Merekam Capung yang Langka di Perkotaan & Perannya bagi Habitat

Oleh: Zakki Amali - 3 Desember 2019
Dibaca Normal 2 menit
Capung dan perannya bagi lingkungan turut menentukan kualitas air bersih di habitat sekitarnya, hal ini didokumentasikan dalam pameran fotografi Indonesia Dragonfly Society di BBY.
tirto.id - Belasan anak-anak menggunting kertas berpola capung di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Senin (2/12/2019). Beralas tikar, mereka meriung di ruang pamer foto capung karya Wahyu Sigit Rahadi.

Sigit punya alasan mengundang anak-anak ini. Mereka hidup di kawasan perkotaan belum tentu punya kesempatan melihat capung. Bersama BISA Indonesia, komunitas pendamping, anak-anak ini mengenal keanekaragaman hayati Indonesia lewat seni merangkai kertas.

“Kapan sih kali terakhir Anda melihat capung? Dulu waktu kecil kan. Sekarang jangan-jangan capung yang Anda lihat sudah hilang dari habitatnya,” kata Sigit.

Capung yang kerap dilihat di persawahan ini yakni berwarna hijau dan kuning. Capung jenis ini, kata dia, punya toleransi terhadap kualitas air, sehingga hidupnya di lingkungan terbuka.

“Habibat capung berbeda seperti persawahan, hutan dengan tutupan pohon lebat, di hutan hujan. Perbedaan habibat membuat respons capung terhadap kualitas air berbeda-beda,” ujar dia.

Wahyu Sigit merupakan pendiri Indonesia Dragonfly Society, komunitas fotografi yang mendokumentasikan capung secara mandiri di seluruh Indonesia sejak 2010 lalu.

“Dulu waktu motret itu lensanya masih 70-300 mm. Sekarang pakai macro. Tapi apa pun lensanya yang penting merekam sebanyak-banyaknya capung,” kata dia.

Ia bilang saat merintis komunitas, literasi masyarakat soal capung masih rendah, tapi dengan kehadiran media sosial mulai meningkat.

Dalam pameran foto di BBY ini, ia menampilkan capung secara estetis. Puluhan fotonya serupa dengan lukisan karena kekuatan detail, warna dan tata cahaya yang kuat.

“Orang mengira ini lukisan. Padahal ini hasil foto saya dari berbagai daerah selama 9-10 tahun terakhir. Semua tentang capung. Hanya ada dua habibat capung yang dipajang, terutama di daerah telaga danau dan perairan hutan,” ujarnya.

Pameran ini berlangsung sejak 30 November-8 Desember 2019 mulai pukul 09.00-21.00 di BBY, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta. Dalam pameran juga ditampilkan instalasi capung terbang dari serat bambu.



Peran Capung bagi Habitat Sekitarnya

Capung merupakan kelompok serangga yang tergolong Odonata. Mengutip Data Capung Indonesia, ada 18 famili, 167 genus, dan 1.125 spesies capung. Sedangkan dari jenisnya terbagi menjadi 433 anisoptera (dragonflies) atau capung dan 692 zygoptera (damselflies) atau capung jarum. Jenis capung Indonesia mencapai 15 persen dari 5.680 jenis capung di dunia.

Sigit menyebut, capung tak bisa sembarang hidup, karena sifat alamiahnya berkembang biak pada habibat air bersih. Hal ini menunjukkan capung sensitif dan resisten terhadap kualitas air.

“Capung jadi indikator alamiah kesehatan air. Bisa dipastikan kondisi air baik itu dari capung yang hidup di sekitarnya,” kata dia.

Dalam sistem pertanian, capung merupakan predator serangga pemakan tanaman yang tergolong hama. Pada tahap nimfa atau usai telur menetas dan beranjak dewasa, capung sudah berjasa di lingkungan seperti pemangsa jentik-jentik nyamuk.

“Sayangnya pertanian kita saat ini dilematis. Di satu sisi produksi digenjot dengan pemakaian pupuk kimia. Ini membuat perairan tercemar, sehingga tak mungkin jadi ekosistem capung,” ujar dia.

Kurator Pameran Seni Foto Dragonfly Wahyu (IDS) Sigit, Edial Rusli menyebut capung merupakan serangga purba dengan geligi rahangnya yang kuat, berkaki dan bentuknya menyerupai naga terbang.

Dalam tulisannya untuk pengantar pameran, ia juga bilang kekayaan hayati Indonesia ini, digunakan Sigit untuk memperkenalkan berbagai jenis capung, anatomi, dan pengetahuan untuk masyarakat luas.

“Ditangannya capung berhasil dihidupkan dan dibangkitkan kembali jadi media literasi dan visual fotografi. Perannya terlihat dalam ilmu pengetahuan dan manusia,” kata dia.

Teknik fotografi ini, menurut dia, menyelamatkannya dari kepunahan, karena capung untuk diteliti tak lagi dimatikan melainkan diabadikan dalam bentuk foto.

Sigit menyebut, selama merekam capung pengetahuannya berkembang seiring referensi yang dibaca, sehingga proses pemotretan mengacu kaidah ilmiah dalam identifikasi.

Sudut pengambilan gambar (angle) telah memenuhi metodologi riset. Ia mencontohkan angle untuk identifikasi yakni pada bagian mata, anal, thorax (dada).

“Bagi saya proses merekam capung juga belajar, karena harus membaca referensi seperti jurnal. Dulu waktu mengawali hanya sedikit riset dalam negeri, sekarang sudah banyak,” ujar dia.

Ia menyebut, penggunaan capung sebagai bagian asesmen lingkungan belum populer, karena masih mengacu satwa yang lebih besar. Namun ke depan, kata dia, optimistis keberadaan capung semakin diperhatikan seiring peningkatan literasi dan persebaran ilmu pengetahuan di masyarakat.


Baca juga artikel terkait PELESTARIAN LINGKUNGAN atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Maya Saputri
DarkLight