tirto.id - Pada 28 Februari 2026, serangan militer Amerika Serikat–Israel menghantam Iran. Sebuah sekolah dasar di Minab luluh lantak, menewaskan lebih dari seratus anak. Tak lama, kabar kematian pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei, menyebar.
Garda Revolusi Iran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan radar serta sistem peringatan dini di Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Serangan ke Muwaffaq Salti, Yordania, melumpuhkan radar AN/TPY-2, jantung sistem pertahanan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Tanpa radar itu, baterai pencegat rudal lumpuh total.
Gelombang drone murah Iran juga menembus pertahanan dan merusak radar AN/FPS-132 di Al Udeid, Qatar. Infrastruktur bernilai miliaran dolar hancur, memicu kepanikan negara-negara Teluk yang mendesak Washington menutup celah pertahanan.
Setelah serangan itu, pada pertengahan April, hujan deras melanda Iran dan negara tetangganya. Rawa Huwaizah di Irak selatan yang diyakini sebagai lokasi Taman Eden dalam Alkitab, kini mulai pulih.
Kawasan yang dulunya mengering kini kembali dipenuhi air, kerbau berendam, berbagai jenis burung beterbangan, serta nelayan yang kembali mencari ikan. Sekitar 85 persen lahan basah sudah terendam air kembali. Sementara foto Anadolu Agency mencatat Sungai Khabur di Irak Utara naik lebih 5 meter setelah hujan 20 April 2026. Perubahan cuaca juga dilaporkan di perbatasan Turki, air melimpah di Bendungan Dammirtas.
Pemengaruh AS, Tucker Carlson, dalam sebuah wawancara pada November 2025 dengan Dane Wigington, mantan kontraktor CIA, menyebut modifikasi cuaca sebagai bentuk perang untuk destabilisasi pasokan pangan dan populasi.
Media sosial segera berubah jadi medan propaganda. Algoritma menandai klaim itu sebagai teori konspirasi. Modifikasi cuaca sering dianggap lelucon atau teori pinggiran.
Kenyataannya, di masa lalu militer Amerika Serikat pernah memodifikasi cuaca dalam operasi rahasia bernama Operasi Popeye pada Perang Vietnam. Mereka melakukan penyemaian awan menggunakan perak iodida untuk memperpanjang musim hujan. Targetnya adalah jalur logistik lawan seperti Jalur Ho Chi Minh, supaya menjadi berlumpur, longsor, dan sulit dilalui.
Dari sini lahir keyakinan, jika hujan bisa ditingkatkan, muncul asumsi bahwa kekeringan pun bisa diciptakan.
Cuaca sebagai Senjata
Modifikasi cuaca sebagai senjata lahir dari frustrasi Pentagon di masa Perang Vietnam. Menjelang akhir 1960-an, jalur logistik Ho Chi Minh yang melintasi Laos dan Kamboja menjadi urat nadi Viet Cong di Vietnam Selatan.
Ratusan bom konvensional gagal menghentikan arus suplai karena setiap lubang segera ditimbun kembali oleh pasukan Vietnam Utara. Militer AS menyadari untuk menghentikan pergerakan itu bukan bom, melainkan air. Jalan tanah yang berubah jadi lumpur dianggap senjata paling efektif.
Seturut Marcus D. King dalam Weaponizing Water:Water Stress and Islamic Extremist Violence in Africa and the Middle East (2023:20), Departemen Pertahanan AS mengajukan gagasan untuk menerobos tanggul-tanggul Vietnam, pada periode monsun tinggi untuk membanjiri tanaman dan memicu krisis pangan. Presiden Lyndon Johnson menolak, khawatir Vietnam Utara akan menjadikannya senjata propaganda.
Ketika perang semakin buntu, perdebatan moral muncul kembali di lingkaran Presiden Richard Nixon dan para penasihat terdekatnya, termasuk Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger.
"Nixon mempertimbangkan penggunaan strategis senjata air sebagai pilihan di samping penggunaan senjata nuklir," sambung King.
Musim panas 1966, William Sullivan, Duta Besar AS untuk Laos, mengusulkan Project Popeye. Ide ini langsung masuk meja diskusi Kepala Staf Gabungan yang langsung berkoordinasi dengan Pusat Riset Senjata Angkatan Laut (NOTS) yang ada di China Lake, California.
Di sana, Pierre Saint-Amand, ahli geofisika, memandang alam sebagai alat taktis. Baginya, cuaca adalah senjata sah bila bisa merugikan musuh. Ia terang-terangan menyatakan hal itu di hadapan senat.
"Apa pun yang dapat digunakan seseorang untuk mencapai tujuannya adalah senjata dan cuaca sama baiknya dengan senjata lainnya," ucapnya, dikutip Kristine Harper dalam Make it Rain: State Control of the Atmosphere in Twentieth-Century America (2017:202).
Di bawah arahan Saint-Amand, China Lake mengembangkan sistem piroteknik (teknik reaksi panas) yang menyuntikkan bahan kimia ke awan. Teknologi ini sudah dipraktikkan lewat Project Stormfury untuk memodifikasi badai Atlantik dengan perak iodida dan Proyek GROMET di India pada 1967 dengan menggunakan kendali cuaca untuk memecahkan masalah kekeringan. Semua ini menjadi fondasi Project Popeye.
Persetujuan akhirnya menembus Gedung Putih. Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat itu, Robert McNamara, mencatat bahwa uji coba di China Lake, California, membuktikan bahwa modifikasi cuaca bisa jadi senjata.
Desember 1966, memo rahasia beredar antara penasihat sains Donald Hornig dan penasihat keamanan Walt Rostow. Mereka menekankan urgensi uji coba di Pergunungan Annam, Laos. Targetnya selain menambah curah hujan, juga mengubah jalur infiltrasi musuh menjadi kubangan lumpur.
"Ketinggian gunung mencapai 7.500 kaki, sehingga merupakan tempat yang baik untuk menyemai awan yang ditingkatkan secara orografis, dan berada di dalam sabuk monsun, yang berarti musim kering dari November hingga Maret, dan musim hujan dari April hingga Oktober," sambung Harper (2017:207).
Nama operasi yang merujuk pada kartun penggemar bayam itu tidak pernah dijelaskan secara resmi dalam dokumen militer. Seperti banyak operasi rahasia lainnya, penamaan Popeye kemungkinan bersifat acak atau simbolik.
Namun David Reade dalam The Journal of the Air Force Historical Foundation (2024:95) menyebut William Sullivan menggunakan sandi Popeye dalam semua telegramnya ke Washington selama periode 1966-1967.
Mengubah Langit Menjadi Lumpur
Dari lima puluh percobaan di Pergunungan Annam, 82 persen awan yang disemai menghasilkan hujan. Bukti paling mengejutkan ketika satu awan bergeser ke Vietnam dan menumpahkan sembilan inci hujan dalam empat jam tepat di atas kamp pasukan khusus Amerika Serikat.
Dengan hasil itu, Project Popeye naik status menjadi operasi penuh. Pada 20 Maret 1967, Operasi Popeye resmi dimulai di wilayah Laos, lalu diperluas ke Vietnam Utara. Pasukan AS lalu mengadopsi slogan yang dilontarkan William Sullivan, "make mud, not war! (buat lumpur, bukan perang!)."
Menilik dokumen Air Weather Service Historical pada Agustus 1979, demi kerahasiaan, operasi ini juga dikenal dengan sandi Motorpool, Intermediary, Compatriot. Eksekusi misi diserahkan kepada Skuadron Pengintai Cuaca ke-54, unit pemburu badai yang berbasis di Guam. Mereka dipindahkan ke Pangkalan Udorn di Thailand, dan beroperasi di bawah kendali Angkatan Udara Ketujuh, menyamar sebagai misi pengintaian cuaca rutin.
Skuadron ini menggunakan WC-130 Hercules dan RF-4C Phantom yang dimodifikasi, terbang tanpa tanda ekor dan tanpa senjata. Target mereka adalah awan kumulus dengan energi konvektif tinggi. Pesawat dilengkapi dispenser suar perak iodida SUU-53/A buatan China Lake.
Saat menembus awan, kru melepaskan suar piroteknik berisi campuran perak iodida dan timbal iodida. Partikel kimia itu menjadi inti kondensasi, memaksa uap air membeku dan jatuh sebagai hujan deras. Mereka memerah awan yang sudah ada hingga maksimal.
"Pesawat WC-130 yang membawa rak suar yang mampu mengeluarkan 104 suar perak atau timbal iodida (wadah kartrid tipe photoflash aluminium 40 milimeter dengan primer dan rakitan lilin), diharapkan dapat menghasilkan setidaknya satu sorti (penyemaian) per hari, atau sekitar 220 jam per bulan," lanjut laporan dokumen itu.
Operasi berlangsung selama lima tahun, setiap musim hujan dari 1967 hingga 1972. Arsip Angkatan Udara mencatat 2.602 misi dengan 47.409 suar kimia dilepaskan di Vietnam Utara, Laos, Kamboja dan Vietnam Selatan, menelan biaya 21,6 juta dolar. Hasilnya curah hujan meningkat 30–45 persen, musim basah diperpanjang 30–60 hari. Jalan tanah berubah jadi lumpur, jembatan runtuh, konvoi musuh terjebak. Vietnam Utara dipaksa membayar mahal untuk menggerakkan pasukan dan suplai.
Namun, teknologi ini segera berhadapan dengan hukum alam. Desas-desus menyebut penyemaian awan menghancurkan jembatan Vietnam Utara yang tak pernah roboh oleh bom. Ironisnya, banjir buatan justru merobohkannya.
Lebih jauh, mengutip The New York Times cetakan 25 Oktober 1971, operasi ini diduga memicu badai besar seperti Topan Hester 1971 yang menewaskan ribuan warga sipil dan merusak fasilitas Amerika Serikat di dekat Saigon. Meski arsip resmi tak pernah membuktikan badai itu sengaja disemai, preseden ini menunjukkan kelemahan fatal perang geofisika.
Investigasi dan Lahirnya Hukum Internasional
Selama bertahun-tahun, Operasi Popeye dijalankan dalam kerahasiaan, bahkan disembunyikan dari pejabat sipil dan sebagian perwira tinggi AS. Program ini begitu rapat hingga tiap departemen tidak saling tahu. Ketika isu mulai mencuat, Menteri Pertahanan Melvin Laird dengan tegas membantah di hadapan Kongres bahwa senjata cuaca tak pernah ada.
Kebenaran pertama kali muncul lewat kolumnis Jack Anderson. Pada 18 Maret 1971, ia menulis di The Washington Post bahwa Angkatan Udara menggunakan pembuat hujan sebagai senjata di Asia Tenggara dengan anggaran jutaan dolar. Pada Juni di tahun yang sama, The Pentagon Papers juga menyebut Operasi Popeye sebagai modifikasi cuaca di sekitar Laos.
Puncaknya, pada 3 Juli 1972, jurnalis senior, Seymour Hersh di The New York Times membeberkan detail lengkap Operasi Popeye lewat tajuk "Rainmaking Is Used As Weapon by U.S."
Publikasi itu menghantam Pentagon, dan hanya beberapa hari setelahnya operasi dihentikan, pesawat pembuat lumpur ditarik dari medan.Kemarahan publik segera meledak. Senator Claiborne Pell, Wakil Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menuntut deklasifikasi penuh.
Pada 1974, Letnan Jenderal Soyster akhirnya bersaksi di depan senat, membuka detail mekanisme, biaya, dan dampak penyemaian awan. Investigasi terjadi di tengah gelombang kesadaran lingkungan dan skandal Watergate, membuat Popeye dijuluki "Watergate dari peperangan cuaca." Pell menyebut manipulasi badai yang menewaskan warga sipil sebagai kejahatan perang.
Desakan global kemudian melahirkan Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Lingkungan Hidup di Stockholm 1972, yang menempatkan isu ekologi di garis depan politik. Lima tahun kemudian, 18 Mei 1977, lahirlah Konvensi Modifikasi Lingkungan (ENMOD) di Jenewa. Perjanjian internasional yang melarang penggunaan teknik modifikasi lingkungan untuk tujuan militer. ENMOD berlaku penuh sejak 1978 dan Amerika meratifikasinya pada 1979.
Pasal I konvensi ini melarang mutlak penggunaan teknik modifikasi lingkungan yang berdampak luas, jangka panjang, atau parah. Pasal II mendefinisikan modifikasi lingkungan sebagai manipulasi sengaja terhadap proses alami bumi, dari atmosfer hingga litosfer.
Namun celah tetap ada. Pasal III mengizinkan penggunaan damai, membuka ruang bagi geoengineering dan penyemaian awan untuk pertanian atau mitigasi iklim. Tanpa badan investigasi independen, penegakan hukum bergantung pada Dewan Keamanan PBB yang sarat veto politik.
Operasi Popeye merupakan bukti bahwa manusia bisa memodifikasi cuaca sebagai senjata perang. Trauma sejarah ini menjelaskan mengapa publik modern mudah percaya bahwa perubahan cuaca di Timur Tengah bisa lahir dari tombol militer.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































