Menuju konten utama
Gearbox

Hongqi, Mobil Kesayangan Mao Zedong yang Siap Menaklukkan Dunia

Setelah produksinya sempat dihentikan oleh Deng Xiaoping, kini mobil Hongqi mulai bangkit dan siap meluaskan pasarnya ke luar negeri dan masuk 10 besar.  

Hongqi, Mobil Kesayangan Mao Zedong yang Siap Menaklukkan Dunia
Mobil Hongqi CA770, 1974. (FOTO/Wikimedia Commons)

tirto.id - Pada 15 Juli 1953, seiring dengan ditetapkannya Rencana Pembangunan Lima Tahun oleh Partai Komunis Tiongkok (CCP), sebuah pabrik otomotif mulai dibangun di kota Changchun. Pabrik ini diberi nama First Automotive Works (FAW) yang mula-mula tugas utamanya adalah memproduksi truk untuk keperluan militer dan industri.

Butuh waktu tiga tahun bagi FAW sampai akhirnya produk pertama mereka berhasil diluncurkan. Pada 1956, sebuah truk yang diberi nama Jiefang (Pembebasan) bergulir keluar dari jalur perakitan. Keberhasilan FAW memproduksi Jiefang merupakan momen penting bagi upaya industrialisasi Tiongkok di bawah pimpinan Ketua Mao Zedong. Hari itu, ketika Jiefang pertama selesai diproduksi, Mao hadir untuk meresmikannya.

Mao puas atas kinerja FAW. Akan tetapi, dia tidak ingin hanya berhenti sampai di situ. "Alangkah indahnya apabila suatu hari nanti kita bisa menaiki sedan asli buatan Tiongkok untuk datang ke berbagai pertemuan," ucap Mao. Bagi FAW, ucapan Mao itu tidak disikapi sebagai sebuah basa-basi, melainkan sebuah titah yang wajib dipatuhi.

Setahun berselang, datanglah pesanan resmi dari pemerintah pusat Tiongkok kepada FAW untuk memproduksi sebuah mobil sedan yang rencananya bakal digunakan oleh para pemimpin negara, termasuk Mao sendiri. Pesanan itu direspons FAW dengan segera mempelajari berbagai model sedan mewah bikinan Barat. Akhirnya, FAW menjatuhkan pilihan pada Mercedes-Benz 190 dan Simca Vedette buatan Prancis untuk direkayasa balik.

Hasilnya muncul pada 1958 ketika FAW sukses memproduksi sedan Dongfeng CA71. Nama Dongfeng dalam bahasa Indonesia berarti "Angin dari Timur", merujuk pada pidato Mao yang berbunyi "angin dari Timur akan mengalahkan angin dari Barat". Mobil ini benar-benar spesial karena logonya didesain sendiri oleh Mao, begitu pula pelatnamanya.

Dari sisi desain interior dan eksterior, Dongfeng CA71 luar biasa mewah. Joknya berlapis kain brokat sutra, langit-langitnya dilapisi beludru, karpetnya terbuat dari wol, panel-panelnya terbuat dari kayu mahal. Namun, rekayasa balik mesin yang dilakukan FAW terhadap Mercedes-Benz 190 dan Simca Vedette hasilnya sangat buruk sehingga mobil ini kerap kali mogok.

Kendati demikian, untuk ukuran mobil pertama yang berhasil dibuat, Dongfeng CA71 tetap mengesankan, Partai Komunis Tiongkok pun memerintahkan FAW untuk terus berinovasi sehingga bisa menghasilkan sedan yang tak cuma lebih mewah, tetapi juga lebih menggambarkan kebesaran Pemerintah Tiongkok. Perintah ini pun segera dilaksanakan.

Jika sebelumnya FAW menggunakan mobil Jerman dan Prancis sebagai platform dasar, kali ini mereka menggunakan mobil Amerika Serikat (AS), Chrysler Imperial keluaran 1955 sebagai acuan. Bagi FAW, ini adalah proyek ambisius karena para insinyur Uni Soviet, negara tempat para insinyur FAW berguru dalam kurun 1953-1956, sebenarnya sudah meminta mereka menyerah karena melakukan rekayasa balik pada mesin V8 Chrysler Imperial dinilai mustahil.

Mobil Hongqi

Sedan Hongqi pertama lahir pada tahun 1958, yang juga merupakan mobil pertama yang diproduksi secara independen di Tiongkok.

Namun, ucapan para insinyur Uni Soviet itu tidak mereka indahkan. Siang malam para insinyur FAW bekerja dan, hanya dalam sebulan, mereka tidak cuma berhasil melakukan rekayasa balik terhadap mesin V8 Chrysler Imperial tadi, tetapi juga sukses menciptakan sebuah purwarupa yang diberi nama Hongqi CA72. Hongqi dalam bahasa Indonesia berarti “Bendera Merah”.

Singkat cerita, Dongfeng pun terlupakan dan Hongqi akhirnya menjadi mobil kesayangan Ketua Mao. Hongqi CA72, bersama seri-seri penerusnya seperti CA770 dan CA772, menjadi simbol dari kekuatan sekaligus ambisi Mao untuk Tiongkok modern. Bahkan, pada 1964, Hongqi resmi dinobatkan sebagai mobil nasional. Namun, perjalanan mobil ini kemudian tidak semulus permulaannya.

Intrik politik mewarnai pengembangan seri-seri Hongqi sejak 1968. Selain itu, orang-orang pun mulai mempertanyakan kualitas mobil tersebut. Sampai akhirnya, setelah Mao wafat pada 1976, penerusnya, Deng Xiaoping, bahkan sempat menyetop produksi Hongqi sepenuhnya.

Menurut rezim Deng, Hongqi ketinggalan zaman dan secara teknologi sudah tertinggal jauh dari mobil-mobil buatan Barat dan Jepang. Di bawah kepemimpinan Deng, Tiongkok bahkan mengimpor Toyota Crown dan Mercedes S-Class untuk jadi kendaraan para pemimpin negara.

Lantas, bagaimanakah kiprah Hongqi sekarang?

Kebangkitan Hongqi

Setelah melalui perjalanan panjang dalam ketidakpastian, Hongqi mulai bangkit kembali ketika Tiongkok sudah berada di bawah kendali Xi Jinping. Xu Jianyi, sosok yang pernah bekerja untuk FAW pada dekade 1970-an, kembali untuk membangkitkan Hongqi. Dalam kurun 2010-2015, FAW menginvestasikan kurang lebih $4,65 miliar supaya Hongqi bisa memproduksi mesin sendiri.

Hal ini dilakukan karena sejak dimatisurikan oleh Deng, Hongqi hanya berfungsi sebagai merek di bawah FAW untuk menjual mobil rebadge dari berbagai pabrikan luar negeri, mulai dari Ford (AS), Nissan (Jepang), hingga Audi (Jerman). Secara kasatmata, Hongqi memang eksis, tetapi ia tidak lagi memiliki identitas seperti pada era kepemimpinan Mao. Ini, pada akhirnya, membuat penjualan Hongqi pun merosot tajam. Pada 2008, hanya 500 unit Hongqi yang terjual.

Berangkat dari sana, selain mengalokasikan dana besar, Xu Jianyi juga membentuk tim khusus dalam FAW untuk membangkitkan kembali Hongqi. Salah satu hasilnya adalah sedan Hongqi L5 yang dinaiki Presiden Joko Widodo dalam konferensi APEC tahun 2014. Keberhasilan itu pun diikuti oleh mulai dibangunnya dealer-dealer khusus Hongqi, di mana mobil ini kembali dipasarkan sebagai mobil mewah, sejajar dengan merek-merek macam Rolls Royce dan Bentley.

Namun, upaya lanjutan Xu Jianyi itu gagal total dan dia sendiri akhirnya ditangkap karena kasus korupsi. Meski begitu, apa yang dilakukan Xu Jianyi kemudian menjadi fondasi bagi Hongqi untuk kembali bangkit. Tahun lalu, Hongqi berhasil menjual 412 ribu unit mobil, naik 17,4 persen dibanding penjualan pada 2023. Kenaikan penjualan tersebut jauh di atas rata-rata kenaikan penjualan pabrikan Tiongkok yang ada di kisaran 5,8 persen.

Catatan ini sangat mengesankan, terutama jika dibandingkan dengan tahun 2017, ketika Hongqi hanya bisa menjual 5.000 unit. Kala itu, Hongqi berada di bawah kepemimpinan Xu Ping yang merupakan eks bos Dongfeng Motor. Kegagalan Xu Ping membangkitkan Hongqi membuat FAW akhirnya menunjuk Xu Liuping, eks Presiden China South Industries Group Corporation, untuk menjadi pemimpin baru.

Xu Liuping, yang memimpin FAW dari 2017 sampai 2023, adalah sosok di balik revolusi besar-besaran yang akhirnya sukses mengangkat kembali pamor Hongqi sebagai sebuah jenama. Salah satu langkah terpenting yang dilakukannya adalah menunjuk eks desainer Citroen, Jaguars, dan Rolls Royce, Giles Taylor, untuk memodernisasi Hongqi. Di bawah Taylor, mobil-mobil Hongqi pun tampak semewah mobil-mobil Eropa dengan perpaduan grille besar yang autoritatif dan lekuk-lekuk yang terlihat "mahal".

Sebenarnya, "bekerja sama dengan Barat" bukanlah hal baru bagi FAW maupun Hongqi. Mobil Hongqi pertama jelas-jelas merupakan hasil "menjiplak" mobil Barat. Setelah itu, pada masa penuh ketidakpastiannya, Hongqi juga senantiasa menjadi jenama untuk menjual mobil-mobil rebadge. Namun, kerja sama dengan Barat yang diinisiasi Xu Liuping benar-benar berbeda.

Mobil Hongqi CA72

Mobil Hongqi CA72, 1959. (FOTO/hongqi-auto.com)

Menyewa jasa Taylor hanyalah langkah awal. Setelah itu, pada 2020, FAW menjalin kerja sama dengan sebuah firma konsultansi kendaraan listrik asal AS bernama Silk EV untuk memproduksi mobil sport. Dengan demikian, Hongqi pun sudah tidak lagi menjadi mobil yang identik dengan acara-acara kenegaraan. Hongqi, di tahun 2025, adalah mobil yang jadi idaman anak-anak muda Tiongkok.

Selain modernisasi dan membuat mobil sport, ada tiga langkah krusial lain yang dilakukan Hongqi untuk menjadi produsen otomotif papan atas. Pertama, bermain di segmen kendaraan listrik. Mayoritas produk Hongqi sekarang adalah kendaraan listrik, baik yang jenisnya BEV (elektrik sepenuhnya), HEV (hibrida), maupun PHEV (hibrida yang baterainya bisa diisi secara terpisah).

Kedua, melakukan diversifikasi produk. Jika dulu mereka hanya bermain di segmen sedan, kini Hongqi turut menawarkan jenis mobil lain, yaitu SUV, MPV, bahkan bus. Selain itu, segmentasi produk mereka pun lebih beragam. Ada seri Golden Sunflower untuk kendaraan super mewah seperti Hongqi Guoli (dulu Hongqi L5), lalu seri Hongqi biasa untuk kendaraan lainnya. Di situs web mereka, segmentasinya dibagi menjadi empat yaitu Golden Sunflower, Sedan, SUV, dan EV.

Langkah ketiga adalah inovasi. Jika mayoritas pabrikan Tiongkok hanya bermain di segmen EV, Hongqi berniat untuk mengembangkan mobil bertenaga sel tunam hidrogen (FCV/fuel cell vehicle). Apa yang dilakukan Hongqi sejalan dengan pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota, yang sampai sekarang masih bersikeras bahwa FCV adalah ide terbaik untuk mobilitas masa depan.

Namun, kesuksesan Hongqi sebetulnya tidak "murni" dari hasil usaha mereka semata. Sebab, ada intervensi dari pemerintah yang membuat jenama ini diuntungkan. Pada 2022 lalu, mereka mendapat orderan sebanyak 1.000 unit dari militer Tiongkok. Secara bersamaan, militer Tiongkok juga telah berikrar untuk tidak lagi membeli mobil berjenama luar negeri kendatipun jenama tersebut menjalin kerja sama joint venture dengan pabrikan lokal.

Walau demikian, jika dibandingkan dengan kiprah Hongqi secara keseluruhan, intervensi dari Pemerintah Tiongkok tidak bisa dibilang signifikan karena jumlahnya tidak besar. Bisa dikatakan, Hongqi kini kembali menuai kesuksesan berkat keberhasilan mereka dalam menavigasi situasi sulit serta peralihan besar-besaran dari mobil konvensional ke EV. Strategi Xu Liuping terbukti jitu karena, meski dirinya kini sudah tak lagi memimpin FAW, progres Hongqi terus berjalan ke arah yang lebih baik.

Buktinya, pada 2024 lalu, Hongqi akhirnya sukses mengekspor mobilnya ke Eropa. Mereka juga sudah memperkenalkan diri di pasar-pasar lain seperti Amerika Utara (Meksiko) dan Timur Tengah (Kuwait). Target mereka pun jelas. Pada 2028, mereka berniat menjual 15 model di Eropa dan, pada 2030, setidaknya seperempat penjualan Hongqi harus berasal dari luar negeri.

Seorang ahli dari Sino Auto Insights, Tu Le, kepada Reuters berkata bahwa, di luar negeri, Hongqi tidak punya keuntungan dengan memasarkan diri sebagai mobil nasional, dan itu benar. Akan tetapi, sepertinya Hongqi sendiri tidak butuh cap itu untuk meraih kesuksesan belakangan ini. Sebab, seorang mahasiswa bernama Qin, juga kepada Reuters, menjelaskan bahwa alasan anak-anak muda menggemari Hongqi adalah karena “desain eksteriornya yang impresif”.

Jika memang demikian, maka Taylor sudah sukses besar karena dialah aktor sentral di balik modernisasi tampilan Hongqi. Dengan begitu, Hongqi sudah selayaknya menjual citra baru mereka sebagai "mobil mewah modern" untuk merenggut pasar-pasar yang mereka jadikan target. Hongqi mobil yang punya potensi menggoyang dominasi merek-merek mewah asal Eropa lewat value for money-nya.

Value for money yang dimaksud, tak lain, adalah kemampuan mereka menawarkan teknologi-teknologi yang, menurut pabrikan Eropa, masih terlalu mahal, di antaranya sistem AI pada kokpit mobil yang bisa dikontrol dengan suara, menyesuaikan sudut kemiringan kursi secara otomatis, mendinginkan atau menghangatkan mobil sesuai kebutuhan, serta merekomendasikan playlist berdasarkan suasana hati.

Ambisi Hongqi memang tak main-main karena mereka berani menargetkan penjualan satu juta mobil selepas tahun 2025 atau, dengan kata lain, menembus 10 besar klasemen pabrikan mobil terlaris sejagat raya. Dengan momentum serta kemampuan yang mereka miliki, kiranya ambisi itu bukan hal mustahil diwujudkan bagi Hongqi.

Baca juga artikel terkait MAO ZEDONG atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi