Menuju konten utama
Mozaik

Riwayat Manusia Mengakali Cuaca Panas Ekstrem

Modifikasi cuaca untuk mengakali panas ekstrem bukan hal baru. Peradaban manusia sudah mencobanya berkali-kali, sejak puluhan tahun silam.

Riwayat Manusia Mengakali Cuaca Panas Ekstrem
ilustrasi modifikasi cuaca ekstrem. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada Juni 2026, jagat maya dihebohkan oleh gelombang panas yang melanda berbagai belahan Bumi, terutama Eropa. Ribuan orang meninggal dibuatnya. Penyebab utamanya disinyalisasi karena krisis iklim.

Di Jerman, polisi sampai mengerahkan rantis untuk mengguyur masyarakat di tengah taman kota yang kepanasan. Banyak warga Prancis berbondong-bondong mendinginkan diri dengan menyewa hotel atau membeli pendingin udara portabel.

Di banyak negara Eropa, suhunya mencapai titik tertinggi hingga 40 derajat celcius. Bahkan, khusus di Jerman, temperaturnya menyentuh angka 41,7 derajat celcius. Gelombang panas tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Isu kerusakan iklim bukan hanya membuat suhu meningkat tajam, tetapi juga memengaruhi pola cuaca. Studi membuktikan, curah hujan yang meningkat adalah pertanda krisis iklim dan pemanasan global.

Pada Januari 2026, misalnya, Jakarta dilanda bencana hidrometrologi akibat peningkatan curah hujan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memutuskan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk menekan risiko terjadinya bencana, sekaligus melengkapi berbagai upaya lain yang telah kami lakukan, seperti penguatan kesiapan pompa, pengerukan saluran, dan siaga personel di lapangan,” kata Isnawa Adji, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, kepada Tirto.

Eksperimen Hujan dari Texas hingga Australia

Pertanda krisis iklim sebenarnya sudah tampak sejak lama. Bukan hanya dari tingginya curah hujan di Jakarta pada awal 2026 lalu; bukan pula peningkatan suhu di Eropa pada Juni 2026 kemarin.

Lebih dari seabad silam, tepatnya pada 1891, AS pernah dilanda krisis hebat karena kekeringan. Di masa itu, curah hujan menipis sehingga para petani terancam paceklik panen.

Untuk mengakali krisis itu, pada agenda Kongres 1890, para pemangku kepentingan di Negeri Abang Sam mengalokasikan dana untuk eksperimen cuaca. Rencananya, bubuk mesiu akan diledakkan di langit untuk memicu gesekan dan menghasilkan partikel padat mikroskopis di udara yang menjadi tempat menempelnya uap air, hingga akhirnya dapat menghasilkan hujan

Adalah St. George Dyrenforth, pejabat Departemen Pertanian AS, yang bertugas melaksanakan eksperimen modifikasi cuaca tersebut. Ia punya bekal pengetahuan cukup baik soal itu, terutama berkat pengalamannya sebagai serdadu Perang Saudara AS (1861-1865). Ketika ratusan artileri mengebom langit, awan mendung berkumpul dan curah hujan meningkat di sekitar medan perang.

Eksperimen modifikasi cuaca secara resmi dimulai antara 1891 dan 1892 di sebuah pertanian Andrews County dan San Antonio, Texas. Purnawirawan perwira tersebut memboyong bubuk mesiu dan bahan-bahan peledak dengan nilai mencapai 20.000 dolar AS demi mendatangkan hujan.

Kisah pengeboman awan dengan bubuk mesiu dan bahan peledak itu dikodifikasikan dalam buku berjudul War and the Weather, Or the Artificial Production of Rain (2017) oleh Edward Powers. Teori Dyrenforth sederhana: asap dan uap yang ditimbulkan oleh ledakan dapat “merangsang” hujan turun ke bumi.

“Pada akhirnya memang terjadi hujan setelah beberapa barel bubuk mesiu diledakkan. Namun banyak warga lokal Texas yang menyaksikan menyatakan bahwa memang pada masa itu sudah akan waktunya hujan. Tak ada yang banyak bisa dikatakan Jenderal Dyrenforth untuk menjawabnya. Meningkatnya curah hujan setelah itu tidak bisa dikatakan ditentukan oleh eksperimen itu,” tulis Powers.

Memang bahwa intensitas hujan yang turun tidak sebesar harapan. Namun, publik tidak pernah menyerah dengan pembuatan hujan. Eksperimen mendatangkan hujan berlanjut lagi di belahan dunia lain.

Frank Melbourne dari Australia, yang dijuluki Rain Wizard 'Dukun Hujan', mengaku memiliki formula rahasia untuk mendatangkan hujan. Namun, sebenarnya ia hanya mempraktikkan dan memopulerkan teori ilmiah, yakni dengan menciptakan gas di permukaan tanah untuk menciptakan awan yang naik dan menyatu di udara di atasnya hingga kemudian "melahirkan" hujan.

Dengan mengklaim caranya sebagai hal yang rahasia, banyak orang tertarik. Frank memanfaatkan itu dengan mendirikan Goodland Artificial Rain Company dan Swisher Rain Company, berbisnis “bibit hujan” dan mengimpornya sampai ke pasar South Dakota, Nebraska, Kansas, Oklahoma, Texas, Colorado, Utah, dan California.

Namun ada dugaan bahwa bisnis yang dilakoni Frank Melbourne itu “penipuan”.

Sekali waktu pada 1893, jasa Melbourne disewa oleh Jules Sandoz untuk mengguyur pertaniannya di Nebraska Panhandle.

Namun, Sandoz merasa tidak puas dengan hasil kinerja Melbourne. Dengan nada sarkasme, dia bertutur ke tetangganya, “Aku akan terus menangkap sigung untuk mencari nafkah.” Artinya, praktik bisnis bibit hujan mengecewakan petani, dan perusahaan Melbourne jadi kehilangan kepercayaan.

 ilustrasi modifikasi cuaca ekstrem

ilustrasi modifikasi cuaca ekstrem. foto/istockphoto

Sains dan Hujan Artifisial

Praktik mengebom awan untuk memodifikasi cuaca akhirnya mengalami kemerosotan lantaran penuh spekulasi miring dan berbiaya besar. Menjelang Perang Dunia I, publik lantas beralih ke metode penyemaian awan sederhana. Caranya, menabur pasir, debu, dan es kering, untuk membuat awan artifisial dan merangsang agar uap air berkondensasi menjadi hujan.

Eksperimen modifikasi cuaca lewat udara itu dinilai lebih efektif ketimbang mengebom awan. Akhirnya, pada 1930-an, trio ilmuwan bernama Alfred Wegener, Tor Bergeron, dan Walter Findeisen, menggagas teori bahwa kristal es yang ditembakkan ke awan akan memicu hujan.

Kristal es dapat terbentuk dari pengendapan heterogen, kontak dengan awan, perendaman, atau pembekuan setelah kondensasi. Proses ini memerlukan kondisi fisika, bahwa jumlah kristal es tergantung pada fraksi inti kondensasi awan. Agar air hujan dapat terangsang secara spontan (nukleasi homogen), suhu awan harus mendekati -40 derajat celsius.

Teori pembentukan kristal es yang dapat merangsang butiran air pada awan itu tak sengaja ditemukan oleh pakar kimia dan fisika Laboratorium Riset General Electrics, Vincent Schaefer dan Irvin Langmuir. Mula-mula pada 1946, mereka tengah meriset airframe icing atau lapisan es di luar struktur pesawat.

“Schaefer menemukan bahwa kristal es kering memang menyebabkan awan superdingin [tipe laboratorium kecil] membentuk kristal es air. Bergeron dan Findeisen benar [tentang teorinya] .... dan pada November 1946 Dr. Schaefer mulai menyebarkan butiran es kering kristal ke awan dari udara. Ya, kristal es itu memang tumbuh cukup besar untuk membuat hujan,” tulis Willy Ley di kolom majalah bulanan Galaxy edisi Februari 1961, “Let’s Do Something About Weather”.

Tidak lama setelah riset Schaefer dan Langmuir, peneliti lain yakni Bernard Vonnegut menemukan bahwa kristal perak iodida mikroskopis lebih efisien daripada es atau es kering. Sebabnya, kristal es perak iodida mampu menyebabkan pembentukan es pada suhu lebih tinggi daripada es kering atau es air.

Kristal es dan penyemaian udara (cloud seeding) itu sukses dimanfaatkan untuk beragam operasi militer AS. Misalnya Operasi Cirrus, yang dibiayai oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut dengan pesawat dari Angkatan Udara AS. Lainnya adalah “Cloud Physics Project”, dengan sponsor dari Biro Cuaca, Angkatan Udara, Komite Penasihat Nasional untuk Aeronautika (NACA, kini NASA) dengan peranti dari Angkatan Laut.

Modifikasi Cuaca di Mancanegara

Salah satu negara yang paling awal mengikuti operasi modifikasi cuaca di Asia Tenggara adalah Thailand. Usai Perang Dunia II, tepatnya pada 1950-an, Negeri Siam dilanda wabah kekeringan.

Pada November 1955, Raja Bhumibol Adulyadej menginisiasi pembentukan Khrongkhan Fon Luang (Proyek Pembuatan Hujan Kerajaan). Dana proyek itu bersumber dari harta pribadi sang raja.

“Ia [raja] mempercayakan M.R. Debariddhi Devakula, pakar insinyur pertanian di Kementerian Pertanian dan Koperasi, untuk memimpin risetnya. Ia melakukan riset intensif dan eksperimen dari banyak ragam pengaplikasian di banyak negara, termasuk AS, Australia, dan Israel,” tulis Chamnong Pakaworawuth, dalam King Bhumibol and His Enlightened Approach to Teaching (2006: 9).

Departemen Pembuatan Hujan dan Penerbangan Pertanian Kerajaan, yang diberikan mandat oleh raja sejak 1959, baru bisa menguji coba proyek itu setelah satu dekade berjalan. Percobaan pertama berlangsung di Taman Nasional Khao Yai pada 20 Juli 1969.

Hasilnya memuaskan. Menyemai awan dengan menebar senyawa-senyawa kimia, dari garam hingga es kering, dilaporkan berhasil “menciptakan" hujan. Raja Bhumibol mematenkan penemuan itu sebagai kekayaan milik negara.

Oleh karenanya, pada Desember 2009, Yordania, yang dilaporkan mengaplikasikan Khrongkhan Fon Luang, meminta “izin khusus” kepada Thailand. Yordania adalah negara terkering keempat di dunia, dan sejak 2005 telah mengalami krisis air parah. Selain mendatangkan hujan buatan, Yordania juga membangun Read-Dead Canal dan kampanye konservasi Edama.

Baca juga artikel terkait MODIFIKASI CUACA atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin