tirto.id - Susunan anggota organisasi Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) memiliki kaitan erat dengan sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Para anggota BPUPKI punya peran penting dalam mempersiapkan Indonesia menjadi negara yang merdeka. Siapa saja tokohnya?
Meskipun sebenarnya dibentuk oleh Jepang dengan nama Dokuritzu Junbi Cosakai, BPUPKI memainkan andil krusial dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Awalnya, Jepang membentuk lembaga ini sebagai respons atas tekanan Perang Dunia II melawan Sekutu, juga desakan rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan.
Pembentukan BPUPKI oleh Jepang justru dijadikan momentum penting bagi para pemimpin nasional saat itu. Mereka kemudian mulai merumuskan pondasi negeri dengan menyusun dasar negara, termasuk kerangka hukum yang nantinya akan menjadi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Peran para tokoh BPUPKI menjadi gambaran dari mekanisme pembentukan sebuah lembaga dalam konteks sejarah, terutama dalam mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan RI.
Sejarah Pembentukan BPUPKI
Secara historis, Dokuritsu Junbi Cosakai alias BPUPKI dibentuk oleh Pemerintah Militer Jepang di bawah Komando Angkatan Darat ke-16 dan ke-25 pada 1 Maret 1945. Selain menjadi strategi terselubung dalam menghadapi ancaman Sekutu, BPUPKI diharapkan bisa menjaga dukungan rakyat Indonesia kepada Jepang dengan janji kemerdekaan.
Meskipun telah diumumkan sejak 1 Maret 1945, BPUPKI baru diresmikan pada 29 April 1945. Lewat pembentukan lembaga tersebut, Pemerintah Militer Jepang berjanji akan mendukung proses kemerdekaan. Jepang berharap bisa mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia untuk menghadapi pasukan Sekutu.
Seolah tak ingin melewatkan momentum penting, para tokoh nasionalis kemudian justru memanfaatkan janji Jepang itu untuk merancang sekaligus mempersiapkan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, Jepang kemudian membubarkan BPUPKI pada 7 Agustus 1945, lalu membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai.

Saat situasi politik berubah cepat akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, situasi di Indonesia sempat mengalami kekosongan kekuasaan pada pertengahan Agustus 1945.
Melihat situasi kondisi tersebut, para tokoh nasional kemudian mengambil langkah untuk mempercepat proses menuju kemerdekaan tanpa menunggu restu penuh dari Jepang.
Setelah mengalami rangkaian peristiwa penting yang berlangsung cepat, akhirnya bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi Mohammad Hatta di Jakarta. Dua tokoh proklamator ini sekaligus menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama.
Susunan Lengkap Tokoh Organisasi BPUPKI
Pada awal pembentukannya, BPUPKI beranggotakan sekitar 67 orang, yang terdiri dari 60 orang Indonesia, serta 7 perwakilan Jepang. KRT Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk sebagai ketua sedangkan wakilnya adalah Ichibangase Yosio dan Raden Pandji Soeroso.
Adapun anggota organisasi BPUPKI berisikan sederet tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan lainnya. Berikut ini daftar lengkap susunan organisasi BPUPKI saat awal dibentuk oleh Jepang:
Ketua: KRT Radjiman Wedyodiningrat
Wakil Ketua: Ichibangase Yosio dan Raden Pandji Soeroso
Anggota:
- Soekarno
- Mohammad Hatta
- Ki Hajar Dewantara
- Raden Suleiman Effendi Kusumaatmaja
- Samsi Sastrawidagda
- Sukiman Wiryosanjoyo
- Kanjeng Raden Mas Hario Sosrodiningrat
- KH A Ahmad Sanusi
- KH Wahid Hasyim
- H Agus Salim
- Raden Ashar Sutejo Munandar
- Abdul Kahar Muzakir
- Raden Mas Panji Surahman Cokroadisuryo
- Raden Ruseno Suryohadikusumo
- KH Abdul Halim Majalengka (Muhammad Syatari)
- KRMT Ario Wuryaningrat
- Ki Bagus Hadikusumo
- KH Mas Mansoer
- KH Masjkur
- Agus Muhsin Dasaad
- Liem Koen Hian
- Mas Aris Mas
- Sutarjo Kartohadikusumo
- AA Maramis
- Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongsonagoro
- Mas Susanto Tirtoprojo
- Mohammad Yamin
- Raden Ahmad Subarjo
- Raden Hindromartono
- AR Baswedan
- Raden Mas Sartono
- Raden Panji Singgih
- Raden Syamsudin
- Raden Suwandi
- Raden Sastromulyono
- Yohanes Latuharhary
- Raden Ayu Maria Ulfah Santoso
- Raden Nganten Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
- Oey Tiang Tjoei
- Oey Tjong Hauw
- Bandoro Pangeran Hario Purubojo
- PF Dahler
- Parada Harahap
- Soepomo
- Pangeran Ario Husein Jayadiningrat
- Raden Jenal Asikin Wijaya Kusuma
- Raden Abdul Kadir
- Raden Abdulrahim Pratalykrama
- Raden Abikusno Cokrosuyoso
- RAA Purbonegoro Sumitro Kolopaking
- Raden Adipati Wiranatakoesoema V
- Raden Mas Margono Djojohadikusumo
- RMTA Suryo
- R Otto Iskandardinata
- Raden Panji Suroso
- Raden Ruslan Wongsokusumo
- Raden Sudirman
- Raden Sukarjo Wiryopranoto
- Raden Buntaran Martoatmojo
- Bendoro Pangeran Hario Bintoro
- Tan Eng Hoa
- Itibangase Yosio
- Matuura Mitukiyo
- Miyano Syoozoo
- Tanaka Minoru
- Tokonami Tokuzi
- Itagaki Masumitu
- Masuda Toyohiko
- Ide Teitiroo

Peran BPUPKI dalam Persiapan Kemerdekaan RI
BPUPKI memiliki tugas pokok yaitu meneliti dan menyelidiki segala persoalan penting yang berkaitan dengan pembentukan negara Indonesia. Adapun beberapa peran penting lainnya dari lembaga ini mencakup:
- Merumuskan dasar negara Indonesia, termasuk gagasan-gagasan yang nantinya akan memunculkan konsep Pancasila dalam sidang pertama BPUPKI.
- Menyusun rancangan Undang-Undang Dasar (UUD).
- Membahas bentuk negara dan sistem pemerintahan.
- Mengkaji aspek negara lain.
- Membentuk panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang untuk menampung saran-saran dan usulan dari para anggota.
Rangkaian Sidang BPUPKI dan Hasilnya
Setelah terbentuk, BPUPKI mengadakan dua kali sidang resmi. Simak rangkaian sidang BPUPKI jelang kemerdekaan RI beserta hasil yang disepakati.
Sidang Pertama BPUPKI
Sidang pertama BPUPKI dilaksanakan selama 4 hari pada 29 Mei-1 Juni 1945. Fokus utama sidang perdana ini adalah membahas usulan dasar negara Indonesia.Di forum sidang pertama pada hari pertama, Mohammad Yamin mengemukakan tentang rumusan lima prinsip dasar negara Kesatuan RI, yaitu Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.
Di hari kedua tanggal 30 Mei 1945, disampaikan pembahasan dan penyampaian pandangan dari beberapa tokoh lain Mohammad Hatta, Ki Bagoes Hadikoesoemo, dan lainnya.
Dalam sidang tanggal 31 Mei 1945, Dr. Soepomo menyampaikan konsep Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir Batin, Musyawarah, dan Keadilan Sosial.

Sementara pada 1 Juni 1945, giliran Soekarno yang menyampaikan gagasan mengenai rumusan lima sila dasar Negara Kesatuan RI. Dari sinilah maka kemudian setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Gagasan tersebut berisi:
- Kebangsaan Indonesia
- Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
- Mufakat atau Demokrasi
- Kesejahteraan Sosial
- Ketuhanan Yang Maha Esa
Sidang Kedua BPUPKI
Sidang kedua BPUPKI dilangsungkan pada 10-17 Juli 1945 dengan agenda membahas rancangan Undang-Undang Dasar (UUD), bentuk negara, wilayah negara, serta kewarganegaraan.Dalam sidang kedua ini, anggota BPUPKI dibagi menjadi panitia-panitia kecil, yaitu Panitia Penyusun Undang-Undang Dasar yang dengan Soekarno sebagai ketua, Panitia Pembela Tanah Air yang dipimpin Raden Abikusno Tjokrosoejoso, serta Panitia Ekonomi dan Keuangan yang dimotori oleh Mohammad Hatta.
Adapun rangkaian jalannya Sidang Kedua BPUPKI ini antara lain:
Tanggal 10 Juli 1945, Soekarno melaporkan hasil kerja Panitia Sembilan terkait Piagam Jakarta yang telah dirumuskan pada 22 Juni 1945. Kemudian dilakukan pula pemungutan suara mengenai bentuk negara. Hasil suara terbanyak memilih bentuk Republik (55 suara) dibanding Kerajaan/Monarki (6 suara).
Hari kedua, tanggal 11 Juli 1945, digelar pembahasan dan penentuan Wilayah Negara. Disepakati, NKRI meliputi wilayah Hindia Belanda terdahulu ditambah Malaya, Borneo Utara, Papua, Timor Timur, dan pulau-pulau sekitarnya.
Berlanjut ke tanggal 12 Juli 1945, Panitia Perancang UUD menyetujui isi Pembukaan UUD disadur dari Piagam Jakarta. Dibentuk Panitia Kecil Perancang UUD yang diketuai oleh Mr. Soepomo.

Dalam sidang ketiga tanggal 13 Juli 1945, Rapat Panitia Perancang UUD mendengarkan laporan dari Panitia Kecil mengenai ketatanegaraan dan pasal-pasal UUD.
Berikutnya pada 14 Juli 1945, Soekarno melaporkan 3 hasil kerja Panitia Perancang UUD kepada seluruh sidang pleno yang meliputi:
- Pernyataan Indonesia Merdeka
- Pembukaan UUD (Piagam Jakarta)
- Batang Tubuh UUD
Sidang Kedua BPUPKI ditutup pada 17 Juli 1945. Seluruh anggota BPUPKI secara bulat menerima dan menyetujui rancangan UUD secara keseluruhan.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id







































