Menuju konten utama

Bassist Pas Band Trisno Meninggal Dunia pada Usia 55 Tahun

Bassist Pas Band, Trisno meninggal dunia pada usia 56 tahun di Bandung. Ia sempat dirawat intensif di ICU sebelum berpulang.

Bassist Pas Band Trisno Meninggal Dunia pada Usia 55 Tahun
Trisno Bassist Pas Band. instagram/tris_noize
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dunia musik Indonesia berduka, bassist Pas Band, Trisno, meninggal dunia Sabtu (1/8/2026) pukul 14.29 di RS Hermina Bandung dalam usia 55 Tahun.

Pemilik nama lengkap Bambang Sutrisno ini sempat dirawat intensif di ICU sebelum meninggal dunia. Ia berjuang melawan penyakit gagal ginjal yang dideritanya.

Drummer Pas Band, Sandy Andarusman, melalui akun Instagram pribadi, menyampaikan kabar duka tersebut dan mengajak untuk mendoakan almarhum serta memaafkan segala kesalahannya.

"Innalillahi wainnailaihi rojiuun... Telah berpulang ke Rahmatullah saudara kami, bassist kami @tris_noize jam 14.30 hari ini, 1 Agustus 2026," tulis Sandy.

"Mohon berkenan teman-teman membacakan Al-Fatihah, memaafkan segala kesalahan almarhum. Insya Allah besok pagi akan dimakamkan di Bandung," lanjutnya.

Posting tersebut turut mendapat perhatian dari musikus Tanah Air, salah satunya basis Dewa 19, Yuke Sampurna.

"Selamat jalan luuuur... sodara sahabat sekaligus bassist Indonesia berkarakter. Semoga Allah SWT dan alam semesta selalu memberikan tempat yang terbaik. Amin. Turut bela sungkawa kepada keluarga besar yang ditinggalkan," tulis Yuke.

Profil Trisno Pas Band

Trisno Bassist Pas Band

Trisno Bassist Pas Band. instagram/tris_noize

Trisno, yang juga dikenal dengan nama panggung Trisnoize, adalah bassist sekaligus salah satu pendiri grup musik rock alternatif legendaris Indonesia, Pas Band. Band ini dibentuk di Bandung pada awal 1990-an oleh Trisno bersama Yukie (vokal), Bengbeng (gitar), dan Richard Mutter (drum).

Trisno dikenal memiliki karakter permainan bass yang agresif dan kaya pengaruh funk, metal, hingga hip hop. Gaya bermusiknya menjadi salah satu identitas khas Pas Band yang memadukan rock alternatif, hardcore, punk, rap rock, dan funk metal.

Trisno turut berperan dalam perjalanan PAS Band sejak merilis album independen Four Through the Sap (1993), yang menjadi salah satu tonggak penting perkembangan musik independen di Indonesia.

Setelah itu, Pas Band merilis sejumlah album populer, di antaranya In (No) Sensation (1995), indieVduality (1997), Psycho I.D. (1998), Ketika... (2001), PAS 2.0 (2003), hingga Unscripted Experience (2020).

Selain tetap aktif bersama PAS Band, Trisno juga dikenal mengeksplorasi berbagai proyek musik di luar band tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam band Fujian dan sejumlah kolaborasi lintas musisi.

Riwayat Sakit Trisno

Melalui Instagram resmi Pas Band, pada Jumat (31/7/2026) disampaikan kabar bahwa kondisi Trisno kritis dan menjalani perawatan intensif di ruang ICU.

"Dapat kabar malam ini, Trisno dalam kondisi kritis di ICU. Mohon dimaafkan segala kesalahan Bro Tris. Ya Allah, ringankan sakitnya Trisno dan sembuhkan Ya Allah," tulis Sandy dalam unggahan tersebut.

Trisno telah cukup lama berjuang melawan gagal ginjal. Ia harus menjalani cuci darah secara rutin. Kondisi Trisno semakin memburuk setelah ditemukan sumbatan darah di otak yang berisiko memicu stroke.

Selama lebih dari tiga dekade berkarier, Trisno menjadi salah satu bassist yang berpengaruh di skena rock Indonesia.

Bersama Pas Band, ia berkontribusi melahirkan lagu-lagu ikonik seperti "Jengah", "Kesepian Kita", "Impresi", "Permata yang Hilang", dan "Gladiator', yang masih dikenal luas hingga kini.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Abdul Aziz