tirto.id - Pengumuman itu datang pada 2 Mei 2024. Tidak mengejutkan, tetapi bukan berarti tidak menyakitkan. Astra France Motor mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menjual merek Peugeot di Indonesia. Hari itu, perjalanan jenama asal Prancis tersebut, yang sudah berlangsung selama lebih dari lima dasawarsa, resmi berakhir.
Keputusan itu tidak mengagetkan karena kiprah Peugeot di Indonesia memang semakin lama semakin loyo. Pada 2023 saja mereka cuma bisa menjual 199 unit kendaraan, yang membuat mereka terdampar di urutan ke-28 klasemen merek mobil terlaris versi Gaikindo. Di kuartal pertama 2024, angkanya lebih menyedihkan. Hanya 24 yang berhasil terjual atau turun 67,6 persen secara year-to-date.
Dari situ, wajar kiranya apabila Stellantis, induk perusahaan Peugeot, menarik tuas rem. Secara resmi, alasan yang dikemukakan adalah Stellantis tak lagi menjadikan pasar Indonesia sebagai prioritas. Padahal, faktanya adalah sebaliknya. Masyarakat Indonesia tidak lagi tertarik pada produk-produk mereka dengan berbagai alasan.
Bermula dari Penggilingan Biji-bijian
Peugeot pertama kali datang ke Tanah Air pada 1972 melalui PT Multi France Motor yang kemudian diakuisisi oleh PT Astra International dan menjadi Astra France Motor. Artinya, Peugeot datang ke Indonesia kurang lebih 162 tahun sejak perusahaan ini berdiri.
Sebagai sebuah perusahaan, Peugeot sudah eksis sejak 1810. Kala itu, mereka belum menjual mobil. Awalnya, Jean-Frédéric dan Jean-Pierre II Peugeot mengubah penggilingan biji-bijian keluarga mereka menjadi pabrik baja di Hérimoncourt, Prancis. Nama Peugeot pun dikenal sebagai merek perkakas yang memproduksi gergaji, pegas, bahkan penumbuk lada.
Kiprah Peugeot di dunia permobilan baru terjadi pada 1889 ketika Armand Peugeot memperkenalkan kendaraan bertenaga uap tiga roda di Pameran Dunia Paris. Dua tahun kemudian, mereka mulai memproduksi kendaraan berbahan bakar secara massal. Dari sana, perjalanan Peugeot tidak pernah berhenti. Mereka melahirkan model-model ikonik seperti 205, yang menjadi mobil terlaris di Prancis dan juara reli dunia dua kali, sebelum kemudian menyerahkan tongkat estafet kepada penerusnya, yakni Peugeot 206.
Diperkenalkan pertama kali pada September 1998 sebagai hatchback tiga pintu, Peugeot 206 langsung menjadi sensasi di Eropa. Desainnya segar, kompak, dan punya aerodinamika yang cukup apik dengan koefisien hambatan udara 0,32. Lampu depannya menyerupai mata kucing yang tajam, hidungnya pendek, dan garis tubuhnya melengkung tanpa banyak sudut menyiku. Bagi pasar yang sudah lama mengenal 205, 206 tampak seperti evolusi yang sangat masuk akal.

Seperti halnya 205, 206 pun sanggup berbicara banyak di ajang World Rally Championship (WRC). Mobil ini mengantarkan Marcus Grönholm menjadi juara dunia WRC dua kali pada 2000 dan 2002. Richard Burns juga sukses menjadi juara WRC 2001 dengan mobil ini. Tak pelak, titel juara dunia konstruktor pun disabet Peugeot secara berturut-turut dari 2000 hingga 2002.
Keberhasilan di kancah WRC itu pun membuat Grönholm tak ragu menyebut Peugeot 206 sebagai mobil favoritnya. Dalam wawancara bersama media reli Amerika, DirtFish, Grönholm berkata, "Masa-masaku bersama Peugeot betul-betul luar biasa dan mobil ini adalah yang terbaik. Semuanya terasa nyaman dan berada di posisi yang tepat, dan ini memudahkanku untuk melakukan pekerjaanku tanpa distraksi apa pun. Mobil ini juga punya tampilan yang keren dan sangat menyenangkan untuk dikendarai."
Kesuksesan di lintasan reli menular ke jalan raya dalam soal penjualan. Sejak diluncurkan pada 1998 hingga dihentikan produksinya pada 2012, Peugeot 206 berhasil terjual sekitar 8,3 juta unit di seluruh dunia. Saking populernya, mobil ini bahkan harus diproduksi di tujuh pabrik yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Di Indonesia, Peugeot 206 pertama kali hadir pada 2000 dengan status CBU (Completely Built Up). Astra France Motor mulai memajang 206 di sejumlah showroom mereka di Jakarta pada akhir Januari 2000. Unit yang dijual di Indonesia menggunakan mesin empat silinder 1.400 cc berkode TU3JP dengan tenaga 75 hingga 90 hp, dan tersedia dalam pilihan transmisi manual lima percepatan dan otomatis.
Harga on-the-road awalnya cukup tinggi untuk ukuran hatchback kompak, yakni Rp150 juta untuk varian manual dan Rp165 juta untuk varian otomatis. Namun, pasar merespons dengan hangat. Salah satu alasannya adalah karena ketiadaan pesaing. Waktu itu, Daihatsu Charade, Toyota Starlet, dan Honda Civic Estilo telah dihentikan produksinya dan belum memiliki pengganti sepadan.
Peugeot 206 hadir mengisi kekosongan itu dengan desain yang ikonik dan nama besar dari arena reli dunia. Popularitasnya cukup tinggi sehingga Astra France Motor mengambil keputusan untuk mulai merakit 206 secara lokal dengan skema CKD (Completely Knock Down) mulai tahun 2003 hingga 2004. Langkah ini membuat harga jualnya lebih kompetitif karena beban pajak impor berkurang dan komponen bisa lebih disesuaikan dengan kondisi lokal.
Peugeot 206 versi CKD ini kemudian hadir dalam dua varian, standar dan sporty. Varian sporty mendapat tambahan spoiler belakang, lampu model kristal diamond cut, power window belakang, serta sistem kelistrikan multiplex. Peugeot 206 pun, pada titik itu, bisa dibilang merupakan segmen hatchback Indonesia.

Namun, kesuksesan ini tidak bertahan lama. Sebab, tak lama setelah itu, Honda dan Toyota merespons dengan Jazz dan Yaris. Keduanya datang dengan nama besar, jaringan servis yang luas, dan reputasi merek Jepang yang sudah kuat mengakar di benak konsumen lokal. Ditambah lagi, saat kedua pesaing itu meluncur, Peugeot 206 sebenarnya sudah memasuki masa pensiun di pasar global.
Astra France Motor sebetulnya sudah mencoba meneruskan momentum dengan mendatangkan penerusnya, yakni Peugeot 207, yang diluncurkan di Indonesia pada 16 Maret 2007. Akan tetapi, penjualan 207 jauh dari harapan. Era keemasan hatchback Prancis itu pun berakhir. Namun, meski masa keemasannya tidak panjang, Peugeot 206 punya capaian spesial sebagai model Peugeot terlaris di Indonesia sepanjang masa.
Sebelum Merawat yang Bekas
Kini, dua dekade setelah penjualannya berhenti di Indonesia, Peugeot 206 masih bisa ditemukan di pasar mobil bekas. Harganya sudah sangat terjangkau, mulai dari sekitar Rp30 jutaan. Bagi yang ingin bernostalgia atau penasaran dengan rasanya mengendarai hatchback Eropa dengan harga miring, 206 memang menggoda. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membelinya.
Pertama, ketersediaan suku cadang. Meskipun ada beberapa komponen lokal yang pernah diproduksi saat era CKD, populasi 206 yang semakin langka membuat suku cadang ikut menghilang dari pasaran. Saat ada yang perlu diganti, harganya bisa lebih mahal dari mobil Jepang yang sekelas. Bengkel spesialis yang mengerti sistem kelistrikan Eropa juga semakin jarang.
Kedua, material interior 206 terbuat dari plastik keras yang rentan mengelupas dan retak akibat suhu panas Indonesia, yang memang berbeda jauh dengan iklim Eropa tempat mobil ini dirancang. Bagian kaki-kaki juga perlu diperiksa menyeluruh, karena bushing, ball joint, dan komponen suspensinya sudah berumur dan rentan menimbulkan suara berisik.
Ketiga, sistem kelistrikannya cukup unik dan kadang membingungkan. Bahkan mengganti aki saja ada prosedurnya, dan jika tidak diikuti, ECU mobil bisa terkunci. Untuk modifikasi kelistrikan, sangat disarankan menggunakan teknisi yang memahami sistem mobil Eropa.
Kelebihannya? Mesin TU3JP 1.400 cc yang ada di 206 sebenarnya tergolong tangguh dan tidak banyak masalah selama terawat dengan baik. Handling-nya lincah dan menyenangkan untuk ukuran hatchback kota. Desainnya pun, seperti sudah dibuktikan oleh waktu, tidak lekas ketinggalan zaman
Pada akhirnya, Peugeot 206 adalah salah satu mobil yang lahir di momen yang tepat, dengan desain dan reputasi yang tepat untuk mendongkrak namanya. Di Indonesia, ia hadir mengisi kekosongan pasar hatchback dan sempat menjadi simbol gaya hidup urban yang berbeda dari arus utama merek Jepang.
Ketika Peugeot akhirnya hengkang dari Indonesia pada 2024, rasanya para pencinta otomotif tidak menangisi SUV-SUV yang belakangan jadi jualan utama merek tersebut, melainkan kenangan atas hatchback mungil nan lincah yang dulu pernah ramai berkeliaran di jalan-jalan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























