Menuju konten utama
TirtoEco

Hudhud, Intelijen Nabi Sulaiman dan Keajaiban Ekologi

Burung hudhud merupakan contoh ajaib bagaimana satu spesies kecil bisa menyeberangi batas teologi, fikih, hingga sains modern.

Hudhud, Intelijen Nabi Sulaiman dan Keajaiban Ekologi
Burung Hudhud. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Terik matahari yang memanggang gurun memaksa pasukan Nabi Sulaiman bergerak. Pasukan ini terdiri dari manusia terlatih, jin dengan kekuatan gaib, dan ribuan burung yang membentuk kanopi hidup guna melindungi sang rasul.

Di tengah perjalanan, dilakukanlah inspeksi militer ketat, tafaqqud at-tayr atau pemeriksaan barisan burung. Dari ribuan kepakan sayap, Nabi Sulaiman menyadari satu sosok hilang, dialah hudhud yang dikenal sebagai penentu logistik air bagi armada.

“Mengapa aku tidak melihat hudhud? Apakah ia termasuk yang tidak hadir?” (QS. An-Naml: 20)

Tafsir klasik menegaskan perannya sebagai pendeteksi sumber air bawah tanah. Mujahid, Sa’id bin Jubayr, dan Ibnu Abbas menyebut burung ini dianugerahi penglihatan menembus kerak bumi, mampu melihat akuifer dan sungai bawah tanah sejelas manusia melihat benda di permukaan. Hudhud mampu memindai lanskap, menandai titik dengan patukan, lalu jin menggali sumur untuk mengekstraksi air.

Nabi Sulaiman marah dan mengancam hukuman. “Sungguh, aku akan menyiksanya dengan siksaan yang berat, atau benar-benar akan menyembelihnya, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.” (QS. An-Naml: 21)

Ketegangan mereda ketika kepakan hudhud kembali terdengar, membawa laporan intelijen. Burung kecil itu tampil percaya diri, menyampaikan kabar:

“Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' dengan membawa berita penting yang meyakinkan.” (QS. An-Naml: 22)

Hudhud melaporkan keberadaan Kerajaan Saba di selatan Jazirah Arab, dipimpin Ratu Bilqis dengan singgasana megah dan kekuasaan besar. Namun masyarakatnya menyembah matahari, bukan Sang Pencipta.

Menerima laporan ini, Nabi Sulaiman tidak gegabah. “Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta.” (QS. An-Naml:27)

Hudhud lalu diberi misi kedua untuk membawa surat bersegel, menjatuhkannya di hadapan Bilqis, lalu bersembunyi untuk mengamati reaksi dewan kerajaan. Surat itu singkat, padat, tanpa kompromi, sebuah ajakan untuk tunduk kepada Allah.

Bilqis kemudian memilih menghindari perang, datang ke Yerusalem, menyaksikan mukjizat pemindahan singgasananya, dan akhirnya berserah diri kepada Tuhan semesta alam.

Kisah ini sempat memicu perdebatan di era awal keilmuan islam. Dikisahkan pada sebuah majelis, Nafi’ bin Al-Azraq dari Khawarij menantang Ibnu Abbas, sahabat Nabi Muhammad dan ahli tafsir.

"Engkau mengatakan kepada kami bahwa burung hudhud dapat melihat air di bawah tanah, tetapi anak laki-laki mana pun dapat menaruh benih di dalam perangkap dan menutupi perangkap itu dengan tanah, dan burung hudhud akan datang dan mengambil benih itu, sehingga anak laki-laki itu dapat menangkapnya dalam perangkap," kata Nafi’ bin Al-Azraq.

Ibnu Abbas menjawab, "Celakalah engkau! Ketika qadar (ketetapan) menimpa seseorang, matanya menjadi buta dan ia kehilangan semua kewaspadaannya."

Jawaban Ibnu Abbas itu menegaskan bahwa sehebat apa pun kemampuan makhluk, tetap tunduk pada takdir Ilahi. Saat ketetapan itu turun, mata paling tajam bisa buta, insting paling canggih bisa lumpuh. Tidak ada makhluk yang kebal terhadap kehendak-Nya.

Larangan Membunuh Hudhud dan Predikat Jallaalah

Hudhud yang loyal kepada Nabi Sulaiman meninggalkan jejak panjang hingga masa kenabian Muhammad. Burung kecil ini mendapat penghormatan formal dalam syariat Islam.

Hadis sahih yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan tercatat dalam Sunan Abu Dawud, Ibnu Majah, serta Musnad Ahmad, meriwayatkan Nabi Muhammad bersabda:

"Rasulullah melarang membunuh empat macam binatang: semut, lebah, hudhud, dan burung suradi (sejenis burung pipit atau burung pemangsa kecil)."

Larangan tersebut salah satunya bertujuan memutus tradisi takhayul Jahiliah yang kerap mengaitkan nasib dengan burung tertentu. Dalam fikih, status hudhud memicu pembahasan lebih jauh soal konsumsi. Kaidah umum menyatakan jika hewan dilarang dibunuh tanpa alasan darurat, maka dagingnya pun tidak layak dimakan. Logika ini berangkat dari prinsip menjaga keseimbangan dan menghindari mustakhbathat—hal-hal yang menjijikkan bagi fitrah manusia.

Para ulama klasik seperti Muhammad Syamsul Haq al-Adzim Abadi dalam karyanya A’un Al-Ma’bud, menyoroti kebiasaan hewan yang kerap memakan kotoran atau bangkai, sehingga dikategorikan dekat dengan jallaalah, hewan yang makan najis. Kebiasaan hewan seperti hudhud membuat dagingnya berbau busuk, menjadikannya tabu untuk dikonsumsi.

Penjelasan tersebut bertahan berabad-abad dalam teks fikih, hingga riset ornitologi dan mikrobiologi modern memberi validasi ilmiah atas observasi para ulama bahwa bau dan struktur biologis hudhud memang tidak layak bagi konsumsi manusia.

Ritme Hidup dan Cara Bertahan

Dalam sains modern, burung hudhud dikenal sebagai Upupa epops, satu-satunya anggota genus Upupa dalam keluarga Upupidae. Ia bernaung di bawah ordo Bucerotiformes, yang secara evolusi berkerabat dengan burung enggang, raja udang, dan jalak Eropa.

Menurut James A. Jobling dalam The Helm Dictionary of Scientific Bird Names (2010:147), onomatope (kata tiruan bunyi) Upupa maupun Hoopoe berasal dari suara khasnya, "hoop-hoop", yang terdengar lembut. Suara khas itu juga disebut "hud" dalam bahasa Persia dan Urdu, menurut Ibrahim B. Syed, Presiden Islamic Research Foundation Internasional (IRFI). Di Jazirah Arab kemudian dikenal dengan hudhud.

Secara fisik, hudhud berukuran sedang, panjang tubuhnya 25–32 cm, sebanding dengan jalak besar. Warna bulunya cokelat kepasiran hingga kayu manis, berpadu dengan sayap lebar bercorak hitam-putih tegas seperti zebra. Ekornya menampilkan pita putih mencolok di atas latar hitam. Saat terbang, kepakannya yang bergelombang menciptakan ilusi kupu-kupu.

Burung Hudhud

Burung Hudhud. FOTO/iStockphoto

Identitas paling ikoniknya adalah jambul yang bisa mekar menyerupai kipas, berfungsi sebagai komunikasi non-verbal antarindividu.

Riset morfometri di Punjab, Pakistan, mencatat jantan lebih besar daripada betina, dengan rentang sayap 43–43,9 cm. Profil hematologinya menunjukkan hemoglobin tinggi (20,03 g/dl) dan dominasi neutrofil hingga 84,67 persen, menandakan sistem transportasi oksigen yang prima dan imunitas bawaan agresif. Adaptasi ini penting karena gaya hidup hudhud yang akrab dengan tanah lembap dan kotoran saat mencari makan.

Paruhnya yang ramping menjadi instrumen utama, melengkung ke bawah, panjang 5,4–5,6 cm, menyerupai pinset mekanik. Evolusi merancangnya sebagai alat pengebor tanah untuk menjepit mangsa tersembunyi.

Ritme hidup hudhud ditentukan oleh pola pencarian makan atau ekologi meramban yang khas. Ia bukan pemburu di udara, tetapi pejalan cepat yang menyisir tanah secara soliter. Energinya dicurahkan untuk menusuk paruh ke tanah, membalik batu, atau mengais kotoran ternak demi larva kumbang, ulat, semut, hingga invertebrata lunak.

Diet serangga tanah membuatnya sangat selektif memilih habitat. Ia memilih lanskap agraris terbuka—rumput pendek, jalur berpasir, padang gembala, kebun zaitun, dan kebun anggur tua. Tanah gembur tanpa akar lebat memberi akses ideal bagi paruh panjangnya.

Adaptasi ini bervariasi menurut wilayah. Studi di Castel di Guido, Italia, mencatat 84 persen mangsa berupa larva serangga, dengan 61 persen nimfa sikada (Cicada orni). Di Swiss dan Slovenia, menu utama bergeser ke anjing tanah (Gryllotalpa gryllotalpa), menyumbang 70–80 persen energi bagi anakan. Induk bekerja ekstrem, bisa memberi makan hingga 14 serangga gemuk per jam selama musim kawin.

Reproduksi membuka sisi unik lain. Tidak seperti banyak spesies unggas penenun yang membangun sarang simetris di dahan pohon, burung hudhud adalah petelur rongga sekunder. Mereka memanfaatkan celah pohon lapuk, dinding batu, atau kotak kayu.

Di sanalah burung Hudhud menjalankan sistem sanitasi sarang yang sangat buruk. Sarangnya gelap, sempit, dan kotor. Sisa cangkang, bangkai, serta kotoran menumpuk, menebarkan bau busuk. Merujuk penelitian di Chengdu, China, pada 2022, bau ini merupakan sekresi kelenjar uropigial betina yang membengkak saat musim kawin. Cairan kecokelatan penuh senyawa volatil seperti asetaldehida dan dimetil sulfida dilumurkan ke bulu dan cangkang telur, menebarkan aroma daging busuk.

Meski sekilas menjijikkan, praktik ini justru mahakarya adaptasi biologis dan imunologis. Investigasi mikrobiologi di Spanyol menemukan cairan itu menjadi medium bakteri simbion Enterococcus faecalis. Koloni ini menghasilkan senyawa antimikroba yang melindungi bulu dan telur dari bakteri perusak seperti Bacillus licheniformis.

Lapisan cairan juga membuat cangkang kedap air dan berfungsi sebagai tameng kimiawi, mengusir predator seperti tikus atau ular yang terkecoh oleh bau bangkai. Bahkan anakan hudhud mampu menyemprotkan cairan busuk ini sambil mendesis untuk mengintimidasi penyusup.

Hudhud menunjukkan bahwa keanehan ekologis bisa menjadi puncak rekayasa alam demi kelangsungan hidup.

Peta Demografi Lintas Benua dan Tantangan Konservasi

Burung hudhud merupakan contoh ajaib bagaimana satu spesies kecil bisa menyeberangi batas teologi, fikih, hingga sains modern. Data konservasi mencatat persebarannya mencapai lebih dari 28 juta km persegi, menjangkau Afrika subtropis, seluruh Eropa, Jazirah Arab, hingga Asia Timur.

Subspesiesnya pun beragam, mulai dari Upupa epops saturata di Rusia Timur sampai Jepang, dan Upupa epops ceylonensis di India Selatan serta Sri Lanka. Ironisnya, ekspansi pertanian manusia justru memperluas habitatnya, karena ladang terbuka dan kebun zaitun menyediakan tanah gembur yang cocok untuk paruh pengebor mereka.

Siklus hidupnya terbagi dua, antara migran dan pemukim. Populasinya di Eropa bermigrasi jauh saat musim dingin, menyeberangi Mediterania hingga Sahara, bahkan tercatat melintasi Himalaya di ketinggian 6.400 meter.

Sebaliknya, populasi di Afrika Sub-Sahara dan Asia Tenggara (Semenanjung Malaysia, Thailan, Laos, dan Vietnam) memilih hidup menetap, menikmati pakan serangga sepanjang tahun. Namun di Indonesia, kehadirannya langka, hanya sesekali tercatat sebagai burung nyasar akibat badai migrasi.

Secara global, Organisasi Konservasi Alam Internasional (IUCN) menempatkan hudhud dalam kategori Risiko Rendah (Least Concern), dengan populasi 5–10 juta ekor. Meski aman secara makro, tren regional menunjukkan penurunan tajam di Eropa Barat akibat urbanisasi, pertanian intensif, pestisida, dan hilangnya pohon lapuk sebagai sarang.

Baca juga artikel terkait EKOLOGI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi