tirto.id - Ada suatu masa ketika truk-truk itu ramai berkeliaran di jalan raya. Tidak ada yang spesial dari desainnya. Seperti umumnya truk yang dipasarkan di Indonesia, mereka menggunakan model cab-over, kabin (cab) terletak di atas (over) mesin. Tampak depannya kurang lebih sama dengan truk keluaran Fuso, hanya saja lampu utamanya lebih "sipit". Di bawah kaca, terpampang jelas mereknya: Perkasa.
Ditilik dari namanya, bisa dengan mudah disimpulkan bahwa truk itu adalah buatan Indonesia. Tidak sepenuhnya memang, karena motornya bermesin Steyr buatan Austria. Akan tetapi, jauh sebelum ada standar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) seperti sekarang, Perkasa sudah memproduksi truk dengan 90 persen komponen buatan dalam negeri. Ini menunjukkan suatu langkah maju yang ambisius.
Namun, usia Perkasa tidaklah lama. Tak sampai sepuluh tahun beredar, merek ini sudah lenyap dari pasaran.
Kelahiran dan Kematian Truk Perkasa
Visi besar di balik Perkasa sebenarnya bukan sekadar tentang merakit kendaraan, melainkan membangun kedaulatan industri yang berakar di tanah sendiri. Di bawah kendali Marimutu Sinivasan dan imperium Texmaco Group, PT Wahana Perkasa Auto Jaya (WPAJ) memosisikan dirinya sebagai ujung tombak manufaktur nasional. Pada 1997, mereka mendirikan fasilitas di Desa Karang Mukti, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Pabrik tersebut dirancang dengan kemampuan jauh melampaui standar industri otomotif domestik pada masanya. Mereka tidak hanya berfokus pada perakitan, tetapi juga sanggup memproduksi berbagai jenis mesin perkakas untuk menopang industrialisasi hulu di Indonesia.
Ambisi itu begitu besar sehingga Texmaco secara agresif memburu lisensi teknologi dari para pemain papan atas global untuk disuntikkan ke dalam tubuh Perkasa. Mereka mengamankan lisensi mesin diesel dari Steyr (Austria), raksasa yang juga membidani truk MAN dan Mercedes-Benz G-Class; teknologi gardan dari Cummins (Amerika Serikat); serta modul transmisi dari ZF (Jerman) yang sudah menjadi standar emas di kancah kendaraan komersial Eropa.
Salah satu bukti keganasan mekanis Perkasa terletak pada penggunaan mesin diesel Steyr WD Series, terutama tipe WD 612 enam silinder inline dengan kapasitas mencapai 6.956 cc. Mesin tersebut memiliki konfigurasi bore x stroke sebesar 108 x 120 mm, menjadikannya mesin berkarakter overstroke. Hasilnya adalah torsi raksasa yang bisa dirasakan di putaran mesin (rpm) rendah.
Varian mesin yang digunakan Perkasa pun tidak main-main, mulai dari tipe WD612 A, yang memproduksi 195 PS (setara 220 PS standar JIS) dengan torsi 650 Nm, hingga tipe tertinggi WD612 C, yang sanggup memuntahkan tenaga 240 PS (setara 265 PS standar JIS) dengan torsi brutal sebesar 825 Nm pada 1.300 rpm.
Kekuatan tersebut disalurkan melalui transmisi ZF6s-680 dengan rasio pendek (untuk akselerasi di tanjakan) atau transmisi ZF6S-90 yang berasio gigi lebih panjang (untuk mengejar top speed di jalur datar). Hebatnya lagi, dapur pacu itu sudah dinyatakan lolos uji emisi Euro 2 di Eropa sejak 1997. Artinya, Perkasa sudah beberapa langkah di depan regulasi emisi Indonesia kala itu.
Lini produk Perkasa dirancang untuk "merusak" pasar di berbagai lini, mulai dari sektor militer, logistik, hingga transportasi publik, yang ketika itu benar-benar didominasi oleh pabrikan Jepang. Di kancah militer, kredibilitas mereka dikukuhkan pada 23 April 1999. Marimutu Sinivasan, bos pabrikan tersebut, secara simbolis menyerahkan kunci 50 unit truk Perkasa kepada Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto sebagai kendaraan militer dan taktis dengan tingkat kandungan lokal mencapai 75 persen.
Untuk pasar sipil, mereka meluncurkan truk seri Bromo 195 ps (4x2) dan 220 ps (6x4) serta varian tractor head T30H. Untuk segmen bus, Perkasa menawarkan sasis seri B 07 (varian A, B, Bi, dan BiS) yang memiliki durabilitas sumbu roda setara dengan Hino RG, tetapi keluaran tenaganya sedikit melampaui Mercedes-Benz OH 1521. Bus bikinan Perkasa pun sempat digunakan salah satu PO ternama, Sumber Alam, yang bodi Setra-nya dibuat oleh karoseri Rahayu Sentosa.

Puncak dari keberanian desain mereka adalah ketika memperkenalkan purwarupa bertajuk "Laskar", truk penarik beban berat (tractor head) yang menggunakan kabin modern dengan lisensi dari pabrikan DAF Trucks asal Belanda. Langkah ini makin mempertegas upaya meng-Eropa-kan sektor kendaraan niaga Indonesia yang, tentunya, dibalut dengan "kearifan" serta komponen lokal.
Meski komponen inti, seperti mesin, gardan, dan transmisi, masih harus meminjam teknologi Eropa, mayoritas komponen pembentuk truk dan bus Perkasa adalah hasil karya anak bangsa. Persentasenya pun terus berkembang. Truk-truk yang diserahkan untuk keperluan militer baru mengandung 75 persen komponen buatan dalam negeri. Pada puncaknya, Perkasa berhasil membuat kendaraan yang 90 persen komponennya berasal dari dalam negeri. Tanpa perlu dipaksa dengan halus melalui berbagai insentif TKDN, Perkasa sudah melakukannya lewat inisiatif sendiri.
Sayang seribu sayang, usia Perkasa tidak panjang. Hanya sekitar enam tahun mereka bertahan.
Itu bukan karena mereka tidak bisa menghasilkan produk berkualitas atau gagal menggaet pasar, melainkan karena perusahaan induknya, Texmaco, kolaps. Perusahaan yang bermula sebagai produsen tekstil itu terjebak dalam pusaran utang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) mencapai Rp95 triliun.
Proses restrukturisasi melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) gagal. Itu membuat WPAJ tak mampu membeli bahan baku, membayar ribuan tenaga kerja, dan melanjutkan riset serta pengembangan (R&D). Akibatnya, pada 2004, produksi Perkasa resmi dihentikan; semua yang tersisa di pabrik Subang pun berubah jadi onggokan besi tua.
Kejatuhan Perkasa makin terasa menyakitkan saat kita menengok nasib Marimutu Sinivasan. Pada September 2024 silam, di usianya yang telah menginjak 86 tahun, ia kedapatan hendak menyeberang ke Malaysia, tetapi digagalkan pihak imigrasi. Sosok kelahiran Medan itu terlibat dalam skandal BLBI sehingga tak boleh keluar negeri sembarangan.
Perusahaan induknya bangkrut, pabriknya tutup, dan pemiliknya jadi obligator bermasalah. Pada akhirnya, begitulah nasib Perkasa yang tidak perkasa-perkasa amat. Kejatuhan mereka amat disayangkan, mengingat ambisi besar dan kompetensinya yang sebenarnya cukup menjanjikan. Namun, harus diakui bahwa mereka lahir di waktu kurang tepat, ketika iklim ekonomi dan politik sedang tidak ramah kepada siapa pun. Alhasil, Perkasa pun harus layu sebelum (benar-benar) berkembang.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































