tirto.id - Kepulauan Malvinas menjadi rebutan Inggris dan Argentina. Bahkan, kedua negara terlibat perang sengit hingga menelan korban jiwa. Bagaimana status wilayah Kepulauan Malvinas kini dan kondisinya setelah perang Inggris dan Argentina 1982?
Kepulauan Malvinas juga dikenal sebagai Kepulauan Falkland. Malvinas adalah wilayah kepulauan yang terletak di seberang laut Britania Raya, Samudra Atlantik Selatan. Lokasi tersebut berjarak 300 mil (480 km) di sebelah timur pantai Patagonia, Argentina.
Secara geografis, terdapat dua pulau besar yang berada Malvinas, yaitu Falkland Timur dan Falkland Barat. Wilayah Kepulauan Malvinas menjadi objek sengketa antara Argentina dan Inggris.
Dalam struktur pemerintahan, Kepulauan Malvinas memiliki seorang gubernur. Meski begitu, gubernur Malvinas harus berkonsultasi dengan komandan regional militer Inggris mengenai masalah yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan internal.
Profil Singkat Wilayah Kepulauan Malvinas
Secara administratif, Ibu kota Kepulauan Malvinas dan kota utama adalah Stanley yang terletak di Falkland Timur. Adapun luas wilayah Kepulauan Malvinas yaitu 4.700 mil persegi atau setara dengan 12.200 km persegi.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2016, jumlah penduduk Kepulauan Malvinas adalah sekitar 3.032 orang. Jumlah ini tidak termasuk personel militer Inggris yang ditempatkan di kepulauan tersebut.
Rangkaian perbukitan membentang dari timur ke barat. Gunung Usborne dengan tinggi 2.312 kaki terdapat di bagian Falkland Timur. Topografi pesisir Malvinas memiliki banyak lembah sungai yang luas dan tertutup gambut.
Iklim pulau cenderung sejuk dan berangin dengan rata-rata angin barat mencapai 19 mil (31 km) per jam. Sementara suhu rata-rata tahunan sekitar 42 °F (5 °C), dengan suhu maksimum rata-rata 49 °F (9 °C). Lalu curah hujan rata-rata 25 inci (635 mm) per tahun.
Kepulauan Malvinas menjadi tempat berkembang biak bagi jutaan penguin, lumba-lumba, dan singa laut selatan. Salah satu sektor penopang ekonomi Kepulauan Falkland adalah peternakan domba.
Ratusan ribu domba dipelihara di pulau-pulau tersebut, menghasilkan beberapa ribu ton wol setiap tahunnya serta beberapa daging domba. Wol menjadi komoditas ekspor utama Kepulauan Falkland yang dikirim ke Inggris Raya.
Guna mendukung produksi wol, terdapat jalur feri antara Falkland Timur dan Barat untuk mengakomodir persediaan dan mengumpulkan hasil panen wol. Sektor pariwisata di Kepulauan Malvinas menjadi prioritas utama pemerintah dalam mendongkrak perekonomian.
Di Kepulauan Falkland juga terdapat pelabuhan utama yang terletak di Stanley dan bandara internasional terletak di Kompleks Militer Mount Pleasant.
Kondisi Kepulauan Malvinas Setelah Perang 1982
Dalam sejarahnya, Argentina telah mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland sejak awal abad ke-18. Pemerintah Argentina mengatakan bahwa mereka memiliki hak karena mewarisi wilayah tahta Spanyol.
Tetapi, Inggris mengusir beberapa penduduk Argentina yang tersisa pada tahun 1833. Melansir laporan laman Britannica, Inggris berupaya merebut pulau-pulau tersebut dan secara konsisten menolak klaim Argentina.
Cerita berlanjut pada awal tahun 1982. Militer Argentina yang dipimpin Letnan Jenderal Leopoldo Galtieri menghentikan negosiasi panjang dengan Inggris.
Pekerja Argentina mengibarkan bendera Argentina, 800 mil (1.300 km) di sebelah timur Falkland. Pasukan angkatan laut ini juga melancarkan invasi ke pulau-pulau dan dengan cepat mengalahkan garnisun kecil marinir Inggris di ibu kota Stanley.
Selama invasi, Argentina mematuhi perintah untuk tidak menimbulkan korban jiwa di pihak Inggris, meskipun unit mereka mengalami kerugian. Pada akhir April 1982, Argentina telah menempatkan lebih dari 10.000 pasukan di Kepulauan Falkland.
Menyikapi invasi ini, pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Margaret Thatcher menyatakan zona perang sejauh 200 mil (320 km) di sekitar Kepulauan Falkland.
Tanggal 2 Mei 1982, kapal penjelajah Argentina General Belgrano tenggelam setelah ditorpedo oleh kapal selam Inggris HMS Conqueror. Lanjut 25 April, Inggris berlayar sejauh 8.000 mil (13.000 km) ke zona perang melalui Pulau Ascension untuk merebut kembali pulau Georgia Selatan.
Inggris tercatat menangkap sekitar 11.400 tawanan Argentina selama perang, meski dibebaskan setelahnya. Di lain sisi, Argentina mengumumkan bahwa sekitar 650 nyawa telah hilang dan pasukan Inggris kehilangan 255 nyawa. Argentina secara efektif mengakhiri konflik pada 14 Juni 1982.

Memasuki tahun 1985, Kepulauan Falkland memperkenalkan konstitusi baru yang menjamin hak penduduk pulau untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) dan mengembalikan jabatan gubernur.
Melansir dokumen Our Island, Our History yang diterbitkan oleh pemerintah Kepulauan Falkland pada Januari 2024, Kepulauan Falkland kini bukan lagi koloni Inggris, melainkan Wilayah Seberang Laut Inggris Raya atau British Overseas Territory.
"Selama 180 tahun terakhir dan melalui sembilan generasi penduduk Kepulauan Falkland, Kepulauan Falkland telah berubah secara dramatis. Saat ini, kami bukan lagi koloni Inggris; kami adalah Wilayah Seberang Laut Inggris – sebuah status yang kami pilih atas kehendak sendiri," mengutip dokumen Our Island, Our History, yang dimuat dalam Falkland Gov.
Dalam dokumen tersebut, Kepulauan Falkland memiliki pemerintahan sendiri yang mampu menentukan dan mengelola kebijakan dan undang-undang. Secara demokratis, masyarakat memilih Members of the Legislative Assembly (MLA) atau Anggota Majelis Legislatif dalam menjalankan pemerintahan.
Sejak tahun 2009, MLA bertanggungjawab untuk memutuskan masalah lokal dan hal-hal penting yang berdampak luas di wilayah Falkland. Selain itu, MLA juga dapat berbicara mewakili Kepulauan tersebut di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau mewakili konferensi politik partai-partai utama di Inggris serta di berbagai pertemuan Asosiasi Parlemen Persemakmuran.
Meski begitu, untuk urusan pertahanan dan luar negeri, Malvinas tetap mengikuti kebijakan Inggris. Seiring berjalannya waktu, hubungan diplomatik Inggris dan Argentina kemudian diperbaiki tahun 1990, namun masalah Falklands alias Malvinas tetap menjadi sengketa.
Info lebih lanjut tentang sejarah dunia dapat diakses pembaca melalui tautan di bawah ini:
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































