tirto.id - Lampu kamar masih padam dan kantuk belum sepenuhnya hilang ketika guncangan hebat berkekuatan magnitudo 7,7 itu mendadak menghentak rumah Fansi Jehadan (32) sekitar pukul enam pagi pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
Di tengah remang dan kepungan kepanikan, Fansi sempat mengira istri dan dua anaknya telah aman di luar rumah. Namun, teriakan histeris sang istri dari dalam kamar yang gelap seketika menyadarkannya--tembok-tembok rumah sudah mulai retak dan runtuh, sementara keluarganya masih terjebak di dalam.
"Keadaan tempat tidur kami gelap, karena lampu kami matikan. Anak perempuan saya dan istri saya tidur di kamar sebelah," kata Fansi, warga Gangkas, Desa Golo Lanak, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, saat berbincang dengan Tirto, Senin (17/8/2026).
Mulanya, sang istri berpikir gempa bumi pagi itu tidak akan seberapa. Namun, anggapan itu meleset ketika bumi justru bergetar kian hebat, menghentak bangunan hingga Fansi sekeluarga terdorong berlari menyelamatkan diri ke luar.
"Saya mengira anak-anak sudah berada di area aman, tetapi jeritan histeris istri saya dari dalam rumah membuyarkan segalanya. "Tolong! Gempanya terlalu besar!" teriaknya menembus suara gemuruh bangunan.
Dengan sisa keberanian, Fansi berteriak sekuat tenaga meminta mereka segera keluar. Fansi sekeluarga akhirnya berhasil berlari menembus pintu sambil memeluk anak perempuannya.
Tepat di belakang, anak lelakinya yang lain berlari kencang dengan wajah pucat kesakitan akibat serpihan tembok yang retak dan guguran reruntuhan mulai berjatuhan. Langkah kaki anak lelakinya yang panik terhenti ketika ia tersandung dan jatuh tepat di halaman depan rumah.
Meski diliputi ketakutan luar biasa, takdir masih memihak keluarga Fansi: seluruh anggota keluarga berhasil selamat tanpa ada nyawa yang melayang. Namun, ketika guncangan perlahan mereda dan debu mulai terangkat, yang tersisa hanya kepasrahan.

Mereka berdiri membisu menatap rumah dimana dinding-dindingnya telah retak parah, bergoyang ringkih, dan sebagian besar temboknya roboh rata dengan tanah.
"Kami sekeluarga semuanya selamat. Kami kemudian lihat kami punya rumah roboh," ujar Fansi bersyukur.
Rumah Warisan Sang Opa
Fansi bercerita rumah yang kini roboh bukan sekadar bangunan beratap, melainkan rumah peninggalan opanya, sebuah warisan bernyawa yang diserahkan langsung kepadanya, bahkan melewati garis ayah kandungnya sendiri.
Sebelum berpulang, sang opa telah menitipkan wasiat tegas bahwa rumah itulah yang wajib ia tempati. Di halaman depan, pusara sang opa berdiri membisu, menjadi pengingat abadi atas jejak panjang perjuangan dan pengorbanan yang diukirnya bertahun-tahun silam.
Namun, gempa besar yang menerjang dalam hitungan detik menyapu bersih seluruh kenangan dan pengorbanan itu tanpa sisa. Rumah yang dahulu menjadi tempat bernaung penuh sejarah kini berubah menjadi sumber ketakutan yang dalam.
Rasa trauma itu begitu kuat mengendap di dada. Bahkan untuk sekadar melangkahkan kaki menembus pintu depan, bayang-bayang ketakutan langsung menyergap. Meski bumi sedang tenang dan tak ada gempa yang terjadi, tubuh mereka kerap merespons dengan refleks panik, seolah-olah lantai kembali bergoyang di bawah pijakan kaki.
Rasa trauma dan ketakutan hebat itu kini terus membayangi, membuat rumah peninggalan yang penuh kenangan terasa begitu menakutkan untuk kembali dihuni.
"Puji Tuhan kemarin kami sudah evakuasi semua kami punya barang-barang di dalam rumah," tutur Fansi.

Untuk bertahan hidup dari ancaman bencana yang belum sepenuhnya usai, Fansi dan keluarganya kini terpaksa mengungsi di bawah naungan tenda darurat, yang dibangun secara mandiri oleh warga setempat.
Rasa cemas akan datangnya gempa susulan membuat tidur di bawah atap terpal, beralaskan tikar seadanya terasa jauh lebih aman ketimbang mempertaruhkan nyawa di dalam bangunan yang retak.
Kini, bayang-bayang kerugian materiil pun membebani pikiran Fansi. Rumah penuh kenangan yang berdiri sejak 2002 itu diperkirakan mengalami kerusakan senilai Rp20 juta hingga Rp30 juta.
Namun, untuk bisa membangunnya kembali dari awal agar layak dihuni, biaya yang dibutuhkan melonjak hingga Rp50 juta, angka yang terlampau besar di tengah situasi sulit ini.
Penderitaan warga bertambah lantaran aliran listrik padam total hanya lima menit setelah gempa menghentak. Cahaya kecil dari lampu senter menjadi satu-satunya tumpuan untuk menembus gelapnya malam. Beruntung, tiga hari pascagempa aliran listrik sudah menyala. Kendati demikian, kecemasan kerap mendera setiap gempa susulan datang.
Di tengah situasi serba terbatas dan minimnya ulur tangan, bantuan resmi dari pemerintah belum juga menyentuh lokasi mereka selama tiga hari pascabencana.
Beruntung, napas kehidupan mereka masih bersambung berkat solidaritas antarwarga yang begitu kuat. Dengan stok beras tersisa, warga saling bergotong royong: lima kepala keluarga berkumpul di bawah satu tenda darurat, menanak beras bersama, dan menikmati hidangan seadanya demi bertahan hidup.
Bagi Fansi dan warga terdampak, pemenuhan pangan mandiri tentu ada batasnya. Ia mengetuk hati pemerintah pusat maupun daerah untuk segera turun tangan menyalurkan logistik mendesak, terutama bantuan material bangunan. Harapan terbesarnya sederhana, yaitu ada uluran tangan nyata dari pemerintah untuk membantu mereka merenovasi dan membangun kembali rumah-rumah yang telah roboh rata dengan tanah.
"Yang mendesak segera kirim bantuan material mungkin pusat, daerah karena dilihat jenis kerusakan mungkin kalau bantuan sembako di sini bisa kita cukupi sendiri. Terpenting, rumah-rumah roboh ini kami harap ada bantuan dari pemerintah," kata Fansi penuh harap.
Kepanikan Berubah Cepat Jadi Kesedihan
Suara gemuruh pagi itu memaksa Marsel Semai (53) terbangun dari lelapnya dengan cara yang menyakitkan. Ketika seluruh anggota keluarga lain sudah berada di luar, Marsel masih terjebak di dalam kamar saat guncangan hebat menghantam. Tanpa sempat menyelamatkan diri, serpihan batako dari sekat dinding yang hancur runtuh dan mendarat tepat di kepalanya.
Dalam kondisi kesakitan dan kebingungan, Marsel reflek menyambar selimut untuk melindungi tubuhnya yang terluka. Ia berlari kencang demi menyelamatkan nyawa. Namun, begitu melangkahkan kaki menembus pintu keluar, rasa syok luar biasa menyergap dadanya. Bagian depan rumahnya sudah hancur total, dan tak lama kemudian, seluruh bangunan itu roboh rata dengan tanah tepat di depan matanya.
Kepanikan seketika berganti menjadi kesedihan yang mendalam. Bagi Marsel, rumah itu bukan sekadar tempat bernaung, melainkan simbol keringat dan uluran tangan banyak orang yang telah membantunya membangun tempat tinggal. Uang tak kurang dari Rp50 juta yang diinvestasikan untuk mendirikan bangunan tersebut musnah begitu saja dalam hitungan detik ditelan gempa.
Kini, Marsel bersama keluarganya hanya bisa pasrah menempati tenda darurat di halaman depan, berselimut ketidakpastian. Di bawah naungan atap terpal yang serba terbatas, ia menaruh harapan besar pada ketegasan dan kecepatan bantuan pemerintah.
Kebingungan atas tempat tinggal yang tak lagi ada membuat Marsel sangat berharap uluran tangan segera datang sebelum asa mereka benar-benar padam.
"Saya harap kalau bisa secepatnya bantuan. Karena kami sudah bingung ke mana lagi kami tinggal. Hampir lebih dari Rp50 juta bangun rumah ini," kata Marsel.

Belum Ada Bantuan Sejak Gempa Melanda
Kesegaran secangkir kopi pagi itu tak sempat dihabiskan oleh Yakobus Ka'a. Baru saja melangkahkan kaki sepulang dari pemandian umum dan bersiap menuju kebun sekitar pukul lima pagi, bumi mendadak bergetar hebat. Dalam kepungan guncangan panik, refleks membawanya berlari menyelamatkan diri.
Pagi itu, ia menyadari anak dan istrinya masih terjebak di dalam rumah. Namun, keajaiban masih memihak keluarganya; anak dan istri Yakobus berhasil lolos dari maut. Namun, tempat yang selama ini menjadi naungan mereka telah roboh. Rumah tempat mereka bernaung hancur total hingga tak lagi bisa dihuni.
Kini, Yakobus dan keluarganya terpaksa menyambung hidup di dalam perkemahan (camp) darurat serba terbatas. Di tengah krisis yang melanda, belum ada sebutir beras pun bantuan dari pemerintah yang menyentuh tangan mereka. Kebingungan kian memuncak saat stok bahan pangan kian menipis, memaksa mereka mengonsumsi makanan seadanya demi bertahan hidup.
Yakobus bahkan harus bersiap jika sewaktu-waktu harus menumpang di rumah kerabat lantaran kondisi camp yang kian tak memadai. Di tengah ketidakberdayaan itu, Yakobus tak meminta hal yang berlebihan. Ia berharap ketulusan hati pemerintah untuk mengulurkan bantuan yang paling mereka butuhkan saat ini, yaitu bahan material bangunan.
Baginya, selama Tuhan masih memberikan napas dan umur panjang, ia siap mengandalkan keringatnya sendiri untuk merakit kembali tempat tinggalnya--asalkan pemerintah mau hadir menyediakan material dasar untuk membangunnya kembali.
"Kalau pemerintah kashian dengan kami, kirim material. Kalau tuhan memberikan kami umur panjang kami bangun sendiri, asal material dari pemerintah," kata Yakobus.
Sama dengan Yakobus, Yohanes Mali juga berharap pemerintah memberikan bantuan material untuk bisa membangun ulang rumahnya yang telah rata dengan tanah.

Saat gempa terjadi, Mali masih berada di dalam rumah dan berlari menyelamatkan diri ke luar rumah. Namun, langkahnya mendadak terhenti oleh jeritan histeris istri dari dalam bangunan. Sebab, pintu depan macet total, tak bisa dibuka akibat terganjal reruntuhan. Tanpa berpikir panjang, ia lekas mendobrak pintu itu sekuat tenaga.
Begitu pintu terbuka, pemandangan memilukan menyambut di depan mata. Sang istri berteriak histeris menunjuk dua anak dan ibunya yang sudah terbaring tertimpa runtuhan tembok. Seketika itu juga seluruh anggota keluarga kami menjadi korban.
"Kami semua terkena hantaman material bangunan yang roboh. Pikiran saya buntu, tidak tahu pasti bagaimana tembok itu bisa roboh begitu cepat," tutur Mali, warga Gurung, Golo Lanak itu kepada Tirto.
Saat proses penyelamatan yang menegangkan itu, rasa takut Mali mendadak hilang. Ia tidak lagi memikirkan batas antara hidup dan mati karena guncangan gempa benar-benar dahsyat. Di tengah pasrah dan doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, ia terus berjuang menyingkirkan reruntuhan hingga berhasil menyeret keluarganya semua keluar.
"Tepat setelah kami berada di tempat aman, bangunan rumah saya ambruk total, rata dengan tanah," tutur Mali.
Kerugian materiil pun sangat besar, diperkirakan mencapai Rp80 juta untuk bangunan rumah saja. Jika ditambah dengan barang-barang berharga yang hancur, termasuk peralatan musik yang rusak tertimpa tembok, total kerugian membengkak hingga Rp90 juta.
"Kami terpaksa mengungsi dan tidur di camp mandiri yang serba terbatas," kata dia.
Di tengah kondisi serba sulit ini, bantuan dari pemerintah masih nihil--baik berupa sembako maupun bantuan material.
Penderitaan mereka kian bertambah karena posisi rumah yang berjarak 100 meter dari akses jalan bawah, membuat proses mengangkut sisa material maupun mendistribusikan kebutuhan sehari-hari menjadi perjuangan berat yang harus dipikul sendiri.
"Kami sudah tidak bisa menghuni rumah ini lagi. Kami tidur di camp mandiri. Bantuan dari pemerintah kosong," jelas Mali.
Gempa Terkuat Sejak Tragedi 1992
Bencana gempa bumi hebat yang mengguncang NTT, termasuk Desa Golo Lanak menyisakan trauma mendalam sekaligus kerusakan fisik yang parah. Gempa ini menjadi yang terkuat dan paling merusak yang pernah dirasakan warga setempat sejak tragedi gempa besar pada tahun 1992 silam.
Kepala Desa Golo Lanak, Sebastianus Mbaik, langsung mengambil langkah tegas demi menjamin keselamatan warganya. Sejak hari pertama kejadian, imbauan khusus disampaikan agar seluruh masyarakat menghentikan sementara aktivitas di pegunungan dan mengungsi ke area terbuka di halaman kampung.
Bagi Sebastianus, keselamatan jiwa adalah prioritas mutlak. Urusan mata pencaharian dan ternak terpaksa dikesampingkan; hanya ternak besar seperti kerbau yang sempat diselamatkan warga, sementara ternak kecil seperti babi dan kambing tak lagi sempat terurus.
Dampak gempa ini menelan korban jiwa atas nama Kristina Srimurti. Sementara itu, belasan warga lainnya mengalami luka-luka, dominan berupa benjol akibat benturan tembok runtuh.
Terbatasnya fasilitas kesehatan setempat memaksa warga merawat luka-luka tersebut secara mandiri dengan obat seadanya seperti minyak GPU.
Melihat kondisi pemukiman warga yang hancur total, Sebastianus Mbaik menyuarakan harapan besar kepada pemerintah pusat terkait alokasi dan pengelolaan Dana Desa.
"Memohon agar pemerintah pusat memberikan diskresi atau melonggarkan juknis penggunaan Dana Desa khusus bagi Desa Golo Lanak, menyesuaikan dengan situasi darurat bencana," kata Sebastianus kepada Tirto.
Ia juga menyuarakan agar dana desa tidak dipotong dan dapat dialihkan sepenuhnya untuk membangun kembali tempat tinggal warga yang hancur. Ia mengatakan sebagai orang tertinggi desa siap memangkas anggaran belanja desa untuk memprioritaskan pemulihan meski dana desa dipangkas dari pusat.
"Siap memangkas atau mengurangi pos belanja desa lainnya demi memprioritaskan pemulihan hunian dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak," tutur Sebastianus.

Upaya yang Sudah Dilakukan Pemerintah
Pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, menegaskan telah mengantongi rencana prioritas dalam rangka penanganan korban bencana gempa di berbagai wilayah di NTT. Hal ini ia sampaikan kepada wartawan usai melakukan peninjauan dan berdialog dengan warga di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.
Langkah ini dimulai dengan mempercepat pemulihan jaringan listrik dan penyaluran logistik, khususnya sembako untuk memenuhi kebutuhan warga.
"Jadi prioritas listrik, kemudian makanan. Makanan logistik mereka sangat minta sekali," ujar Tito, Senin (17/8/2026).
Tito menambahkan ia akan berkomunikasi dengan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar pemulihan jaringan listrik di Manggarai Timur menjadi prioritas. Pasalnya, pembangkit dan gardu induk tidak mengalami kerusakan. Gangguan listrik lebih disebabkan oleh tiang-tiang yang roboh akibat guncangan gempa.
"Pembangkit listrik enggak ada yang rusak. Persoalannya adalah tiang-tiangnya ada yang roboh, jaringan yang dari gardu ke rumah. Itu problemnya," urainya.
Tito meminta pemerintah daerah mempercepat pendataan dampak bencana di wilayah NTT.
Khusus rumah, Tito memastikan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan bantuan atas kerusakan rumah warga. Syaratnya, pendataan dilakukan oleh pemda dan ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) serta Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) setempat.
"Kecepatannya sangat tergantung dari pendataan. Kalau didatakan, sudah nyampai ke Bupati, setelah itu ditandatangani juga oleh Kapolres sama Pak Kajari," ujar Tito.
Oleh karena itu, Tito mengimbau agar pemda mengerahkan kepala desa hingga perangkat kecamatan agar pendataan bisa dipercepat. Adapun bantuan pemerintah meliputi Rp15 juta untuk kerusakan ringan, Rp30 juta untuk kerusakan sedang, dan Rp70 juta untuk rumah yang mengalami kerusakan berat.
"Nanti yang mendatanya dari desa. Nanti desa menyampaikan kepada Pak Bupati. Bupati nanti akan merekap rumah siapa rumahnya rusak ringan, sedang, atau berat," terangnya.
Tito menegaskan hasil peninjauan lapangan akan dibahas langsung dalam rapat koordinasi yang melibatkan sejumlah kementerian, lembaga, dan BUMN.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































