Menuju konten utama
Gearbox

Kisah Pontiac Chieftain yang Jadi "Mobil Dono"

Pamor Pontiac Chieftain membumbung berkat film Warkop, Gengsi Dong (1980). Sejak itu pula namanya melejit bersama nama Dono Warkop. Begitu pula harganya.

Kisah Pontiac Chieftain yang Jadi
Aktor komedi Indro bersama mobil Pontiac 1949 berornamen gigi Hanoman yang sempat muncul jadi tunggangan Dono Warkop dalam film Gengsi Dong (1980) dan kini dipamerkan di IIMS di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 19-30 Agustus 2015. (ANTARA News/Arina Suwanto)

tirto.id - Suatu hari, seorang juragan tembakau bernama Raden Mas Condrokromo menerima surat kilat dari putra kesayangannya, Raden Mas Ngabei Slamet Condrowilwotikto Edi Pranoto Joyosentiko Mangundirjokusumo alias Slamet, yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Ibu Kota Jakarta. Isi suratnya bukan tentang indeks prestasi atau situasi indekos, melainkan soal betapa kerasnya pergaulan elite di Jakarta bagi seorang Slamet yang tidak punya mobil.

Slamet memutuskan mengirim surat sambat itu setelah berbulan-bulan diremehkan oleh teman-teman kampusnya lantaran tak punya mobil. Paijo alias Joy, anak dari pengusaha minyak—"tukang minyak" kalau kata Slamet—termasuk di antara orang-orang yang merundungnya

Selain verbal, Paijo juga secara tak langsung "mengintimidasi" Slamet dengan memamerkan keberhasilannya menggandeng gadis bernama Rita, tentu saja berkat kepemilikannya atas mobil Jeep ikonik. Adegan itu pun disaksikan oleh Slamet dengan wajah masam, menambah kecemburuan sosialnya.

"Yang kuliah di sini semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil dan sudah bosan naik Bajaj. Saya, sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina," begitulah petikan surat Slamet yang dibaca bapaknya sambil mengisap cerutu di meja kerja.

Membaca itu semua, Raden Mas Condrokromo pun geram dan lantas berkata, "Kurang ajar! Jangan kata bawa mobil. Kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli!"

Sejurus kemudian, sang juragan memerintahkan asistennya, Kasman, untuk segera mengirim uang kepada Ndoro Slamet senilai Rp2 juta. Tentu saja, uang itu dimaksudkan untuk membeli mobil.

Akan tetapi, uang Rp2 juta itu tidaklah cukup untuk membeli mobil mewah seperti milik Paijo. Hingga akhirnya, hadirlah Pontiac Chieftain itu, dengan modifikasi ekstrem ala militer serta hiasan gigi Hanoman di bagian grille depan. Meski terlihat aneh dan nyeleneh, mobil tersebut tetap dikendarai oleh Slamet dengan penuh percaya diri. Semua berkat uang kiriman bapaknya, si juragan tembakau, dari kampung halaman.

Cerita di atas merupakan potongan dari film Gengsi Dong (1980) yang dibintangi oleh Dono (Slamet), Kasino (Sanwani), Indro (Paijo), serta Camelia Malik (Rita).

Secara tidak langsung, sinema komedi tersebut menjadi titik mula popularitas Pontiac Chieftain yang kemudian dilekatkan dengan sosok juragan tembakau. Meski tergolong sebagai barang langka di Indonesia, berkat film tersebut, rasa-rasanya sudah puluhan juta orang Indonesia pernah menyaksikannya, dan lantas mengidentikkannya pula dengan "mobil Dono".

Lahirnya Pontiac Chieftain

Jika menggugel dengan kata kunci “Greatest American cars ever made” atau semacamnya, kemungkinan besar Anda tidak akan menemukan nama Pontiac Chieftain dalam daftar-daftar yang ada. Akan tetapi, bukan berarti mobil tersebut tak punya jejak signifikan bagi industri otomotif Abang Sam.

Pontiac Chieftain, yang pertama kali diperkenalkan pada 1949, merupakan bagian dari gebrakan inovasi desain General Motors (GM) selama periode pascaperang. Mobil itu menggantikan model Torpedo dan dibangun di atas platform A-body milik GM—platform yang juga digunakan oleh Chevrolet—tetapi diposisikan setingkat lebih tinggi dalam hierarki merek.

Dalam struktur GM saat itu, Chevrolet mewakili kelas rakyat, sedangkan Oldsmobile dan Buick menyasar kelas menengah atas. Pontiac berada di tengah-tengah: mobil bagi keluarga kelas menengah yang mulai merasakan kemakmuran ekonomi AS pascaperang. Ia ditujukan bagi orang-orang yang menginginkan mobil bergengsi lebih daripada Chevrolet, tetapi belum sanggup atau enggan membeli Buick.

Mobil Pontiac Chieftain 1949

Mobil Pontiac Chieftain 1949. wikicommons/Greg Gjerdingen

Secara estetika, Pontiac mencerminkan visi Harley Earl—desainer legendaris GM—yang memadukan antara gaya streamline khas akhir 1940-an dan sentuhan kemewahan ringan. Mobil ini memiliki kap panjang dengan dua garis krom tebal yang membentang di tengah, dikenal sebagai “Silver Streak”.

Namun, ciri paling khasnya adalah ornamen kap berbentuk kepala Chief Pontiac yang menyala dengan warna amber ketika lampu utama dinyalakan. Simbolisme tersebut bukan sekadar hiasan. Ia mewakili cara industri otomotif AS memanfaatkan citra penduduknya dalam membangun identitas merek yang eksotis dan heroik.

Pontiac Chieftain ditawarkan dalam berbagai varian bodi, mulai dari sedan dua dan empat pintu, business coupe, hingga convertible mewah. Semuanya menggunakan wheelbase sepanjang 120 inci (sekitar 3.048 mm).

Mobil tersebut juga dibekali pilihan mesin inline-six dan inline-eightflathead yang terkenal halus dan tahan banting. Transmisi manual tiga percepatan menjadi standar, tetapi General Motors menawarkan transmisi otomatis Hydra-Matic sebagai opsi. Itu merupakan teknologi yang tergolong modern untuk mobil keluarga pada masa itu.

Dengan kombinasi harga relatif terjangkau, desain ikonik, dan fitur canggih pada zamannya, Pontiac dengan cepat menjadi pemandangan umum di jalanan AS. Ia bukan mobil elite, tetapi simbol keluarga mapan yang baru saja keluar dari masa suram perang dan krisis.

Jejak Pontiac Chieftain di Indonesia

Kehadiran Pontiac Chieftain di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang General Motors di Asia Tenggara. Sejak 1927, GM telah mengoperasikan pabrik perakitan di Tanjung Priok, Batavia (GM Java), yang saat itu menjadi fasilitas perakitan pertama di luar Amerika Utara. Dari situ, GM merakit berbagai model Chevrolet, Vauxhall, dan Opel, untuk pasar Hindia Belanda dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Walaupun catatan resmi mengenai perakitan Pontiac di Tanjung Priok tidak ditemukan, konteks perdagangan pada masa itu membuka kemungkinan kuat bahwa sejumlah kecil unit Pontiac Chieftain versi setir kanan (RHD) masuk ke Indonesia melalui jalur ekspor dari Australia atau Kanada.

Lewat Holden, General Motors di Australia memang dikenal memproduksi atau merakit versi RHD dari model-model GM Amerika untuk pasar Persemakmuran, termasuk Pontiac. Sementara itu, Kanada pada masa kolonial sering menjadi pusat ekspor mobil GM untuk pasar RHD Asia dan Afrika karena hubungan dagang Persemakmuran Inggris.

Fakta bahwa “Mobil Dono” dalam film Gengsi Dong memiliki setir kanan memperkuat hipotesis bahwa mobil tersebut bukan unit buatan pabrik AS (yang semuanya bersetir kiri), melainkan unit ekspor resmi RHD yang kemungkinan besar masuk ke Indonesia pada akhir 1940-an atau 1950-an. Hal ini juga sejalan dengan sistem lalu lintas Indonesia yang menganut lalu lintas kiri warisan Hindia Belanda, sehingga mobil impor pada masa itu pun bersetir kanan.

Mobil Pontiac Chieftain

Unit mobil Pontiac 1949 berornamen gigi Hanoman yang sempat muncul jadi tunggangan Dono Warkop dalam film Gengsi Dong (1980) dan kini dipamerkan di IIMS di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 19-30 Agustus 2015. (ANTARA News/Gilang Galiartha)

Namun, Pontiac memang tidak pernah menjadi merek populer secara massal di Indonesia. Jaringan distribusi GM di Tanjung Priok lebih fokus pada Chevrolet dan Vauxhall. Sementara itu, Pontiac masuk sebagai barang mewah dengan segmen sangat terbatas: pejabat kolonial, pengusaha besar, atau kalangan elite lokal.

Mobil-mobil tersebut biasanya didatangkan dalam bentuk Completely Built-Up (CBU) atau Semi-Knock Down (SKD), dirakit secara terbatas, dan tidak dipasarkan secara luas seperti Chevrolet. Karena itu, jumlah unit Pontiac yang beredar sangat kecil.

Kelangkaan itu tecermin hingga kini. Keberadaan Pontiac Chieftain di Indonesia nyaris hanya terdokumentasi melalui beberapa iklan jual-beli mobil klasik. Salah satu contohnya adalah berita OLX Indonesia mengenai Pontiac Chieftain 1952 yang dilepas dengan harga hampir setengah miliar rupiah, menandakan statusnya sebagai barang kolektor superlangka.

Lebih Populer dari Warkop?

Ikonisasi Pontiac Chieftain di Indonesia justru terjadi melalui jalur budaya populer, termasuk lewat film Gengsi Dong tadi. Mobil tersebut bukan sekadar properti film, melainkan jadi medium parodi, mewakili juragan kampung yang mencoba menandingi gaya hidup anak-anak elite Jakarta.

Mobil tersebut bahkan pernah dihadirkan kembali dalam pameran IIMS 2015. Meskipun bukan mobil "orisinal" yang jadi properti syuting film Gengsi Dong, ia sukses menarik perhatian pengunjung yang mengenali “Mobil Dono” sebagai artefak budaya pop.

Indro, sebagai satu-satunya personel Warkop yang masih hidup dan hadir pada acara tersebut, mengakui betapa masyhurnya Pontiac Chieftain. Dia bahkan berkata, "Ini mobil saat itu bahkan lebih populer dari Warkop."

Ketika seorang Indro, yang merupakan penggila otomotif, sampai berkata bahwa "Mobil Dono" tersebut lebih populer dari Warkop, tentu itu merupakan bukti sahih betapa ikoniknya Pontiac Chieftain "Hanoman" berkelir hijau Army tersebut.

Orang kebanyakan mungkin tidak akan peduli dengan merek atau jenis mobill yang digunakan dalam film tersebut. Namun yang jelas, sosok yang memilih Pontiac Chieftain sebagai properti film merupakan seorang genius. Sebab, mobil modifikasi tersebut amat cocok dengan karakter Slamet yang "ndeso" tapi punya gengsi tinggi.

Pada akhirnya, cara Pontiac Chieftain dikenang di Indonesia sangatlah berbeda dengan perlakuannya di Amerika.

Di negeri asalnya, meski punya tonggak penting, Pontiac Chieftain tidak berada di level Thunderbird, Bel Air, atau Corvette. Di sana, ia hanyalah mobil kuno yang dulu jadi favorit kelas menengah yang hendak naik kelas.

Namun, di Indonesia, berkat Gengsi Dong, mobil tersebut akan selamanya dikenal sebagai "Mobil Dono". Bukan hanya karena dalam film itu ia dimiliki oleh Dono, tetapi juga karena, seperti kata Rita yang diperankan Camelia Malik, bentuknya pun mirip aktornya: unik, nyentrik, berani, penuh percaya diri, dan tiada duanya.

Baca juga artikel terkait MUSIK KLASIK atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin