Menuju konten utama
Gearbox

Industri Mobil Korea Utara Bagai Pungguk Merindukan Bulan

Korut yang mengisolasi diri secara ekonomi selama puluhan tahun hanya mampu membangun industri otomotif yang penuh kebanggaan semu dan kepura-puraan. 

Industri Mobil Korea Utara Bagai Pungguk Merindukan Bulan
Truk Sungri 58. FOTO/Wikipedia/calflier001
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada suatu masa ketika mobil-mobil Korea Selatan masih dipandang sebagai produk kelas dua dan menjadi punchline sejumlah candaan. Dalam sebuah episode komedi situasi Friends yang tayang pada April 2003, misalnya, karakter Rachel Green yang diperankan Jennifer Aniston turut melakukannya. Di sebuah adegan, Rachel mengolok-olok Ross Geller yang tidak mau ikut serta membeli nomor lotre. Hyundai, secara spesifik disebut dalam candaan tersebut sebagai simbol dari mobil murah(an) yang tidak bergengsi.

Pada masa itu, di Indonesia, reputasi Hyundai sebetulnya tidak buruk-buruk amat. Itulah mengapa candaan Rachel tersebut, bagi saya, terdengar agak aneh. Mengapa harus Hyundai yang dijadikan candaan? Akan tetapi, di Amerika Serikat (AS), ceritanya memang lain karena pada masa itu merek asal Korea Selatan tersebut memang dikenal sebagai mobil yang kurang berkualitas. Harganya memang murah tetapi kualitasnya juga buruk dan mudah rusak. Dengan kata lain, waktu itu Hyundai memang masih jadi merek murahan.

Melompat dua dasawarsa kemudian, situasinya sudah jauh berubah. Saat ini, Hyundai menjadi grup otomotif dengan market share terbesar keempat di Amerika Serikat. Dengan persentase 11 persen, mereka hanya kalah dari General Motors, Toyota, dan Ford. General Motors dan Ford, tentu saja, adalah merek tradisional, sementara Toyota, meskipun berasal dari Jepang, sudah berkiprah di AS sejak, paling tidak, dekade 1960-an. Grup Hyundai, yang mencakup merek-merek seperti Hyundai, KIA, dan Genesis di bawahnya, bisa dibilang sebagai pendatang baru di papan atas persaingan otomotif AS.

Apa yang terjadi di AS itu pada dasarnya adalah cerminan dari apa yang terjadi di seluruh dunia. Dua brand di bawah Grup Hyundai, Hyundai dan KIA, saat ini ada di jajaran sepuluh besar jenama otomotif terbesar di dunia. Hyundai di urutan kelima, sementara KIA duduk di posisi kesembilan. Larisnya produk Hyundai dan KIA tidak bisa dilepaskan dari evolusi dari sisi kualitas yang mereka alami pada periode 2000-an dan 2010-an.

Di bawah kendali Chung Mong-koo, anak dari sang pendiri, Chung Ju-yung, Hyundai bertransformasi dengan memperbaiki kualitas mesin, komponen, dan desain. Chung Mung-koo juga mengakuisisi saham KIA dan membuat grup Hyundai memiliki dua opsi brand. Mereka yang menginginkan mobil entry level dengan desain yang lebih "berani" bisa memilih KIA, sementara mereka yang lebih mapan dan menginginkan desain elegan bisa memilih Hyundai. Belakangan, mereka juga memperkenalkan brand premium Genesis yang performanya juga sangat bagus.

Dari kiprah Hyundai dan KIA, bisa ditarik kesimpulan bahwa Korea Selatan (Korsel) kini punya industri otomotif yang bukan cuma matang, tetapi merupakan salah satu yang paling penting di dunia. Pertanyaannya, bagaimana dengan saudara mereka, Korea Utara (Korut)?

Jawabannya mungkin sesuai dugaan banyak orang. Ya, Korut memiliki industri otomotif karena, biar bagaimana pun, mobilitas adalah kebutuhan banyak orang, termasuk di negara "petapa" seperti Korut. Namun, tentu saja, perkembangan industrinya tertinggal sangat jauh di belakang Korsel.

Kebanggaan Semu

Untuk memahami konteks penuh industri otomotif Korut, kita perlu mundur dulu ke dasar filosofi negara tersebut. Korut menganut ideologi yang disebut Juche, sebuah konsep yang secara harfiah berarti "kemandirian diri." Kim Il-sung, pemimpin pertama Korut, percaya bahwa negaranya hanya bisa mencapai kejayaan dengan berdiri di atas kakinya sendiri, terpisah dari dunia luar. Akibatnya, Korut mengisolasi diri secara ekonomi dan diplomatik selama puluhan tahun, dan kondisi itu bertahan hingga hari ini.

Konsekuensi langsung dari isolasi ini adalah minimnya kendaraan di jalanan. Para ahli memperkirakan hanya ada sekitar 30.000 kendaraan di seluruh Korut. Padahal, populasi negara ini diestimasikan mencapai 25 juta jiwa. Itu berarti, di negara tersebut hanya ada satu mobil untuk setiap 833 orang karena memiliki mobil bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan sebuah keistimewaan yang hampir eksklusif milik para elite penguasa.

Untuk memenuhi kebutuhan domestik itu, Korut memiliki pabrik mobilnya sendiri. Yang pertama dan tertua adalah Sungri Motor Plant. Pabrik ini didirikan di kota Tokchon pada November 1950, nyaris bersamaan dengan meletusnya Perang Korea. Nama "Sungri" berarti "kemenangan" dalam bahasa Korea. Namun, pada 1975, nama pabrik ini berubah menjadi Tokchon Motor Plant.

Cara para insinyur Sungri mengembangkan teknologi mobilnya bisa dibilang "sangat Blok Timur". Mereka menyebutnya "anatomy plan drawing", yaitu dengan mengimpor mobil asing, membongkarnya, lalu menggambar dan meniru setiap bagiannya sedetail mungkin. Ini persis dengan apa yang dilakukan industri mobil Uni Soviet pada era-era awal. Namun, apabila pabrikan mobil Uni Soviet hanya menjiplak desain dan teknologi dari Barat, pabrikan milik Korut menjiplak produk-produk Barat sekaligus Uni Soviet. Sebagai contoh, truk Sungri 58 adalah tiruan dari GAZ 51 buatan Uni Soviet, sementara Sungri 4 menggabungkan desain GAZ 69 dengan Jeep.

Puncak ambisi Sungri terjadi pada akhir 1980-an. Kim Il-sung, yang tak mau kalah dari Korsel dalam hal apa pun, mendeklarasikan pada 10 April 1987 bahwa, jika Korsel bisa membuat mobil, Korut juga bisa. Maka lahirlah Kaengsaeng 88, sebuah kendaraan yang terinspirasi dari Mercedes-Benz W201. Hasilnya? Menurut para pembelot Korut yang pernah mengendarainya, pintunya tidak bisa menutup dengan benar karena ukurannya tidak presisi sehingga kabin selalu penuh debu saat berjalan. Sebuah pencapaian yang sulit dibanggakan.

Di sisi lain, Pemerintah Korut secara resmi mengklaim pabrik Sungri mampu memproduksi 20.000 unit per tahun pada awal 1980-an. Kenyataannya, para ahli memperkirakan angka sebenarnya hanya 6.000 hingga 7.000 unit. Dan pada tahun 1996, saat krisis pangan dan ekonomi sedang mencapai puncaknya, pabrik tersebut hanya berhasil memproduksi 150 unit kendaraan.

Truk Sungri 58

Truk Sungri 58. FOTO/Wikipedia/Roman Harak

Sempat Kerja sama dengan Korsel

Tak lama setelah itu, industri otomotif Korut memasuki babak baru dan ini bisa dibilang sebagai sebuah pengkhianatan atas cita-cita Kim Il-sung. Pasalnya, di sini ada peran besar Korsel. Pada akhir 1990-an, ketika Korsel menerapkan "Kebijakan Sinar Matahari" yang melunak pada Korut, terciptalah sebuah joint venture bernama Pyeonghwa Motors, yang berarti "Perdamaian", di kota Nampo.

Inisiator dari program ini adalah Gereja Unifikasi pimpinan Pendeta Moon Myung-sun. Organisasi keagamaan ini cukup kontroversial karena, di sana, ada ajaran yang memuat tentang reunifikasi Korea. Gereja ini menggelontorkan investasi sebesar 54 juta dolar AS untuk mendirikan Pyeonghwa Motors dan menguasai 70 persen saham perusahaan tersebut. Sementara, 30 persen saham lainnya dipegang Korut lewat perusahaan Ryonbong.

Karena Gereja Unifikasi memiliki koneksi dengan produsen mobil di Vietnam yang punya perjanjian lisensi dengan FIAT, mobil pertama yang dirakit Pyeonghwa adalah tiruan dari FIAT Siena. Mobil ini diberi nama Hwiparam, yang berarti "siulan", dan mulai diproduksi pada April 2002.

Setelah lisensi FIAT habis, Pyeonghwa beralih ke model-model dari produsen Tiongkok, yakni Brilliance dan Shuguang. Ada juga satu model "mewah" bernama Zunma yang berarti "kuda perkasa", sebuah tiruan dari SsangYong Chairman buatan Korea Selatan. Menariknya, SsangYong Chairman pada dasarnya adalah tiruan dari Mercedes-Benz kelas E. Dengan demikian, Zunma adalah tiruan dari sebuah tiruan.

Dari tahun 2002 hingga 2011, Pyeonghwa hanya berhasil memproduksi total 6.368 unit kendaraan, padahal pabriknya dirancang untuk mampu membuat 10.000 unit per tahun. Tahun terbaiknya adalah 2011 dengan 1.820 unit. Gereja Unifikasi akhirnya menyerah dan pada Desember 2012 menghibahkan kepemilikan saham mereka kepada pemerintah Korea Utara secara gratis, setelah gagal menjualnya dengan harga 200 juta dolar AS.

Setelah itu, kiprah Pyeonghwa makin menggelikan. Pada pameran dagang Pyongyang 2013, Korut dengan bangga memamerkan 36 model Pyeonghwa baru sekaligus. Namun, para pengamat yang menelitinya lebih seksama menemukan bahwa ke-36 model tersebut tidak lain adalah mobil-mobil buatan Tiongkok yang hanya diberi logo Pyeonghwa, nama baru, dan brosur khusus.

Menurut sejarawan mobil Tiongkok, Erik van Ingen Schenau, mobil-mobil "Pyeonghwa" yang ditampilkan di pameran itu sejatinya dibuat oleh FAW (First Auto Works), bekerja sama dengan Volkswagen (VW). Semua mobil itu didapatkan sebuah diler FAW di kota Shenyang bernama Liaoning Huihua Corporation. Perusahaan itu pulalah yang kemudian melakukan rebadge terhadap produk-produk FAW-VW tadi. Sungguh sebuah kesaksian yang bikin garuk-garuk kepala.

Lantas, bagaimana dengan mobil yang beredar di jalanan Korea Utara secara umum? Ternyata, sebagian besarnya adalah kendaraan militer, sementara sisanya merupakan campuran Volvo tua yang konon pembayarannya tak pernah dilunasi, GAZ Volga yang merupakan mobil tua era Perang Dingin, dan Mercedes-Benz yang dimiliki para pejabat teras. Menurut para pembelot, Mercedes-Benz merupakan mobil tak resmi Pemerintah Korut.

Bicara soal Korut, berarti kita mesti bicara soal Kim Jong-un. Tak seperti industri otomotif negaranya yang acakadul, koleksi produk otomotif Jong-un justru sangat berkelas. Putra Kim Jong-il itu dilaporkan memiliki Audi R8, Range Rover 5.0, Rolls-Royce Phantom, beberapa Mercedes S-Class, dan Maybach. Semua mobil itu diperoleh dengan cara misterius yang kemungkinan besar melanggar sanksi internasional.

Secara hukum, kepemilikan mobil pribadi di Korea Utara adalah zona abu-abu yang njelimet. Sebenarnya, hukum perdata Korea Utara secara teknis membolehkan kepemilikan aset pribadi, termasuk kendaraan. Namun, hambatan birokrasi, biaya yang sangat tinggi, dan berbagai pembatasan perjalanan antarprovinsi membuat kepemilikan mobil pribadi tetap hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya atau mereka yang punya koneksi ke luar negeri.

Pada 2025, Korea Utara dilaporkan secara resmi mulai mengizinkan registrasi kendaraan atas nama pribadi. Akan tetapi, para analis menyebut perubahan ini lebih bersifat formalitas administratif daripada transformasi nyata, karena sistem yang lama pun sudah banyak disiasati dengan mendaftarkan kendaraan pribadi atas nama perusahaan negara.

Begitulah potret industri otomotif Korea Utara. Sebuah industri penuh kepura-puraan dan kebanggan semu yang dijalankan oleh rezim yang menginginkan kemajuan tanpa menyadari bahwa menutup diri takkan membawa mereka ke arah sana. Di saat Hyundai, KIA, dan Genesis semakin dihormati di kancah otomotif dunia, Korut bahkan belum bisa menjiplak mobil dengan cara yang benar.

Baca juga artikel terkait KOREA UTARA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi