Menuju konten utama

Benarkah Ada Salju Asli di Dieng? Simak Fakta-Fakta Ilmiahnya

Keberadaan embun upas atau salju Dieng menjadi perhatian banyak masyarakat. Simak fakta-fakta ilmiah berikut.

Benarkah Ada Salju Asli di Dieng? Simak Fakta-Fakta Ilmiahnya
ilustrasi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fenomena embun upas kerap menyelimuti Dataran Tinggi Dieng. Banyak yang menyebut sebagai "salju Dieng". Padahal, embun upas dan salju merupakan dua fenomena yang berbeda.

Embun upas di Dataran Tinggi Dieng biasa terjadi pada musim kemarau periode bulan Juni, Juli, dan Agustus (JJA). Meski menjadi daya tarik wisatawan, embun upas ternyata bisa menjadi racun bagi tanaman.

Tanaman kentang konon dapat layu dan mati jika embun upas mulai turun menutupi. Itu sebabnya, masyarakat di sekitar Dieng menyebut sebagai bun upas, yang berarti embun racun.

Fenomena Embun Upas di Dataran Tinggi Indonesia

Fenomena embun upas muncul di dataran tinggi Indonesia saat puncak musim kemarau. Di Dataran Tinggi Dieng misalnya, hamparan rumput di pelataran Candi Arjuna tampak memutih mirip lanskap salju.

Jika diamati lebih dekat, hamparan putih ini merupakan embun yang semula menempel di rumput, daun, atau tanaman, lalu membeku menjadi es. Kendati demikian, embun upas ini tidak muncul saban hari di Dieng karena dipengaruhi oleh beragam faktor.

EMBUN BEKU DIENG

Embun beku yang muncul akibat penurunan suhu hingga minus tujuh derajat celcius menyelimuti kompleks Candi Arjuna, di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc.

Selain Dieng, Kawasan Ciwidey Kabupaten Bandung juga sempat viral di media sosial karena adanya kristal-kristal es yang menempel di dedaunan. Menanggapi fenomena tersebut, menurut Pelaksana Tugas Kepala Sta­siun Geofisika Kelas I Ban­dung, Edi Wibowo, kristal es itu adalah embun upas yang lumrah terbentuk saat musim kemarau di dataran tinggi.

"Sebelumnya, embun upas juga pernah tampak di wilayah lain Kabupaten Bandung, yakni Pangalengan. Na­mun, embun upas yang terjumpa di Pangalengan merupakan kejadian beberapa waktu lalu, bukan pada 2026. Embun upas merupakan hal yang wajar terjadi saat musim kemarau, terutama di wilayah dataran tinggi," ucap Edi Wibowo, dikutip dari laman Koran Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Juli 2026.

Embun upas di Ciwidey Bandung, katanya, terbentuk karena suhu udara yang turun sangat rendah waktu dini hari saat musim kemarau. Di puncak musim kemarau, suhu bisa mencapai belasan derajat hingga mendekati 0 derajat celsius. Akibatnya, embun yang menempel di daun membeku dan berubah menjadi kristal es.

wisata Ciwidey

Ilustrasi wisata Ciwidey Bandung. ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra

Penyebab Terjadi Embun Upas dan Momentum

Keberadaan embun upas di Dataran Tinggi Dieng kerap dijumpai saat musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh beragam faktor. Salah satunya letak geografis Dieng yang berada sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.

Secara topografis, Dataran Tinggi Dieng juga berbentuk cekungan. Kondisi ini mengakibatkan udara pada malam hari bergerak turun dan terperangkap di dasar lembah, sehingga suhu menjadi lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.

Hal ini diterangkan oleh Aris Pramudya, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam Webinar Series ORKM bertajuk “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan.

“Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan,” jelas Aris Pramudya, dikutip dari laman Brin.go.id pada Kamis (9/7).

Selain kondisi geografis, tambah Aris Pramudya, embun upas juga disebabkan oleh penurunan suhu ekstrem hingga mencapai titik beku. Hal senada juga disampaikan BKMG terkait embun upas di Kawasan Ciwidey.

"Pada kemarau, terik sinar matahari maksimal saat siang, karena tutupan awan sedikit atau bahkan tak ada. Akibatnya, permukaan bumi menerima radiasi yang maksimal. Sementara itu, saat malam, bumi melepaskan energi," kata Edi Wibowo, dikutip dari laman Koran Pikiran Rakyat, Minggu (12/7/2026).

"Lantaran tak ada awan, ketika malam hingga dini hari, radiasi yang tersimpan di permukaan bumi dilepaskan secara maksimal. Kondisi itu yang menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat," lanjutnya.

Dengan begitu, musim kemarau saja tidak cukup menjadi prasyarat terbentuk embun upas. Penurunan suhu ekstrem juga menjadi kunci. Selain itu, peluang muncul embun upas juga semakin besar jika didukung sifat musim kemarau yang lebih kering.

"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi," kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto.

Terbaru, embun upas di Dieng kembali menyelimuti kawasan Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Senin-Selasa pagi hari, 8-9 Juli 2026. Berdasarkan data BMKG, curah hujan di kawasan Dieng pada periode 6-9 Juni 2026 tercatat 0 milimeter.

"Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari," jelas Guruh Tjiptanto, dikutip dari Antaranews, Selasa (9/6/2026).

Menurut Guruh, tidak ada tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi siang hari dilepaskan secara maksimal ke atmosfer dan luar angkasa pada malam hari. Hal ini juga berdampak pada penurunan suhu permukaan tanah secara drastis.

Berdasarkan data BMKG, suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celcius pada pukul 01.01 WIB. Sementara suhu rumput atau permukaan tanah tercatat lebih rendah, 0,60 derajat Celcius pada pukul 08.30 WIB.

Kondisi tersebut memungkinkan terbentuk sebuah lapisan kristal es tipis pada rumput, tanaman pertanian, dan permukaan lain yang terpapar udara dingin secara langsung.

EMBUN BEKU DIENG

Wisatawan menikmati embun beku yang muncul akibat penurunan suhu hingga minus tujuh derajat celcius di kompleks Candi Arjuna, di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo menjelaskan bahwa embun upas juga dipengaruhi oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia.

Angin Monsun Australia memiliki suhu permukaan laut yang relatif lebih dingin. Angin Monsun Australia bersifat kering dan sedikit membawa uap air, apalagi pada malam hari di saat suhu mencapai titik minimum.

“Kondisi itu membuat suhu udara pada malam hari turun drastis akibat pelepasan radiasi panas dari permukaan bumi,” kata Yoga Sambodo, dikutip dari Antaranews, Jumat (10/7/2026).

Hasil telaah BMKG terbaru memperkirakan bahwa embun upas akan sering terjadi saat memasuki puncak musim kemarau. Menurut pengamatan BMKG, puncak kemarau akan tiba pada Agustus 2026 dan kondisi kering diperkirakan masih berlanjut hingga September.

Tak hanya itu, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 diprakirakan lebih dingin dibanding tahun lalu. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan lebih lama untuk menyaksikan fenomena kristal es. Di lain sisi, petani di Dataran Tinggi Dieng terus berada di ambang kekhawatiran.

Perbedaan Embun Upas & Salju

Banyak masyarakat yang menyamakan antara salju dengan embun upas. Meski sama-sama berwarna putih, keduanya merupakan fenomena alam yang berbeda. Terutama terkait proses pembentukan.

Laporan Britannica menyebutkan bahwa embun upas terbentuk ketika suhu permukaan turun hingga 0 derajat Celsius atau titik beku, sehingga uap air di permukaan yang tak terlihat berubah menjadi fase kristal es tanpa melalui fase cair perantara.

Bentuknya granular, disebut rime, dan dihasilkan oleh pembekuan tetesan air cair yang terbawa di udara pada suhu di bawah titik beku.

Embun upas terbentuk saat malam cerah tanpa awan yang memungkinkan permukaan tanah kehilangan panas dengan cepat hingga suhu mencapai 0 derajat Celsius. Beberapa daerah yang memungkinkan muncul embun upas adalah kawasan dataran tinggi.

Di kawasan pegunungan seperti Dieng, uap air yang mengembun di permukaan tanaman kemudian membeku dan membentuk lapisan kristal es tipis, yang dikenal masyarakat sebagai embun upas.

Ilustrasi Salju di Gurun Sahara

Ilustrasi Salju. FOTO/iStock

Sementara, salju terbentuk di ketinggian atmosfer yang mengalami pendinginan cepat akibat gerak naik udara atau akibat hembusan angin dingin dalam faktor musim. Uap air yang berada di ketinggian atmosfer membeku berubah menjadi es lalu jatuh ke permukaan bumi sebagai salju.

Selain proses pembentukan, kondisi ideal terbentuk salju adalah kondisi cuaca berawan dan wilayah yang beriklim dingin. Sebab itu, perbedaan embun upas dan salju sangat mudah diidentifikasi.

"Berbeda dengan salju yang terbentuk sebagai partikel presipatasi di atmosfer, embun beku merupakan fenomena munculnya butiran es di permukaan. Masyarakat lokal lebih mengenal fenomena tersebut sebagai embun upas,”jelas Hery Susanto Wibowo, mengutip laman Mongabay.co.id (17/8/2023).

Dampak Embun Upas & Mitigasinya

Embun upas di Dataran Tinggi Dieng memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat, terutama di bidang pertanian dan pariwisata. Secara umum, embun upas dapat merusak tanaman kentang.

Data Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mencatat 25-30 hektare tanaman kentang mengalami kerusakan akibat embun upas yang terjadi pada 9-10 Juli 2026. Adapun estimasi nilai kerugian mencapai Rp70 juta per hektare.

"Estimasi luas tanaman kentang yang terkena dampak embun upas mencapai kisaran 25-30 hektare berdasarkan pemantauan sementara di lapangan," ujar Kepala DPPKP Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, dikutip dari Antaranews, Jumat (10/7/2026).

Pada periode tersebut, embun upas terjadi di sejumlah lokasi, yakni Lapangan Pandawa, area parkir dan Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, serta Kompleks Setyaki.

JELANG LEBARAN HARGA KENTANG DI DIENG NAIK

Sejumlah petani memanen kentang di perladangan kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (4/5/2021). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/wsj.

Guna menghadapi embun upas, petani telah menyiasati dengan beragam cara. Salah satunya menyiram tanaman pada siang hingga sore hari, agar terbentuk uap air yang dapat menekan dampak suhu dingin pada pagi hari.

Tanaman juga telah ditutup menggunakan paranet maupun daun bambu sebagai pelindung dari embun beku. Antisipasi embun upas untuk tanaman pertanian juga diterangkan oleh Aris Pramudya, Peneliti Ahli Utama PRIMA BRIN.

Dalam penjelasannya, diperlukan antisipasi seperti water sprinkling, yaitu menyemprotkan air ke pertanaman, lalu pemanasan langsung pada tanaman dalam skala luas tertentu.

Lalu mengaduk udara atau meniupkan angin buatan untuk menciptakan sirkulasi udara, memberi naungan pada tanaman, memilih tempat yang aman untuk menanam. Hingga pemberian mulsa atau material penutup permukaan tanah yang digunakan untuk menjaga kelembapan, mencegah gulma atau tanaman liar, dan menjaga suhu tanah.

"Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, disarankan untuk tetap mengembangkan tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frostpada waktu-waktu tertentu," ujar Aris, dikutip dari laman Brin.go.id, Selasa (14/7/2026).

Namun, upaya tersebut bisa saja tak membuahkan hasil. Tanaman yang berumur sekitar 40 hari ke bawah, umumnya tidak dapat diselamatkan.

Dieng Culture Festival ke-9

Landscape dataran tinggi Dieng yang terletak diantara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Jawa Tengah. tirto.id/Arimacs Wilander

Di sisi lain, embun upas juga menjadi daya tarik wisata, hingga mengundang wisatawan datang hanya sekedar menikmati pemandangan kristal es alami di Dieng.

Data Unit Pelaksana Teknis (UPT) Wisata Dieng Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara pada 2023 mencatat kunjungan wisatawan naik hingga 85% saat muncul fenomena embun upas.

“Biasanya dua hari pada akhir pekan kunjungan hanya 7 ribu orang. Tetapi akhir pekan lalu menjadi 13 ribu. Berarti ada kenaikan sekitar 85%,” ujar Kepala UPT Wisata Dieng Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Sri Utami, dikutip dari laman Mongabay,17 Agustus 2023.

Baca juga artikel terkait DATARAN TINGGI DIENG atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo