19 Februari 1997

Deng Xiaoping, Pemimpin yang Membunuh Komunisme Cina

Infografik Mozaik Deng Xioping
Ilustrasi Deng Xiaoping. tirto.id/Gery
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 19 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Tirai melonggar.
Mengintip ingar bingar
riuhnya pasar.
tirto.id - Infeksi paru-paru dan Parkinson. Dua penyakit itulah yang merenggut nyawa Deng Xiaoping pada 19 Februari 1997, tepat hari ini 21 tahun yang lalu, di usia 92. Meski sudah ada semacam kesiapan, mengingat kondisi fisiknya sudah melemah sejak awal 1990-an, rakyat Republik Rakyat Cina (RRC) tetap dirundung duka yang mendalam.

Deng Xiaoping adalah sosok penting yang menancapkan tonggak bagi pertumbuhan ekonomi Cina di akhir abad ke-20. Walaupun berulang kali menegaskan bahwa ia selalu setia pada komunisme, para analis kerap berpendapat sebaliknya. Bagi mereka, kebijakan-kebijakan Deng justru bercorak liberal. Begitu liberalnya untuk ukuran negara komunis, sampai-sampai menimbulkan pertanyaan penting: apakah Deng mengkhianati cita-cita Mao Zedong?

Dalam catatan Michael Y. M. Kau dan kawan-kawan yang termaktub di buku China in the Era of Deng Xiaoping: A Decade of Reform (1993), Deng lahir di Sichuan pada 22 August 1904. Saat itu, Sichuan masih berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Qing.

Deng sempat menempuh pendidikan di Perancis pada awal 1920-an. Di sebuah komune bernama La Garenne-Colombes, barat laut Paris, ia bertemu dengan para calon pejuang revolusi Cina lain seperti Zhou Enlai, Nie Rongzhen, Cai Hesen, dan Zhao Shiyan.

Sekembalinya ke kampung halaman, Deng aktif dalam gerakan revolusioner Marxis yang berpusat di Wuhan dan Shanghai. Perjuangan melawan gerakan nasionalis Kuomintang ia mulai dari Guangxi pada 1929, lalu ke daerah-daerah lain.


Bukan Seorang Marxis?

Karier politiknya terbilang moncer. Di masa-masa akhir revolusi, ia menjadi tokoh kunci dan dekat dengan para elite Partai Komunis Cina (PKC). Deng dikenal sebagai propagandis ulung di tubuh tentara. Ide-ide Mao ia terjemahkan menjadi fondasi perjuangan partai hingga akhirnya RRC berdiri pada 1949.

Mobo Gao melalui bukunya, The Battle for China's Past: Mao and the Cultural Revolution (2008), menyampaikan kecurigaan bahwa Deng bukan murni seorang Marxis. Ia hanya pejuang yang punya kesadaran nasionalis serta menginginkan Cina bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kebetulan di masa itu, kata Gao, komunisme menjadi gerakan paling potensial untuk merebut kekuasaan, sehingga ia menceburkan diri ke dalamnya.

Kecurigaan ini terbukti bahkan sebelum Mao Zedong meluncurkan Revolusi Kebudayaan pada era 1960-an dan 1970-an. Deng dinilai terlalu dekat dengan elite politik lain yang berhaluan pragmatis. Mao yang sebelumnya kagum berubah menjadi kecewa. Deng diberhentikan dari posnya dan dikirim ke pedesaan di Jiangxi untuk menjalani reedukasi.

Deng menjadi salah satu korban represi selama Revolusi Kebudayaan. Meski sudah menghilang dari publik, ia tetap saja diserang oleh para pendukung radikal Mao. Namun, Deng tergolong lebih beruntung ketimbang banyak warga Cina lain yang dipersekusi rezim, terutama mereka yang tak mendukung revolusi.


Revolusi tersebut menjumpai batu sandungan saat Mao meninggal pada 9 September 1976. Deng secara bertahap muncul sebagai pemimpin pengganti, namun saat itu kekuasaan pindah sementara ke tangan Hua Goufeng. Didukung lingkaran internal PKC, sebelum dekade berganti ke era 1980-an, kekuasaan Deng berhasil melampaui Hua dengan cara mengisi sejumlah jabatan penting.

Rezim Deng menandakan perubahan yang cukup radikal, terutama dalam hal perbaikan kondisi ekonomi yang bobrok selama Mao menjalankan Revolusi Kebudayaan. Mulai di titik ini, Deng menampilkan wajahnya yang jauh dari wajah radikal yang ditampilkan Mao. Deng ingin RRC lebih liberal (meski tak ia sampaikan secara eksplisit) di bidang ekonomi serta punya peran yang lebih aktif dalam perdagangan internasional.

Merujuk ulasan Ian Thomson atas buku Christian Caryl, Strange Rebels: 1979 and the Birth of the 21st Century, liberalisasi ekonomi Cina dimulai pada 1979 atau segera setelah Deng naik panggung. Efeknya langsung terasa bahkan dalam hitungan beberapa tahun saja.


Kamerad yang Pro-Ekonomi Pasar

Permulaan liberalisasi ekonomi bukan terjadi dari area perkotaan, tetapi justru di pedesaan. Para petani masih bertanggung jawab atas tanah yang dimiliki negara, namun rezim Deng mendorong para petani lebih fleksibel dalam memilih komoditas pertanian, lebih menyesuaikan kondisi alam, dan tidak lagi direpotkan dengan urusan birokratis yang amat terpusat seperti yang berjalan di era Mao.

Bagi banyak sejarawan, termasuk Yang Jisheng dalam Tombstone: The Great Chinese Famine, 1958-1962 (2012), Revolusi Kebudayaan menghasilkan bencana kelaparan massal. Ada sejumlah faktor penyebab. Beberapa di antaranya, merujuk Qiu Jin dalam The Culture of Power: The Lin Biao Incident in the Cultural Revolution (1999), Mao terlalu fokus pada peningkatan produksi besi, berkurangnya lahan pertanian, cuaca yang buruk, dan bencana alam di beberapa wilayah.

Restrukturisasi ekonomi ala Deng menanggulangi masalah ini sebab produktivitas petani meningkat. Bahan pangan mudah didapat—bahkan untuk daging babi, daging angsa, dan komoditas-komoditas yang sebelumnya dianggap mewah.

Program terpenting Deng adalah Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones/SEZ). SEZ merupakan model produksi terpusat di sebuah area dengan menyasar dunia internasional sebagai pangsa pasarnya.

Lambat laun pemodal asing datang sebagai investor maupun distributor. Pemerintah lokal meraup untung dari pajak dan biaya administrasi. Salah satu daerah yang terkenal di awal program SEZ diluncurkan adalah Shenzen, lalu pelan-pelan berekspansi ke daerah-daerah lain.


Meski investor asing menjadi mayoritas pemilik pabrik, orang-orang lokal mendapat berkah dengan berbondong-bondong bekerja sebagai buruhnya. Di fase awal, SEZ justru diatur agar berdiri di kawasan pedesaan, sehingga dalam satu dekade berselang banyak kawasan lokal yang ekonominya tumbuh. Orang-orang lokal juga tak hanya mengisi posisi sebagai buruh kasar, namun juga manajer, dan beberapa di antaranya ada yang berhasil membangun perusahaannya sendiri.

Pertumbuhan ekonomi negara tumbuh pesat mulai era 1980-an. Pada 1981-1983, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9,6 persen per tahun. Di Shenzen, misalnya, pertumbuhan ekonominya mencapai 75 persen per tahun sepanjang 1981-1984. Lahirlah istilah “Kecepatan Shenzen” atau “Efisiensi Shenzen” untuk menyebut standar kemajuan yang juga dikejar di daerah-daerah lain.

Deng selalu menegaskan bahwa dirinya tidak mengingkari ideologi resmi negara. Ia memperkenalkan “sosialisme dengan karakteristik Cina”, yakni kombinasi sosialisme dengan kebijakan ekonomi pragmatis yang ramah investasi asing serta aktif dalam perdagangan global. "Ideologi" ini dilanjutkan oleh para penerus Deng, hingga kini di era Xi Jinping, dan membawa RRC sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Sejak 1980-an, gagasan Deng tentang sosialisme ala Cina dimasukkan sebagai salah satu kurikulum wajib di kampus-kampus. PKC menjadikannya sebagai panduan kebijakan utama sejak Pleno Ketiga Kongres Nasional PKC ke-11 pada 1978. Ia juga ditetapkan sebagai ideologi panduan dalam Konstitusi PKC pada 1997 dan kemudian dicatatkan ke dalam konstitusi negara.



Ambivalensi Deng

Namun, era Deng, yang merentang sepanjang lebih dari satu dekade, juga tak lepas dari kekurangan. Menurut Caryl, sebagaimana liberalisasi ekonomi di banyak negara, muncul kesenjangan ekonomi sebab tak semua daerah kebagian “kue” SEZ. Pengangguran meningkat di beberapa wilayah, sementara eksploitasi besar-besaran mulai melahirkan berbagai masalah lingkungan.

Deng, yang hingga akhir hidupnya konsisten menolak “kapitalisme”, sebenarnya dinilai ambigu oleh para sejarawan. Selain karena kebijakan ekonominya, ia juga menolak mentah-mentah aspirasi demokratisasi di RRC. Aspirasi ini terutama muncul dari para mahasiswa yang menilai apa yang sudah dilakukan Deng akan kian maksimal dengan RRC yang lebih demokratis.

Deng menampilkan wajah yang agresif sekaligus represif dalam menghadapi militansi mahasiswa. Mereka melakukan serangkaian demonstrasi yang berpusat di Lapangan Tiananmen di Beijing antara pertengahan April hingga awal Juni 1989. Selain demokratisasi, salah satu tuntutan pokok mereka adalah penegakan hukum bagi pelaku korupsi.


Meskipun pemerintah telah mengumumkan masa darurat pada 20 Mei, demonstrasi terus berlanjut. Setelah Deng berunding dengan beberapa elite partai, keluar perintah menggunakan kekuatan militer untuk memecahkan krisis itu.

Demonstran direpresi sedemikian keras hingga melahirkan korban jiwa yang berjumlah ratusan orang. Tragedi Lapangan Tiananmen menjadi jejak hitam bagi rezim Deng serta menimbulkan kecaman dari komunitas internasional.

Terlepas dari itu semua, manuver Deng selama berkuasa telah mencatatkan prestasi yang dinarasikan Caryl sebagai “program penurunan angka kemiskinan terbesar dalam sejarah umat manusia”. Penjualan skala global Cina pada 1978 hanya bernilai 10 miliar dolar. Tiga dekade berikutnya, angkanya sudah seratus kali lipat.

Liberalisasi ekonomi jadi kuncinya, meski dalam kemasan luar Deng dan RRC kekinian tetap berlabel komunis. Caryl menyimpulkan bahwa sosok Deng seakan-akan dipenuhi hipokrisi. Tanpa mengurangi rasa hormat, katanya, “orang yang membaktikan hidupnya untuk cita-cita komunisme, ternyata melakukan pembunuhan terhadap ideologi itu sendiri.”

Baca juga artikel terkait REPUBLIK RAKYAT CINA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight