13 April 1517

Sejarah Penyerbuan dan Penaklukan Kairo oleh Kesultanan Utsmaniyah

Oleh: Muhammad Iqbal - 13 April 2021
Dibaca Normal 5 menit
Pusat kekuasaan Islam beralih dari Kairo ke Istanbul setelah Kesultanan Mamluk ditaklukan oleh pasukan Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah).
tirto.id - Kesultanan Mamluk di Kairo, Mesir, ditaklukkan oleh pasukan Ottoman (Turki Utsmaniyah) pada 13 April 1517, tepat hari ini 504 tahun silam. Kairo yang semula menjadi pusat kekuatan Islam di Timur sejak era Shalahuddin al-Ayyubi (Saladin), tidak lagi menjadi kota kekaisaran, berubah menjadi kota provinsi.

Maka itu, Makkah dan Madinah pun otomatis menjadi bagian dari Kekhalifahan Ottoman. Khatib-khatib di Mesir yang memimpin salat Jumat, seperti ditulis Philip K. Hitti dalam History of the Arabs (2005: 901), melantunkan doa untuk Sultan Selim I:

"Ya Allah, junjung tinggi sultan, putranya, penguasa dua daratan dan dua lautan, penakluk keduanya; raja dua Irak, pelindung dua Kota Suci, Raja Salim Shah yang diliputi kemenangan. Limpahkanlah kepadanya, wahai Tuhan kami, pertolongan-Mu yang mulia, perkenankan ia mendapatkan kemenangan nan agung, wahai Tuhan penguasa dunia dan akhirat. Ya Allah, Tuhan semesta alam."

Dekadensi

Sebelum penaklukan itu, menurut George Saliba dalam Islamic Science and the Making of the European Renaissance (2007), tatkala Eropa berkembang dari zaman Renaissance ke zaman Reformasi hingga Pencerahan, Kairo membungkus dirinya dalam kepompong Islami. Puisi--seni yang sangat dihargai wangsa Ayyubiyah (dinasti sebelumnya yang jatuh pada tahun 1250), sehingga salah seorang sultannya memerintahkan penyair favoritnya tidur di ruang sultan--digantikan dengan kaligrafi. Di Kairo era Mamluk, sebuah al-Qur’an yang diterangi kerap lebih berharga daripada masjid mewah yang menaunginya.

Sementara Daniel A. Stolz dalam The Lighthouse and the Observatory: Islam, Science, and Empire in Late Ottoman Egypt (2018) menerangkan, ketertarikan dalam ilmu kesehatan--sains yang disempurnakan sedemikian rupa sehingga dokter Kairo, Ibnu al-Anfis (1213-1288) menggambarkan peredaran darah 350 tahun sebelum "penemuannya" oleh William Harvey--memudar oleh sains kedokteran hewan yang diperlukan oleh pemerintah Mamluk yang gila terhadap kuda.

Pada akhir era Mamluk, seturut catatan Leo Africanus dalam The History and Description of Africa, Volume 1 & 2: And of the Notable Things Therein Contained (2010), penduduk Kairo “adalah orang yang sangat baik dan ceria [...] Namun, mereka hanya mahir berbicara, jarang menerapkannya secara nyata [...] Banyak di antaranya mempelajari hukum, tapi sangat sedikit mempelajari sastra. Meskipun kampus selalu dipenuhi cerdik-cendekia, sangat sedikit yang memperoleh keuntungan darinya.”

Selain itu, kejahatan yang dilakukan tentara Mamluk pun mempercepat kemundurannya. Disiplin keras dan kesetiaan mereka berangsur memburuk. Pada akhir abad ke-15, mereka menjadi parasit yang memanfaatkan hak istimewanya yang berlebihan dan memperlakukan warga biasa dengan sewenang-wenang.

Sebagai contoh, sekali waktu orang-orang Mamluk yang senang bergurau itu menerbitkan pajak atas kebotakan, lalu berkuda ke kota sembari melemparkan sorban dari kepala warga dalam rangka pemungutan pajak. Namun, pemanah dan penunggang kuda ini tidak memedulikan daerah perkotaan Kairo.

Seperti dikisahkan al-Maqrizi dalam karya Andrew McGregor, A Military History of Modern Egypt: From the Ottoman Conquest to the Ramadan War (2006: 12), mereka menjadi lebih haus seks ketimbang monyet, lebih senang mencuri daripada tikus, dan lebih menghancurkan melebihi serigala.

Al-Maqrizi mengutuk sikap orang-orang Mamluk yang kurang ajar ini dengan kata-kata tajam: “Mereka masuk ke rumah pemandian dan menculik kaum perempuan dengan kekerasan. Mereka melakukan pelbagai hal menjijikkan yang bahkan tidak akan dilakukan bangsa Eropa, jika mereka menjadi penguasa di negeri ini.”


Pertempuran dan Keruntuhan

Pada 18 Mei 1516, menurut Max Rodenbeck dalam Cairo: The City Victorious (2017: 172-4), seluruh pasukan Mamluk berhimpun di hipodrom atau arena pacuan kuda di kaki Benteng Kota, dan mengepulkan debu yang menyelimuti istana besar sultan. Duapuluh empat amir memimpin pasukan budak yang beberapa di antaranya dengan seribu kavaleri berpakaian lengkap, lainnya dengan seratus atau empat puluh atau kurang dari itu.

Sementara pasukan Mamluk Sultan, satuan elite berpakaian jubah linen putih dipersenjatai dengan busur, lembing, dan pedang pendek maupun panjang, berkekuatan 5.000 orang. Seluruh pasukan akhirnya membentuk barisan, dan Sultan Qansuh al-Ghuri turun dari istana lalu segera memberi tanda agar prosesi dimulai.

Pasukan kemudian bergerak ke jantung kota. Trompet kesultanan yang membahana, gaduhnya tambur, langkah kaki kuda, dan ratapan perempuan Kairo yang menyayat hati bergema di sepanjang Qasaba, dipantulkan tembok batu masjid raksasa Sultan Hasan dan bergemuruh di bawah gerbang tinggi Bab Zuwalya. Tiga gajah yang dihias memimpin di depan tanpa mengeluarkan suara.

Lalu sorak-sorai simpati menyambut sosok Khalifah al-Mutawakkil III, penguasa terakhir Bani Abbasiyah--yang saat itu hanya menjadi badut karena tugas satu-satunya adalah menyepakati setiap keputusan sultan. Kemudian kuda-kuda sultan menyusul di belakangnya. Setelah itu, muncul pasukan infanteri bersenjatakan tombak. Lalu gerobak penglengkapan sultan, termasuk empat puluh al-Qur’an besar yang diterangi, dan pembawa dupa. Sultan berjalan menunggangi kuda dalam kepulan dupa.

Iring-iringan bergerak melalui gerbang dan menyusuri Qasaba melewati makam para sultan Kairo terdahulu. Rombongan juga melewati kompleks permakaman baru yang mewah milik al-Ghuri. Sepanjang rute menuju Bab al-Futuh (Gerbang Penaklukan), para pemilik toko berdoa meminta kesuksesan, sementara perempuan bersenandung dari jendela di lantai atas.

Namun, keramaian itu juga diwarnai gumaman warga yang telah dipajaki untuk membayar pasukan ini. Bahkan tukang sampah pun ditarik pajak tanpa kenal ampun.

Di sisi lain, pasukan Ottoman (Turki Utsmaniyah) yang akan mereka temui telah dilengkapi dengan dengan senapan dan artileri untuk memperoleh kembali kemenangan sejak penaklukan Konstantinopel pada 1453. Menurut Eugene Rogan dalam The Arabs: A History (2017: 23-7), Selim I, Sultan Ottoman, ditahbiskan sebagai “Selim Sang Pemurung” karena membunuh sebanyak mungkin kerabat lelakinya, dengan tujuan untuk mengamankan takhta. Selim I tampak masih segar dan penuh percaya diri setelah kemenangan terakhirnya atas bangsa Persia.

Beberapa orang di Qasaba pernah mendengar bahwa pasukan Ottoman menolak usulan perdamaian dari al-Ghuri. Pasukan itu baru saja mengalahkan kerajaan kecil di Anatolia timur yang merupakan sekutu pemerintahan Mamluk.

Meski demikian, utusan Selim I tetap disambut di Benteng Kota--hanya untuk melemparkan kepala sekutunya yang sudah dikalahkan ke hadapan al-Ghuri. Memang, provokasi sultan Ottoman ini tidak mengenal batas. Selim I telah mempermalukan duta terakhir Kairo dengan menelanjanginya dan memaksanya untuk membawa sekeranjang tahi kuda di atas kepalanya.

Di luar itu, tersebar kabar tentang meriam anyar al-Ghuri yang menelan banyak biaya, tidak dapat bergerak luwes dan tak bisa ditembakkan. Juga terdengar rencana pengkhianatan.

Tiga bulan kemudian, berita buruk tiba dari Suriah utara. Pasukan Ottoman mengalahkan pasukan Mamluk. Artileri ringan Selim I membuat panik kavaleri mereka. Infanteri Ottoman yang lambat dan berat, dipersenjatai dengan senapan yang dipandang pemanah berkuda Mamluk sebagai pengecut, telah menghancurkan serbuan kavaleri. Salah satu komandan al-Ghuri mengkhianati Sultan Mamluk, menarik mundur seluruh pasukannya di sayap kiri.

Pasukan Ottoman berhasil menangkap khalifah dan merampas al-Qur’an milik sultan, logo pemerintahan Mamluk, dan lima puluh unta yang dipenuhi emas. Sementara Sultan Qansuh al-Ghuri terjatuh dari tunggangannya dan mati akibat penyakit ayan. Jenazahnya tidak pernah ditemukan.

Sisa pasukan Mamluk yang berusaha melarikan diri ke Kairo diadang perampok Bedouin. Mereka tiba di kota, tulis sejarawan Ibnu Ilyas, “dalam kondisi tidak berdaya yang paling menyedihkan, kelaparan, lemah, dengan pakaian terkulai di lehernya… Saat itu sungguh masa-masa dipenuhi huzun, keputusasaan” (Rodenbeck 2017: 175-6).


Kairo di Bawah Ottoman

Dalam Ottoman Egypt and the Emergence of the Modern World: 1500-1800 (2014: 10-21), Nelly Hanna menerangkan bahwa pada 13 April 1517, Selim I (Sang Pemurung) berdiri di depan gerbang utara Kairo. Artilerinya menghancurkan pasukan kavaleri Mamluk terakhir. Pasukan Ottoman yang mabuk kemenangan menyerbu ke dalam kota lalu mengamuk, memerkosa, dan menjarah selama empat hari. Mereka menangkap sekitar 800 prajurit Mamluk dan membunuhnya. Beberapa minggu kemudian, jenderal Mamluk terakhir diserahkan kepada penyerang, lalu Selim I memerintahkannya untuk digantung di Bab Zuwalya.

“Penjahat dan bajingan Mesir,” tulis Ibnu Ilyas, “memberitahukan pasukan Ottoman tempat persembunyian harta para putri dan kaum bangsawan, lantas pakaian mereka nan mewah pun dibawa pergi. Singkat cerita, perbendaharaan Mamluk pun jatuh ke tangan orang Ottoman… pakaian dan persenjataan, kuda dan keledai, budak lelaki dan perempuan, dan semua barang berharga.”

Infografik Mozaik Ottoman Menduduki Kairo
Infografik Mozaik Ottoman Menduduki Kairo. tirto.id/Sabit


Sementara Stanford Jay Shaw dalam The Financial and Administrative Organization and Development of Ottoman Egypt, 1517-1798 (2016) mencatat, pasukan Ottoman mengumpulkan orang yang lalu lalang, “tanpa memedulikan jabatannya,” dan mencambuki mereka untuk membawa barang jarahan ke pelabuhan.

Selim I merampas semua perabotan dari istana-istana di dalam Benteng Kota, tidak menyisakan manuskrip dan karpet yang berharga, tiang porfiri dan ubin marmer, atau peninggalan suci seperti janggut Nabi Muhammad dan pedang Zulfiqar. Ia juga mengumpulkan hampir dua ribu pedagang terkaya, seniman terbaik, dan ahli hukum untuk dikirim ke Istanbul sebagai tahanan.

Ketika Selim I sendiri pergi, wakil sultan Ottoman yang dia tinggalkan memecat para pelayan Mamluk di istana Benteng Kota. “Singkat kata,” imbuh Ibnu Ilyas, “dia menghancurkan seluruh sistem lama Benteng Kota, dan memperkenalkan aturan Ottoman, yang paling kejam dari seluruh aturan.”

Khalifah al-Mutawakkil III yang ditahan di Istanbul memohon untuk dipulangkan ke Kairo. Ia menyerahkan gelarnya sebagai pemimpin spiritual Islam Sunni. Sebagai balasannya, keturunan terakhir Abbasiyah ini diberikan dana secukupnya dan diizinkan kembali ke kota yang dicintainya di tepi Sungai Nil sampai dia wafat.

Usai sudah kejayaan Mamluk di Kairo abad pertengahan. Dari pusat kekaisaran yang megah, puncak peradaban Islam, dan pusat perdagangan Laut Tengah, kota itu tersaruk menjadi menjadi kota biasa. Ádám Mestyán dalam Arab patriotism: the ideology and culture of power in late Ottoman Egypt (2018) mengisahkan, Kairo sekadar menjadi kota garnisun Ottoman, tempat yang tidak begitu penting di dalam kekaisaran yang sangat luas. Sepanjang 300 tahun pemerintahan Ottoman, tak satu pun monumen didirikan untuk menyaingi kemegahan masjid, universitas, dan makam besar di zaman Mamluk.

Meski demikian, keadaan Kairo sebetulnya tidak begitu mengerikan. Kota ini memang mengalami stagnasi di bawah Ottoman. Ibu kota kekaisaran yang jauh di selat Bosporus menarik semua bakat dan upeti. Kepakaran pelayaran bangsa Belanda dan Portugis memindahkan transit perdagangannya ke Samudera Hindia. Namun, Kairo tetap menjadi kota besar dan cukup makmur, meski kalah oleh Istanbul. Kemunduran tidak begitu terasa sampai kekhalifahan Ottoman mulai tercerai berai.

Arkian, Selim I meninggal pada 1520. Menurut Colin Imber dalam The Ottoman Empire, 1300-1650: The Structure of Power (2003: 65-6), delapan tahun masa pemerintahannya telah menggandakan luas kekhalifahan Ottoman. Kekuasaannya meliputi wilayah Safavid (Dinasti Safawiyah) di bagian timur dan tenggara Anatolia; seluruh wilayah dari Kesultanan Mamluk di Mesir, Suriah, Lebanon, Palestina, dan Hijaz; serta Tunisia dan Aljazair di Afrika Utara.

Baca juga artikel terkait OTTOMAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Politik)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Irfan Teguh
DarkLight