tirto.id - Selama empat tahun berlangsung, Perang Dunia I memakan sedikitnya 20 juta korban jiwa. Salah satu sebabnya adalah penggunaan berbagai teknologi baru. Tank, kapal selam, pesawat tempur, Zeppelin, sistem artileri modern, senapan mesin, flamethrower, granat, sampai gas beracun, digunakan untuk kali pertama pada peperangan tersebut.
Selain persenjataan, Perang Dunia I juga menjadi saksi perkembangan teknologi signifikan di bidang-bidang lain. Sistem komunikasi, misalnya, berkembang pesat lewat Fullerphone, perangkat portabel yang memungkinkan prajurit berkomunikasi lewat kode morse dari parit-parit perlindungan. Ada pula perkembangan di bidang medis, seperti dinitrogen monoksida (N2O) untuk keperluan anestesi/bius serta antikoagulan untuk penyimpanan darah.
Meski demikian, di balik segala perkembangan teknologi itu, masih banyak metode tradisional yang digunakan di medan tempur. Seorang tentara Australia bernama John Simpson, misalnya, kala itu masih menggunakan bantuan keledai untuk mengangkut serdadu yang terluka. Di bidang komunikasi, meski teknologi macam Fullerphone sudah ditemukan pada 1915, penggunaan merpati pos ternyata masih marak, bahkan hingga tahun terakhir peperangan berlangsung.
Bicara soal merpati pos, ada dua ekor merpati pos yang masyhur namanya berkat jasa-jasa selama Perang Dunia I. Merpati pertama diberi nama President Wilson oleh para tentara AS. Jasa besarnya adalah mengirimkan permintaan bantuan artileri untuk pasukan infantri AS ketika Meuse-Argonne Offensive berlangsung.
Merpati kedua, yang bernama Cher Ami, juga berperan krusial bagi serdadu AS selama Meuse-Argonne Offensive. Ketika itu, pasukan infantri AS lain dikurung selama lima hari oleh pasukan Jerman yang jumlahnya lebih banyak. Setelah itu, bantuan artileri pun datang. Sayangnya, misil artileri AS itu justru menghujani rekan-rekan mereka sendiri.
Cher Ami, sebagai merpati pos terakhir milik pasukan infantri yang sedang kena friendly fire tersebut, akhirnya diterbangkan. Misinya adalah menyampaikan pesan agar serangan artileri dihentikan. Akhirnya, meskipun terkena tembakan di kaki dan dadanya, Cher Ami sukses mengirimkan pesan tersebut. Bahkan, merpati yang lahir di Prancis itu sampai mendapat penghargaan Croix de Guerre dari pemerintah Prancis.

Merpati Pos Menemukan Jalan Berkat Deteksi Magnet
Merpati pos cukup lama menjadi bagian dari cara manusia berkomunikasi. Sejak 1350 SM, merpati pos sudah digunakan di Mesir Kuno untuk mengantarkan kabar mengenai banjir Sungai Nil serta keperluan militer. Pada saat bersamaan, peradaban Mesopotamia dan Persia juga telah menggunakan jasanya.
Merpati pos, secara resmi, masih dipergunakan sampai sekarang meski hanya untuk keperluan seremonial. Di salah satu negara bagian India, Odisha, merpati pos masih menjadi bagian dari operasi kepolisian. Menurut laporan Forbes, kepolisian di sana masih memelihara sedikitnya 150 ekor merpati pos sampai Februari 2025.
Hal itu menunjukkan betapa andalnya burung-burung tersebut dalam menunaikan tugasnya. Namun, selama itu, manusia belum benar-benar bisa mencari tahu, apa sebenarnya yang membuat merpati pos selalu bisa menemukan jalan pulang?
Sebenarnya, para peneliti sudah lama menduga bahwa kemampuan merpati pos menemukan jalan pulang atau targetnya muncul dari cara mereka mendeteksi medan magnet. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana mekanismenya. Para peneliti dari Ludwig-Maximilians-Universität (LMU), München, Jerman, pun melakukan eksperimen yang hasilnya dimuat dalam jurnal Science.
Ada beberapa asumsi soal cara merpati pos mendeteksi medan magnet. Ada yang mengatakan lewat mata, paruh, dan sebagainya. Namun, proyek penelitian pimpinan David Keays memilih mengabaikan semua asumsi itu. Seperti yang ditulis ulang oleh StudyFinds, yang mereka lakukan semata-mata adalah mengekspos merpati ke sebuah medan magnet buatan, lantas melakukan pemindaian untuk mencari area otak burung yang menunjukkan aktivitas neuron.
Hasilnya, ketika kepala burung dihadapkan pada medan magnet yang diputar secara kontinyu berkekuatan sekitar 150 μT, atau beberapa kali lipat dari kekuatan medan magnet Bumi normal, terlihat aktivitas kuat di bagian otak bernama medial vestibular nucleus. Bagian otak inilah yang menerima input dari sistem vestibular di telinga bagian dalam. Selain itu, Keays dkk., juga menemukan aktivitas di berbagai area otak yang terhubung dengan integrasi sensorik dan memori spasial.
Dari sana, para peneliti berhipotesis bahwa pendeteksi medan magnet pada merpati pos ternyata bukan mata atau paruh, melainkan telinga. Setelah itu, mereka menguji hipotesis tersebut lewat serangkaian analisis seluler dan molekuler pada jaringan telinga bagian dalam, khususnya pada kanal setengah lingkaran yang biasanya berisi cairan dan sel rambut, untuk mendeteksi gerakan kepala.
Analisis tersebut menunjukkan, sebagian besar sel rambut, tepatnya yang berjenis "type II", bekerja seperti halnya ikan pari dan hiu merasakan medan listrik di air. Bedanya, pada merpati pos, bagian itu bekerja dengan merespons perubahan medan magnet ketika ia menggerakkan kepalanya.
Kurang lebihnya, begini cara kerja detektor tersebut: saat merpati menggerakkan kepala, pergerakan membran di dalam kanal telinga dan cairan endolimfa akan menghasilkan induksi elektromagnetik, lalu dideteksi oleh sel rambut type II sebagai sinyal listrik. Sinyal itu lantas dikirim ke otak melalui jalur saraf vestibular dan diproses sebagai informasi orientasi berbasis magnet.
Mekanisme tersebut bekerja dalam situasi gelap total. Ini memperkuat bantahan terhadap asumsi bahwa detektor magnet merpati pos ada pada matanya. Meski demikian, para peneliti LMU tadi tidak menutup kemungkinan apabila, misalnya, ada spesies burung lain yang mendeteksi medan magnet tadi lewat organ lain, termasuk mata.
"Data kami menunjukkan bahwa memang ada 'kompas gelap' di telinga bagian dalam merpati pos. Namun, ada studi-studi lain yang menunjukkan adanya sistem kompas yang bergantung pada keberadaan cahaya. Kemungkinan besarnya, deteksi magnet telah mengalami evolusi di berbagai jenis spesies," jelas Keays, dikutip dari Phys.
Merpati Belajar seperti AI
Nah, jika studi LMU tadi menjelaskan cara merpati menemukan jalan menuju target, ada studi lain yang menunjukkan betapa cerdasnya burung tersebut. Para peneliti bahkan menyebut bahwa cara belajar merpati sama seperti cara belajar sebuah model kecerdasan buatan alias AI.
Dalam makalah yang dimuat di jurnal Current Biology, tim peneliti dari University of Iowa menguji cara merpati mempelajari kategori-kategori visual rumit melalui proses latihan berulang. Dalam eksperimen tersebut, merpati diperlihatkan ribuan pola abstrak. Setiap pola harus mereka masukkan ke dalam salah satu dari dua kategori dengan mematuk tombol yang sesuai. Jika benar, mereka diberi makanan sebagai hadiah.
Awalnya tampak biasa saja. Namanya juga hewan, jawaban mereka kemungkinan besar bakal acak. Akan tetapi, setelah menjalani pengulangan ratusan hingga ribuan kali, kemampuan intelektual merpati-merpati itu meningkat signifikan. Bahkan, untuk pola-pola sederhana, level akurasinya bisa mencapai lebih dari 90 persen. Merpati mampu mengingat banyak hal, mengaitkannya dengan hasil yang diterima (mendapat reward atau tidak), lalu menggunakan asosiasi tersebut untuk mengambil keputusan.
Dari situ, para peneliti lantas berkesimpulan bahwa merpati berkemampuan belajar yang kuat untuk menjalankan prosedur atau perilaku tertentu. Dalam konteks merpati pos, jika arah pulang atau target ditentukan oleh kompas biologis di telinga, kemampuan menuntaskan tugas kemungkinan besar berdasar pada tingginya kemampuan belajar mereka.
Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila merpati pos jadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas komunikasi manusia selama ribuan tahun. Kita mungkin tak menduga bahwa burung, dengan otak sekecil itu, mampu menyelesaikan tugas yang terbilang sangat kompleks. Namun, hasil penelitian dari LMU dan University of Iowa tersebut menunjukkan bahwa di balik sosoknya yang tampak biasa saja, merpati pos memang diberkati kemampuan istimewa.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





































