Menuju konten utama

Update Gempa NTT Hari Keempat: 70 Orang Meninggal Dunia

BNPB menerima laporan 1.182 korban bencana mengalami luka berdasarkan data Kemenkes serta sebanyak 40.040 warga mengungsi usai gempa.

Update Gempa NTT Hari Keempat: 70 Orang Meninggal Dunia
Petugas mengevakuasi korban gempa di Ronting, Lamba Leda, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8/2026). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tim SAR gabungan melaporkan perkembangan terkini penanganan dampak gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari keempat, Selasa (18/8/2026) sore. Hingga sore ini, tercatat 70 orang meninggal dunia dan sebanyak 40.040 warga mengungsi.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa data 1.182 korban luka yang dihimpun pihaknya bersumber dari Kementerian Kesehatan.

Angka ini berbeda dengan data Badan SAR Nasional (Basarnas) yang mencatat 132 korban luka, lantaran adanya perbedaan metode pencatatan.

“Jadi, akan ada sedikit perbedaan antara data luka-luka yang kami sampaikan. Ini tidak perlu menjadi polemik karena Basarnas mencatat orang-orang luka dari apa yang ditemukan, sedangkan angka yang kami sampaikan dari Kementerian Kesehatan berdasarkan data di fasilitas kesehatan yang saat ini dilayani,” kata Berton dalam jumpa pers daring sebagaimana disiarkan akun YouTube BNPB, Selasa (18/8/2026).

Berton menambahkan, aktivitas gempa susulan di wilayah NTT sejauh ini masih fluktuatif. Berdasarkan data terbaru, terdapat 24 gempa susulan dengan tujuh di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

“Aktivitas gempa masih fluktuatif, dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi ini akan mulai stabil dalam dua sampai tiga minggu ke depan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, memastikan bahwa saat ini tidak ada lagi laporan mengenai warga yang hilang.

Fokus operasi SAR kini bergeser pada penyisiran wilayah terdampak serta penguatan dukungan layanan kesehatan, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau.

“Tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan, yang tercatat masih dalam pencarian. Sehingga tim SAR yang ada di lapangan kami fokuskan untuk membantu penyisiran dan membantu proses-proses pelaksanaan kegiatan pencarian dan pemulihan yang dilaksanakan oleh BNPB,” tutur Bramantyo.

Untuk mendukung layanan medis, Basarnas telah mengerahkan 40 tenaga medis dari Kodam IX/Udayana serta relawan menuju Reo, Manggarai. Selain itu, helikopter dikerahkan untuk mengevakuasi delapan warga dari Lambaleda ke rumah sakit di Labuan Bajo.

Terkait tingginya angka pengungsi yang mencapai 40.040 jiwa, Berton menyebutkan hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh kerusakan bangunan, tetapi juga faktor trauma masyarakat.

“Angka ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, sehingga perlu hati-hati dalam menerjemahkannya. Hal ini juga berkaitan dengan banyaknya dampak psikologis yang dirasakan warga,” jelas Berton.

Data pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 6.487 orang, disusul Manggarai Timur dengan 966 orang di posko dan 14.000 jiwa mengungsi mandiri. Sementara itu, total kerusakan rumah tercatat sebanyak 11.925 unit, yang terdiri dari 5.516 unit rusak berat, 1.916 unit rusak sedang, dan 4.493 unit rusak ringan.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher