tirto.id - Kala bertandang ke negeri jiran, Malaysia, beberapa waktu lalu, saya terkejut karena di sana tidak tampak mobil LCGC seperti yang bisa ditemukan di Indonesia. Namun, saya dengan mudah melihat mobil-mobil yang tampak seperti Daihatsu Alya dan Toyota Agya.
Akan tetapi, mobil-mobil itu tidak ada yang menggunakan emblem Daihatsu maupun Toyota. Usut punya usut, mobil-mobil entry level kedua pabrikan tersebut memang sengaja di-rebadge dengan jenama lokal dan diproduksi secara lokal di bawah bendera Perodua.
Sementara kolega saya dari sebuah media otomotif Malaysia, terkejut soal Wuling. Dia bercerita, sama seperti di Indonesia, popularitas mobil listrik di negerinya juga mulai terbangun pascapandemi, dibantu dengan insentif berupa pajak rendah dari pemerintah. Akan tetapi, dari sekian banyak merek mobil listrik yang kebanyakan berasal dari Tiongkok, Wuling adalah pemain baru—tak seperti di Indonesia yang justru menjadi pelopor.
Pasar Malaysia, menurut dia, dikuasai oleh BYD dan Geely—perusahaan tempat merek mobil nasional Malaysia, Proton, kini menginduk. Sementara Wuling, selama ini baru bermain di segmen mobil listrik berukuran kecil seperti Air EV. Dia menyebut mobil Wuling sebagai “kei car”, merujuk pada istilah Jepang untuk menyebut mobil berukuran mini.
Di Indonesia, Wuling justru merupakan pelopor popularitas mobil Tiongkok. Wuling tak hanya bermain di segmen "kei car" elektrik, tapi juga MPV dan SUV dengan mesin berpembakaran dalam (internal combustion engine/ICE).
Faktanya, Wuling memang punya peranan penting bagi kehadiran mobil-mobil Tiongkok yang marak belakangan. Berkat jasa merek yang bernaung di bawah Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC) tersebut, orang Indonesia tidak lagi memandang sebelah mata kualitas mobil-mobil buatan Negeri Tirai Bambu.
Menurut data GAIKINDO, saat ini jumlah jenama mobil Tiongkok di Indonesia bahkan sudah mengungguli jumlah merek mobil asal Jepang. Kini ada 16 mobil bikinan Tiongkok yang sudah dipasarkan di Indonesia, sementara mobil Jepang mentok di angka 13, meskipun sudah masuk ke pasar Tanah Air sejak dekade 1970-an. Ini membuktikan bahwa merek-merek Tiongkok memang sudah bisa diterima oleh pasar Indonesia.
Babat Alas lewat Komitmen
Perjalanan Wuling di Indonesia bermula sejak sepuluh tahun lalu. Kala itu, mereka tidak langsung datang untuk memasarkan mobil. Langkah mereka jauh lebih matang, yakni langsung menunjukkan komitmen mengembangkan industri otomotif Indonesia dengan membangun pabrik di Cikarang.
Pembangunan pabrik itu akhirnya kelar setelah dua tahun dan diresmikan pada 2017. Langkah mereka tak berhenti di situ. Seiring dengan peresmian pabrik, Wuling juga merilis varian perdananya di Indonesia, yaitu Confero, sebuah MPV keluarga yang merupakan jenis mobil terpopuler di negeri ini.
Hasilnya? Sama sekali tidak buruk. Diluncurkan Juli 2017, Wuling Confero sudah terjual 4.958 unit pada Desember tahun tersebut. Lalu, saat genap berusia satu tahun, mobil yang punya tiga tipe (S 1.5, S 1.5C, dan S 1.5L) tersebut telah terjual 11.062 unit. Dengan diproduksi di Indonesia, mobil ini pun bisa dijual dengan harga terjangkau. Kala itu harga barunya hanya berkisar dari 130 s/d 165 juta rupiah.

Bisa dibilang, dengan harga sekian, Confero memang diterjunkan untuk bertarung di entry level MPV melawan mobil-mobil seperti Toyota Avanza, Honda Mobilio, dan Mitsubishi Xpander.
Menyusul kesuksesan Confero, Wuling makin berani bermain di segmen MPV dengan meluncurkan seri mid-end bernama Cortez. Selisih harganya cukup jauh dengan Confero. Cortez yang meluncur pada awal 2018, dibanderol dari 218 s/d 264 juta rupiah. Pada 2019, Cortez juga mendapatkan upgrade dengan diluncurkannya Cortez Turbo yang harganya mencapai 282 juta rupiah untuk tipe L bertransmisi CVT.
Pada 2018, Wuling sebenarnya tidak hanya meluncurkan Cortez, karena mereka juga mulai ikut bermain di segmen mobil niaga dengan seri Formo-nya yang hadir dalam varian blind van dan minibus. Sementara pada 2019, selain meng-upgrade Cortez, Wuling juga mulai ambil bagian di sektor SUV lewat Almaz.
Kurang lebih, empat model itulah yang menjadi andalan Wuling pada masa-masa awalnya di Indonesia. Sampai akhirnya, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan G20 pada 2022 dan dWuling mulai unjuk gigi lewat produk mobil listriknya, Air EV. Kala itu, Wuling Air EV memang dinobatkan sebagai mobil resmi gelaran G20 dan kehadirannya langsung mencuri perhatian.
Modelnya yang lucu, ukurannya yang mungil, dan kemudahannya bermanuver di jalan-jalan sempit perkotaan membuat Wuling Air EV dengan cepat jadi mobil listrik terlaris di Indonesia. Mobil ini, sepanjang 2022-2023, sempat mendapatkan sembilan penghargaan dari berbagai institusi.
Pada 2023 pula Wuling meluncurkan BinguoEV, yaitu sebuah mobil elektrik kompak yang ukurannya sedikit lebih besar ketimbang Air EV. BinguoEV sukses mengikuti jejak Air EV setidaknya dalam urusan penjualan dan kiprah internasional. Seperti halnya Air EV, BinguoEV juga pernah jadi mobil resmi dalam ajang World Water Forum 2024 dan High Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) Indonesia 2024 and Indonesia Africa Forum 2024. Tahun lalu, BinguoEV sukses menyalip posisi Air EV sebagai mobil terlaris Wuling.
Meski demikian, pada 2024 status Wuling sebagai penguasa mobil Tiongkok di Indonesia mulai goyah. Keberhasilan mereka membuka jalan dimanfaatkan oleh jenama-jenama lain untuk juga melakukan ekspansi besar-besaran. BYD, yang sudah mampu bertarung head-to-head dengan Tesla di kancah global, pada akhirnya juga sanggup merebut hati konsumen Indonesia. Terbukti, pada 2024 lalu, BYD M6 sukses jadi mobil listrik terlaris Indonesia, mengalahkan BinguoEV yang duduk di peringkat kedua.
Tahun ini, penjualan Wuling, terutama di segmen kendaraan listrik, semakin menurun. Tiga model EV mereka memang masih ada di 10 besar yaitu BinguoEV (3.696 unit), Air EV (3.199 unit), dan Cloud EV (2.143 unit). Namun, tak satu pun dari mereka menembus 5 besar. BYD makin berkuasa dengan seri Atto, M6, dan Sealion yang duduk di tiga besar, disusul Denza D9 dan Chery iCar di peringkat empat dan lima.
Sanggupkah Wuling Memenangkan Perang Saudara?
Mengapa penjualan mobil listrik yang dijadikan parameter? Pertama, karena per Oktober 2025 lalu, penjualan mobil listrik sudah mencapai rekor baru dengan terjualnya 13.935 unit, yang sekaligus membuat pangsa pasar mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) telah menembus angka 18,8 persen dari total penjualan mobil di Indonesia. Ini menunjukkan relevansi mobil listrik dalam lanskap otomotif Tanah Air.
Kedua, karena pada segmen mobil listrik, pabrikan Tiongkok begitu dominan. Segmen ini bisa menunjukkan dengan jelas seberapa populer Wuling, khususnya, jika dibandingkan dengan para kompatriotnya, terutama BYD, Chery, dan Denza. Hasilnya, meski masih terbilang populer, Wuling jelas bukan lagi penguasa mobil Tiongkok di Tanah Air.

Namun, berdasarkan temuan terbaru di YouGov, Wuling masih punya tempat spesial di hati masyarakat Indonesia. Dalam kategori "emerging car brands" atau "merek-merek yang tengah naik daun", Wuling masih jadi merek dengan tingkat awareness (58 persen) serta consideration (44 persen) tertinggi.
Artinya, dari seluruh responden yang diwawancarai oleh YouGov, 58 persennya tahu apa itu Wuling dan 44 persennya telah setidaknya mempertimbangkan untuk membeli produk Wuling. Selain itu, conversion rate Wuling juga terbilang tinggi di angka 77 persen. Conversion rate sederhananya adalah seberapa mungkin seseorang berpindah dari sekadar tahu (awareness) ke pertimbangan untuk membeli (consideration).
Artinya, dari sisi citra jenama, Wuling sebenarnya masih cukup kuat di Indonesia. Apalagi, Wuling sekarang sudah memiliki 150 dealer di seluruh Indonesia, jauh mengalahkan BYD yang masih berada di angka 53.
Wuling sudah menyadari betul bagaimana peliknya posisi mereka saat ini. Dalam wawancara dengan Sindo News, seorang perwakilan Wuling mengatakan bahwa strategi mereka kini adalah terus menghadirkan produk yang bisa diterima dengan baik dan sesuai kebutuhan konsumen Indonesia.
Salah satu wujud dari upaya ini adalah menghadirkan New BinguoEV yang juga hadir dalam versi Lite untuk lebih memperluas pasar. Selain itu, Wuling juga semakin berani bermain di segmen kendaraan niaga dengan meluncurkan Mitra EV yang merupakan kendaraan niaga elektrik. Alvez pun, dalam gelaran Jakarta Auto Week 2025 ini, telah mendapatkan penyegaran.
Semua upaya ini menunjukkan bahwa Wuling jelas tidak akan menyerah begitu saja meski menghadapi persaingan berat dari para saudaranya sesama mobil Tiongkok. Selama bertahun-tahun mereka telah membuktikan kualitasnya. Merekalah yang mengedukasi publik Indonesia bahwa mobil Tiongkok sekarang sudah bagus. Namun, mampukah mereka memenangi “perang saudara” yang semakin lama semakin sengit?
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































