tirto.id - Di antara sekian banyak merek skincare, produk perawatan kulit dengan klaim natural selalu berhasil menarik perhatian konsumen. Ada anggapan bahwa memakai skincare alami pasti lebih baik dan aman bagi kulit, tapi benarkah demikian?
Seiring dengan meningkatnya kesadaran untuk merawat kulit, banyak orang yang kini lebih selektif dalam memilih skincare. Konsumen pun cenderung memilih produk dengan kandungan bahan-bahan alami, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif.
Banyak yang percaya bahwa bahan-bahan alami pastinya ramah bagi kulit, formulanya lebih lembut, dan minim risiko iritasi dibandingkan dengan bahan kimia sintetis. Ini menimbulkan keyakinan bahwa skincare alami lebih aman untuk pemakaian sehari-hari.
Hal ini pula yang menjadi alasan kenapa label “natural”, “organik”, atau “100% alami” pada skincare selalu jadi nilai plus tersendiri dan jadi pilihan banyak orang. Hal ini turut didorong oleh tren clean beauty yang mengedepankan penggunaan bahan-bahan tidak berbahaya.
Namun, banyak orang lupa bahwa kecocokan dan efektivitas skincare tidak hanya ditentukan oleh kandungan di dalamnya, tapi juga oleh kondisi kulit. Bahkan, bahan alami yang tidak berbahaya bagi sebagian orang, kemungkinan tetap bisa menimbulkan reaksi negatif bagi orang lain.
Apa Arti Skincare Alami Sebenarnya?

Istilah skincare alami sering muncul di produk kecantikan maupun perawatan kulit. Secara umum, skincare alami merujuk pada produk yang mengandung bahan-bahan yang berasal dari alam, misalnya ekstrak tanaman, minyak esensial, madu, atau yang lainnya.
Namun, karena tidak ada definisi pasti dari badan resmi seperti FDA di Amerika Serikat, istilah “alami” bukan jaminan mutlak tentang komposisi atau manfaat produknya.
Dikutip dari situs WebMD, ahli dermatologi dari Miami, Manjula Jegasothy, MD, menjelaskan bahwa klaim “alami” ini juga bisa sekadar istilah marketing dan tidak ada jaminan dari sisi medis/ilmiah.
“Siapa pun bisa menggunakan istilah ‘alami’ pada produk,” kata Manjula Jegasothy, MD. “Istilah itu seharusnya berarti bahan-bahannya berasal dari sumber organik dan bukan buatan manusia, tapi bisa juga merupakan istilah pemasaran yang luas.”
Sementara itu, dermatolog Joel Schlessinger, MD, mengungkapkan bahwa istilah “alami” memang ambigu karena tidak adanya regulasi yang mengaturnya.
“Tidak ada definisi standar untuk istilah-istilah tersebut,” ungkapnya. “Tanpa regulasi, tidak ada (ketentuan terkiat) persentase bahan yang harus alami.”
Artinya, sampai saat ini belum ada standar baku atau aturan resmi yang mengatur berapa persen kandungan suatu produk skincare harus berasal dari bahan alami agar boleh disebut “natural”. Karena tidak diatur secara ketat, kata “alami” di label skincare bisa sangat luas.
Situs Healthline menjelaskan bahwa setiap perusahaan bisa menetapkan sendiri apa yang mereka anggap sebagai “alami”, dan istilah ini tidak selalu berarti seluruh bahan produk benar-benar murni dari alam.
Ada pula istilah tambahan seperti naturally derived (bahan alami yang diolah) atau nature-identical (bahan yang dibuat di laboratorium, tapi identik dengan yang ditemukan di alam). Bahan-bahan seperti ini bisa saja disematkan pada produk yang diklaim alami.
Jadi, skincare alami tidak selalu berarti terbuat dari bahan yang benar-benar murni dari alam. Klaim “natural” bisa sekadar strategi pemasaran yang menarik bagi konsumen, bukan jaminan kualitas atau keamanan yang lebih tinggi.
Risiko Bahan Alami pada Skincare yang Perlu Diwaspadai

Skincare dengan label “alami” tidak otomatis berarti bebas risiko. Ini disebabkan kulit setiap orang berbeda dan beberapa komponen alamiah juga bisa memicu reaksi yang tidak diinginkan pada sebagian orang. Berikut beberapa contoh risiko dari penggunaan bahan-bahan alami dalam skincare:
1. Alergi dan Dermatitis Kontak
Salah satu risiko paling umum dari bahan alami adalah terjadinya reaksi alergi atau dermatitis kontak, yaitu reaksi inflamasi ketika kulit bersentuhan dengan suatu alergen.Dikutip dari Healthline, minyak esensial seperti lavender, tea tree, atau peppermint telah dikaitkan dengan reaksi alergi meskipun bahan-bahann ini termasuk alami dan dianggap aman.
Reaksi alergi yang terjadi bisa berupa kemerahan, gatal, atau ruam. Alergi ini dapat terjadi karena senyawa kompleks dalam bahan tersebut dapat memicu sistem imun seseorang yang sensitif.
2. Iritasi Kulit
Situs WebMD mengungkapkan bahwa zat alami dari bahan-bahan organis juga bisa bersifat iritan, sama seperti zat sintetis, tergantung bagaimana kulit meresponnya.Beberapa bahan alami bisa menyebabkan iritasi, terutama jika digunakan dalam konsentrasi tinggi atau tanpa pengencer. Misalnya, penggunaan minyak esensial secara langsung (undiluted) di kulit bisa menyebabkan sensasi terbakar, perih, atau kulit menjadi kering.
3. Reaksi Foto-toksik
Beberapa ekstrak tumbuhan, terutama citrus oils (misalnya dari jeruk, lemon, jeruk nipis, atau bergamot), bisa menimbulkan reaksi negatif jika diaplikasikan dan terpapar sinar matahari.Bahan-bahan alami seperti ini diketahui bersifat photosensitive atau phototoxic. Artinya, bahan ini dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar UV dan meningkatkan risiko sunburn atau perubahan pigmen setelah terpapar cahaya matahari.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa skincare alami tidak selalu aman bagi kulit. Tidak seperti bahan sintetis yang dirancang dengan komposisi konsisten, bahan alami memiliki komponen kimia yang jumlahnya bisa sangat bervariasi tergantung bagaimana tanaman tumbuh, dipanen, dan diolah.
Variasi ini dapat memengaruhi efek bahan tersebut pada kulit dan membuat reaksi lebih sulit diprediksi. Selain itu, bahan alami mentah yang tidak diproses dengan baik juga masih bisa terkontaminasi mikroba atau logam berat jika proses kontrol kualitasnya kurang ketat.
Skincare Alami vs Sintetis: Mana yang Lebih Aman untuk Kulit?

Manakah di antara skincare alami dan sintetis yang lebih aman bagi kulit? Tidak ada jawaban pasti terkait pertanyaan ini karena kecocokan skincare bisa dipengaruhi banyak hal, bukan sekadar alami atau sintetis.
Anggapan bahwa bahan alami selalu lebih aman daripada bahan sintetis sebenarnya adalah sebuah miskonsepsi. Bahan alami, meski kaya akan nutrisi langsung dari alam, tetap berpotensi memicu reaksi alergi atau iritasi, terutama pada kulit sensitif.
Sebaliknya, bahan sintetis atau bahan kimia juga tidak selalu berbahaya. Hal ini karena bahan sintetis umumnya dikembangkan di laboratorium melalui proses pengujian ketat untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Jadi, keamanan sebuah produk skincare tidak bisa ditentukan oleh dari mana bahan tersebut berasal, karena bahan alami sekali pun bukan jaminan.
Alih-alih memilih produk berdasarkan label “alami” atau “sintetis”, konsumen disarankan untuk lebih fokus pada faktor lain, mulai dari jenis bahan aktif, formulasi, konsentrasi, serta bagaimana kecocokannya dengan kondisi kulit masing-masing individu.
Faktor yang Menentukan Keamanan Skincare untuk Kulit

Keamanan sebuah produk skincare tidak hanya ditentukan oleh apakah ia “alami” atau “sintetis”. Ada sejumlah faktor penting lain yang memengaruhi seberapa aman suatu produk pada kulit.
Mengabaikan salah satu faktor ini bisa menyebabkan reaksi negatif seperti iritasi, alergi, atau bahkan kerusakan lapisan pelindung kulit. Berikut beberapa faktor yang menentukan keamanan sebuah produk:
1. Komposisi dan Konsentrasi Bahan Aktif
Kandungan bahan aktif seperti retinol, asam salisilat, atau vitamin C perlu diperhatikan bukan hanya dari jenis atau asalnya, tapi juga berapa konsentrasinya dalam formulanya. Bahan aktif dalam konsentrasi tinggi bisa efektif, tapi juga berisiko menyebabkan iritasi jika tidak digunakan dengan benar.2. Jenis dan Sensitivitas Kulit Pengguna
Tidak semua kulit bereaksi sama terhadap suatu produk. Kulit yang sensitif, kering, atau yang memiliki kondisi seperti rosacea atau eksim akan lebih rentan terhadap iritasi dari bahan tertentu, bahkan yang alami sekalipun.3. Bahan Tambahan
Produk skincare sering mengandung pengawet, pewangi, atau aditif lain untuk menjaga stabilitas maupun aroma produk. Namun, komponen seperti parfume atau pengawet tertentu dapat menjadi pemicu iritasi atau alergi bagi sebagian orang.4. Integritas Formulasi dan Stabilitas Produk
Tidak hanya bahan yang aman, tapi cara suatu produk difomulasikan dan distabilkan juga penting. Produk yang tidak distabilkan dengan baik bisa mengalami degradasi bahan aktif seiring waktu atau bahkan terkontaminasi mikroba jika terbuka atau disimpan tidak tepat.5. Kesesuaian dengan Tujuan Perawatan dan Cara Pemakaian
Selalu pertimbangkan apakah produk yang dipilih cocok dengan tujuan perawatan kulit (misalnya anti-aging, acne, hidrasi, dll). Memilih produk yang tidak sesuai dengan target permasalahan kulit juga bisa menimbulkan ketidakcocokan.Selain itu, perhatikan pula cara pemakaiannya. Pemakaian yang salah juga bisa menyebabkan kerusakan pada kulit, misalnya memakai produk eksfoliasi atau retinol pada siang hari dan tanpa perlindungan sunscreen. Alih-alih menyehatkan, pemakaian produk ini justru tidak aman bagi kulit.
6. Uji Klinis dan Penelitian Ilmiah di Balik Produk
Meski tidak memberikan jaminan 100%, produk yang telah melalui uji dermatologis atau penelitian ilmiah dapat memberikan tingkat keamanan yang lebih tinggi karena klaim dan efektivitasnya didukung data.Banyak ahli menyarankan untuk lebih memilih produk dengan dukungan bukti ilmiah, lolos uji dermatologis, atau direkomendasikan dari profesional kulit ketimbang hanya mengikuti tren atau klaim pemasaran.
Tips Memilih Skincare yang Aman Sesuai Jenis Kulit

Memilih skincare yang aman tidak bisa disamakan untuk semua orang karena setiap jenis kulit memiliki kebutuhan dan tingkat sensitivitas yang berbeda. Produk yang cocok untuk satu orang belum tentu aman atau efektif untuk orang lain. Berikut beberapa tips memilih skincare yang aman untuk sesuai jenis kulit:
1. Kenali Jenis Kulit Terlebih Dahulu
Langkah paling dasar dan paling penting adalah mengetahui jenis kulit sendiri, apakah termasuk normal, kering, berminyak, kombinasi, atau sensitif. Setiap jenis kulit memiliki kebutuhan dan perawatan yang berbeda. Mengetahui jenis kulit dan kebutuhannya dapat meminimalkan risiko atau efek samping skincare.2. Perhatikan Daftar Kandungan/Komposisi Bahan
Jangan hanya tergiur klaim “alami” atau “untuk semua jenis kulit”. Selalu baca urutan bahan pada kemasan. Bahan dengan konsentrasi tertinggi biasanya tercantum di bagian awal, diikuti dengan bahan-bahan berikutnya dengan konsentrasi lebih rendah.Jika memiliki kulit sensitif atau berjerawat, hindari kandungan yang berpotensi memicu iritasi seperti alkohol tinggi, fragrance, atau essential oil tertentu.
3. Pilih Produk Sesuai Masalah Kulit Utama
Setiap produk diformulasikan untuk tujuan tertentu, seperti mengatasi jerawat, kulit kusam, atau tanda penuaan. Gunakan skincare yang memang dirancang untuk masalah kulit yang dimiliki agar tidak menumpuk bahan aktif yang tidak diperlukan dan justru berisiko mengiritasi kulit.4. Lakukan Patch Test Sebelum Pemakaian Rutin
Sebelum menggunakan produk baru secara menyeluruh, lakukan patch test dengan mengoleskan sedikit produk di area kulit yang tersembunyi, seperti belakang telinga atau lengan bagian dalam.Tunggu hingga beberapa jam atau sesuai dengan durasi produk tersebut biasa diaplikasikan. Cara ini membantu mengetahui apakah kulit bereaksi negatif sebelum produk digunakan ke seluruh wajah.
5. Perhatikan Kandungan Aktif dan Konsentrasinya
Bahan aktif seperti retinol, AHA, BHA, atau vitamin C memang efektif, tapi bisa menimbulkan iritasi jika digunakan tidak sesuai kondisi kulit. Untuk pemula atau kulit sensitif, sebaiknya mulai dari konsentrasi rendah dan tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi kulit.6. Pastikan Produk Terdaftar di BPOM
Skincare yang aman seharusnya telah terdaftar dan memiliki izin edar dari BPOM. Produk yang terdaftar BPOM berarti telah melalui proses evaluasi terkait keamanan bahan, klaim produk, serta standar produksi.Hal ini penting untuk meminimalkan risiko penggunaan produk ilegal atau mengandung bahan berbahaya yang dapat merusak kulit dalam jangka panjang.
Demikian penjelasan terkait skincare alami yang banyak beredar di pasaran. Dapat disimpulkan bahwa skincare alami tidak selalu aman bagi kulit karena ada banyak faktor yang memengaruhi keamanan sebuah produk.
Oleh sebab itu, konsumen perlu bersikap lebih kritis dan tidak hanya terpaku pada klaim “alami” dari sebuah merek, tapi juga memahami kandungan, jenis kulit, serta legalitas produk yang digunakan.
Butuh informasi menarik lain tentang perawatan kulit? Temukan rekomendasi produk, tips yang bermanfaat, dan info lain seputar skincare di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































