tirto.id - Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1966, Toyota Corolla telah menjadi produk tersukses milik pabrikan yang didirikan Kiichiro Toyoda. Hingga kini, lebih dari 50 juta unit mobil sedan tersebut sudah laku terjual. Corolla bahkan sukses mengungguli model-model yang lebih tua darinya seperti Ford F-Series (diperkenalkan pertama kali pada 1948) dan VW Beetle (diperkenalkan pertama kali pada 1937).
Total, sudah ada 12 generasi Corolla yang diperkenalkan oleh Toyota. Di Indonesia, Corolla baru hadir saat model tersebut sudah memasuki generasi kedua yang diproduksi dari 1970-1975. Corolla berkode sasis E20 tersebut laku keras, bahkan sampai punya julukan khusus, yaitu Corbet alias Corolla Betawi. Konon, mobil tersebut jadi favorit orang-orang Betawi untuk dibeli setelah mendapat uang hasil jual tanah.
Sebenarnya, sampai dengan generasi kedelapan, Corolla selalu punya julukan khusus dari masyarakat Indonesia. Setelah Corbet, ada pula Corvet atau Corolla Veteran. Kemudian, Greco alias Great Corolla yang merupakan generasi ketujuh. Ini sedikit banyak menunjukkan betapa lekatnya kehadiran Toyota Corolla dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, tidak semua Corolla diciptakan setara dan, boleh jadi, generasi keempatlah yang paling dicintai di Indonesia. Corolla Generasi keempat yang memiliki kode sasis KE70 sebenarnya diluncurkan dalam beberapa varian, yaitu DX, SE, dan GT. Akan tetapi, hanya varian DX yang masuk ke pasar Indonesia. Itulah mengapa seri ini kemudian populer dengan nama Corolla DX.
Jika generasi Corolla sebelumnya masih mengusung bodi berlekuk, Corolla DX yang pertama kali diproduksi dan masuk Indonesia pada 1979 seakan-akan menandai perubahan zaman lewat bentuk bodi yang kotak dengan garis tegas. Gaya seperti ini masih bisa dilihat sampai Corolla generasi keenam sebelum akhirnya lekukan kembali muncul pada generasi ketujuh.
Sama seperti pendahulunya, Corolla DX masih merupakan sedan subkompak dan ini bertahan sampai generasi kelima, sebelum akhirnya Corolla menjelma jadi sedan kompak pada generasi ketujuh dengan ukuran lebih besar. Corolla DX dilengkapi mesin yang sama persis dengan milik Toyota Kijang KF20 (Kijang Doyok), berkode 4K-U dengan kubikasi 1.290cc. Dibekali transmisi manual 4 percepatan, mesin ini mampu menghasilkan 74 hp pada 5.600 rpm dengan torsi puncak 105 Nm pada 3.600 rpm.

Mesin Corolla DX memang jadi idaman masyarakat Indonesia. Pertama, karena konsumsi BBM-nya relatif irit tetapi tetap bertenaga. Kedua, ia dikenal bandel dan mudah dirawat karena teknologinya masih sederhana. Terakhir, suku cadang mesin mobil ini mudah sekali ditemukan karena kesamaan mesin dengan Kijang Doyok.
Corolla DX muncul dalam tiga versi berbeda. Versi pertama masih menggunakan dua lampu depan bulat. Kemudian, pada versi kedua, lampu depan sudah mulai berubah menjadi kotak. Sedangkan, pada versi terakhir, lampu kotaknya lebih diperlebar lagi. Namun, semua versi itu masih hadir dengan penggerak roda belakang (RWD), dan DX pada akhirnya jadi generasi Corolla terakhir yang menggunakan sistem tersebut.
Sistem RWD itu juga membuat Corolla DX jadi favorit para penggemar drifting karena, secara natural, sistem ini membuat mobil lebih rentan mengalami oversteering alias ngepot. Selain itu, handling Corolla DX juga dikenal sangat halus meski belum dilengkapi power steering. Konon, mobil ini dibangun menggunakan platform yang sama dengan mobil drifting legendaris AE86 yang sebenarnya merupakan bagian dari Corolla generasi kelima.
Sasis, poros prop, girboks, dan suspensi Corolla DX disebut sama persis dengan milik AE86 Sprinter Trueno. Alhasil, hanya dengan sedikit modifikasi dan tune up, atau mungkin swap mesin, Corolla DX sudah bisa menjadi mobil drifting andal. Salah satu pebalap lokal Indonesia yang sangat mencintai Corolla DX, termasuk untuk drifting, adalah Denny Pribadi, yang juga merupakan manajer Sirkuit Internasional Mandalika.
Mesin bandel, handling oke, dan satu lagi yang tak boleh dilupakan dari Corolla DX adalah desain bodi yang ikonik. Desainnya sepintas mirip sekali dengan Nissan Skyline GT-R generasi pertama sehingga kesan sporty sangat terasa pada Corolla DX. Dengan begini pun, modifikasi jadi mudah sekali dilakukan pada mobil ini. Biasanya, modifikasi dilakukan sejalan dengan peruntukannya dalam ajang balapan seperti drifting atau rally. Namun, modifikasi yang cuma menyentuh tampilan seperti gaya hellaflush juga cukup populer dilakukan pada Corolla DX.
Popularitas Corolla DX, atau Corolla generasi keempat, tidak cuma terlihat di Indonesia. Secara global, generasi keempat inilah yang mengakselerasi popularitas Corolla. Sampai akhirnya generasi keempat selesai dipasarkan pada 1983, Toyota sudah menjual 10 juta unit Corolla lintas generasi. Selama 16 tahun, sebanyak itulah jumlah Corolla yang terjual dan, menurut Toyota, itu adalah pencapaian tercepat bagi mobil yang diproduksi pasca-Perang Dunia II.
Artinya, Corolla DX memang Corolla yang spesial. Maka, tak mengherankan apabila sampai sekarang pun mobil yang satu ini masih terus diburu, tak cuma untuk keperluan sehari-hari tetapi juga untuk keperluan balapan. Menariknya, walau diincar banyak orang, harga Corolla DX tidak mengalami "goreng-menggoreng" yang membuat nilainya jadi di luar nalar.
Di platform jual beli OLX, misalnya, unit Corolla DX termurah bisa didapat dengan harga Rp20 juta, sementara yang termahal Rp49 juta. Sebenarnya, ada pula Corolla DX yang baru bisa ditebus dengan harga ratusan juta. Namun, biasanya, ini adalah unit-unit spesial yang dijual dalam kondisi mulus dan nyaris tanpa cacat.
Adapun kekurangan-kekurangan yang mungkin ditemukan dalam mobil Corolla DX bekas, di antaranya bodi yang keropos dan setir yang berat. Bodi yang keropos bisa ditambal dengan plat besi di bengkel-bengkel body repair. Namun, untuk setir yang berat, ini agak rumit. Perlu diingat sekali lagi bahwa Corolla DX belum dilengkapi power steering sehingga bawaannya memang sudah cukup berat dibandingkan mobil-mobil modern.
Jika yang menjadi problem hanyalah soal ketiadaan power steering, maka solusinya adalah memasang power steering Kijang. Akan tetapi, jika masalahnya terletak pada pelumasan atau ball joint, ada kemungkinan pemilik baru harus mengganti rack end ataupun ball joint. Kabar baiknya, selain tidak terlampau mahal, mekanik yang bisa menangani mobil ini pun bejibun.
Segala macam kemudahan dalam merawat Corolla DX, bahkan di tahun 2025 sekalipun, semakin menegaskan bahwa mobil ini memang masih layak untuk dimiliki. Apalagi, menurut seorang pemilik showroom mobil bekas di Bekasi, mobil-mobil keluaran 1970-an dan 1980-an bisa jadi investasi berharga.
So, tunggu apa lagi? Berburulah Corolla DX mulai sekarang seperti ayah-ibu atau kakek-nenekmu melakukannya dulu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































