tirto.id - Natal 1925 di Buenos Aires menjadi brutal saat lebih dari 30 ribu orang menyaksikan laga Argentina melawan Brasil di Estadio Sportivo Barracas berubah menjadi kerusuhan. Bermula dari permainan keras kedua tim, lalu diiringi adu pukul, hingga berakhir penyerbuan para penonton ke tengah lapangan. Insiden itu lalu dikenal dengan Perang Barracas.
Namun di tengah huru hara itu, orang-orang juga membicarakan penyerang kulit hitam Argentina yang memukau saat menguasai bola. Ia kerap menusuk pertahanan Brasil, melepaskan umpan silang penting, dan membantu Manuel Seoane mencetak gol penentu yang membawa Argentina jadi kampiun di Amerika Selatan.
Ia adalah Alejandro de los Santos, pemain kulit hitam pertama yang berseragam Argentina. Sosoknya memberi gambaran soal jejak Afrika yang memberi warna pada kejayaan sepak bola Argentina.
Kontras dengan tim Argentina masa kini. Sejak Mario Kempes, Diego Maradona, hingga Lionel Messi, skuad berjuluk Albiceleste itu kerap didominasi kulit putih, seolah-olah sepak bola Argentina lahir murni dari imigran Eropa.
Pionir yang Terlupakan
Kehadiran Alejandro kerap diselimuti mitos menyesatkan. Selama puluhan tahun, publik Argentina percaya ia lahir dari budak Angola yang berenang melintasi Atlantik. Narasi itu membuatnya tampak seperti orang asing yang kebetulan pandai bermain bola.
Penelusuran arsip oleh sejarawan bernama Francisco Sosa membantah legenda tersebut. Alejandro lahir pada 17 Mei 1902 di Paraná, Entre Ríos, berbatasan dengan Uruguay. Ayahnya, José Manuel, berasal dari Paraná, ibunya Antonia dari Río Cuarto, Córdoba. Ia tumbuh di lingkungan kelas pekerja yang sarat budaya Afro-Argentina.
Menurut Sosa, kakeknya, Joaquín de los Santos adalah tawanan Afrika yang dibawa ke Río de la Plata lewat perdagangan budak. Ia bertempur bersama pasukan revolusioner Belgrano, mengikuti Artigas, dan turun di Pertempuran Caseros. Namun sebagai veteran kulit hitam, ia tak pernah menerima hak pensiun sehingga terpaksa menghabiskan masa tua dalam kemiskinan di jalanan Paraná.
“Joaquín tidak dihormati karena berkulit hitam. Dengan kata lain: kondisi rasialnya telah menghalanginya untuk menikmati penghargaan yang diperuntukkan bagi orang kulit putih,” sambung Sosa.
Latar getir itu membentuk ketangguhan Alejandro. Hidupnya makin berat ketika menjadi yatim piatu di usia enam tahun. Bersama saudara-saudaranya, ia pindah ke Boedo, Buenos Aires, lalu meniti karier sepak bola dari klub kecil Oriente del Sud. Ia berhasil memulai debut profesionalnya di San Lorenzo pada 22 Mei 1921.
Karier klubnya mulai bersinar bersama El Porvenir. Berduet dengan Manuel “La Chancha” Seoane, ia mencetak 80 gol dari 148 laga dan membawa tim ke posisi ketiga Divisi Utama 1925. Masa itu, ia banyak diidolakan suporter kelas pekerja. Menurut sejarawan klub El Porvenir, Aníbal López Guerra, banyak orang menyetarakan Alejandro dengan Maradona pada masanya.
Prestasi itu membawanya ke tim nasional. Debutnya terjadi pada 1922, dan momen terbesar datang di Campeonato Sudamericano (cikal bakal Copa America) 1925. Ia menjadi satu-satunya pemain kulit hitam di turnamen sekaligus yang tampil gemilang pada final di hari Natal melawan Brasil, membantu Argentina merebut gelar. Total lima penampilannya untuk Albiceleste adalah pencapaian besar bagi seorang Afro-Argentina di era amatir.
Namun, kejayaan tak mampu menyingkirkan rasisme. Menurut Francisco Sosa, media memuja sekaligus merendahkannya. El Gráfico menulis bahwa Alejandro tidak pernah melakukan “hal-hal khas orang kulit hitam,” sebuah pujian yang sarat stereotip. Adapun majalah Crítica memuat karikatur wajahnya menyerupai primata. Diskriminasi semacam itu diyakini membuatnya tersisih dari skuad Argentina di Piala Dunia 1930.
“Keluarganya memberi tahu saya tentang ketidakhadirannya karena alasan rasial di [Piala Dunia] '30, tetapi tidak ada fakta yang mengesahkannya, terutama karena keunggulan bagus yang dimiliki Argentina,” kata sejarawan klub El Porvenir lainnya, Guido Guichenduc.
Alejandro lalu melanjutkan karier di Huracán, mencetak 25 gol dari 88 laga, meraih Copa de Honor Beccar Varela 1933, dan mengabdi sebagai staf dan pelatih. Pada 1940-an ia sempat melatih legenda Real Madrid, Alfredo Di Stéfano.
Alejandro meninggal di Buenos Aires pada 16 Februari 1982, nyaris tanpa jejak dalam ingatan publik.
Baru pada awal abad ke-21, gerakan Afro-Argentina mengangkat kembali kisahnya. El Porvenir memberi penghormatan abadi dengan menamai stadion mereka atas namanya pada 2014. Ia dianggap pionir yang membuktikan bahwa darah Afrika pernah mengalir dalam sejarah sepak bola Argentina.
Setelah Alejandro, hanya dua pemain keturunan Afro lainnya yang membela timnas senior Argentina, yakni José Ramos Delgado, bek tangguh era 1950-1960-an yang ikut dua Piala Dunia; dan Héctor “Chocolate” Baley, kiper cadangan juara Piala Dunia 1978. Tak ada lagi yang muncul setelah era 1980-an.

Afro-Argentina yang Jarang Diceritakan
Sebelum gelombang besar imigran Italia dan Spanyol tiba pada akhir abad ke-19, wajah Argentina jauh berbeda. Pada masa kolonial, kehidupan kota justru dipenuhi komunitas keturunan Afrika.
Mengutip kajian Miriam Vistoria Gomes dari Universitas Buenos Aires (2013), sensus kerajaan tahun 1778 mencatat, di Buenos Aires, populasi Afro-Argentina mencapai 30–37 persen. Di provinsi pedalaman, persentasenya lebih tinggi lagi: Santiago del Estero 54 persen, Catamarca 52 persen, Salta 46 persen, dan Córdoba 44 persen. Artinya, sejak awal, republik muda Argentina berdiri di atas fondasi komunitas Afrika.
Sebagian besar dari mereka dibawa paksa lewat perdagangan budak. Mereka bekerja di pelabuhan, bengkel, rumah elite Criollo, hingga membangun infrastruktur kolonial.
Namun, kontribusi terbesar mereka datang di medan perang kemerdekaan melawan Spanyol. Ribuan budak dijanjikan kebebasan jika bersedia bertempur di garis depan. Resimen kulit hitam menjadi tulang punggung pasukan San Martín. María Remedios del Valle, perempuan Afro-Argentina, bahkan dianugerahi pangkat Kapten dan dikenang sebagai “Ibu Bangsa".
Meski hidup dalam tekanan, mereka menjaga identitas lewat budaya. Distrik San Telmo, Monserrat, dan “Barrio del Tambor” di Paraná, menjadi pusat candombe—musik perkusi yang lahir dari ritual dan protes sosial. Denyut candombe-lah, yang jadi salah satu kunci lahirnya Tari Tango, dikombinasikan dengan ritme habanera dan milonga.
Maka, klaim bahwa Tango murni ciptaan imigran Eropa adalah keliru. Menurut studi Agustín Jofré (2013), musik Tango tumbuh dari tradisi Afro-Argentina. Bahkan menurutnya, istilah tango diyakini berasal dari bahasa Afrika yang merujuk pada ruang pertemuan rahasia para budak.
Dari darah yang tertumpah di medan perang, musik yang mengalir di jalanan, hingga kosakata yang memperkaya bahasa sehari-hari, komunitas Afro-Argentina meletakkan dasar peradaban modern Argentina.
Mengapa Mereka Menghilang?
Hilangnya wajah Afro-Argentina dari lanskap modern merupakan hasil dari serangkaian tragedi sejarah dan rekayasa politik.
Setelah perang kemerdekaan, komunitas kulit hitam kembali dikorbankan dalam Perang Aliansi Tiga melawan Paraguay (1864–1870). Resimen kulit hitam sengaja ditempatkan di garis depan sebagai umpan meriam, menimbulkan angka kematian sangat tinggi dan menghancurkan keseimbangan demografi.
Belum pulih dari luka perang, wabah kolera dan Demam Kuning 1871 melanda Buenos Aires. Permukiman miskin di San Telmo dan Monserrat menjadi pusat kematian massal. Ribuan Afro-Argentina tewas, lalu dikubur massal Chacarita. Tragedi tersebut menyusutkan populasi komunitas yang sudah rapuh.
Di balik bencana, ideologi elite politik mempercepat penghapusan mereka. Banyak pemikir rasis, seperti presiden Argentina 1868-1874, Domingo Faustino Sarmiento, dan cendekiawan Juan Bautista Alberdi, mendorong “pemutihan” (blanqueamiento) bangsa dengan mendatangkan jutaan imigran Eropa.
Sarmiento secara terang-terangan menempatkan orang kulit hitam dan penduduk asli sebagai “manusia prasejarah”, simbol kemunduran yang menurutnya harus disingkirkan demi kemajuan bangsa. Alberdi, lewat semboyan “Gobernar es poblar” atau “Memerintah berarti memopulasikan”, menafsirkan pembangunan negara sebagai proyek mengisi tanah Argentina dengan imigran kulit putih dari Eropa.
Kebijakan “pemutihan” itu lalu diaplikasikan dalam kebijakan nasional di Argentina. Konstitusi 1853 mendorong kedatangan imigran Eropa. Alhasil, jutaan pendatang dari Italia, Spanyol, dan kawasan lain, mengubah komposisi penduduk secara besar-besaran.
Dalam sensus serta bahasa sosial sehari-hari, identitas kulit hitam kian kabur lewat istilah seperti pardo (campuran gelap) atau moreno, dan trigueño (kecoklatan). Akibatnya, keturunan Afrika perlahan disamarkan dan dikeluarkan dari imajinasi resmi tentang Argentina sebagai bangsa “putih” bergaya Eropa.
Sejak itu, perkawinan campuran selama beberapa generasi membuat batas identitas rasial makin kabur. Bahkan, selama abad ke-20, muncul narasi bahwa “orang kulit hitam sudah tidak ada di Argentina”. Akademisi dan aktivis Afro-Argentina, Erika Denise Edwards, mengkritik narasi itu dan menyatakan bahwa komunitas Afro tidak pernah hilang, melainkan hanya tidak terlihat dalam sejarah resmi.
Ucapan Edwards itu didukung sensus 2022, yang mencatat sekitar 0,4–0,7 persen penduduk kini mengidentifikasi diri sebagai Afro-Argentina, setara lebih dari 300 ribu jiwa. Studi genetik Universitas Buenos Aires bahkan menemukan 4,3 persen warga metropolitan berpenanda DNA Afrika.
Sejak dekade 2010-an, ada indikasi kebangkitan budaya Afro-Argentina. Organisasi akar rumput seperti Misibamba menuntut pengakuan sejarah, mengembalikan nama pahlawan kulit hitam ke kurikulum, dan merayakan identitas lewat musik serta seni.
Mereka mengenalkan berbagai unsur budaya populer yang selama ini jarang diakui sebagai bagian dari sejarah Afrika di Argentina. Sama seperti Alejandro de los Santos yang pernah menembus pertahanan lawan dan rasisme di lapangan, kebangkitan identitas Afro-Argentina hari ini adalah upaya menembus kelupaan sejarah.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































