tirto.id - Tumbuh besar pada dekade 1990-an, salah satu tontonan wajib saya di televisi yang tidak boleh terlewat kala itu adalah Mr. Bean. Tak peduli berapa kali episode-episode film seri itu diulang, tingkah polah karakter yang diperankan Rowan Atkinson itu selalu mengundang gelak tawa. Dan ketika kita bicara Mr. Bean, ada properti-properti yang sangat khas dari film seri tersebut. Ada boneka beruang kecil, setelan jas cokelat, tas koper kecil, serta yang mungkin paling ikonik adalah mobil yang dikendarainya ke mana-mana.
Mobil berwarna hijau limun beratap hitam itu menjadi bintang sesungguhnya dalam sejumlah episode Mr. Bean, salah satunya episode ketika ia membeli sofa dan banyak barang lainnya. Mobil kecil itu tidak cukup untuk menampung seluruh belanjaan Mr. Bean. Sampai akhirnya, yang dia lakukan adalah menyetir mobil dari atap. Mr. Bean duduk di atas sofa, lalu mengendalikan mobil dengan bantuan tali dan tongkat pel. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Atkinson adalah penggemar mobil dan memang punya kemampuan menyetir di atas rata-rata.
Adegan Mr. Bean dan mobilnya yang lucu, kecil, dan imut itu pun membuat saya yang masih bocah mau tidak mau harus bertanya kepada bapak, "Bapak, itu mobil apa, sih, sebenarnya?" Ketika itu, bapak saya menjawab bahwa mobil yang dikendarai Mr. Bean tersebut adalah Morris Mini. Saya pun mengangguk dan menjadikan ini sebagai fakta kanon selama nyaris tiga puluh tahun. Sampai akhirnya, saya menemukan fakta yang sebenarnya.
Jawaban bapak saya tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Betul bahwa mobil yang digunakan Mr. Bean itu adalah mobil Mini. Akan tetapi, produsennya bukanlah Morris, melainkan British Leyland Mini 1000 Mark IV edisi 1977. Dalam episode pilot, Mr. Bean juga sempat mengendarai Mini lain berwarna jingga, yaitu BMC Mini MK II keluaran 1969, yang akhirnya hancur.
Lalu, apabila namanya sama-sama Mini, mengapa produsennya berbeda-beda? Dan samakah Mini yang dikendarai Mr. Bean itu dengan Mini Cooper yang ada saat ini?
Mari kita jawab pertanyaan kedua dulu. Mini Cooper bukanlah brand, melainkan model. Brand-nya bernama Mini, modelnya bernama Cooper. Itulah mengapa ada Mini-Mini lain seperti Mini Countryman dan Mini Aceman. Mini baru menjadi sebuah merek pada tahun 2000, di bawah naungan BMW. Sebelumnya, saat masih dikendarai Mr. Bean, Mini adalah nama sebuah lini produk.
Saat ini, Mini adalah sebuah jenama mewah. Sebagai gambaran, harga mobil-mobilnya di Indonesia saja semuanya di atas Rp1 miliar. Yang termurah, Mini Cooper SE, dibanderol Rp1,169 miliar. Yang termahal, Mini John Cooper Works Countryman ALL4, harganya mencapai Rp1,679 miliar. Akan tetapi, Mini yang dulu tak begini. Dulu, Mini adalah mobil rakyat yang bisa dibeli oleh banyak kalangan.
Ikon Budaya Populer
Kisah Mini dimulai dari sebuah krisis. Pada 1956, konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan Terusan Suez ditutup untuk jalur pelayaran. Mengingat dua pertiga pasokan minyak untuk Eropa diangkut melewati terusan itu, bensin pun langsung dirasionalisasi di Inggris. Akibatnya, penjualan mobil besar langsung anjlok, sementara mobil-mobil kecil asal Jerman, seperti BMW Isetta dan Messerschmitt, mulai laku keras.
Leonard Lord, bos British Motor Corporation (BMC), tidak menyukai kenyataan itu. Ia benci melihat mobil-mobil "berbentuk gelembung" buatan Jerman itu merangsek masuk ke pasar Inggris. Maka, ia pun memerintahkan timnya untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai "proper miniature car". Mobil kecil yang sesungguhnya.
Syaratnya sederhana, tetapi mewujudkannya perlu keahlian tingkat dewa. Mobil itu harus muat dalam kotak berukuran panjang 10 kaki, lebar 4 kaki, dan tinggi 4 kaki, bisa menampung empat orang dewasa, dan menggunakan mesin yang sudah ada agar biaya produksi tetap rendah.
Tugas itu jatuh ke tangan Alec Issigonis, seorang desainer kelahiran Smyrna, Kekaisaran Ottoman, yang sejak muda merantau ke Inggris dan kemudian menjadi salah satu insinyur otomotif paling brilian di zamannya. Issigonis bekerja bersama tim kecil yang hanya terdiri dari sekitar sepuluh orang. Dan tim kecil itu kemudian sukses melahirkan sebuah produk revolusioner.
Inovasi paling mendasar yang dibawa Issigonis adalah tata letak mesin transversal, yaitu mesin yang dipasang melintang dari kiri ke kanan, bukan memanjang seperti lazimnya kala itu. Dengan posisi itu, ruang yang dibutuhkan mesin menjadi jauh lebih kecil. Lebih jauh lagi, transmisi atau sistem perpindahan gigi dipasang langsung di bawah mesin, berbagi oli yang sama dalam satu wadah. Hasilnya, keseluruhan sistem penggerak hanya memakan 20 persen dari panjang total mobil, dan 80 persen sisanya bisa digunakan untuk penumpang dan bagasi.
Selain mesin, Issigonis juga merancang sistem suspensi yang benar-benar baru. Alih-alih per baja konvensional, Mini menggunakan kerucut karet yang jauh lebih ringkas dan hemat ruang. Roda pun didorong sejauh mungkin ke sudut-sudut eksterior mobil untuk menciptakan mobil kecil yang lincah, responsif, dan sangat nyaman dikendarai.
Mini pertama kali dijual pada 26 Agustus 1959 dalam dua varian nama: Austin Seven dan Morris Mini-Minor. Harganya waktu itu 496 pound sterling, benar-benar terjangkau oleh kelas menengah Inggris. Mobil ini tidak menawarkan kemewahan, melainkan jawaban atas kebutuhan nyata. Dan sejak hari pertamanya di jalan, orang-orang langsung jatuh cinta.
Mini tidak hanya menjadi solusi krisis bahan bakar. Ia juga berhasil mencuri hati generasi muda yang sedang merayakan kebebasan di era Swinging Sixties, dekade 1960-an yang penuh semangat budaya pop dan gaya hidup modern. Selebriti dan musisi paling terkenal di era itu pun ikut mengendarainya, mulai dari The Beatles hingga Mike Jagger, Peter Sellers, dan bahkan Enzo Ferrari. Mini menjadi simbol bahwa seseorang tidak perlu kaya raya untuk tampil keren.
Di sinilah Mini melampaui identitasnya sebagai sekadar solusi transportasi. Ia bertransformasi menjadi ikon budaya pop. Puncaknya mungkin terjadi pada 1969, ketika tiga unit Mini berwarna merah, putih, dan biru tampil sebagai bintang film The Italian Job yang dibintangi Sir Michael Caine.
Dalam film itu, sekawanan perampok menggunakan Mini untuk melarikan diri dari kejaran polisi di jalanan sempit Torino, Italia, Mereka membawa Mini-Mini itu melaju liar menembus pasar, menaiki tangga, dan meliuk-liuk di antara lalu lintas yang macet. Secara sinematik, adegan tersebut luar biasa keren. Namun, yang lebih penting lagi, film tersebut menunjukkan pada audiens yang lebih luas betapa lincah dan tangguhnya Mini.

Jawara Reli Monte Carlo
Kiprah Mini tak hanya sampai di layar perak. Di ajang balap, prestasinya juga demikian moncer. Orang di balik kesuksesan itu adalah John Cooper, seorang builder mobil Formula One yang melihat potensi tersembunyi dalam diri Mini sejak awal. Cooper mendekati Issigonis dan meyakinkannya bahwa Mini bisa menjadi mobil berperforma tinggi. Dari situlah kemudian lahir apa yang disebut Mini Cooper pada 1961. Dilengkapi mesin 997cc yang lebih bertenaga, rem cakram di bagian depan, dan suspensi yang diperbarui, mobil ini dibanderol 680 pound sterling.
Pada 21 Januari 1964, pebalap Irlandia Paddy Hopkirk dan navigatornya Henry Liddon, memenangi Reli Monte Carlo yang bergengsi menggunakan Mini Cooper S bertenaga sekitar 90 tenaga kuda. Keberhasilan ini menjadi kisah underdog yang hingga kini masih dikenang karena, bayangkan saja, sebuah mobil dengan tenaga kuda sekecil itu berkelahi melawan mobil macam Ford Falcon bermesin V8 dan menang.
Reli Monte Carlo bukan sembarang reli karena etapenya melintasi jalan berbatu dan bersalju di antara Prancis dan Monako. Satu hal yang menarik, Hopkirk mengakui bahwa salju justru sangat membantu Mini. Di saat kendaraan yang lebih besar dan berat kesulitan, Mini yang ringan dan gesit bisa bermanuver dengan lebih leluasa.
Kemenangan itu pun bukan kebetulan. Setahun kemudian, pada 1965, Timo Mäkinen kembali membawa Mini Cooper S meraih gelar juara di Monte Carlo dalam kondisi salju dan es yang bahkan lebih ekstrem. Ia bahkan menjadi satu-satunya pebalap yang menyelesaikan seluruh etape tanpa satu pun penalti. Dua tahun kemudian, pada 1967, Rauno Aaltonen sekali lagi mengukir kemenangan untuk Mini di Monte Carlo.
Ada satu kisah dramatis dari Reli Monte Carlo 1966 yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pada tahun itu, tiga Mini Cooper S yang dibesut Mäkinen, Aaltonen, dan Hopkirk berhasil finis di posisi pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut. Namun, juri Prancis mendiskualifikasi ketiganya dengan alasan pelanggaran teknis terkait lampu yang dianggap tidak sesuai regulasi. Banyak pengamat dan sejarawan balap hingga kini masih menganggap keputusan itu sebagai politisasi olahraga, bukan keputusan teknis yang adil.
Meski begitu, warisan Mini di dunia balap sudah terlanjur terbentuk. Nama-nama besar seperti Graham Hill, Jackie Stewart, dan bahkan Niki Lauda mengawali karier balapnya dengan mengendarai Mini. Mini pun menjadi sekolah berjalan yang melahirkan para pebalap legendaris.
Ironi Kedua
Kembali ke jalan raya, Mini terus bertahan melewati berbagai badai yang melanda industri otomotif Inggris. Ketika krisis minyak OPEC melanda dunia pada 1973 dan harga bensin melonjak drastis, Mini seharusnya menjadi pemenang terbesar. Sayangnya, masalah kualitas produksi dan kisruh manajemen di bawah British Leyland, konglomerat otomotif yang mengakuisisi BMC pada 1968, membuat Mini gagal memanfaatkan momentum itu sepenuhnya. Produksi tahunan yang sempat mencapai puncaknya 320.000 unit pada 1971 akhirnya melorot tajam menjadi kurang dari 70.000 unit pada 1981.
Penyelamat Mini justru datang dari tempat yang tidak terduga: Jepang. Pada pertengahan 1980-an, penjualan Mini di Jepang melonjak dari sekitar 1.000 unit menjadi 12.000 unit dalam setahun. Pembeli Jepang tidak tertarik pada Mini sebagai alat transportasi semata, melainkan sebagai objek budaya; benda kolektibel yang sarat karakter dan gaya. Antusiasme itu menyulut kembali minat pasar di Eropa dan pada akhirnya membantu Mini bertahan hingga melewati milenium.
Mini terakhir dari lini orisinalnya, sebuah Cooper Sport berwarna merah, meluncur dari pabrik Longbridge pada 4 Oktober 2000. Total, selama 41 tahun, ada 5.387.862 unit yang berhasil diproduksi. Pada 1999, satu tahun sebelum Mini orisinal pensiun, sebuah juri yang terdiri dari lebih dari 100 jurnalis otomotif profesional dari seluruh dunia memilih Mini sebagai mobil paling berpengaruh kedua sepanjang abad ke-20, di bawah Ford Model T. Sebuah pengakuan luar biasa untuk sebuah mobil yang lahir karena situasi kepepet.
Hingga akhirnya, BMW masuk dalam kisah Mini. Agak ironis, memang, mengingat Mini awalnya dibuat untuk melawan mobil Jerman. Namun, begitulah realitas industri otomotif. Pada 1994, BMW mengakuisisi Rover Group. Salah satu alasannya karena mereka tertarik dengan hak atas nama dan bentuk Mini yang kala itu ada di bawah naungan Rover.
Ketika Rover akhirnya kolaps pada tahun 2000, BMW memilih melepas hampir semua asetnya kecuali Mini. Mereka membawa nama itu ke era baru. Mini generasi BMW resmi diluncurkan pada 2001. Ukurannya lebih besar dari pendahulunya, namun tetap mempertahankan siluet dan semangat orisinalnya.
BMW mengubah Mini dari mobil rakyat menjadi merek premium pertama di segmen mobil kecil dunia dan untuk itu mereka menanamkan investasi yang tidak kecil. Mereka mengucurkan dana hampir dua miliar pound sterling untuk mengembangkan lini model baru dan memperbarui pabrik Oxford menjadi fasilitas produksi berteknologi tinggi.
Transformasi itu berhasil. Hingga 2015, lebih dari tiga juta unit Mini generasi BMW telah terjual dan dikirim ke 110 negara, dengan 80 persen di antaranya diekspor dari pabrik Oxford. Mini kini bukan lagi mobil semua orang, melainkan mobil untuk mereka yang mau membayar lebih demi gaya hidup tertentu.
Ini adalah ironi keduanya. Yakni, bagaimana sebuah mobil yang lahir dari tekad untuk membuat kendaraan murah dan merakyat, yang menjadi jawaban bagi krisis minyak, yang mengalahkan mobil-mobil mahal di lintasan balap, dan yang dirayakan oleh raja dan rakyat jelata dalam kesetaraan yang langka, kini telah menjelma menjadi simbol eksklusivitas. Tapi, mungkin itulah keajaiban Mini yang sesungguhnya. Apa pun identitas yang disandangnya, dunia selalu punya alasan untuk tetap mencintainya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































