Di Balik Mobil Low MPV yang Fenomenal

Infografik MPV di Indonesia
Model berpose di mobil Mitsubishi Xpander pada launching pertamanya di GIIAS 2017 di ICE, BSD City, Tangerang, Kamis (10/8). tirto.id/Arimacs Wilander
Oleh: Suhendra - 18 Agustus 2017
Dibaca Normal 4 menit
Kemampuan yang bisa mengangkut banyak penumpang, low MPV diminati konsumen sehingga pasarnya gemuk dan ketat persaingannya.
tirto.id - Mobil Multi-purpose Vehicle (MPV) atau mobil keluarga tiga baris dengan konfigurasi tujuh penumpang adalah pasar paling gemuk di Indonesia terutama low MPV. Masyarakat Indonesia pada umumnya menjunjung tinggi kebersamaan, pepatah dalam Bahasa Jawa misalnya “mangan ora mangan sing penting kumpul” jadi contohnya.

Baca juga: Tirto Visual Report Otomotif

Hasrat yang mengutamakan banyak berkumpul dengan kawan atau keluarga turut menentukan selera dalam memilih jenis mobil. Kebanyakan konsumen di Indonesia mempertimbangkan kapasitas penumpang dalam membeli mobil sehingga mobil berjenis MPV jadi jawaban. Kondisi ini jauh berbeda dengan tren global, mobil jenis SUV dan sedan yang justru jadi primadona konsumen di dunia.


Menurut Asosiasi Otomotif Eropa EuroNCAP klasifikasi mobil kelas MPV digolongkan menjadi dua jenis yaitu compact dan mini MPV yang dibedakan dari dimensinya. MPV di Indonesia diklasifikasikan menjadi tiga jenis sesuai dengan kapasitas mesin dan dimensi; low MPV (contohnya Avanza), medium (contohnya Kijang Innova) dan big MPV (contohnya Alphard).

Di Indonesia, peminat MPV yang besar khususnya si segmen low terbantu dengan insentif dari pemerintah khususnya soal urusan pajak. Mobil kelas MPV atau minibus jadi kelas yang paling ringan pajaknya di antara jenis mobil lainnya. Sebagai contoh mobil sedan dikenakan pajak penjualan barang mewah (PPn BM) minimal 30 persen sedangkan minibus dikenakan minimal hanya 10 persen. Sistem klasifikasi perpajakan untuk kendaraan MPV pun tergantung dengan besarnya mesin, semakin besar mesinnya maka makin besar pajaknya. Sehingga tak heran bahwa mobil kelas low MPV sangat memanjakan konsumen dan pabrikan.

“Pajak kecil mendorong berkembangnya produksi dan pasar MPV di Indonesia,” kata Sekretaris Umum (Sekum) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara dikutip dari laman Gaikindo.



Teknologi dan MPV yang Belum Berakhir


Melihat fundamental pasar Indonesia, sangat wajar saja banyak produsen mobil yang menggelontorkan produknya di kelas low MPV. Dengan kata lain, pasar mobil di Indonesia sangat mudah ditebak; konsumen memilih mobil yang bisa muat tujuh penumpang, kalau bisa delapan atau lebih banyak, memiliki jarak ruang dasar (ground clearance) yang tinggi dan harganya murah. Untuk urusan keamanan, teknis mesin, atau pun kualitas kendaraan juga jadi pertimbangan, tapi barangkali nomor sekian.

Dengan pertimbangan itu banyak produsen yang akhirnya hanya mengeluarkan mesin dengan spesifikasi yang hampir sama untuk low MPV; bermesin bensin dengan konfigurasi empat silinder segaris dengan ruang pembakaran antara 1.200-1.500 cc. Mesin ini dianggap cocok untuk kondisi jalanan di Indonesia di mana kendaraan lebih banyak digunakan di kecepatan rendah hingga menengah dan tentu saja untuk alasan ekonomis.

Banyak sekali merek mobil MPV yang diluncurkan di Indonesia, yang paling terbaru dan sangat fenomenal adalah Mitsubishi Xpander. Hal ini dikarenakan Xpander mempunyai beragam fitur dan harga yang kompetitif. Dari sisi spesifikasi mobil ini memiliki mesin yang cukup mumpuni untuk menghela bobotnya dengan daya 104dk/6000rpm dan torsi 141 Nm / 4000 rpm. Tenaga ini disalurkan melalui transmisi otomatis 4 percepatan atau manual 5 percepatan ke roda depan.

Mesin Xpander menggunakan teknologi VVT (Variable Valve Timing) yang oleh Mitsubishi dinamakan MIVEC. Banyak pabrikan mobil yang telah menerapkan teknologi ini, contohnya Toyota dengan VVT-I, Suzuki dengan VVT, Honda dengan i-VTEC dan seterusnya. VVT adalah sebuah teknologi untuk mengatur bukaan katup (valve) untuk menyemburkan bahan bakar dan udara sesuai dengan kebutuhan. Teknologi ini pertama kali digunakan untuk produksi massal oleh Alfa Romeo di model Spider 2000 pada tahun 1980.

Dengan teknologi mesin yang mirip-mirip di segmen low MPV, bukan berarti semua karakter low MPV yang ada di Indonesia sama semua, ada perbedaan yang justru fundamental terutama dalam penggerak roda, dan ini menentukan harga hingga konsumsi bahan bakar sebuah mobil low MPV.

Mitsubishi dapat memproduksi Xpander dengan spek mesin yang relatif mirip dengan Avanza, memiliki fitur-fitur yang lebih banyak dibandingkan Avanza, namun harganya hampir mirip? Salah satu perbedaan yang mencolok adalah penggunaan roda depan sebagai penggerak mobil. Pada mobil merek lain ada Suzuki Ertiga, Honda Mobilio juga menggunakan penggerak roda depan (FWD). Ada kelebihan dan kekurangan dalam pemilihan konfigurasi ini.




Kelebihan dan kekurangan antara FWD dan RWD juga bisa dibahas dari karakter pengendalian kendaraan. Karakter pengendalian FWD adalah responnya untuk menarik mobil yang lebih sigap dibanding RWD sehingga mobil dapat berakselerasi lebih cepat. Kemudian dikarenakan mesin dan transmisi yang letaknya tepat berada di atasnya maka beban yang harus ditempa oleh ban lebih banyak sehingga ban lebih banyak mendapatkan traksi, maka hal ini membuat mobil FWD lebih baik dalam kondisi cuaca buruk.

Di antara semua keunggulan tersebut, tentu saja mobil FWD juga memiliki kelemahan dibandingkan RWD. Dikarenakan bobot yang dihasilkan dari mesin dan transmisi maka ini akan berpengeruh pada pengendaliannya. Mobil dengan FWD cenderung understeer, gejala di mana mobil tidak berbelok padahal ban sudah dibelokkan. Kebanyakan pabrikan telah menyiasati masalah ini dengan menyematkan fitur kontrol traksi yang dapat membaca ban mana yang butuh traksi dan mana yang tidak.

Spesifikasi konfigurasi mesin pada low MPV juga relatif sama, Toyota Avanza misalnya, “mobil sejuta umat” ini menggendong mesin 1,5L empat silinder segaris dengan tenaga 104 dk / 6000 rpm dan torsi 136,3 Nm / 4400 rpm. Hal serupa juga disematkan pada mesin Mitsubishi Xpander yang juga memakai mesin 1,5L empat silinder segaris dengan tenaga 104 dk / 6000 rpm dan torsi 141 Nm / 4000 rpm. Mesin Honda Mobilio juga 1,5L empat silinder segaris dengan tenaga 118 dk / 6600 rpm dan torsi 145 Nm / 4600 rpm. Semua spesifikasi konfigurasi mesin ini juga mirip dengan kompetitor lainnya di segmen yang sama.

Walaupun kapasitas dan konfigurasi mesin yang sama, tapi tenaga yang dihasilkan masing-masing mobil bisa berbeda berkat teknologi-teknologi lainnya yang dikembangkan masing-masing pabrikan.

Apa yang harus konsumen perhatikan? Lebih bijak apabila konsumen menghitung perbandingan tenaga dengan berat (power to weight ratio) dengan cara membagi tenaga kendaraan dengan berat bersih kendaraan.

Untuk pendefinisian berat ada yang disebut berat kosong (curb weight vehicle CWV) dan berat kotor (gross weight vehicle GWV). Berat kosong adalah berat kendaraan dalam keadaan siap jalan, artinya berat kendaraan sudah diukur termasuk oli, air pendingin, bahan bakar dan ban serep. Sementara berat kotor adalah berat kosong ditambah dengan penumpang sesuai jumlah kursi.

Avanza memiliki berat 1045 kg yang berarti memiliki perbandingan 0,0451, Xpander dengan berat 1780 kg (data berat kotor) memiliki perbandingan 0,0265, lalu Mobilio dengan 1100 kg memiliki perbandingan sebesar 0,0487. Semakin besar angkanya semakin baik. Penghitungan bisa saja menggunakan rumus lain atau satuan lain, tapi pada intinya adalah menghitung kemampuan mobil terhadap beban yang akan ditanggung.

Bagaimana dengan transmisinya? Rata-rata pabrikan mobil menyediakan varian bertransmisi otomatis, kecuali Wuling Confero S. Kebanyakan pabrikan hanya menggunakan pilihan transmisi otomatis empat percepatan atau CVT. Transmisi otomatis empat percepatan dianggap sudah cukup untuk penggunaan sehari-hari karena kendaraan hanya melaju pada kecepatan menengah. Karena kebanyakan mobil low MPV adalah bermesin bensin, maka karakter mesin tersebut yang memiliki torsi lebih besar di putaran atas adalah hal yang perlu diperhatikan.

Dengan jumlah empat percepatan pada transmisi otomatis tersebut, maka hal ini mendorong mesin untuk berputar lebih cepat untuk mendapatkan torsi maksimal sehingga didapatkan efisiensi dalam hal berakselerasi. Apabila mobil telah berjalan sekitar 100 km/jam, maka mesin akan berputar pada putaran sekitar 2000-3000 rpm di mana di sekitar putaran itu adalah titik efisiensi bahan bakar bisa didapat.

Berbeda dengan mobil mewah layaknya BMW atau Mercedes-Benz yang rata-rata sudah menggunakan setidaknya transmisi minimal 6 percepatan untuk membuat konsumsi bahan bakar di titik efisiennya. Simpelnya, semakin banyak gears yang dimiliki maka kendaraan tersebut semakin hemat dan dapat melaju lebih cepat, namun tentu lebih mahal untuk memroduksi transmisi dengan percepatan yang lebih banyak.

Mengapa kebanyakan mobil yang memiliki varian otomatis dan manual lebih banyak gear pada transmisi manual? Salah satu alasannya adalah adanya torque converter pada transmisi otomatis di mana fungsinya adalah membagi lebih banyak torsi yang masih ada pada mesin internal sehingga untuk meraih kecepatan yang diinginkan dapat dilakukan dengan gigi yang rasionya lebih tinggi dibanding transmisi manual.

Salah satu alternatif lainnya adalah penggunaan CVT (Continuously Variable Transmission) yang hanya menggunakan dua pulley yang tidak seperti transmisi otomatis konvensional yang rasio gear-nya tetap, pada sistem CVT rasionya dapat berubah-ubah sesuai yang dibutuhkan dengan bantuan sabuk atau rantai untuk menghubungkan kedua pulley tersebut.

Informasi terkini teknologi mobil sejatinya bisa dilihat dari ajang seperti GIIAS 2017 mencakup mobil konsep maupun yang sudah dipasarkan. Namun, sayangnya tidak terlalu banyak teknologi yang ditampilkan di ajang GIIAS kali ini. Beberapa produsen mobil hanya melakukan beberapa facelift atau penambahan fitur dan kebanyakan produknya menggunakan teknologi yang tidak termutakhir. Di segmen low MPV, Suzuki memang mencoba menampilkan Ertiga diesel semi hybrid yang kompetitor lain belum mengeluarkan teknologi yang sama.

Selain itu, pendatang baru Mitsubishi Xpander hanya menyelipkan "aksesoris" teknologi di luar mesin khususnya masalah keamanan seperti emergency stop signal, hill start assist (mencegah mundur di tanjakan pada matik), dan active stability contol (mencegah mobil tergelincir). Teknologi di low MPV seharusnya makin berkembang di tengah persaingan sengit di segmen pasar ini yang belum berakhir.



Catatan: Noval Dias, Mahasiswa Techniche Hochschule Ingolstadt, Jurusan Otomotif, Jerman.

Baca juga artikel terkait GIIAS 2017 atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: dias
Penulis: Suhendra
Editor: Suhendra
DarkLight