsif adalah membuat daftar kebutuhan terlebih dahulu. Tuliskan produk apa saja yang benar-benar dibutuhkan, misalnya karena sudah hampir habis atau memang belum dimiliki.

Dengan adanya daftar tersebut, kita akan lebih fokus pada produk yang diperlukan dan tidak mudah tergoda oleh promosi atau produk yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kebiasaan beli make up seperti ini juga bisa membantu menjaga pengeluaran tetap terkontrol.

4. Tunda Keputusan Membeli selama Beberapa Waktu

Jika tertarik dengan suatu produk, cobalah untuk tidak langsung membelinya. Beri waktu jeda selama beberapa hari sebelum benar-benar memutuskan untuk membeli produk tersebut atau tidak.

Menunda keputusan membeli dapat membantu kita untuk mengevaluasi kembali apakah produk tersebut memang dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Setelah beberapa waktu, sering kali rasa ingin membeli produk akan berkurang dan ini menandakan bahwa kita tidak membutuhkannya.

5. Tidak Asal Ikut Tren Kecantikan

Tren kecantikan bisa berubah dengan sangat cepat. Setiap saat selalu ada produk baru yang viral dan terlihat menarik untuk dicoba. Memang tak ada salahnya untuk mencoba, tapi kembali lagi ke poin-poin sebelumnya, kita harus mampu mengontrol diri.

Selain itu, tidak semua tren cocok untuk setiap orang sehingga kita pun harus selektif dalam mengikuti tren. Tidak perlu FOMO dan sebaiknya fokus pada produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan rutinitas kecantikan kita sehari-hari.

Itulah beberapa alasan tentang mengapa kita sering membeli make up berlebihan. Memahami bahwa kepuasan belanja dapat bersifat sementara akan membantu kita memutus rantai konsumsi yang tidak perlu.

Dengan menjadi lebih sadar akan pemicu emosional di balik setiap pembelian, kita juga akan menyelamatkan dompet dari pemborosan.

Butuh informasi menarik seputar makeup? Temukan tips hingga rekomendasi produk pilihan melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Make Up

Baca juga artikel terkait MAKE UP atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani