Menuju konten utama

Panasnya Argentina vs Inggris dalam Sejarah Perang Malvinas

Sejarah Perang Malvinas (Falkland War) antara Argentina vs Inggris kerap disebut-sebut di nyaris setiap momen interaksi antara kedua negara hingga kini.

Panasnya Argentina vs Inggris dalam Sejarah Perang Malvinas
Tentara Argentina dalam Perang Malvinas/Falkland melawan Inggris pada 1982. (Foto oleh DANIEL GARCIA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Argentina vs Inggris pernah terlibat sengketa panas bertajuk Perang Malvinas (Falkland War) selama 74 hari pada 1982. Kala itu, kedua negara memperebutkan kedaulatan Kepulauan Malvinas atau Falkland Islands yang juga meliputi Georgia Selatan serta Kepulauan Sandwich Selatan, di Samudera Atlantik Selatan.

Saking panasnya, sejarah perang ini selalu dibawa-bawa di nyaris setiap momen interaksi antara Argentina dan Inggris, termasuk di ranah sepak bola, seperti di Piala Dunia 1986, Piala Dunia 1998, hingga Piala Dunia 2026 yang saat ini sedang dihelat Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko

Tim nasional sepak bola Inggris dan Argentina memang bakal saling berhadapan di semifinal Piala Dunia 2026. Kebetulan pula, Piala Dunia kali ini digelar dalam nuansa global yang sedang tidak baik-baik saja, di tengah perseteruan antara AS dan Israel dengan Iran, juga konflik Rusia vs Ukraina yang kembali memanas.

Argentina melaju ke babak 4 besar Piala Dunia 2026 setelah menang dramatis 3-1 atas Swiss. Lionel Messi dan kawan-kawan akan menantang Inggris yang sebelumnya telah mendepak tim kuda hitam Norwegia dengan skor ketat 2-1.

Latar Belakang Perang Malvinas

Bahasa internasional untuk menyebut Kepulauan Malvinas sebenarnya adalah Kepulauan Falkland untuk menjaga netralitas. Namun, Argentina dan negara-negara berbahasa Spanyol tetap menyebut obyek sengketa itu sebagai Malvinas lantaran nama Falkland Islands identik dengan Inggris.

Kepulauan Malvinas berada sekitar 480 kilometer dari pantai Argentina. Namun, sejak tahun 1833, pulau ini dikuasai dan diperintah oleh Inggris sebagai salah satu negara imperialisme dari Eropa kala itu.

Di sisi lain, Argentina secara historis, juga alasan geografis, Argentina menyatakan bahwa Kepulauan Malvinas beserta wilayah dependensinya berada di bawah kedaulatan mereka sejak lepas dari Spanyol pada 1816. Dari sinilah kemudian konflik itu bermula.

Bendera Inggris vs Argentina

Bendera Inggris vs Argentina. FOTO/iStockphoto

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong Inggris dan Argentina untuk duduk bersama demi tercapainya kesepakatan atas sengketa kedaulatan tersebut dengan mengeluarkan resolusi pada 1965 dan 1973.

Prosesi negosisasi sempat dilakukan, namun secara umum selalu gagal menemui titik temu yang signifikan hingga akhirnya pecahlah perang pada 1982.

Argentina menganggap Inggris sebagai pemicu awal konflik. Inggris dinilai merebut pulau tersebut secara paksa pada 1833 dan mengusir penduduk Argentina dari sana. Bagi Argentina, aksi tahun 1982 adalah upaya "merebut kembali" tanah air mereka yang dijajah.

Sebaliknya, Inggris menegaskan bahwa mereka telah menguasai dan mengadministrasi pulau tersebut secara damai sejak 1833. Inggris menganggap tindakan Argentina pada 1982 sebagai tindakan agresi ilegal tanpa provokasi terhadap wilayah kedaulatan Inggris dan warga negaranya.

Kronologi Ringkas Perang Malvinas

Dikutip dari website resmi Office of the Historian (U.S. Department of State), di bawah rezim junta militer Jenderal Leopoldo Galtieri, Argentina mengirimkan pasukan komando ke Kepulauan Malvinas pada 2 April 1982.

Pasukan komando Argentina berhasil merebut ibu kota Kepulauan Malvinas, Stanley, dan mendudukinya. Bendera Inggris yang semula berkibar pun diturunkan lantas diganti dengan bendera Argentina.

Aksi militer Argentina tersebut tentu saja membuat Inggris bereaksi keras. Perdana Menteri Britania Raya waktu itu, Margaret Thatcher, langsung mengirimkan armada tugas angkatan laut berskala besar.

Armada Britania Raya alias Inggris yang disebut Naval Task Force ini menempuh jarak 13.000 kilometer ke Atlantik Selatan untuk merebut kembali Kepulauan Malvinas yang telah diduduki oleh pasukan Argentina.

Perang Malvinas (Falklands War) 1982

HMS Broadsword and Hermes, 1982 (IWM). FOTO/commons.wikimedia.org

Pertempuran sengit tak terelakkan. Perang terjadi di laut maupun udara. Momen paling krusial terjadi saat kapal selam Inggris menenggelamkan kapal penjelajah Argentina yang menewaskan lebih dari 323 orang.

Argentina tak tinggal diam. Jet tempur yang dibekali rudal diluncurkan untuk membalas serangan. Alhasil, beberapa kapal perang Inggris tenggelam di Samudera Atlantik Selatan akibat rudal-rudal yang dilepaskan oleh jet tempur milik Argentina.

Peperangan demi peperangan di berbagai front terus berlangsung. Taktik, amunisi, dan ketahanan masing-masing pihak diuji dalam rangkaian pertempuran yang melelahkan ini. Hingga akhirnya, pada pertengahan Juni 1982, pasukan Inggris berhasil mendarat di pulau dan mengepung ibu kota kepulauan.

Pengepungan tersebut membuat pasukan Argentina yang terkurung di dalam kota kewalahan dan kesulitan melawan. Kalah strategi dan stok persenjataan, demikian dinukil dari laman Imperial War Museum, Argentina akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Inggris pada 14 Juni 1982.

Infografik Mozaik Perang malvinas

Infografik Mozaik Perang malvinas. tirto.id/Nauval

Akhir Perang Malvinas dan Dampaknya

Perang memperebutkan Kepulauan Malvinas terbilang singkat, berlangsung selama 74 hari. Namun, pertempuran ini memakan korban jiwa yang cukup besar dan memantik dampak yang cukup signifikan.

Argentina kehilangan 655 prajuritnya yang gugur dalam perang tersebut. Sementara dari pihak Inggris, sebanyak 255 tentaranya tewas. Ini belum termasuk korban luka-luka dan berbagai kerugian lainnya. Ada pula 3 warga sipil dari penduduk setempat yang juga menjadi korban meninggal.

Kekalahan dari Inggris di Perang Malvinas teramat memalukan bagi Argentina secara politik. Bahkan, rezim junta militer di Argentina langsung runtuh dan mengembalikan sistem demokrasi di negara tersebut pada 1983, tak seberapa lama setelah perang berakhir.

Sebaliknya, kemenangan atas Argentina menguatkan kekuasaan Inggris atas kepulauan tersebut berserta wilayah dependensinya.

Selain itu, populeritas Margaret Thatcher melambung tinggi sehingga membuatnya menang dalam pemilu berikutnya tahun 1983 alias terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Britania Raya.

Hingga kini, berdasarkan laman resmi otoritas Kepulauan Falkland, status Kepulauan Malvinas (Falkland Islands) beserta wilayah dependensinya, Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan, tetap berada di bawah kendali Inggris sebagai British Overseas Territory (Wilayah Seberang Laut Britania Raya).

Adapun Argentina ternyata tetap mengklaim wilayah tersebut secara diplomatik. Meskipun rezim silih berganti, namun sikap dasar pemerintahnya terhadap kawasan itu tidak berubah: Kepulauan Malvinas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah kedaulatan Argentina.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Edusains
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Fitra Firdaus