Menuju konten utama

Mengenal Pulau Sertung Titik Pencarian Jurnalis-Kru yang Hilang

Pulau Sertung menjadi titik pencarian lima jurnalis hilang di Selat Sunda. Simak profil, sejarah, dan perubahan pulau akibat erupsi Anak Krakatau.

Mengenal Pulau Sertung Titik Pencarian Jurnalis-Kru yang Hilang
Pantauan CCTV dari Pulau Sertung Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Kamis (5/1/2023), saat Gunung Anak Krakatau menyemburkan abu vulkanik . ANTARA/HO-PVMBG/aa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pulau Sertung menjadi salah satu titik yang disisir tim SAR dalam pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Pulau yang berada di sebelah barat Gunung Anak Krakatau tersebut masuk dalam area pencarian karena lokasinya berada di sekitar kompleks Krakatau.

Proses penyisiran langsung di Sertung tidak mudah dilakukan lantaran pulau tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III (Siaga).

Pulau Sertung merupakan bagian dari sisa sistem kaldera Krakatau dan dikenal dengan nama Verlaten Island pada masa Hindia Belanda. Letaknya yang sangat dekat dengan Anak Krakatau membuat Sertung berulang kali terpapar material vulkanik.

Profil Pulau Sertung di Kepulauan Krakatau

Pulau Sertung merupakan salah satu pulau yang berada di Kepulauan Krakatau, Selat Sunda, Provinsi Banten. Pulau ini terletak di sebelah barat Gunung Anak Krakatau dan memiliki luas sekitar 1.057 hektare, dengan titik tertinggi mencapai sekitar 182 meter di atas permukaan laut.

Peta Pulau Sertung

Peta Pulau Sertung. Foto/Peta Wikimedia

Sejarah Pulau Sertung dan Kaitannya dengan Krakatau

Dalam catatan sejarah, dilansir Antara, Jumat (11/9/2026), Pulau Sertung pada masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Verlaten Island, yang berarti pulau yang tertinggal atau terbuang.

Sertung merupakan bagian dari sisa sistem kaldera Krakatau yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lalu, bersama Pulau Panjang dan Pulau Rakata. Letaknya yang hanya sekitar empat kilometer dari Anak Krakatau membuat Sertung menjadi salah satu daratan yang paling dekat dengan pusat aktivitas vulkanik tersebut.

Keberadaan Sertung berkaitan erat dengan sejarah besar kompleks Krakatau. Pulau ini merupakan bagian dari fragmen dinding kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883.

Setelah berbagai proses vulkanik berlangsung, kawasan tersebut berkembang menjadi kompleks pulau yang kini terdiri atas Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau.

Anak Krakatau kemudian muncul dan terus tumbuh sejak akhir 1920-an di antara sisa-sisa kawasan Krakatau lama. Karena berada di sisi barat Anak Krakatau, Sertung kerap berada di jalur paparan material erupsi berupa abu, pasir vulkanik, lapili, maupun material lainnya ketika aktivitas gunung api meningkat.

Laboratorium Alam Tanpa Penghuni

Sertung juga dikenal sebagai pulau tidak berpenghuni yang memiliki nilai penting bagi penelitian. Pulau ini dapat menjadi laboratorium alam untuk mempelajari proses geologi, ekologi, botani, serta suksesi vegetasi setelah gangguan vulkanik.

Vegetasi yang tumbuh di Sertung berkembang secara alami dalam lingkungan yang secara berkala mendapat tambahan material vulkanik dari Anak Krakatau.

Citra Satelit Ungkap Perubahan Wajah Pulau Sertung

Perubahan terbaru pada Sertung terlihat jelas melalui citra satelit Sentinel-2. Dalam citra 8 Agustus, sebagian besar permukaan Sertung masih memperlihatkan rona hijau yang menunjukkan keberadaan vegetasi.

Namun, citra 8 September memperlihatkan perubahan mencolok setelah rangkaian erupsi intensif Anak Krakatau pada 4-6 September. Rona hijau di sebagian besar wilayah Sertung hampir menghilang dan berubah menjadi abu-abu hingga kecokelatan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa erupsi tidak hanya menghasilkan kolom abu dan lontaran material yang terlihat dari sekitar gunung, tetapi juga meninggalkan jejak yang luas pada permukaan pulau di sekitarnya.

Analisis citra menunjukkan sekitar 725 hektare kawasan yang sebelumnya terdeteksi sebagai vegetasi mengalami penurunan nilai NDVI, atau sekitar 98,5 persen dari area yang sebelumnya teridentifikasi sebagai vegetasi.

Abu vulkanik yang menempel pada daun dapat menghilangkan pantulan khas vegetasi, sedangkan jatuhan material dapat merusak tajuk, mematahkan cabang, menimbun tumbuhan, atau mengubah kondisi permukaan.

Permukaan Sertung Makin Kering karena Dampak Erupsi

Perubahan karakter permukaan Sertung juga terlihat melalui analisis kanal shortwave infrared (SWIR). Kanal ini dapat membantu mengidentifikasi kandungan air pada vegetasi sekaligus membedakan vegetasi dari material permukaan yang lebih kering.

Setelah erupsi, karakter Sertung menunjukkan pergeseran menuju kondisi yang lebih kering dan minim vegetasi. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa permukaan pulau mengalami gangguan besar akibat material vulkanik yang jatuh dan menutupi sebagian kawasan vegetasi.

Dampak erupsi terhadap Sertung juga menarik jika dibandingkan dengan pulau-pulau lain di sekitar Anak Krakatau. Pulau Panjang yang berada di sisi timur masih memperlihatkan sinyal vegetasi yang relatif kuat dalam citra 8 September.

Pulau Rakata di sebelah selatan memang menunjukkan perubahan, tetapi tidak sekuat yang terlihat di Sertung. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa material erupsi tidak selalu tersebar secara merata ke seluruh arah.

Arah angin, tinggi kolom erupsi, ukuran partikel, serta jarak dari kawah menjadi faktor yang menentukan wilayah mana yang mendapat paparan material paling besar.

Kapan Vegetasi Pulau Sertung Kembali Hijau?

Sertung sendiri berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Anak Krakatau sehingga material yang sampai ke pulau tersebut kemungkinan bukan hanya abu vulkanik berukuran sangat halus.

Material yang lebih kasar seperti tefra dan lapili juga dapat jatuh di wilayah yang berdekatan dengan pusat erupsi. Ketebalan dan karakter endapan inilah yang kemudian dapat memengaruhi kondisi vegetasi.

Perubahan Sertung setelah erupsi menjadi fenomena yang menarik karena material vulkanik baru pada dasarnya merupakan bahan geologi yang belum berkembang menjadi tanah.

Abu, lapili, fragmen batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang jatuh ke permukaan kemudian akan mengalami proses pelapukan. Air hujan, perubahan suhu, aktivitas mikroorganisme, serta akumulasi bahan organik secara perlahan dapat mengubah material tersebut menjadi lingkungan yang kembali dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Proses pemulihan vegetasi Sertung diperkirakan tidak dapat langsung diketahui hanya dari satu citra satelit. Pemantauan menggunakan citra Sentinel-2 secara berkala dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana permukaan pulau berubah dari waktu ke waktu.

Jika penurunan sinyal vegetasi terutama disebabkan oleh lapisan abu yang menutupi daun, nilai NDVI dapat meningkat kembali setelah hujan membersihkan permukaan vegetasi dan tanaman menghasilkan tunas atau daun baru. Namun, jika endapan material cukup tebal dan menyebabkan kerusakan fisik yang berat, pemulihan dapat berlangsung lebih lama.

Baca juga artikel terkait ORANG HILANG atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra