tirto.id - Lima belas tahun adalah waktu yang panjang, termasuk bagi sebuah harapan yang pada akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan.
Lima belas tahun lalu, Luca di Montezemolo, yang ketika itu menjabat sebagai chairman Ferrari, dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap elektrifikasi. Di Montezemolo berkata bahwa elektrifikasi "tidak merepresentasikan langkah maju untuk memerangi polusi serta menyelamatkan lingkungan".
Alih-alih elektrifikasi, solusi yang ditawarkan sosok kelahiran Bologna tersebut, kala itu, adalah membawa Ferrari ke arena mobil hybrid. "Kami sedang mengupayakan kehadiran Ferrari hybrid. Ini adalah solusi yang lebih tepat untuk masa depan dan, diharapkan, dalam beberapa tahun, proyek kami akan jadi kenyataan," ujarnya.
Lima belas tahun telah berlalu sejak pernyataan tersebut dan, nyatanya, semua ucapan Di Montezemolo mentah begitu saja. Ferrari tidak pernah meluncurkan model hybrid apa pun. Justru pada 2026 mereka akhirnya memperkenalkan mobil listrik (EV) pertama mereka yang diberi nama Luce--dalam bahasa Latin berarti "Cahaya".
Di Montezemolo praktis sudah tidak punya urusan dengan Ferrari sejak 2014 usai mengundurkan diri dan posisinya dan digantikan oleh Sergio Marchionne. Namun, melihat Ferrari dengan Luce-nya, laki-laki yang kini duduk di jajaran direksi McLaren Group tersebut mau tidak mau buka suara. Menurutnya, Luce adalah produk yang bisa menghancurkan sebuah jenama legendaris dan Ferrari semestinya mencabut emblem mereka dari mobil tersebut.
Reaksi yang cukup keras, memang. Akan tetapi, jika Anda mengira ini lahir dari rasa sakit hati seorang mantan karyawan, Anda salah besar. Sebab, Di Montezemolo bukan satu-satunya orang yang mengkritik habis Ferrari Luce. Matteo Salvini, Wakil Perdana Menteri Italia, misalnya, berkomentar dengan nada sinis, "Jadi ini yang namanya inovasi? Saya jadi bertanya-tanya, apa yang akan diucapkan Enzo Ferrari kalau sampai dia melihat mobil ini."
Mendengar semua ini, Anda mungkin bertanya-tanya. Seburuk itukah Ferrari Luce?
Sebenarnya, tidak semua dari Ferrari Luce bisa dibilang sebagai sebuah kegagalan. Keberadaan motor listrik di tiap roda membuatnya bisa menghasilkan tenaga hingga 1.035 hp dan sanggup melesat dari 0 ke 100 km/jam hanya dalam waktu 2,5 detik. Ini menunjukkan bahwa nyawa supercar ala Ferrari masih dibawa oleh Luce.
Selain itu, interior Luce juga istimewa. Panel instrumennya menampilkan tiga layar bulat yang menggabungkan jarum analog dengan teknologi OLED dari Samsung. Roda kemudinya terbuat dari aluminium padat yang terinspirasi dari Ferrari 250 Europa klasik. Lalu, tuas transmisinya dibuat dengan Gorilla Glass yang dilubangi dengan 13.000 titik laser untuk memunculkan cahaya dari dalam.
Namun, desain eksteriornya memang sangat kontroversial. Dari luar, praktis identitas Ferrari yang tertinggal hanyalah emblem. Sementara, bagian-bagian lainnya bahkan bisa dengan mudah ditemukan di mobil-mobil listrik pada umumnya. Ada yang membandingkan desain Luce dengan Nissan Leaf. Ada pula yang menyebutnya mobil Hyundai yang kemahalan--saya sendiri bisa melihat lekuk desain Hyundai Ioniq 5 pada diri Luce.
Rangkaian kritik itu langsung berimbas pada anjloknya harga saham Ferrari sebanyak delapan persen di bursa Milano dan lima persen di pasar New York. Meski demikian, sebetulnya tidak semua tanggapan bernada negatif. Ada pula segelintir yang menilai desain Ferrari Luce sebagai "masterclass", dan ini tidak bisa dipisahkan dari siapa sosok yang berada di balik tampilan mobil tersebut.
Sosok yang dimaksud adalah Jony Ive, eks kepala desainer Apple yang bertanggung jawab atas tampilan iPhone, iMac, dan hampir semua produk Apple selama hampir tiga dekade. Karya-karya Ive di Apple memang ikonik dan mampu menghadirkan identitas tersendiri yang tidak bisa disamai merek mana pun. Namun, seperti yang dituliskan kepala editor Motor1, Jeff Perez, dalam kolomnya, Ferrari tidak bisa disamakan begitu saja dengan iPhone.
Filosofi desain Ive selama ini bertumpu pada gagasan bahwa produk yang baik adalah produk yang tidak mencuri perhatian dan membiarkan penggunanya jadi pusat cerita. Untuk produk gawai, filosofi itu terbukti bekerja dengan baik. Namun, Ferrari, dari awal berdirinya, sudah dirancang untuk mencuri perhatian. Ketika orang membeli Ferrari, yang mereka cari bukan sekadar fungsi, tetapi lebih kepada gengsi; bagaimana mereka kemudian dipandang orang lain yang terkagum-kagum melihat keindahan lekuk mobil yang mereka kendarai.
Raphael Zammit, ketua program desain transportasi di College for Creative Studies di Michigan, menyebut kolaborasi Ferrari dan LoveForm, firma desain Ive, sebagai ketidakcocokan fundamental. "Wajah mobil ini tidak bisa diidentifikasi. Ini adalah ketidaksesuaian dengan mereknya," katanya kepada The Verge. Derek Jenkins dari Lucid Motors menambahkan bahwa dari eksterior Luce, hampir tidak ada yang tersisa dari bahasa desain Ferrari.
Keputusan Ferrari untuk menyerahkan desain ke tangan orang luar juga memunculkan pertanyaan tersendiri. Pasalnya, selama satu dekade terakhir, tim desain internal Ferrari sudah membuktikan diri bahwa mereka mampu mendesain mobil yang berbeda dari Ferrari-Ferrari sebelumnya tetapi masih terasa seperti Ferrari. Bahkan Purosangue, SUV pertama Ferrari yang juga sempat dihujat pada 2022, saja masih terasa ke-Ferrari-annya.

Maka, pertanyaan baru pun layak untuk dikemukakan. Siapa sebetulnya target market Ferrari Luce?
CEO Ferrari Benedetto Vigna secara terbuka menyatakan bahwa Luce memang tidak ditujukan untuk basis penggemar inti Ferrari. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, Ferrari memberi prioritas yang sama antara pelanggan baru dan pelanggan lama dalam antrean pemesanan. Para pelanggan baru tersebut, menurut analis independen Scott Sherwood, kemungkinan besar adalah para pengusaha dan petinggi perusahaan teknologi di Sillicon Valley.
Selain itu, pasar otomotif Tiongkok juga disebut sebagai target pasar tersendiri. Vigna pernah menyebut bahwa salah satu mobil baru Ferrari pada 2026 dirancang untuk "lebih sesuai dengan portofolio" di pasar Tiongkok. China adalah pasar EV terbesar di dunia. Konsumen kelas atas di sana terbiasa dengan desain yang bersih, luas, dan penuh kaca. Luce, dengan segala estetikanya yang minimalis, tampaknya memang dirancang untuk Shanghai alih-alih Maranello.
Ferrari berani mengambil risiko sebesar ini karena sebuah paradoks. Di tengah badai elektrifikasi yang menghantam industri otomotif global, Ferrari justru menjadi produsen mobil paling bernilai di Eropa. Nilai pasar Ferrari kini mencapai sekitar 57 miliar euro, melampaui Volkswagen yang memproduksi hampir 700 kali lebih banyak mobil per tahun. Dalam lima tahun terakhir, nilai VW anjlok 59 persen dan Stellantis turun 57 persen. Ferrari, sementara itu, naik 71 persen.
Hal itu bisa terjadi karena arena permainan Ferrari memang tidak sama dengan sebagian besar pabrikan di seluruh dunia. Ketika BYD dan merek-merek Tiongkok mendobrak pasar dengan EV murah berkualitas tinggi, Ferrari tetap tenang karena pelanggannya tidak pernah mencari yang murah. Perlu dicatat bahwa harga Ferrari Luce diperkirakan mencapai $640.000 s/d $750.000 (sekitar Rp11,4 s/d Rp13,4 miliar), tetapi dengan jumlah miliarder global kini sudah melewati 3.400 orang (naik 64 persen sejak 2020), harga ini bukan persoalan besar.
Selain itu, Vigna juga menarget generasi berikutnya. Yakni, orang-orang yang lebih terbuka pada kendaraan listrik dan mungkin tidak punya nostalgia emosional yang sama terhadap suara mesin Ferrari. Luce adalah taruhan bahwa Ferrari bisa memenangkan hati generasi tersebut.
Luce bukanlah pertaruhan pertama Ferrari. Purosangue, bisa dibilang, adalah mobil Ferrari pertama yang mendobrak pakem tradisional pabrikan tersebut. Meski dihujat para penggemar setia, nyatanya Purosangue kini jadi salah satu model terlaris Ferrari dengan permintaan yang melampaui jumlah pasokan.
Meski begitu, semuanya masih berupa hitung-hitungan di atas kertas. Pertaruhan Ferrari memang masuk akal. Namun, mereka perlu berkaca pula dari apa yang dialami Lamborghini dan Porsche (keduanya berada di bawah naungan VW Group). Lemahnya permintaan EV membuat Lamborghini membatalkan program tersebut, sementara Porsche, yang sudah kadung membuat EV dan akhirnya tak laku, sempat dibuat kalang kabut untuk menutup kerugian dari proyek tersebut.
Ferrari, tampaknya, juga cukup mawas diri. Target EV mereka tak muluk-muluk. Dari semula menargetkan penjualan EV hingga 40 persen dari total penjualan mereka di 2030, kini target yang ditetapkan adalah 20 persen. Ini mengindikasikan bahwa, meski sudah ada Luce, fokus utama Ferrari masih tetap pada mobil-mobil tradisional mereka.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa peluncuran Luce, sekaligus masuknya Ferrari ke segmen EV, tidak terjadi karena mereka kepepet. Mereka melakukan ini dengan kesadaran penuh dan tahu persis siapa yang kira-kira berminat pada mobil tersebut. Tradisionalis boleh saja mencak-mencak. Akan tetapi, Ferrari, biar bagaimana pun, adalah sebuah perusahaan yang harus melakukan pembaruan dan inovasi untuk terus melebarkan jangkauan. Luce mungkin bukan debut yang sempurna, tetapi bukan berarti ia takkan berguna selamanya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























