Menuju konten utama
Gearbox

Lika-liku Daewoo, Raksasa Korsel yang Tumbang Karena Utang

Daewoo pernah menjadi raksasa otomotif Korea, tetapi ambruk akibat utang. Setelah diakuisisi General Motors, jejaknya tetap bertahan hingga kini.

Lika-liku Daewoo, Raksasa Korsel yang Tumbang Karena Utang
Mobil Daewoo Espero. wikimedia/DrochaidUaine
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketika bicara soal mobil Korea di Indonesia, dua merek yang sudah pasti bakal terlintas di kepala adalah Hyundai dan Kia. Tidak mengejutkan, memang, mengingat dua jenama ini sudah eksis selama puluhan tahun di Indonesia. Meskipun Kia tak lagi sepopuler dulu, Hyundai terbilang masih bisa bersaing, khususnya di tengah gempuran merek-merek Tiongkok yang datang seiring dengan merebaknya tren elektrifikasi.

Hyundai masuk ke Indonesia terlebih dahulu pada 1995 ketika Elantra mulai dirakit di Bekasi Barat. Kia, yang telah jadi anak perusahaan Hyundai sejak 1998, menyusul pada 2000 dengan peluncuran lima model sekaligus: Carnival, Sportage, Carens, Shuma, dan Visto. Perlu dicatat bahwa, sebelum itu, Kia sebenarnya sudah eksis di Tanah Air dengan emblem Timor yang digadang-gadang jadi mobil nasional namun akhirnya remuk dihajar krismon.

Meski begitu, Hyundai dan Kia sebetulnya tidak sendiri. Pada pertengahan 1990-an, sempat juga ada satu merek mobil Korea lain yang mewarnai lanskap otomotif Indonesia. Sayangnya, kiprah merek yang satu ini tidaklah panjang. Sebelum sempat benar-benar menancapkan kukunya, perusahaan induk merek ini di Korea sana gulung tikar akibat utang dan skandal. Merek yang dimaksud ialah Daewoo.

Kelahiran dan Kejatuhan Daewoo

Cerita Daewoo sebagai nameplate otomotif tidak bisa dilepaskan dari cerita Daewoo Group sebagai korporasi. Dan untuk memahami Daewoo Group, kita perlu sedikit berkenalan dengan konsep chaebol, sebuah kata Korea yang secara harfiah berarti konglomerat bisnis.

Chaebol adalah perusahaan keluarga berukuran raksasa yang menjangkau puluhan industri sekaligus. Mirip dengan zaibatsu di Jepang. Samsung, misalnya, selain dikenal sebagai produsen ponsel dan televisi, juga membangun kapal, gedung pencakar langit, dan menjalankan perusahaan asuransi. Begitu pula Daewoo di masa kejayaannya. Mereka punya galangan kapal, perusahaan konstruksi, produk elektronik, hingga jasa keuangan. Mobil hanyalah salah satu dari sekian banyak lini bisnisnya.

Daewoo Group didirikan pada 22 Maret 1967 oleh Kim Woo Choong, seorang mantan pekerja galangan kapal yang tumbuh dari latar belakang sederhana. Nama Daewoo dalam bahasa Korea berarti "alam semesta besar", sebuah nama yang mewakili mimpi besar Kim. Hanya dalam tiga dekade, Kim pun sukses menyulap perusahaan kecilnya menjadi salah satu konglomerat terbesar di Asia, bahkan sempat melampaui Renault.

Divisi otomotifnya, Daewoo Motors, punya kisah berbeda. Daewoo Motors berdiri pada 1937 di Incheon dengan nama National Motor, dan merupakan produsen mobil pertama milik Korea.

Setelah berganti nama menjadi Saenara Motor pada 1962 dan sempat merakit Datsun Bluebird dari kit yang didatangkan dari Jepang, perusahaan ini bangkrut pada 1963 setelah pemerintah Korea melarang impor kit dari Jepang. Reruntuhannya kemudian diambil alih oleh Shinjin Industrial, yang lalu berkolaborasi dengan Toyota, sebelum akhirnya bermitra dengan General Motors pada 1972 dan berganti nama menjadi General Motors Korea.

Kemitraan antara entitas yang kelak menjadi Daewoo Motors dengan General Motors berlangsung dalam beberapa babak. Setelah Shinjin menjual kepemilikannya ke bank milik negara pada 1976, perusahaan itu berganti nama lagi menjadi Saehan Motor. Baru pada 1982, setelah Daewoo Group mengambil alih kendali, nama perusahaan akhirnya berubah menjadi Daewoo Motor Co.

Mobil Daewoo Espero

Mobil Daewoo Espero. wikimedia/Bertone

Di bawah naungan Daewoo Group, divisi otomotif ini tumbuh dengan cepat. Sepanjang 1980-an, kendaraan yang diproduksi masih banyak bersandar pada model-model General Motors. Namun, Daewoo secara perlahan mulai membangun identitasnya sendiri, termasuk dengan meluncurkan LeMans pada 1986, sebuah kendaraan berbasis platform Opel Kadett yang kemudian dijual pula di Amerika Serikat dengan nama Pontiac LeMans. Kerja sama dengan GM akhirnya tuntas pada 1992, dan Daewoo Motors berdiri sebagai perusahaan independen.

Setelah mandiri, Daewoo Motors semakin agresif. Di pertengahan 1990-an, perusahaan memperkenalkan lini produk baru yang sepenuhnya rancangannya sendiri. Beberapa di antaranya digodok bersama desainer Italia ternama seperti Giorgetto Giugiaro dan rumah mode Bertone. Lanos, Nubira, dan Leganza muncul sebagai trio andalan yang semuanya dirancang untuk tampil kompetitif secara harga sekaligus mengangkat citra merek Korea di mata dunia. Daewoo bahkan membangun pabrik-pabrik baru secara besar-besaran dan membuka pasar di berbagai penjuru dunia, dari Eropa Timur hingga Asia Tengah, dari Amerika Latin hingga Afrika.

Pada masa yang sama, Daewoo Group sebagai korporasi induk tengah berada di puncak kejayaannya. Pada pertengahan 1990-an, grup ini mempekerjakan 130.000 orang di berbagai sektor. Sebelum krisis 1997-1998 melanda, Daewoo adalah konglomerat terbesar kedua di Korea setelah Hyundai Group, melampaui LG dan Samsung. Divisi otomotif mereka pun mendapat manfaat langsung dari kehebatan grup ini, karena akses terhadap modal dan sumber daya membuat ekspansi terasa nyaris tanpa batas.

Tapi di sinilah masalahnya. Ekspansi yang tak terkendali itu dibiayai oleh utang yang jumlahnya menggunung. Seperti banyak chaebol lain, Daewoo mendapat aliran dana hampir tidak terbatas dari perbankan Korea, dan mereka menggunakannya untuk terus berkembang tanpa mempertimbangkan prospek penjualan yang realistis.

Pada akhir 1997, empat chaebol terbesar Korea mencatat rasio utang terhadap ekuitas hampir lima kali lipat. Dan ketika chaebol lain seperti Samsung dan LG mulai memangkas pengeluaran di tengah krisis keuangan Asia 1997, Daewoo justru menambah 14 perusahaan baru ke dalam jaringannya yang sudah memiliki 275 anak usaha, sekaligus menambah 40 persen lebih banyak utang.

Ini adalah keputusan fatal. Ketika krisis keuangan Asia menghantam Korea dengan keras, Daewoo tiba-tiba mendapati dirinya tenggelam di bawah beban utang yang diperkirakan mencapai 50 hingga 80 miliar dolar AS, dan menjadikannya kebangkrutan korporat terbesar dalam sejarah Korea Selatan.

Pada November 1999, grup ini resmi mengajukan pernyataan pailit. Kim kabur ke Vietnam untuk menghindari tuntutan hukum. Lalu, terungkap pula bahwa para akuntan perusahaan menyembunyikan besaran utang yang sebenarnya dengan cara menyuap pejabat senilai hampir 400 juta dolar. Kim akhirnya kembali ke Korea pada 2005 dan divonis bersalah atas penipuan akuntansi sebesar 43 miliar dolar serta penyelundupan uang senilai 3,2 miliar dolar ke luar negeri. Pada 2006, ia dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.

Mobil Daewoo Matiz Creative

Mobil Daewoo Matiz Creative. wikimedia/CEFICEFI

Akar yang Enggan Tercerabut

Dari sini, wajar bila kita mengira Daewoo Motors lantas ikut-ikutan lenyap seiring ambruknya Daewoo Group. Namun, kenyataannya tidak demikian. Nasib berpihak pada perusahaan tua ini. Ketika Daewoo Group runtuh, divisi otomotifnya tidak ikut dikubur. Pemerintah Korea mengambil alih Daewoo Motors dan mulai mencari pembeli. Berbagai nama besar disebut-sebut sebagai calon pengakuisisi, termasuk Ford, Toyota, dan Hyundai, namun semuanya pada akhirnya mundur.

Sampai akhirnya, cinta lama pun bersemi kembali. General Motors, mitra lawas mereka, kembali datang. Kesepakatan akhirnya dicapai, dan pada 2002 General Motors secara resmi mengakuisisi aset utama Daewoo Motors senilai 1,2 miliar dolar untuk mendapatkan 67 persen kepemilikan perusahaan yang baru dibentuk. Perusahaan baru itu mulanya diberi nama GM Daewoo, sebelum akhirnya berganti nama menjadi GM Korea pada 2011.

Dengan beralih ke tangan General Motors, sebagian besar model Daewoo mendapat napas baru dengan nama yang berbeda. Daewoo Matiz menjelma menjadi Chevrolet Spark, sementara Daewoo Lanos menjadi dasar bagi Chevrolet Aveo. Beberapa model lainnya diteruskan ke Suzuki dan dijual di Amerika Serikat dengan nama Forenza, Reno, dan Verona, sebelum semuanya perlahan hilang seiring merosotnya penjualan Suzuki pascakrisis 2008.

Namun, warisan terbesar Daewoo bukan terletak pada nama-nama model itu. Kini, GM Korea adalah tulang punggung divisi kendaraan kecil General Motors secara global. Dari pabrik-pabrik di Bupyeong dan Changwon, lahir kendaraan-kendaraan yang laku keras di pasar Amerika dan dunia, termasuk Buick Encore GX, Chevrolet Trax, dan Chevrolet Trailblazer. Pada Maret 2026, General Motors bahkan mengumumkan investasi tambahan sebesar 300 juta dolar untuk memodernisasi fasilitas-fasilitas tersebut.

Di Indonesia, Daewoo datang dan pergi dalam waktu singkat. Espero, sedan berdesain Italia dengan sasis dari Amerika dan mesin dari General Motors, masuk ke pasar Indonesia pada 1995 melalui PT Stars Auto Dinamika sebagai agen tunggal pemegang merek. Nexia, sedan yang lebih kompak dan lebih terjangkau, menyusul tak lama setelahnya. Keduanya sempat menarik perhatian konsumen, terutama karena harga yang bersaing untuk fitur yang ditawarkan. Total penjualan Espero di Indonesia antara 1995 hingga 1999 mencapai 1.151 unit, sebuah angka yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk meninggalkan jejak di ingatan para penggemar mobil lawas.

Dan tanpa disadari, setelah Daewoo jatuh dalam pelukan General Motors, produk-produk perusahaan ini pun kembali dinikmati konsumen Indonesia. Chevrolet Trax, Spark, dan Aveo pernah meluncur di jalan-jalan Indonesia. Sayangnya, memang, pada 2020 General Motors resmi menarik diri dari Tanah Air. Dengan demikian, setidaknya untuk saat ini, praktis tidak ada lagi produk Daewoo yang dipasarkan di sini.

Kisah Daewoo, sepintas, memang terlihat penuh turbulensi dan pasang surut. Akan tetapi, sebagai produsen mobil tertua di Korea, mereka memang punya akar yang tak bisa tercerabut begitu saja, bahkan ketika badai sebesar krisis 1997-1998 melanda. Pemiliknya memang senantiasa berganti. Akan tetapi, akar yang kuat membuat kemampuan produksi "pohon" itu selalu terjaga. Dan hingga kini, ia masih terus berbuah.

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi