Menuju konten utama
Gearbox

Raja Jalanan Keluarga, Mengapa MPV Begitu Digandrungi?

Mobil memenuhi badan jalan, tanpa celah. Satu, dua, bahkan tiga lajur dikuasai. Yang paling banyak tak lain mobil MPV. Lalu, kenapa ia begitu populer?

Raja Jalanan Keluarga, Mengapa MPV Begitu Digandrungi?
Ilustrasi transportasi mobil. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mobil MPV, atau Multi-Purpose Vehicle, adalah kendaraan serbaguna berkapasitas 5-7 penumpang yang cocok untuk keluarga besar. Di Indonesia, MPV menjadi pilihan utama karena gaya hidup masyarakat yang sering bepergian bersama keluarga. Salah satunya di momen mudik Lebaran.

MPV tampak mendominasi lalu lintas di Indonesia. Hal itu jelas terlihat berdasarkan data penjualan. Menurut laporan Kompas, menukil data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan MPV mendominasi 50-55 persen dari total transaksi mobil nasional pada 2024.

Pemandangan tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa jenis mobil ini begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia?

Lahir dari Kebutuhan Pasar

Konsep mobil MPV secara global mulai dikenal luas pada awal ’80-an. Di Jepang, pabrikan-pabrikan besar, seperti Honda, Mitsubishi, dan Nissan, bersaing menciptakan model-model di kategori yang sama. Nissan Prairie diluncurkan pada 1982, lalu diikuti Mitsubishi Chariot pada 1983.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Plymouth Grand Voyager menjadi salah satu pionir MPV, diperkenalkan pada 1984. Kendaraan tersebut dirancang bukan hanya untuk performa, tetapi juga keseimbangan antara kepraktisan dan kenyamanan.

Eropa tak mau kalah. Di tahun yang sama, pabrikan Renault meluncurkan produk Renault Espace dengan kapasitas tujuh penumpang. Mereka melihat peluang untuk menghadirkan mobil keluarga yang fleksibel, nyaman, dan mampu mengakomodasi banyak muatan sekaligus.

Kemunculan MPV secara bersamaan di tiga pasar berbeda ini mengindikasikan adanya kebutuhan global yang serupa pada awal dekade 1980-an, yakni kendaraan yang mengakomodasi kebutuhan keluarga.

Para pabrikan otomotif melihat peluang menciptakan kendaraan keluarga dengan bentuk dan fungsi beragam. MPV dirancang untuk berbagai keperluan, mulai dari mengangkut penumpang hingga barang. Fitur akomodatif seperti kursi lipat memungkinkan penyesuaian ruang bagasi, ideal untuk kebutuhan harian, termasuk belanja dan perjalanan jauh.

Seiring berjalannya waktu, desain dan fitur MPV terus berevolusi. Awalnya, banyak MPV mengandalkan sasis yang jamak digunakan oleh kendaraan komersial lain. Namun, kerangka dasar jenis ini sering kali menghasilkan dinamika berkendara yang kurang optimal.

Lambat laun, MPV modern menawarkan kenyamanan dan fitur yang makin canggih. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki interior mewah. Model mutakhir, seperti Toyota Avanza dan Mitsubishi Xpander, dilengkapi dengan pintu geser sehingga memudahkan akses di tempat parkir sempit.

ilustrasi MPV

Ilustrasi transportasi mobil. FOTO/iStockphoto

Di Indonesia, sejarah MPV sedikit berbeda. Jika ditarik ke belakang, popularitas MPV di tanah air berakar dari adaptasi kendaraan komersial untuk mengangkut penumpang.

“Saya yakin MPV lahir dari kebutuhan,” tutur pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus, dilansir oleh Antara.

Pada awal perkembangannya, Toyota Kijang menjadi salah satu model yang sangat populer dan melegenda di Indonesia. Dari yang awalnya berfungsi sebagai kendaraan utilitas sederhana, Kijang berevolusi menjadi mobil keluarga, atau dikenal sebagai “Kijang Buaya”.

Pada 1977, Kijang awalnya digunakan untuk transportasi kargo. Satu dekade kemudian, ia berkembang menjadi transportasi penumpang. Kesuksesannya memantik produsen lain meluncurkan model MPV, seperti Avanza dan Xpander.

Pilihan Keluarga di Atas Segalanya

Budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Keluarga besar dan tradisi bepergian bersama merupakan bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat.

Tradisi mudik Lebaran, misalnya, menuntut banyak keluarga untuk memiliki kendaraan yang mampu mengangkut banyak penumpang dan barang. Maka itu, MPV berkapasitas 7-8 orang menjadi pilihan ideal untuk mengakomodasi seluruh anggota keluarga, termasuk untuk memuat barang bawaan.

Selain nilai kekeluargaan, semangat gotong royong juga merupakan ciri khas budaya Indonesia. Merujuk pada studi berjudul “Indonesia Used Car Market Size & Share Analysis – Growth Trends & Forecasts (2025-2030)”, meskipun mungkin bukan alasan utama seseorang membeli MPV, prinsip kebersamaan dan kebutuhan terhadap transportasi keluarga menjadikannya sebagai pilihan utama.

MPV sangat mungkin dipakai untuk berbagai kegiatan sosial atau membantu sesama. Lagi-lagi alasannya adalah ukuran yang besar sehingga mampu mengangkut banyak orang juga barang.

Di Indonesia, kultur sosial menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi perilaku konsumen. Seturut studi yang terbit di jurnal Strategi of Management and Accounting through Research and Technology (2022), selain aspek sosiologis, pilihan konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor psikologis.

Para produsen pun barangkali telah menyadari karakter konsumen seperti itu dan dengan cermat mengambil langkah inovasi. Di pasaran, juga di jalanan, kita bisa melihat diversifikasi model MPV. Lihat misalnya Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang makin marak, dengan harga terjangkau dan desain kompak.

Hal itu kemudian memantik popularitas segmen baru, LCGC (Low Cost Green Car), yang bisa dibilang merupakan MPV berukuran lebih kecil. Dengan harga yang diklaim lebih rendah, ia berupaya menggaet konsumen Indonesia yang membutuhkan kendaraan terjangkau, tetapi tetap efisien dalam penggunaan ruang.

Dominasi Penjualan di Indonesia

Seiring dengan kemajuan zaman dan tren kepemilikan mobil, kendaraan yang bernilai lebih dalam hal kapasitas dan kenyamanan makin tinggi permintaannya. MPV, dengan segala kelebihannya, menjadi pilihan ideal bagi keluarga kelas menengah yang mendambakan mobil multifungsi.

Laporan dari GAIKINDO menunjukkan, pada 2022, penjualan retail dari dealer ke konsumen mencapai 1.013.582 unit, naik 17,4 persen dibanding 2021. Di sisi lain, penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) menyentuh angka 1.048.040 unit, meningkat 18,1 persen.

Dari segi tren merek, MPV memang tak lebih populer dibanding mobil kota (city car). Buktinya, pada 2022, Honda Brio-lah yang menyabet titel mobil terlaris. Adapun MPV Toyota Avanza ada di urutan dua.

Namun demikian, secara akumulatif, model MPV tetap menjadi raja jalanan. Ia secara konsisten menduduki peringkat atas dalam daftar jenis mobil dengan penjualan terlaris. Toyota Avanza, misalnya, sering disebut sebagai “mobil sejuta umat” dan mencatatkan penjualan yang sangat tinggi. Belum lagi merek-merek lain, seperti Daihatsu Sigra, Mitsubishi Xpander, dan Toyota Kijang Innova, yang konsisten masuk 10 besar di tahun yang sama.

Sebutan “mobil sejuta umat” yang melekat pada MPV seperti Toyota Avanza bukan sekadar julukan, melainkan cerminan dari adopsi yang luas dan integrasinya ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

ilustrasi MPV

Ilustrasi transportasi mobil. FOTO/iStockphoto

Meskipun data penjualan mobil secara keseluruhan pada 2023 menunjukkan penurunan sebesar 4 persen dibandingkan 2022, dengan total 1.005.802 unit terjual, beberapa model MPV tetap laris.

Toyota Kijang Innova menyabet titel merek terlaris pada 2023 dengan penjualan 66.460 unit, diikuti Honda Brio, Toyota Avanza, dan Daihatsu Sigra. Lagi-lagi, secara umum, penguasanya adalah MPV.

Pada September 2024, penjualan mobil secara keseluruhan mengalami penurunan. Namun, model MPV seperti Toyota Avanza masih menjadi raja. Bulan berikutnya, Toyota Avanza disaingi oleh BYD M6, pendatang baru di segmen MPV listrik.

Memasuki 2025, data Februari menunjukkan, Toyota Kijang Innova kembali menduduki posisi puncak mobil terlaris dengan penjualan sebanyak 6.008 unit, diikuti oleh Honda Brio dan Toyota Calya.

Data-data tersebut mengindikasikan, meskipun terjadi fluktuasi posisi, mobil MPV tetap menjadi pilihan populer di kalangan konsumen nasional hingga saat ini.

Apa yang Bikin MPV Terus Relevan?

Mobil MPV memiliki beberapa fitur utama yang selaras dengan kebutuhan dan gaya hidup keluarga Indonesia. Kebutuhan yang sering muncul meliputi kebutuhan keluarga, kenyamanan untuk perjalanan jauh, kemampuan mengangkut banyak penumpang, kesesuaian dengan kondisi jalan, dan nilai ekonomis. Semuanya tertampung di balik pintu MPV.

Interior MPV yang luas dan fleksibel, ditambah dengan pengaturan kursi yang dapat disesuaikan, memberikan kenyamanan lebih bagi seluruh penumpang. Ruang bagasinya pun cukup lapang. Bahkan, kalaupun sepenuhnya butuh angkutan barang, kursi MPV bisa dilipat agar ruang bongkar muatnya lebih luas.

Dibandingkan dengan sedan, MPV umumnya memiliki ground clearance dan suspensi tahan guncangan, terutama saat di luar perkotaan. Artinya, ia lebih mampu mengatasi kondisi jalan yang beragam di Indonesia, termasuk untuk jalan berlubang dan banjir.

Dari segi ekonomi, mobil MPV sering kali menawarkan pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan jenis mobil lain berkapasitas serupa. Biaya perawatan dan suku cadang juga relatif murah, mengingat banyaknya unit yang tersebar di berbagai wilayah. Ini membuat MPV menjadi pilihan ekonomis bagi keluarga menengah ke bawah.

Data dari Oto.com menunjukkan, masih ada banyak model MPV yang dibanderol relatif terjangkau. Daihatsu Sigra, misalnya, dihargai mulai Rp141,7 juta. Hal ini memperkuat posisi MPV sebagai pilihan terjangkau bagi konsumen.

Kiwari, tren Sport Utility Vehicle (SUV) dan kendaraan listrik mulai muncul, terutama di segmen premium. Namun, untuk pasar massal, MPV akan tetap relevan, terutama berkat pabrikan yang tak kalah gesit merespons tren. Salah satunya bisa dilihat dari masuknya MPV hibrida ke pasar, seperti BYD M6 yang menurut GAIKINDO menjadi kendaraan listrik terlaris pada 2024.

Dominasi historis MPV mengindikasikan bahwa jenis kendaraan ini akan tetap menjadi pilar utama pasar otomotif Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Berbagai model mobil kekinian marak, indikasi bahwa otomotif telah jadi tren. Akan tetapi, tetap saja, kebutuhan akan ruang dan barang bisa dilepaskan dari pertimbangan konsumen.

Baca juga artikel terkait TREN OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin