Menuju konten utama
Gearbox

Mazda Vantrend, Station Wagon yang Pernah Populer di Indonesia

Mazda Vantrend lahir dari kegagalan proyek mobil nasional setelah Indomobil memproduksi Mazda MR90 yang harga jualnya lebih tinggi dari Kijang.

Mazda Vantrend, Station Wagon yang Pernah Populer di Indonesia
Mazda Vantrend. (Sumber: Facebook/Fajar R Aziz)

tirto.id - Sejak mobil tak lagi jadi barang langka di jalanan Indonesia, preferensi utama konsumen di negara ini selalu mengalami perubahan. Ada kalanya MPV jadi favorit, ada waktunya sedan begitu digemari, ada masanya city car dicari-cari, sampai akhirnya datanglah era SUV yang kian menjamur. Namun, di antara semua jenis mobil yang pernah begitu digemari orang Indonesia, tak pernah sekali pun ada tempat bagi station wagon—mobil berbasis sedan yang bagian belakangnya diperpanjang sampai ke atas bagasi.

Station wagon memang unik. Dibilang MPV tapi, kok, pendek seperti sedan? Dibilang sedan tapi, kok, tidak punya bagasi belakang terpisah? Dibilang hatchback tapi, kok, baris tempat duduknya ada tiga? Mobil jenis ini memang bisa dibilang merupakan mobil yang genre-bending.

Faktanya, station wagon memang tidak lahir dari pabrikan, melainkan hasil kreativitas pengusaha transportasi awal abad ke-20 yang memanfaatkan keramaian di stasiun kereta api. Ya, kata "station" pada station wagon memang merujuk pada stasiun kereta api, sedangkan "wagon" berarti kendaraan pengangkut. Para pengusaha transportasi tersebut membangun wagon di atas sasis sebuah truk atau mobil besar untuk mengangkut penumpang dan barang dari stasiun ke hotel atau sebaliknya.

Perlahan, seiring dengan makin populernya mobil, muncullah berbagai karoseri yang secara khusus bergerak di bidang modifikasi mobil menjadi station wagon. Biasanya, konsumen mereka adalah orang-orang kalangan atas yang butuh mobil berkapasitas besar dan mampu dibawa melintasi medan berat seperti area berburu. Sampai akhirnya, pada 1923, lahirlah station wagon pabrikan pertama di Amerika Serikat (AS) yang dihasilkan oleh Star, sebuah divisi dari Durant Motors (yang kini sudah tidak eksis).

Dari sana, perkembangan station wagon pun semakin pesat hingga akhirnya mobil jenis ini pun sempat menjadi idola warga Amerika Serikat pascaperang. Kondisi ekonomi yang kian membaik, ditambah dengan semakin banyaknya orang yang berkeluarga, membuat station wagon jadi kendaraan idaman di seputar dasawarsa 1950-an s/d 1970-an.

Mulai dekade 1980-an, popularitas station wagon mulai menurun seiring dengan diperkenalkannya jenis mobil bernama minivan alias MPV dan, sejak itu, station wagon pun terus kehilangan pamor. Namun, belakangan, seiring dengan jengahnya konsumen terhadap crossover SUV, dipadukan dengan semakin rajinnya produsen papan atas macam BMW dan Mercedes-Benz dalam memproduksi station wagon, mobil jenis ini pun disebut mengalami kebangkitan kembali.

Tantangan Station Wagon di Indonesia

Sekarang kita beralih ke Indonesia. Jika station wagon bisa populer di negara lain, mengapa di Indonesia tidak?

Ada beberapa alasan sebenarnya. Pertama, karena meskipun berkursi baris tiga, kapasitas station wagon cenderung lebih kecil karena ukurannya pun lebih kecil. Tak seperti SUV atau MPV yang bisa mengangkut tujuh penumpang, station wagon hanya bisa memuat lima penumpang.

Kedua, karena kondisi jalanan di Indonesia. Harus diakui, masih banyak wilayah di Indonesia yang kualitas jalannya luar biasa buruk. Tak perlu sampai ke pelosok. Di kota-kota satelit Jakarta macam Bekasi, Depok, atau Tangerang dan Tangerang Selatan sekalipun masih banyak ruas jalan yang, tak cuma bergelombang, tapi juga berlubang di sana-sini. Ini membuat station wagon yang ground clearance-nya pendek seperti sedan jadi kurang nyaman digunakan.

Mazda Vantrend

Mazda Vantrend. (Instagram/@tjgarageid2)

Ketiga, selain kualitas jalan yang buruk, banyak pula kawasan Indonesia yang rawan banjir. Dan di sini kita tidak cuma bicara Jabodetabek karena, semakin ke sini, semakin banyak wilayah di seluruh Indonesia yang semakin rawan terkena banjir. Orang-orang pun cenderung memilih mobil yang besar dan tinggi untuk mengurangi risiko air masuk mesin.

Keempat, tren global. Meski sebelumnya sudah disebutkan bahwa station wagon tengah mengalami kebangkitan, sepertinya tren itu belum sampai ke Indonesia. Apalagi, pemain dominan di segmen station wagon saat ini adalah jenama-jenama premium yang, tentu saja, harga produknya akan sulit dijangkau oleh masyarakat Indonesia yang masih didominasi kaum mendang-mending.

Kelahiran dan Popularitas Mazda Vantrend

Meski demikian, ada suatu masa ketika orang Indonesia pernah membuka hatinya pada sebuah station wagon. Pada awal dekade 1990-an, Mazda Vantrend pernah menjadi salah satu mobil terpopuler. Namun, memang, popularitas Vantrend tersebut tidak pernah menjadi norma. Sampai sekarang pun ia masih menjadi pengecualian.

Mazda Vantrend hadir di Indonesia ketika, secara umum, station wagon sudah mengalami kemunduran popularitas. Dan awalnya, mobil ini pun tidak dirancang sebagai sebuah station wagon.

Meski pertama kali dirilis pada 1993, perjalanan Mazda Vantrend sejatinya dimulai pada 1977. Akar sejarahnya dapat ditelusuri ke Mazda GLC, sebuah mobil kompak yang merupakan bagian dari keluarga Mazda Familia atau Mazda 323. Secara internasional, Mazda GLC diproduksi sejak 1977 dan dipasarkan dengan berbagai nama di banyak negara.

Usia Mazda GLC tidak berlangsung lama karena, sejak pertengahan 1980-an, mobil ini sudah tidak diproduksi lagi. Akan tetapi, tak lama kemudian, di Indonesia, mobil ini dihidupkan kembali.

Ceritanya, pada waktu itu Pemerintah Indonesia sedang getol mendorong kelahiran Mobil Nasional (Mobnas), sesuatu yang sampai sekarang pun belum benar-benar terwujud. "Tantangan" tersebut disambut positif oleh Soebronto Laras, tokoh otomotif yang kala itu menjabat sebagai Komisaris Indomobil. Soebronto merasa, karena Suzuki Indomobil Sales (SIS) sudah bisa menghasilkan mesin 1.000cc, Indomobil dapat mewujudkan wacana Mobnas tersebut.

Namun, eksekusi tak semudah rencana. Singkat kata, upaya mewujudkan Mobnas lewat jalur Suzuki gagal. Meski demikian Soebronto dan Indomobil tak patah arang. Mereka menjalankan Plan B dengan menggunakan bendera Mazda Motor Indonesia. Dari situlah kemudian lahir Mazda MR90 yang, secara khusus, dirancang sebagai mobil rakyat. Bahkan, kode MR itu pun sejatinya merupakan singkatan dari "Mobil Rakyat".

Dengan menggunakan sasis Mazda GLC, Mazda MR90 dirancang sebagai mobil penumpang dengan bodi monokok, lalu diajukan ke pemerintah sebagai kandidat Mobnas tahun 1990. Sayangnya, MR90 kemudian terbentur regulasi pajak. Lantaran berbentuk sedan, mobil ini akhirnya tetap dikenakan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah). Akibatnya, harga jual MR90 jadi lebih tinggi dari mobil yang sedianya hendak ia tantang, yaitu Toyota Kijang yang berjenis MPV.

Bisa dibilang ini adalah kegagalan kedua Indomobil. Akan tetapi, mereka tak juga menyerah. Mazda MR90 mereka ubah menjadi station wagon dan jadilah Mazda Vantrend. Dengan berbentuk station wagon, Vantrend tidak masuk dalam klasifikasi sedan sehingga tidak terkena pajak tinggi dan akhirnya bisa berkompetisi dari sisi harga. Saat itu harga jual on-the-road Jakarta hanya berkisar di angka Rp27 juta, tak jauh beda dengan Kijang.

Dengan harga sekian, konsumen sudah mendapatkan fitur seperti AC, central lock, pelek racing, ban radial merek Yokohama, head unit Sony, dan roof rail. Kemudian, dengan mesin kapasitas 1.400cc 5 percepatan manual, Mazda Vantrend mampu menghasilkan 70 HP pada 5.500 rpm dan torsi puncak 108 Nm pada 3.500 rpm. Tak hanya itu, Vantrend juga dilengkapi per daun yang kuat menahan beban berat, booster rem, dan empat lampu depan.

Pendek kata, dengan membeli Vantrend, konsumen mendapatkan mobil yang bisa memuat cukup banyak orang ataupun barang, mampu menghasilkan tenaga cukup besar untuk dibawa piknik ke luar kota, dan cukup nyaman untuk digunakan sehari-hari. Tak heran apabila mobil ini sempat begitu diminati oleh konsumen Indonesia.

Meski begitu, usia Vantrend tidak panjang. Pertama kali dirilis pada 1993, mobil ini berhenti diproduksi pada 1997, meski penjualan masih berlangsung sampai tahun 1998.

Kabar baiknya, sampai sekarang Vantrend masih cukup populer di pasar mobil bekas. Harganya pun tidak jauh berbeda dibanding ketika dirilis pertama kali dulu, yaitu antara Rp20-30 juta. Hanya saja, Vantrend yang beredar di pasar mobil bekas kebanyakan sudah tidak lagi segar alias banyak kerusakan di sana-sini. Hal ini tentu merepotkan bagi pemilik yang menginginkan mobil siap pakai.

Namun, menurut seorang pemilik bengkel bernama Doni Satrio, merestorasi atau meng-upgrade Vantrend tidaklah membutuhkan biaya besar. Bahkan, ada komponen-komponen yang bisa "diakali" dengan dibuat di tukang bubut. Dengan begitu, Vantrend semestinya tetap menjadi pilihan menarik bagi orang-orang yang ingin memiliki mobil pertama dengan harga murah meriah.

Baca juga artikel terkait MAZDA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi