tirto.id - Mungkin cara kita bermedia sosial berbeda. Akan tetapi, dalam setiap scroll video pendek yang saya lakukan, apa pun platformnya, kemungkinan besar saya bakal menemukan video yang menunjukkan sulitnya mobil-mobil melahap tanjakan ekstrem di Pulau Sumatra. Ada yang harus ambil ancang-ancang ulang, ada pula yang sampai mesinnya mati karena tidak kuat menanjak.
Biasanya, di area tanjakan seperti itu, sejumlah orang akan berjaga. Kebanyakan bukan petugas resmi, melainkan sosok-sosok yang tampak seperti akamsi; yang tahu persis bahwa tanjakan tersebut memang sulit dilalui. Mereka biasanya akan membantu mobil-mobil itu menanjak dan, setelah itu, mendapatkan uang sebagai imbalan atas jasa yang mereka berikan.
Salah satu video pendek terpopuler dari "genre" mobil kesulitan menanjak di tanjakan Sumatra (tepatnya Sitinjau Lauik, Sumatra Barat) itu adalah tatkala satu unit Mitsubishi Xpander tertahan di tengah tanjakan. Tak sampai di situ, asap tebal pun tampak mengepul dari roda bagian depan.
Apa yang dialami Xpander tersebut adalah skill issue. Artinya, ada kesalahan dari pengemudi dalam menanjak. Pasalnya, terlihat jelas bahwa mobil-mobil lain tidak kesulitan menaklukkan tanjakan berkelok tersebut. Bahkan, jelas sekali terlihat ada satu unit Toyota Agya yang bisa melewati tikungan itu tanpa kesulitan.
Posisi Xpander memang terlalu ke kiri, sehingga tingkat kecuraman yang harus dilaluinya pun meningkat. Sementara, mobil-mobil lain terlihat mengambil jalan sedikit ke kanan yang relatif lebih landai. Yang kemudian terjadi, traksi dari Xpander tadi tidak cukup kuat untuk terus menanjak sehingga yang muncul hanyalah gesekan antara ban dengan permukaan jalan, lalu muncullah asap tebal.
Ini semua menjadi skill issue karena, terbukti, dengan teknik yang benar, pengemudi Agya berhasil melahap tanjakan Sitinjau Lauik. Baik Agya maupun Xpander sama-sama berpenggerak roda depan (front-wheel drive/FWD). Dan mobil dengan konfigurasi seperti ini, salah satu penyakitnya adalah kesulitan menanjak.
Tak seperti mobil berpenggerak roda belakang (rear-wheel drive/RWD) yang tarikannya bakal makin kuat kala menanjak, mobil-mobil FWD dijamin akan kehilangan traksi karena titik beban mobil ini ada di depan. Ketika menanjak, otomatis titik beban akan terangkat. Itulah mengapa, ketika melewati tanjakan seperti di Sitinjau Lauik, cara yang benar adalah "memakan" jalur berlawanan terlebih dahulu sebelum masuk kembali ke jalur yang benar ketika momentum sudah didapatkan.
Pertanyaannya, mengapa ini jadi hal yang perlu disampaikan? Sederhana saja, sebenarnya. Karena, ya, saat ini kebanyakan mobil yang dijual di Indonesia adalah mobil berpenggerak roda depan.

Jejak Awal FWD
"Mobil" berpenggerak roda depan sudah eksis sejak abad ke-18. Ketika itu insinyur Prancis Nicolas-Joseph Cugnot telah menciptakan traktor roda tiga bermesin uap dengan penggerak roda depan. Akan tetapi, ketika otomotif benar-benar menjadi sebuah industri pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, penggerak roda belakang akhirnya menjadi pilihan para produsen mobil.
Lokasi mesin jadi pertimbangan utama. Saat itu semua mesin mobil terletak di depan. Pertama, ukurannya yang besar membutuhkan satu "kompartemen" tersendiri untuk meletakkannya. Kedua, dengan kompartemen khusus tersebut, mesin bisa dengan mudah dihubungkan dengan sistem pendinginan. Satu-satunya sistem pendinginan yang ada kala itu adalah radiator, sehingga secara praktis mesin depan (front engine) memang jadi pilihan paling rasional.
Nah, karena mesin yang besar dan berat itu sudah diletakkan di depan, alhasil mobil butuh distribusi beban yang ideal. Dari situlah sistem penggerak roda belakang menjadi primadona. Sistem ini membutuhkan transfer energi dari mesin menuju gardan melalui drive shaft, dan komponen-komponen yang membentuk konfigurasi RWD ini pada akhirnya juga cukup berat untuk membuat distribusi beban mobil jadi seimbang.
Dengan teknologi yang tersedia pada saat itu, RWD pun akhirnya jadi pakem industri. Selama puluhan tahun sistem ini diandalkan oleh berbagai pabrikan, mulai dari AS, Jepang, sampai Jerman. Meski begitu, di tengah dominasi RWD, FWD juga pelan-pelan mulai dikembangkan.
Pada 1934, Citroen berhasil meluncurkan Traction Avant, mobil FWD pertama yang diproduksi massal. Keunggulan utamanya adalah bagaimana ia memberikan traksi optimal di jalan licin. Sayangnya, kemunculan Traction Avant itu belum cukup untuk meyakinkan industri secara luas bahwa FWD adalah solusi yang tak kalah baik.
Dalam sistem FWD, mesin bisa langsung menggerakkan roda tanpa perlu melakukan transfer energi terlebih dahulu. Dengan begitu, komponen-komponen seperti poros penggerak dan diferensial belakang pun otomatis tidak diperlukan lagi. Konsekuensinya, mobil jadi lebih ringan dan murah.
Meski demikian, teknologi ini memang lebih sulit dikembangkan. Di FWD, roda yang berbelok adalah roda yang sama dengan roda yang harus menyalurkan tenaga dari mesin. Artinya, poros penggerak harus bisa tetap bekerja walaupun posisi roda terus-menerus berubah karena mobil disetir.
Pada awal perkembangan industri otomotif, belum ada komponen yang cukup kuat dan lentur untuk melakukan itu semua. Akibatnya, mobil-mobil FWD jadi lebih sering mengalami getaran, komponennya cepat aus, bahkan mengalami patah as, khususnya jika harus melewati jalanan yang menantang.
Komponen yang akhirnya mampu memecahkan semua masalah FWD tersebut, yaitu constant velocity joint (CV joint), baru benar-benar dianggap layak digunakan dalam skala industri pada dekade 1950-an. Ini sejalan dengan bagaimana Alec Issigonis akhirnya berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai transverse engine alias mesin melintang.
Mesin melintang bikinan Issigonis itu digunakan pada seri mobil Mini keluaran Morris dari Britania Raya. Dengan meletakkan mesin secara melintang di atas roda depan dan menyatukannya dengan transmisi, Issigonis berhasil menciptakan ruang yang jauh lebih efisien dan biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan performa.
Keberhasilan Mini membuka jalan bagi pabrikan lain di Eropa dan Jepang untuk mengikuti jejak serupa. Untuk kasus Jepang, ada fakta menarik. Sebenarnya, mereka sudah berhasil menciptakan mobil FWD pada 1955, yaitu Suzuki Suzulight. Mobil ini meluncur sebelum Morris Mini diluncurkan pada 1959. Akan tetapi, pakem Mini dengan mesin melintangnya itulah yang akhirnya dipakai oleh pabrikan-pabrikan lain, termasuk Jepang.
Salah satu hasilnya? Honda Civic generasi pertama yang sudah masuk ke Indonesia sejak dekade 1970-an. Dan sejak itu, perlahan tapi pasti, semakin banyak mobil FWD yang dipasarkan di Indonesia. Umumnya memang mobil-mobil FWD yang dijual di sini adalah mobil-mobil kecil kompak seperti Toyota Starlet, Suzuki Forsa, dan semacamnya. Namun, secara umum, sebagian besar mobil yang dipasarkan di Indonesia, setidaknya sampai awal 2010-an, adalah mobil RWD.

Win-Win Solution
FWD-isasi besar-besaran baru dilakukan, terutama oleh pabrikan Jepang, pada 2013 ketika Toyota dan Daihatsu melepas Agya dan Alya. Sejak itu, semua mobil yang tidak masuk kategori SUVhigh-end perlahan-lahan dibuat dalam versi penggerak roda depan. Satu-satunya pengecualian mungkin ToyotaRush yang sebenarnya masuk segmen middle-end tetapi masih disediakan dalam konfigurasi RWD seperti Fortuner.
Selain mobil-mobil SUV high-end tadi, mobil-mobil yang masih menggunakan sistem RWD adalah mobil niaga. Ya, mobil-mobil seperti Mitsubishi L300, Suzuki Carry, serta Daihatsu GranMax dan Luxio sampai sekarang masih menggunakan penggerak roda belakang.
Dari sini, bisa kita lihat jelas perbedaannya. Mobil-mobil yang dimaksudkan untuk penggunaan dalam kota, terlepas dari apakah ia high-end, middle-end, atau low-end, sudah dipastikan tidak akan menggunakan konfigurasi RWD. Beberapa mobil seperti Toyota Camry memang tersedia dalam versi all-wheel drive (AWD/berpenggerak semua roda) dan FWD, tetapi tidak ada yang RWD. Ini menarik karena Camry, awalnya, diciptakan sebagai mobil RWD.
Sementara itu, penggerak roda belakang dikhususkan untuk mobil yang menuntut performa lebih, seperti SUV yang seharusnya bisa digunakan di segala medan serta, tentu saja, mobil niaga yang harus mengangkut beban berat. Satu jenis mobil lain yang menuntut penggerak roda belakang adalah mobil-mobil sport seperti Toyota GR86. Namun, tidak semua mobil sport juga menggunakan pakem ini karena Honda Civic Type R menggunakan penggerak roda depan.
Bagi produsen, FWD-isasi ini kembali ke soal harga produksi. Dengan komponen yang lebih sedikit, memproduksi mobil FWD jadi lebih murah dan cepat. Selain itu, ada biaya lain yang mesti dihitung yaitu pajak karbon. Semakin besar kapasitas mesin, semakin besar emisi, semakin besar pajak karbon yang harus dibayar. Solusi dari ini adalah memproduksi mobil bermesin kecil yang, pada akhirnya, lebih cocok menggunakan sistem FWD.
Mengapa mobil bermesin kecil lebih cocok menggunakan FWD? Karena pada mobil RWD, tenaga dari mesin harus terlebih dahulu melewati poros penggerak (drive shaft) hingga ke gardan di belakang. Dalam proses transfer tenaga itu, sebagian energi hilang akibat gesekan mekanis. Jika mesinnya kecil, tenaga awalnya saja sudah terbatas; ditambah lagi dengan kehilangan tenaga di sepanjang jalur penggerak, hasil akhirnya mobil jadi terasa kurang bertenaga. Itulah sebabnya, untuk mesin-mesin kecil, FWD jauh lebih efisien.
Kira-kira dua alasan itulah mengapa mayoritas mobil zaman sekarang menggunakan sistem ini. Namun, apakah mobil FWD itu hanya menguntungkan produsen?
Tentu tidak. Meskipun sulit menanjak dan komponennya relatif lebih cepat rusak dan aus, mobil FWD memberikan keuntungan lain dalam wujud konsumsi BBM yang efisien dan traksi optimal di jalan perkotaan.
Mobil FWD lebih irit karena transfer tenaga dari mesin ke penggerak tidaklah sepanjang dan serumit RWD. Selain itu, biasanya, mobil seperti ini lebih ringan dan, karena kapasitas mesinnya kecil, konsumsi BBM-nya juga lebih sedikit. Adapun soal traksi, kembali ke titik beban mobil. Ketika mobil berjalan di permukaan mendatar, titik beban akan terpusat di bagian depan, tempat penggerak berada. Inilah yang membuat traksi jadi lebih kuat di jalanan “normal”.
Dengan kata lain, FWD memang sebenarnya win-win solution. Toh, sebagian besar mobil yang dipasarkan, khususnya di Indonesia, adalah untuk digunakan di perkotaan. Dengan pasar seperti itu, wajar rasanya jika pabrikan-pabrikan memutuskan untuk melakukan FWD-isasi.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































