Menuju konten utama
Gearbox

VinFast: Mobil Listrik Vietnam yang Mulai Merambah Indonesia

Kehadiran mobil ini cukup fenomenal. Bukan hanya masih "seumur jagung", tapi juga berasal dari negara yang mungkin kerap diremehkan oleh orang Indonesia.

VinFast: Mobil Listrik Vietnam yang Mulai Merambah Indonesia
SUV listrik VinFast VFe34. (FOTO/VinFast)

tirto.id - Seiring melonjaknya pangsa pasar mobil listrik (EV), konsumen Indonesia jadi tidak asing lagi dengan merek-merek Tiongkok yang memang menjadi pemain utama dalam segmen ini di Tanah Air. Tak cuma mobil Jepang dan Eropa, kini melihat mobil bikinan Tiongkok di jalan pun sudah jadi barang lumrah. Apalagi, pada Oktober-November 2025 lalu, BYD Atto 1 jadi EV Tiongkok pertama yang berhasil jadi mobil terlaris di Indonesia, mengalahkan jagoan-jagoan tradisional macam Toyota Innova dan Honda Brio.

Popularitas merek-merek Tiongkok tak bisa dipisahkan dari tren elektrifikasi yang digalakkan oleh pemerintah Indonesia sejak 2023, khususnya melalui program subsidi yang membuat biaya kepemilikan serta pajak kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor, jadi lumayan terjangkau. Momentum ini dimanfaatkan merek-merek macam BYD, Chery, Wuling, Aion, dan Geely untuk menancapkan kukunya di Indonesia.

Hasilnya sejauh ini cukup baik. Per November 2025, pangsa pasar EV di Indonesia telah mencapai 18,8 persen. Padahal, tahun lalu, pangsa pasar EV baru menyentuh angka 5 persen. Artinya, memang ada lonjakan signifikan dalam minat memiliki kendaraan listrik, terutama sejak diperkenalkannya BYD Atto 1 pada Juli 2025.

Meski didominasi oleh pabrikan Tiongkok, sebetulnya bukan berarti pasar EV di Indonesia hanya dimainkan oleh satu negara. Sebab, dalam daftar 10 besar merek EV terlaris, ada dua merek dari dua negara berbeda yang turut meramaikan persaingan.

Merek pertama adalah Hyundai. Keberadaan mereka sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena pabrikan asal Korea Selatan ini sudah lama bercokol di Indonesia. Ditambah lagi, sebelum merek-merek Tiongkok mulai populer, Hyundai sudah lebih dulu memopulerkan EV lewat seri Kona dan Ioniq.

Sementara itu, merek kedua bisa dibilang cukup fenomenal. Sebab, pabrikan satu ini bukan hanya masih "seumur jagung", tetapi juga berasal dari negara yang mungkin selama ini acap kali diremehkan oleh orang-orang Indonesia. Merek yang dimaksud adalah VinFast dari Vietnam. Sepanjang Januari-November 2025, VinFast sukses menjual 3.050 produknya dan bertengger di urutan keenam merek EV terlaris. Bahkan, dalam periode yang sama, VinFast berhasil mengungguli Hyundai yang duduk di posisi kedelapan.

Membangun Pabrik di Indonesia

Warga Jakarta dan sekitarnya mestinya sudah familiar dengan keberadaan sebuah perusahaan taksi dengan kelir hijau toska yang mulai wara-wiri di jalanan Ibu Kota sejak Desember 2024. Perusahaan taksi bernama Xanh SM itu hadir sebagai penantang baru Blue Bird dan tampil dengan mobil-mobil berdesain mutakhir yang kesemuanya merupakan EV.

Jika diperhatikan, semua mobil yang digunakan oleh Xanh SM memiliki logo V yang khas, terpampang di bagian kisi dan pintu belakang. Ini bukan kebetulan. Sebab, sebagai subsidiari dari VinFast, tentu wajib hukumnya bagi Xanh SM untuk menggunakan produk dari perusahaan induknya tersebut. Di Indonesia, Xanh SM menggunakan VinFast VF e34 untuk armada Xanh SM-nya.

Kehadiran Xanh SM di Indonesia merupakan bagian dari strategi besar VinFast untuk memperluas ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Xanh SM hadir di Indonesia kurang dari setahun sejak VinFast secara resmi mengumumkan kehadirannya di Tanah Air melalui Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024.

Sebagai pemain baru di industri otomotif Tanah Air, langkah VinFast juga terbilang cepat. Bahkan sebelum membawa masuk Xanh SM, VinFast sudah menunjukkan keseriusannya dalam membangun pabrik di Subang, Jawa Barat. Pada Juli 2024, peletakan batu pertama sudah dilakukan. Dan pada 15 Desember 2025 lalu, pabrik tersebut resmi beroperasi.

Nilai investasinya lebih dari US$1 miliar, tenaga kerja yang diserap bisa mencapai 15 ribu orang, target TKDN 80 persen pada 2030, dan jumlah mobil yang diproduksi ditargetkan mencapai 350.000 unit per tahun. Saat ini pabrik tersebut memang belum beroperasi dalam kapasitas penuh, dan baru pada Maret 2026 nanti diharapkan mereka bisa mulai tancap gas dalam merakit mobil-mobil buatan VinFast.

Lantas, mobil apakah yang bakal menjadi fokus VinFast di pabrik barunya? Seperti halnya BYD yang menjadikan Atto 1 sebagai fokus utama menilik statusnya sebagai mobil terlaris, VinFast pun memfokuskan produksi pabrik Subang pada seri VF 3, SUV kompak yang selama ini menyumbang 70 persen dari volume penjualan VinFast di Indonesia.

SUV listrik VinFast VF9

SUV listrik VinFast VF9. (FOTO/VinFast)

Bermula dari Mi Instan

Jika dibandingkan dengan merek-merek Tiongkok, terutama BYD, VinFast memang masih tertinggal. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa pabrikan ini baru berdiri pada 2017 dan lahir dari sebuah negara yang tidak dikenal sebagai basis otomotif.

Jika mereka berasal dari Thailand, yang selama ini dianggap sebagai kiblat otomotif Asia Tenggara, eksistensinya mungkin tak begitu mencengangkan. Namun, di sisi lain, kemunculan VinFast juga menunjukkan betapa cepatnya Vietnam mengalami kemajuan, khususnya di dunia manufaktur dan tekonologi.

Sejarah produksi otomotif Vietnam baru benar-benar bermula pada 1975 ketika perang berakhir. Selama 15 tahun, mereka benar-benar bekerja dengan kemampuan sendiri untuk mereparasi, merakit ulang, dan memodifikasi kendaraan-kendaraan militer supaya bisa digunakan untuk keperluan lain. Tidak ada investasi yang masuk, tidak ada produk signifikan yang dihasilkan, tetapi pada masa-masa sulit inilah kemampuan para insinyur Vietnam ditempa.

Fase berikutnya kurang lebih sama dengan Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring masuknya Vietnam ke era Doi Moi. Sejak ini, mulai muncul pabrikan-pabrikan di Vietnam yang, pada dasarnya, memiliki satu fungsi utama: merakit mobil-mobil bikinan negara lain, baik untuk dijual dengan merek asli maupun rebadge. Selama bertahun-tahun inilah yang mereka lakukan, sampai akhirnya, datanglah tahun 2012.

Ketika itu, sebuah pabrikan bernama Xuan Kien Auto Corporation (Vinaxuki) mulai berani memproduksi mobil penumpangnya sendiri. Sayangnya, keterbatasan dana dan rendahnya kualitas produk membuat mimpi ini layu sebelum berkembang. Mimpi itu membuat Vinaxuki bangkrut dan harus menutup pabrik.

Meski demikian, mimpi tersebut terus dihidupkan oleh pabrikan-pabrikan lain. Di tengah makin masifnya investasi asing, perusahaan-perusahaan domestik pun tidak mau kalah dengan berinvestasi di bidang manufaktur, automasi, dan rantai pasok komponen. Perlahan tapi pasti, ekosistem lokal Vietnam yang mendukung industri otomotif dalam negeri pun terbentuk. Hingga akhirnya, pada 2017, berdirilah VinFast.

Kisah VinFast bermula dari mi instan. Pendirinya, Pham Nhat Vuong, adalah lulusan ilmu bumi yang menuntut ilmu di Moskow, Rusia. Dari sana dia kemudian membuat mi instan dengan merek Mivina yang pada 2010 diakuisisi Nestle dengan nilai sekitar US$150 juta.

Uang hasil penjualan Mivina itu digunakan Pham untuk berbinsis di berbagai bidang di bawah payung Vingroup, mulai dari properti, real estate, hiburan, ritel, kesehatan, pendidikan, sampai teknologi. Dan, ya, VinFast, beserta Xang SM, adalah bagian dari konglomerasi ini.

Awalnya, VinFast tidak langsung memproduksi mobil listrik. Mereka mengawali kiprah seperti pabrikan-pabrikan Vietnam pada umumnya, yaitu dengan memanufaktur mobil rebadge. Dua mobil perdana mereka, Lux A2.0 (sedan) dan Lux SA2.0 (crossover), sama-sama merupakan mobil rebadge dari BMW F10 5 Series dan F15 X5. Selain itu ada pula VinFast Fadil, sebuah city car hasil rebadge Opel Karl yang diproduksi dari 2019-2022.

Namun, sejak 2021, Pham akhirnya mulai serius menggarap VinFast setelah dia memutuskan stop bermain di segmen ponsel pintar. Dengan investasi US$10 miliar, ditambah kerja sama dengan brand-brand internasional, termasuk rumah desain Pininfarina, VinFast mampu bergerak cepat menghasilkan mobil listrik pertamanya yang benar-benar bikinan mereka sendiri. Mobil listrik pertama itu adalah VF e34 yang sekarang memperkuat armada Xanh SM di Jakarta.

Pada 2022, VinFast bahkan mulai berani merambah pasar global dengan diluncurkannya mid-size SUV VF 8. Tak tanggung-tanggung, negara yang pertama kali mereka sasar adalah Amerika Serikat (AS). Tahun itu, VinFast mengirimkan 999 unit VF 8. Bagi VinFast, ini adalah sebuah pernyataan besar bahwa mereka bukan cuma eksis sebagai pemain regional, tetapi juga siap bertarung dengan pabrikan mana pun dari seluruh dunia.

Perjalanan mereka memang tidak selalu mulus. Pada 2023, misalnya, unit VF 8 yang mereka jual di AS harus di-recall karena ada masalah pada piranti lunaknya. Namun, mereka tidak menganggap itu sebagai kegagalan. Recall, bagi VinFast, dipandang sebagai feedback untuk terus meningkatkan kualitas produknya.

Tahun ini, sepanjang Januari-Oktober, di Vietnam saja VinFast sudah berhasil menjual lebih dari 124 ribu unit mobil. Ada kenaikan sekitar 43 persen dari total penjualan domestik tahun lalu yang di kisaran 87 ribu unit. Namun, VinFast belum menyediakan data untuk penjualan internasional. Yang jelas, tahun lalu mereka menjual sekitar 10 ribu unit mobil di luar Vietnam dan, tahun ini, di Indonesia saja sudah ada lebih dari 3 ribu mobil VinFast yang laku.

Progres VinFast mungkin agak sulit jika dibandingkan dengan raksasa-raksasa asal Tiongkok. Akan tetapi, mereka kini sudah jadi tuan rumah di negeri sendiri dengan penjualan yang jauh meninggalkan jenama-jenama tradisional. Selain itu, meski belum masif, penetrasi mereka di pasar internasional sudah cukup terasa, termasuk di Indonesia.

Tantangan bagi VinFast jelas menggunung. Biar bagaimana pun mereka adalah pemain baru yang bakal butuh waktu lama menanamkan citra produknya kepada (calon) konsumen. Persoalan teknologi yang pernah menyebabkan mobil VF 8 di-recall juga patut jadi perhatian khusus.

Namun, di sisi lain, sebagai perusahaan Vietnam, mereka punya modal dalam bentuk stabilitas politik, kebijakan ekonomi yang berpihak pada investasi yang berkualitas, dan tingginya kualitas sumber daya manusia (di atas Thailand dan Indonesia). Ditambah dengan semakin tajirnya sang bos dan kemauannya untuk terus berinvestasi di EV, masa depan VinFast seharusnya masih bisa dibilang cerah.

Baca juga artikel terkait MOBIL LISTRIK atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi