Menuju konten utama
TirtoEco

Capung dan Ancaman yang Mengoyak Ekologi Perairan

Keberadaan capung adalah sensor biologi yang akurat, menandakan bahwa ekosistem air di lokasi sekitarnya masih murni, sehat, dan layak menopang kehidupan.

Capung dan Ancaman yang Mengoyak Ekologi Perairan
Capung. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ingatan kolektif masyarakat agraris Indonesia dulu sering dipenuhi oleh capung yang menari-nari di atas sawah dan sungai jernih. Serangga bersayap jala ini kerap menjadi bagian dari tradisi lisan. Mitos masa kecil menyebut gigitan capung di pusar bisa menyembuhkan kebiasaan mengompol.

Di Banyuwangi, masyarakat Using bahkan mengabadikannya dalam lagu "Untring-untring" dan menjadikannya simbol dalam tradisi pernikahan Perang Bangkat. Mereka membedakan capung besar Anisoptera sebagai dhudhuk dan capung jarum Zygoptera sebagai dhudhuk dom, berdasarkan warna dan bentuk tubuh. Namun kedekatan kultural ini kini mulai memudar. Ruang udara, persawahan, dan sungai kian tergerus.

Capung adalah predator utama larva nyamuk. Dalam siklusnya, fase nimfa di air maupun imago dewasa di udara, capung memangsa nyamuk. Tanpa kehadiran mereka, genangan air berubah menjadi pabrik penetasan nyamuk, memicu lonjakan penyakit menular seperti DBD, malaria, chikungunya, hingga West Nile Virus.

Predator Penyergap di Dasar Lumpur

Dalam klasifikasi ilmiah, seperti dikutip Michael L. May dalam jurnalnya pada 2019, capung berada di kelas Insecta dan ordo Odonata, mencakup lebih dari 6.300 spesies di seluruh dunia kecuali Antartika. Ordo ini terbagi dua, yakni Anisoptera atau capung sejati dengan tubuh besar dan sayap belakang lebih lebar, serta Zygoptera atau capung jarum yang ramping dan melipat sayap sejajar perut saat hinggap.

Dalam studi itu ditemukan perbedaan keduanya terletak pada fungsi ekologis. Anisoptera dirancang untuk penerbangan jarak jauh, sementara Zygoptera ahli bermanuver di celah dedaunan sungai kecil.

Desain tubuhnya lewat empat sayap transparan dengan jaringan vena dan stigma gelap bukan hanya alat terbang, melainkan sistem navigasi presisi. Otot terbang asinkron memungkinkan setiap sayap bergerak independen, menciptakan pusaran udara yang meningkatkan daya angkat sekaligus menekan hambatan. Hasilnya, capung bisa melayang diam, terbang mundur, zig-zag, hingga menyergap nyamuk dalam milidetik.

Mengacu penelitian bertajuk "Extraordinary diversity of visual opsin genes in dragonflies" (2015), seluruh perangkat mekanika aerodinamika tersebut dikendalikan oleh sistem saraf dan visualnya. Mata majemuk capung mendominasi kepalanya, memberi pandangan hampir 360 derajat. Terdiri dari puluhan ribu ommatidia, yang mampu menangkap citra beresolusi tinggi.

Artikel tersebut juga menemukan gen opsin (kelompok protein peka pada retina mata) capung yang berjumlah 15–33, jauh lebih banyak dari manusia yang hanya tiga. Gen ini memberi kemampuan melihat spektrum dari ultraviolet hingga inframerah. Fotoreseptor di bagian atas mata sensitif terhadap cahaya biru dan UV, memudahkan mendeteksi mangsa di langit, sementara bagian bawah menangkap warna bumi dan vegetasi. Mereka juga mampu membaca cahaya terpolarisasi, penting untuk mengenali permukaan air tempat bertelur dan menghindari jebakan pantulan buatan.

Kehebatan capung tidak berhenti di udara. Sebagian besar hidupnya dijalani sebagai nimfa akuatik predator. Nimfa Anisoptera bernapas dengan insang rektal, sementara Zygoptera dengan insang kaudal di ujung ekor. Mereka bersembunyi di akar tumbuhan air atau lumpur, menunggu mangsa lewat.

Capung

Capung. FOTO/iStockphoto

Senjata utama mereka adalah labium, rahang bawah yang dimodifikasi menjadi topeng berengsel. Dalam sepersekian detik, labium melesat keluar, mencengkeram jentik nyamuk, berudu, ikan kecil, bahkan sesama nimfa, lalu menariknya ke mulut.

Temuan yang dipublikasikan British Ecological Society (2013) mencatat satu nimfa capung mampu memangsa rata-rata 40 larva nyamuk per hari, dengan efektivitas menekan populasi hingga 45 persen. Predasi ini berlaku pada semua genus nyamuk berbahaya, seperti Aedes, Anopheles, hingga Culex.

Studi lainnya menunjukkan kehadiran capung Bradinopyga strachani di wadah air terbuka mampu menurunkan kepadatan nyamuk secara drastis. Tanpa predator ini, selokan tersumbat dan genangan hujan musiman menjadi sarang nyamuk yang mengancam permukiman.

Upaya pemerintah mengendalikan nyamuk dengan larvasida kimia sering gagal karena resistansi. Kasus malaria di Kulon Progo, misalnya, meski sempat dinyatakan bebas malaria pada 2022, kasus baru kembali muncul pada 2023–2024. Kegagalan intervensi kimiawi mendorong ilmuwan melirik kembali capung sebagai solusi alami.

Mengapa Predator Alami Ini Terusir?

Penurunan populasi capung tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat akumulasi panjang praktik degradasi lingkungan yang digerakkan oleh aktivitas manusia. Salah satu faktor paling merusak adalah pencemaran air dari limpasan pestisida sintetis, terutama insektisida neonicotinoid dan fipronil yang digunakan dalam perawatan bibit padi.

Sawah yang dulu kaya keanekaragaman hayati berubah menjadi medan pembantaian ekologis. Fipronil terbukti sangat mematikan bagi nimfa capung, melumpuhkan sistem saraf mereka bahkan sebelum sempat bermetamorfosis.

Menurut Kosuke Nakanishi dan kolega (2021), fenomena tersebut bertepatan dengan penurunan tajam populasi capung merah Sympetrum frequens di Jepang dan Asia sejak 1990-an. Ironis, sebab pestisida yang ditujukan membunuh hama, justru memusnahkan musuh alami hama itu sendiri.

Ancaman kimia ini tidak berhenti di sawah. Racun meresap ke sungai, danau, hingga mengendap di dasar perairan. Sisa pupuk dan limbah industri membawa logam berat yang meracuni rantai makanan akuatik. Spesies sensitif seperti Trithemis festiva dan Bradinopyga geminata lenyap, digantikan oleh spesies toleran polusi seperti Zyxomma petiolatum.

Selain kimia, pencemaran fisik berupa lumpur pekat dan kekeruhan tinggi menghancurkan mikrohabitat nimfa. Sedimen menyumbat insang rektal larva hingga gagal napas, sementara kekeruhan air menghalangi cahaya matahari dan mengganggu kemampuan berburu nimfa.

Krisis iklim memperparah keadaan. Suhu air yang meningkat menurunkan kadar oksigen terlarut dan mempercepat penguapan, membuat racun semakin pekat. Kekeringan ekstrem mengeringkan lahan basah, mempersempit ruang reproduksi capung. Kombinasi suhu tinggi, polutan kimia, dan berkurangnya debit air bersih membuat peluang adaptasi semakin sempit.

Ancaman lain muncul dari sisi fisiologis. Penelitian terbaru University of Colorado Denver menunjukkan capung jantan dengan bintik melanin gelap di sayapnya kini justru dirugikan. Pigmen gelap menyerap panas berlebih, membuat tubuh mereka terlalu panas saat terbang mencari pasangan. Akibatnya, mereka lebih banyak bersembunyi daripada bersaing, gagal mengamankan wilayah kawin, dan rantai reproduksi pun terputus.

Ornamen sayap yang dulu menjadi daya tarik kini berubah menjadi beban. Penelitian juga menyoroti perbedaan dengan ngengat Biston betularia yang selamat berkat perubahan warna, namun capung justru terjebak dalam evolusi yang kalah cepat menghadapi krisis iklim.

Bertahan hidup melewati fase larva saja tidak cukup bila perilaku kawin mereka gagal. Fakta ini menegaskan laju adaptasi genetika capung tidak mampu mengejar percepatan perubahan iklim buatan manusia, mendorong mereka menuju jurang kepunahan lokal.

Dari Sabuk Khatulistiwa hingga Pelosok Nusantara

Biogeografi capung mengikuti hukum gradien lintang, semakin dekat ke khatulistiwa, semakin tinggi tingkat keragaman spesiesnya, lalu menurun ke arah subarktik dan kutub. Sebagai serangga ektotermik yang bergantung pada sinar matahari, sabuk hutan hujan tropis menjadi laboratorium evolusi terbesar bagi capung atau Odonata.

Mengacu temuan profesor ekologi asal Spanyol, Adolfo Cordero-Rivera (2025), Venezuela mencatat 548 spesies, Kolombia 543, Brasil 863, dan Tiongkok 818. Kepulauan terisolasi juga melahirkan spesies endemik unik akibat tekanan adaptasi lokal.

Dari angka-angka tersebut, Indonesia memiliki lebih dari 700 spesies capung, sekitar 14 persen dari total dunia. Eksplorasi taksonomi awal bioregion Malesia (zona ekologi dari Indomalaya hingga Australasia) dilakukan oleh Maurits Anne Lieftinck pada 1971 dan dilanjutkan Dr. Jan van Tol pada 2018, yang menyingkap lebih dari 600 identitas taksonomi baru.

Papua memimpin dengan 375 spesies endemik, disusul Kalimantan 291, Sumatra 257. Di Jawa, meski ruang ekologi terus terhimpit, masih ada kantong oasis perairan yang mempertahankan habitat murni sebanyak 183 spesies. Kemudian Maluku 149 dan Sulawesi 146 spesies.

Capung

Capung. FOTO/iStockphoto

Taman Wisata Alam Mangolo di Kolaka, Sulawesi Tenggara, menjaga siklus sungai jernih dan hutan lindung rapat, menopang 15 komunitas Odonata dengan distribusi stabil.

Di Air Terjun Laine, Sangihe, habitat harmonis hutan sekunder dan sungai pergunungan menjadi rumah bagi Nososticta flavipennis dengan kepadatan tinggi. Fakta ini menegaskan, selama hutan hulu tetap berdiri menahan erosi dan menjaga kejernihan air, bala tentara capung akan terus setia merawat ekosistem perairan Nusantara.

Di Lombok, penelitian terbaru menunjukkan indeks keanekaragaman Odonata (H’) berada pada level menengah–atas, menandakan sungai-sungai di sana masih murni. Dominasi spesies endemik Euphaea lara lombokensis menjadi bukti kuat bahwa kualitas air hulu Lombok jauh dari ambang pencemaran, sehingga layak dijadikan sumber air minum dan irigasi pertanian.

Di Bali, kawasan Subak Sembung di Denpasar memperlihatkan bagaimana sistem irigasi tradisional subak mampu menjaga keseimbangan ekologi. Praktik pertanian alami tanpa pupuk kimia beracun terbukti mendukung kelestarian komunitas capung meski berada di tengah tekanan urbanisasi.

Di Cagar Alam Nusakambangan, ditemukan 45 spesies capung yang hanya bisa bertahan di sungai-sungai jernih di bawah kanopi hutan karst. Di Plunyon, lereng Merapi, spesies Vestalis luctuosa dan Euphaea variegata masih menari di aliran mata air pergunungan yang terjaga.

Sementara di Air Terjun Singokromo, Nganjuk, keberadaan Drepanosticta sundana menjadi indikator mutlak kualitas air prima dengan kadar oksigen terlarut tinggi dan BOD nyaris nol.

Di tepian Danau Singkarak dan Danau Kembar di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, ekosistem capung memperlihatkan bagaimana alam dan pertanian tradisional saling menopang. Lanskap sawah polikultur yang mengelilingi danau-danau ini menjadi panggung bagi spesies predator udara seperti Orthetrum sabina dan Neurothemis fluctuans. Kedua jenis capung ini berperan layaknya pasukan penjaga ekologi. Mereka berpatroli di udara, memangsa hama wereng, lalat, dan serangga perusak tanaman.

Pemaparan riset dari Universitas Andalas (2024) menegaskan bahwa konsentrasi populasi capung dewasa maupun nimfa di tepian danau, khususnya dalam radius sempadan 50 meter dari bibir air, mencapai titik kepadatan tertinggi. Data statistik menunjukkan akumulasi koloni capung di zona ini merupakan bukti kuat keterikatan ekologis mereka pada kualitas air yang jernih dan kaya oksigen.

Meski tekanan pembangunan dan polusi terus meningkat, masih ada kantong-kantong habitat perairan di Nusantara yang menjadi benteng terakhir bagi capung. Keberadaannya menjadi sensor biologi paling akurat, menandakan ekosistem air di lokasi sekitarnya masih murni, sehat, dan layak menopang kehidupan.

Baca juga artikel terkait PELESTARIAN LINGKUNGAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi