12 Maret 1947

Di Balik Doktrin Truman yang Melahirkan Perang Dingin AS vs Soviet

Oleh: Hasya Nindita - 12 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Masalah yang muncul di Yunani dan Turki tidak lama setelah Perang Dunia II usai, menjadi pintu masuk AS dalam menjalankan prinsip kebijakan luar negerinya.
tirto.id - Warsa 1947, Yunani dan Turki berada dalam krisis. Di Yunani, konflik internal yang bermula sejak setahun sebelumnya kian memanas dengan menguatnya pasukan Partai Komunis Yunani yang terang-terangan melawan pemerintah.

Sementara Turki tengah dikonfrontasi oleh Uni Soviet. Mereka menuntut kontrol atas Selat Dardanella--wilayah di mana Turki medominasi jalur air strategis yang mengarah dari Laut Hitam ke Mediterania--agar kapal-kapal dagang Uni Soviet diizinkan melintas.

Sementara Perang Dunia II yang belum lama berakhir menyisakan sejumlah negara yang mengalami krisis ekonomi dan hampir bangkrut, salah satunya Inggris. Hal ini membuat Inggris memberhentikan dukungan militer dan ekonomi untuk Yunani dan Turki yang mereka umumkan pada 31 Maret 1947.

Situasi ini membuat Amerika Serikat yang tengah bersaing secara ideologi dengan Uni Soviet, terpaksa turun tangan. Setelah PD II berakhir, Uni Soviet gencar merangkul negara-negara Eropa Timur dan Eropa Tengah sembari mengenalkan ideologi komunis. Sedangkan AS berusaha mempertahankan paham demokratis di negara-negara tersebut.

Presiden AS, Harry S. Truman, mengeluarkan pernyataan resmi terkait situasi ini. Pada 12 Maret 1947, tepat hari ini 74 tahun lalu, di hadapan anggota Kongres, Presiden Truman meminta AS menyediakan bantuan ekonomi dan militer untuk Turki dan Yunani agar dominasi komunis tidak menguat di kedua negara itu.

Melalui pidatonya, Truman mendeklarasikan bahwa dunia tengah menghadapi pilihan yang sangat menentukan untuk masa depan bersama. Pilihan itu terbagi dua. Pertama, pilihan atas hidup berdasarkan keinginan mayoritas dengan pemerintahan yang menjamin kebebasan individu. Kedua, hidup berdasarkan keinginan minoritas yang dipaksakan kepada kelompok mayoritas. Dia menambahkan bahwa pilihan kedua akan kental dengan teror dan penindasan.

Dia berargumen bahwa bantuan kepada Yunani--yang sebelumnya dilakukan Inggris--adalah untuk menangkal ancaman aktivitas terorisme dari ribuan pasukan bersenjata yang dipimpin oleh komunis. Dia khawatir jika komunis menang dalam perang saudara Yunani, maka ideologi negara itu akan berubah. Maka itu, Truman merasa ini adalah kewajiban AS untuk mendukung Yunani agar menjadi negara demokratis yang mandiri.

Sementara Turki, imbuhnya, juga membutuhkan bantuan AS untuk bisa mempertahankan integritas nasional mereka. Dia lagi-lagi menganggap AS berkewajiban untuk melindungi kebebasan masyarakat Turki dari upaya penaklukan oleh kelompok minoritas bersenjata atau tekanan dari pihak eksternal.

Melalui pernyataannya, Truman berkomitmen untuk membawa AS terus aktif menawarkan bantuan demi menjaga integritas politik negara-negara demokratis. Jika Turki dan Yunani goyah serta jatuh ke tangan komunis, stabilitas Timur Tengah akan terancam, yang akan berdampak pada kepentingan strategis bagi keamanan nasional AS. Maka itu, bantuan AS dianggap perlu untuk memelihara integritas nasional.

Truman juga berarguman bahwa AS tidak dapat lagi bediam diri membiarkan perluasan paham komunisme di negara-negara merdeka. Hal itu karena keamanan nasional AS tidak hanya di wilayahnya saja, melainkan juga perlu membantu menjaga perdamaian bahkan hingga Eropa dan di luar belahan bumi bagian Barat.

Selanjutnya, Truman mengajukan dana bantuan sebesar 400 juta USD untuk Yunani dan Turki yang kemudian disetujui Kongres dan disalurkan dua bulan kemudian.


Dimulainya Perang Dingin

Pernyataan Truman memunculkan berbagai kritik dan penolakan. Sejumlah pihak menganggap paparannya hanya bentuk ketakutan AS yang tidak sepenuhnya terbukti. Namun kemudian kelompok yang mengamini doktrin ini berjumlah lebih besar.

Di sisi lain, muncul desas-desus bahwa Uni Soviet sebenarnya tidak punya ambisi jahat untuk menguasai Yunani dan Turki. Uni Soviet dikabarkan bukan dalang di balik pemberontakan partai komunis di Yunani, melainkan Yugoslavia yang dipimpin Perdana Menteri Josip Tito yang disebut-sebut memberikan dukungan dana. Satu tahun sebelumnya, Yugoslavia memutuskan hubungan dengan Uni Soviet.

Selain itu, kabar tentang Uni Soviet yang menuntut kendali atas Selat Dardanella juga dikatakan tidak tepat. Uni Soviet hanya meminta jaminan untuk jalur air strategis ini agar tidak digunakan oleh musuh-musuhnya.

Lalu, apakah bantuan AS menghasilkan sistem demokrasi di Yunani dan Turki? Ini juga tidak dapat diukur dengan jelas. Memang, setelah Doktrin Truman, kedua negara mendirikan rezim sayap kanan yang represif. Turki mendapatkan bantuan sebesar 100 juta USD lengkap dengan pasukan, kapal, dan pesawat AS yang mengawal Selat Dardanella. Sementara pasukan pemerintahan Yunani berhasil meredam pemberontakan. Turki dan Yunani kemudian menjadi bagian North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang digagas AS pada 1952.

Infografik Mozaik Doktrin Truman
Infografik Mozaik Doktrin Truman. tirto.id/Sabit


Doktrin Truman justru menghasilkan parameter yang lebih jauh dibanding tujuan awalnya. Doktrin ini dianggap sebagai deklarasi resmi dimulainya Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Truman seolah menggambarkan AS sedang dalam perjuangan hidup mati bersaing dengan Uni Soviet. Hasilnya? Perang Dingin dan hubungan kenegaraan yang tidak baik selama puluhan tahun.

John Lewis Gaddis, sejarawan, berargumen bahwa terlepas dari berbagai perbedaan, kritik, dan penolakan, Doktrin Truman berdampak pada dua poin penting. Pertama, pernyataan Truman menandai sebuah momentum dari kepentingan fundamental dalam sejarah kebijakan luar negeri AS. Kedua, keterlibatan AS dalam Perang Vietnam tumbuh secara logis, bahkan tak terhindarkan, dari kebijakan yang diprakarsai oleh Truman.

Sebenarnya, sejumlah permasalahan kebijakan politik luar negeri memengaruhi keputusan Truman untuk membantu Yunani dan Turki. Beberapa peristiwa penting pada 1946 menjadi dasar mengapa segala macam kemungkinan untuk memperbaiki hubungan setelah PD II antara AS dengan Uni Soviet pupus.

Pertama, kegagalan Soviet menarik mundur pasukannya di Iran utara. Kedua, Soviet berusaha menekan pemerintah Iran untuk memberi izin kepada terhadap minyak bumi. Ketiga, Soviet diduga terus bergerilya melakukan iredentisme melalui separatis Azerbaijan di Iran utara. Terakhir, Uni Soviet juga menolak Baruch Plan yang diajukan AS yang berisi tentang kendali internasional atas energi dan senjata nuklir.

Namun, prinsip dari Doktrin Truman dianggap bukan sebuah pergeseran halus ataupun masif pada arah strategi pertahanan tertentu. Menurut Martin Folly dalam Oxford Encyclopedia of American Military and Diplomatic History, hanya ada sedikit bukti yang mendukung klaim bahwa Doktrin Truman adalah langkah pertama untuk mengukur secara pasti resolusi anti-Soviet.

Doktrin ini justru mencerminkan pendekatan Truman terhadap urusan luar negeri AS sebagaimana yang telah berkembang. AS akan terus merasa perlu untuk bertindak secara tegas demi mempertahankan kepentingannya di seluruh dunia.

Baca juga artikel terkait PERANG DINGIN atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Politik)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Irfan Teguh
DarkLight