Ambisi Cina dengan Proyek Jalur Sutra Abad 21

Oleh: Yantina Debora - 6 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Jalur Sutra abad 21 akan semakin memperkuat Cina untuk menguasai perdagangan dunia.
tirto.id - Belum lama ini perusahaan Cina COSCO dan Pelabuhan Lianyungan mengumumkan mengakuisisi 49 persen saham perusahaan pengelolaan Pelabuhan Khorgos di Kazakhstan. Setelah itu, perusahaan logistik Nippon Express Jepang juga menandatangani sebuah MoU dengan Kazakh Railways (KTZ ). Tujuannya untuk meningkatkan arus lalu lintas kontainer darat antara wilayah Jepang/Korea Selatan dan Asia Tengah, Kaukasus, dan Eropa.

Langkah Nippon Express dan KTZ cukup menarik, karena dikaitkan sebagai kelanjutan persaingan Jepang dan Cina dalam memperebutkan pengaruh dan investasi di seluruh Eurasia dan Afrika. Cina memang sedang menghidupkan kembali rute perdagangan dengan Barat era Dinasti Han (140 SM) yang dikenal dengan "Jalur Sutra". Setelah lama tak terdengar, kini di bawah kepemimpinan Xi Jinping Cina merealisasikan Jalur Sutra dan menjadi bagian dalam kebijakan luar negeri Cina.

Awal 2017, kereta langsung pertama dari Cina tiba di Inggris. Kereta yang berangkat dari Kota Yiwu menempuh 12.000 km, melintasi tujuh negara dan memerlukan waktu 18 hari untuk tiba di London. Rute pengiriman barang ke Eropa menggunakan kereta api dinilai lebih mudah dibandingkan pengiriman udara dan lebih cepat dari pengiriman laut. Ini merupakan bagian dari program One Belt, One Road Cina.

Baca juga: Menghidupkan Jalur Sutra Lewat Kereta Barang Cina-Inggris

One Belt, One Road merupakan Jalur Sutra abad 21 yang mengangkat visi globalisasi ala Cina. Proyek ini diumumkan Xi Jinping pada 2013 dan mengajak negara lain untuk ikut terlibat. Jalur Sutra Cina ini akan mencakup wilayah darat dan maritim. Jalur darat mulai dari Cina melewati Eropa Timur lalu berakhir di Eropa Barat.

Baca juga: Uang yang Mengakrabkan Cina dan Arab Saudi

Sedangkan jalur maritim akan melewati Vietnam, Malaysia, Indonesia, India. Dari Asia Jalur Sutra akan melewati Afrika Timur yaitu menuju Kenya, Somalia dan melewati Teluk Aden, dan Laut Merah. Setelah itu, dari Afrika Timur akan berlanjut ke Afrika Utara melalui Terusan Suez dan menuju ke Italia.

Proyek Jalur Sutra ini tentu memiliki dasar. Bagi Cina, Jalur Sutra akan memperkuat kerjasama keuangan, memperkuat koneksi jalan atau infrastruktur, dengan membentuk jalur transportasi yang kuat dengan negara lain. Mulai dari Cina ke Eropa Barat dan dari Asia Tengah ke Asia Selatan. Hal ini akan membantu negara-negara ekonomi rendah yang berada dalam Jalur Sutra dalam hal pengembangan infrastruktur.

One Belt, One Road bermaksud untuk memperkuat fasilitas perdagangan, dengan fokus pada penghapusan hambatan dagang (trade barriers) dan mengambil langkah atau kebijakan guna mengurangi biaya perdagangan dan investasi. Termasuk memperkuat komunikasi kebijakan terkait kerjasama ekonomi. Jalur ini memiliki potensi pasar 3 miliar jiwa. Di Asia Tenggara saja, sebagai Jalur Sutra maritim saja punya populasi sekitar 600 juta jiwa.

Cina memang tak main-main, Presiden Xi Jinping juga berjanji menyediakan 8 triliun dolar AS untuk pembangunan infrastruktur di 68 negara. Kini menurut Cina, pihaknya sudah berinvestasi sebesar 50 miliar dolar AS pada 20 negara di sepanjang rute Jalur Sutra.

Dalam sebuah sambutan di forum Belt and Road Forum (BRF) di Beijing, 14 Mei 2017, Presiden Xi Jinping secara tegas menyampaikan gagasannya di depan 100 perwakilan negara terlewati Jalur Sutra. Pidatonya yang berjudul Work Together to Build the Silk Road Economic Belt and The 21st Century Maritime Silk Road semakin menegaskan janji manis Cina di megaproyek ini.

"Kami akan berkontribusi merealisasikan prakarsa Jalur Sutra, sebuah proyek abad ini, yang akan memberikan keuntungan banyak orang di seluruh dunia," kata Xi dikutip dari Xinhuanet.

Bagi negara berkembang, apa yang dilakukan Cina ini merupakan sebuah proyek unik, bersejarah, dan cukup penting dan dianggap menguntungkan termasuk oleh Indonesia. Hadirnya investasi Cina dapat mendorong pembangunan di berbagai negara sehingga One Belt One Road dianggap sebagai kolaborasi ekonomi terbesar abad ke-21.

Baca juga: Pertemuan Jalur Sutra dan Poros Maritim

"Banyak dari kita di negara berkembang - terutama kita di Afrika - terus memandang Cina sebagai model ekonomi yang sukses dan sekutu yang andal dalam memerangi kemiskinan dan dalam usaha mewujudkan kemakmuran," kata Perdana Menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn.


Infografik Jalur Sutra Abad 21

Perdagangan dan Pengaruh

Meski tampaknya Cina hadir seperti “malaikat” bagi negara dengan ekonomi rendah, di balik itu tetap saja "ada udang di balik batu" bagi kepentingan Cina. Misalnya, Cina dan Pakistan menyepakati proyek Pelabuhan Gwadar. Pelabuhan itu yang akan membuka rute perdagangan Cina di wilayah barat daya Xinjiang.

Ada juga proyek pipa Cina-Myanmar yang memberi akses darat pertama ke minyak mentah Timur Tengah. Serta Pelabuhan Piraeus yang akan menjadi gerbang maritim di Eropa Tengah yang akan dihubungkan dengan kereta Belgrade ke Budapest.

Bagi pesaing Cina seperti AS, Rusia bahkan India, inisiatif pembangunan Jalur Sutra ini adalah cara Cina untuk menguasai perdagangan dunia dan menguasai wilayah-wilayah dagang yang potensial. Bagi India, pengembangan Jalur Sutra tak hanya soal ekonomi tapi sudah mencakup kedaulatan sebab jalur Sutra Cina ke Pakistan berpotensi melalui Kashmir yang menjadi lahan sengketa India dan Pakistan.

Sedangkan dari sisi AS, hadirnya Jalur Sutra ini akan membuat Cina semakin berpengaruh di wilayah Eurasia. Apalagi untuk menjalankan proyek Jalur Sutra, Xi Jinping langsung membangun institusi keuangan Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Amerika Serikat menilai institusi keuangan itu adalah ancaman karena dapat melemahkan sistem internasional berbasis mata uang dolar dan malah memperkuat mata uang Cina. Ini dapat menguatkan ekonomi dan politik Cina di kawasan.

Namun, apakah proyek Jalur Sutra ini merupakan ambisi Cina untuk menguasai perdagangan dunia? Belum tentu. Menguasai perdagangan dunia adalah harapan Cina yang kedua. Harapan Cina yang pertama adalah menghalau pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia.

Peningkatan pengaruh Cina di Asia salah satunya melalui Jalur Sutra adalah respons terhadap kebijakan Amerika Serikat “Pivot to Asia-Pasific” yang digaungkan Barack Obama saat menjadi Presiden AS tahun 2011. Kebijakan tersebut mencakup sektor ekonomi dan keamanan.

AS gencar memperluas pengaruh dengan menggandeng ASEAN serta Trans-Pacific Partnership (TPP) tanpa melibatkan Cina. Kondisi ini tentu mengancam Cina sebab dikelilingi sekutu AS. Namun saat Amerika di tangan Donald Trump, Cina memiliki peluang untuk “membungkam” pengaruh AS di kawasan, salah satunya karena AS memilih keluar dari TPP.

Langkah yang diambil Trump dinilai menjauhkan AS dari sekutu-sekutunya di Asia ketika di saat bersamaan pengaruh Cina semakin meningkat di kawasan tersebut. Peluang Cina juga semakin tinggi sebab Trump dipusingkan oleh berbagai kasus domestik, isu terorisme hingga rudal Korea Utara. Sementara proyek Jalur Sutra Cina kian terlihat hasilnya dengan berbagai pembangunan jalur kereta di Kazakhstan hingga Polandia.

Proyek Jalur Sutra Cina Abad 21 sebagai cara Cina memperkuat pengaruh dan memastikan tetap menguasai perdagangan dunia. Saat ini, Cina masih sebagai negara dengan nilai ekspor terbesar di dunia.
Sebuah teori lawas dari Halford Mackinder “Heartland” atau Eurasia masih relevan dalam konteks program besar Cina bernama One Belt, One Road.

Who rules Eastern Europe commands the Heartland.
Who rules the Heartland commands the World Island.
Who rules the World Island commands the World.

Baca juga artikel terkait JALUR SUTRA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram