tirto.id - Dekade 1990-an menjadi salah satu era terpenting dalam upaya Indonesia mencari bentuk sesungguhnya dari mobil nasional. Sejak 1970-an, di bawah kendali Jenderal Soeharto, Indonesia sudah berupaya memproduksi mobil di dalam negeri. Kijang, yang merupakan hasil kerja sama dengan Toyota, menjadi produk termasyhur dari era ini. Namun, segala upaya menciptakan mobil nasional "tulen" baru benar-benar meletup pada dekade 1990-an.
Ada sederet nama yang muncul dari "era keemasan" tersebut. Mazda MR90 dan Vantrend (dua karya Indomobil), Maleo, Bakrie Beta 97 MPV, Timor, Bimantara, sampai Texmaco, adalah nama-nama yang sempat menghiasi perbincangan mengenai mobil nasional pada dasawarsa 1990-an.
Namun, di antara semuanya, yang akhirnya ketiban pulung adalah Timor, jenama dari PT Timor Putra Nasional (TPN), perusahaan milik putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto.
Alkisah, pada 1996, terbitlah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 1996 yang secara spesifik menginstruksikan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag), Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), agar secepatnya mewujudkan industri mobil nasional (mobnas) yang tonggaknya sudah ditancapkan sejak dekade 1970-an. Bersamaan dengan itu, PT TPN pun ditunjuk sebagai "pionir" mobnas.
Berkat penunjukan itu, PT TPN mendapat sejumlah insentif. Salah satunya pembebasan bea masuk dan pajak dengan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) progresif, mulai dari 20 persen pada tahun pertama, 40 persen pada tahun kedua, dan 60 persen pada tahun berikutnya. Aturan ini diberlakukan karena PT TPN pada waktu itu memang belum bisa menghasilkan mobil yang seratus persen buatan dalam negeri. Mereka waktu itu menggandeng produsen Korea Selatan (Korsel), KIA, sebagai partner.
Singkat cerita, PT TPN, lewat jenama Timor, mulai mengedarkan mobil-mobil rebadge KIA Sephia ke pasar domestik Indonesia, lengkap dengan penyesuaian TKDN sesuai aturan yang berlaku. Hasilnya bisa dibilang tidak buruk. Mobil-mobil Timor memang cukup kece untuk pertengahan dekade 1990-an. Desainnya sporty, mesinnya tangguh, dan harganya terbilang miring, berkat insentif bea masuk dan pajak.
Bayangkan saja, satu unit Timor S515 kala itu dipasarkan dengan harga Rp35 juta, alias setengah harga dari salah satu pesaingnya, Toyota Corolla. Hasilnya, pada tahun pertama, Timor berhasil menjadi merek mobil terlaris keenam di Indonesia, bahkan di atas Nissan.
Namun, catatan emas Timor hanya bertahan seumur jagung. Mereka, bersama rekanan bisnisnya, KIA, ambruk diterjang krisis moneter Asia yang melanda sejak 1997. Sebagai salah satu dari imbas krisis moneter itu, Dana Moneter Internasional (IMF)mencabut hak istimewa Timor sebagai bagian dari paket reformasi ekonomi. Singkat kata, Timor jatuh dalam waktu singkat.

Sebenarnya, Timor menolak untuk mati begitu saja. Mereka mengerahkan upaya terakhir untuk mewujudkan sesuatu yang sudah direncanakan sejak merek tersebut masih berkibar, yakni mendiversifikasi produk. Tak cuma sedan, Timor juga telah berencana menerbitkan station wagon—jenis mobil yang atapnya memanjang hingga ujung belakang bodi, sehingga ruang bagasi menyatu langsung dengan kabin penumpang—sejak 1997. Hal ini dikonfirmasi oleh Suparto Soejatmo, salah seorang petinggi TPN.
Ide merilis station wagon itu sempat mendapat berbagai tentangan internal. Pertama, station wagon bukanlah jenis mobil terpopuler di Indonesia kendatipun Mazda Vantrend sempat mencuat jadi salah satu primadona. Kedua, konversi sedan menjadi station wagon tidak sesepele membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan riset, biaya produksi, hingga uji kelayakan dari Perhubungan Darat.
Pada akhirnya, meski disertai keraguan, usulan membuat station wagon Timor akhirnya tetap dijajal. Divisi riset PT TPN, Timor Rekayasa dan Rancang Bangun (TRR), menyanggupi tantangan mengubah sedan S515 menjadi station wagon. Proses pun dimulai dengan mendatangkan satu unit KIA Sephia dari Korsel untuk dijadikan kelinci percobaan.
Untuk urusan karoseri, TRR menggandeng PT Mekar Armada Jaya (MAI), perusahaan karoseri yang bermarkas di Magelang, Jawa Tengah—kini lebih dikenal dengan nama New Armada. Hendra Susanto, pendiri komunitas KOI (Timor-er Korea Otomotif Indonesia), menyebut kedekatan personal jadi dasar pemilihan New Armada. "Bodi Timor Wagon itu bikinan karoseri New Armada di Magelang, karena dulu owner-nya New Armada dekat dengan Pak Tommy," ungkapnya.
Basis kendaraannya tetap menggunakan Timor S515i, varian sedan yang sudah lebih dulu beredar di pasaran. S515i sendiri merupakan sedan Timor bermesin DOHC, sementara S515 bermesin SOHC. Untuk proses eksekusinya, bagian atap sedan dipotong, lalu diganti dan diperpanjang hingga membentuk bodi khas station wagon, dengan penambahan pilar D agar siluetnya benar-benar terbentuk sempurna.
Dimensi keseluruhan station wagon Timor tetap sama dengan versi sedan, yakni panjang 4.360 mm, lebar 1.695 mm, dan tinggi 1.390 mm. Satu-satunya perubahan signifikan ada pada penambahan bobot sekitar 20 kilogram akibat perluasan bodi bagian belakang, yang membuat suspensi harus ikut diperkuat untuk mengimbanginya.

Meski konsepnya terkesan sederhana, pelaksanaannya jauh dari mudah. Jayadi Kusumah, pimpinan styling section TRR, mengakui betapa rumitnya proses desainnya. Rancangan harus mempertimbangkan tiga hal sekaligus: biaya, waktu, dan estetika.
Yang paling memusingkan bagi TRR adalah mencari keselarasan garis dan lekuk bodi antara bagian lama dan bagian baru agar tampilannya tetap padu. Namun, proses sulit itu menghasilkan produk ciamik. Lampu depan, lampu belakang, hingga bumper, tetap sama persis dengan versi sedan, hanya ditambah roof rail di bagian atap.
Versi purwarupa station wagon Timor, yang diberi nama SW516i, itu pun diperkenalkan secara resmi pada 20 April 1998. Peluncurannya sekaligus menjadi semacam pernyataan sikap PT TPN bahwa mereka belum menyerah.
Soal mesin, ada cerita menarik di baliknya. Pada tahap purwarupa, SW516i digadang-gadang akan menggunakan mesin 1.597 cc yang mampu menghasilkan tenaga hingga 105 hp. Namun, ketika akhirnya diproduksi dan dijual ke pasaran, spesifikasi itu tidak terwujud. Mesin yang digunakan adalah mesin 1.500 cc DOHC 16 valve dengan sistem injeksi, persis sama dengan yang dipakai oleh Timor S515i.
Pada 1999, Timor SW516i mulai diam-diam dipasarkan. Tak seperti sebelumnya, peluncuran produk ini dilakukan tanpa gegap gempita yang semestinya. Harganya saat itu dipatok Rp110 juta di Jakarta dan tersedia dalam 11 pilihan warna. Harganya memang lebih mahal dari sedan Timor biasa, tetapi masuk akal mengingat proses pengerjaan bodinya jauh lebih kompleks, ditambah inflasi dan pelemahan kurs rupiah pascakrisis.
Mulanya, PT TPN menargetkan ada 50 unit Timor SW516i untuk diproduksi. Akan tetapi, hanya 30 yang berhasil diselesaikan. Menurut Hendra Susanto, penyebab dari kurang larisnya Timor versi station wagon ini tak bisa dilepaskan dari kecilnya minat masyarakat terhadap kendaraan jenis tersebut. Keterbatasan jumlah itulah yang kini membuat nilainya melambung.
Dari cerita-cerita yang ada, Timor SW516i bisa dibilang lebih "mobnas" dibanding sedan-sedan Timor yang eksis sebelumnya, mengingat kuatnya peran TRR dan karoseri New Armada.
Sayang seribu sayang, seri ini seakan-akan hanya dirilis untuk kalah sebelum bertanding. Jenisnya tidak populer di Indonesia, sudah begitu ia juga lahir dari sebuah merek yang, tak cuma sudah sekarat, tetapi juga kental asosiasinya dengan anak kesayangan diktator yang belum lama tumbang kala itu.
Meski demikian, apresiasi yang kini dirasakan SW516i, khususnya lewat taksiran para kolektor, menunjukkan bahwa, suka tidak suka, ia adalah bagian penting dari perjalanan negeri ini mewujudkan industri mobil nasional yang, bahkan, hingga kini pun belum seratus persen terwujud.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































