tirto.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan debu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah di Lampung, kemudian Banten, Jakarta hingga Bandung. Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi cukup berbahaya untuk kesehatan.
Menurut Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, abu vulkanik mengandung silika, yakni senyawa kimia berbahaya. Silika serupa serpihan kaca yang tajam, sehingga dapat melukai organ tubuh jika dihirup, terkena mata, maupun menimbulkan efek perih pada kulit.
Oleh sebab itu, melindungi tubuh dengan baik saat beraktivitas di luar ruangan sangat penting. Jika memungkinkan, tetap berada di dalam rumah ketika wilayah Anda terdampak abu vulkanik menjadi pilihan terbaik.
"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky Budiman dikutip dari Antara.
Beda Abu Vulkanik dengan Debu Biasa
Abu vulkanik memiliki senyawa yang berbahaya untuk makhluk hidup. Pasalnya, materialnya berasal dari dalam gunung berapi yang keluar bersama dengan guguran lava yang memiliki suhu panas.
Abu yang menyebar di area sekitar gunung berapi yang tengah erupsi dapat membuat tumbuhan kering dan mati. Sifat panas yang terkandung dapat membahayakan mahluk hidup, termasuk manusia.
Berdasarkan Jurnal "Physicochemical Properties and Bioreactivity of Sub-10 μm Geogenic Particles: Comparison of Volcanic Ash and Desert Dust" (2025), yang ditulis Tomašek dkk., abu vulkanik berasal dari proses geologi eksplosif sehingga memiliki perbedaan partikel, komposisi dan senyawa kimia dibanding debu biasa.

Abu vulkanik umumnya memiliki bentuk yang tajam sehingga dapat melukai organ tubuh bila terhirup melalui saluran pernapasan. Bentuknya yang tajam juga berbahaya jika masuk melalui mata, sehingga dapat menimbulkan mata berair, terasa pedih dan memerah.
Bahkan, bila mengenai kulit manusia, abu vulkanik bisa menimbulkan luka dan iritasi. Oleh karenanya, terkena abu vulkanik dalam intensitas yang sering dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Hal ini berbeda dengan debu biasa yang berasal dari limbah aktivitas sehari-hari. Walaupun tetap bisa menimbulkan masalah kesehatan, tetapi efeknya tidak secepat abu vulkanik.

Cara Membersihkan Tubuh dari Abu Vulkanik
Kandungan abu vulkanik yang mengandung senyawa berbahaya sebaiknya segera dibersihkan. Apabila tempat tinggal terdampak debu vulkanik, sebaiknya segera dibersihkan begitu kondisinya memungkinkan. Begitu pula dengan tubuh, dengan mandi terlebih dahulu setelah beraktivitas di luar ruangan selama terjadi hujan abu.
Kotoran abu vulkanik yang masuk ke dalam rumah tidak sekadar disapu atau lap, tetapi dibersihkan menggunakan air alias mengepel lantai secara berkala. Upayakan tidak menggosok abu pada permukaan atau mengibas pakaian supaya penyebaran tidak semakin meluas.
Selain itu, Dicky Budiman menghimbau kepada masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk menutup jendela dan pintu secara rapat. Dalam situasi ini, pintu dapat dibuka seperlunya. Penggunaan pakaian tertutup saat beraktivitas di luar ruangan juga sangat penting untuk menghindari paparan abu secara langsung.
Untuk mencegah masuknya abu ke dalam paru-paru dapat dilakukan dengan mengenakan masker seperti N95 yang dapat menutup mulut maupun hidung dengan rapat. Agar lebih aman, masyarakat juga dihimbau menggunakan kacamata pelindung jika tidak memiliki masalah minus atau plus.
"Jangan lupa karena ini adalah debu silika yang tajam jadi gunakan pelindung mata dengan kacamata ataupun bisa kacamata. Kalau mata teriritasi, segera bilas dengan air bersih," ucap Dicky Budiman.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Terdampak Abu Vulkanik?
Menghindari paparan abu vulkanik sangat disarankan, apalagi bagi orang-orang rentan seperti lansia, bayi dan anak-anak, penderita gangguan pernapasan, serta ibu hamil. Jika memungkinkan, sebaiknya melakukan aktivitas di dalam ruangan.
Jika ingin menetap di rumah, pastikan lingkungan rumah termasuk area aman yang ditetapkan pemerintah setempat dari risiko erupsi lainnya. Selain itu lakukan sejumlah langkah yang disarankan oleh The International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) untuk menjaga rumah dari paparan abu vulkanik, yakni:
- Menutup pintu dan jendela.
- Menutup seluruh ventilasi dan celah yang memungkinkan udara luar masuk ke dalam menggunakan selotip, terpal, atau gulungan handuk.
- Gunakan satu pintu sebagai akses keluar-masuk rumah, tinggalkan pakaian dan sepatu yang terkena abu di luar rumah.
- Jangan menggunakan peralatan rumah yang dapat menghisap udara dari luar, seperti pendingin ruangan (AC)
- Jika abu vulkanik masuk ke rumah, bersihkan pelan-pelan menggunakan kain lembap. Jangan membersihkan dengan sapu atau penyedot debu karena memungkinkan abu vulkanik beterbangan di dalam ruangan.

Apabila ternyata harus menghabiskan waktu di dalam ruangan untuk jangka waktu yang panjang, pastikan untuk:
- Cek suhu di dalam rumah dan pastikan tidak terlalu panas. Jika suhu menjadi terlalu panas, pertimbangkan untuk berlindung di tempat lain.
- Tidak menggunakan peralatan memasak dan pemanas atau peralatan lain yang menimbulkan asap.
- Tidak merokok.
- Tidak menggunakan alat pembakar tanpa saluran pembuangan seperti pemanggang. Hal ini berpotensi mengalami keracunan karbon monoksida.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id






























