3 Oktober 1911

Jalan Panjang Bisnis Chevrolet di Indonesia

Ilustrasi Mozaik Chevrolet. tirto.id/Sabit
Oleh: Dio Dananjaya - 3 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Chevrolet terkenal sebagai mobil tangguh dan mengusung mesin berkapasitas besar. Merek ini telah 100 tahun bertahan di Indonesia.
Pabrikan Jepang selalu memuncaki daftar mobil terlaris di tanah air dalam beberapa dekade terakhir. Namun dari sekian juta total pasar kendaraan roda empat, terselip beberapa nama besar produsen otomotif global yang tetap memiliki penggemarnya sendiri.

Brand Chevrolet mungkin satu dari sekian merek yang tidak menjadi pilihan utama bagi konsumen Indonesia yang berniat memiliki mobil. Yuniadi H. Hartono, PR and external affairs director PT General Motors Indonesia, mengakui jumlah konsumennya tidak sebanyak pembeli produsen mobil lainnya.

“Chevrolet adalah merek yang disukai orang-orang yang ingin tampil beda. Entah itu karena nuansa Amerika, produk yang berkualitas, atau sederhananya gue enggak mau pakai yang sama seperti orang lain. Nah kami cenderung masuk ke segmen yang seperti itu, segmen niche,” ujarnya kepada Tirto.

Meski saat ini penjualannya kalah dibandingkan dengan beberapa merek ternama asal Jepang, merek Chevrolet punya jasa besar dalam memajukan pasar otomotif dalam negeri. James Luhulima dalam Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (2012), menuliskan bahwa industri otomotif dimulai tahun 1920 ketika General Motors (GM) mendirikan pabriknya di Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Pada zaman itu merek mobil asal Amerika Serikat maupun Eropa cukup mendominasi di jalan dan jadi pilihan konsumen yang kebanyakan pengusaha dan kaum ningrat. Sebut saja Albion, Berliet, British Daimler, Buick, Cadillac, Charron, Darracq, Delaunay Bellevelle, Fiat, Ford, Mercedes, Minervette, Oldsmobile, Orient, Oryx, Panhard Levassor, Renault, Reo, hingga Spyker.


Sampai yang menggunakan mesin uap, antara lain Serpollet, Locomobile, dan White Steam Car, serta yang menggunakan motor listrik seperti De Dion Bouton (hlm. 65). Singkatnya, beragam jenama dunia telah masuk ke pasar Indonesia sejak awal 1900-an dibawa langsung oleh importir dari negara asalnya.

Waktu itu, pabrikan asal Jepang malah belum masuk ke Hindia Belanda, bahkan mungkin belum ada. Sementara Chevrolet yang menjadi bagian dari GM, telah memulai fasilitasi perakitan beberapa komponen kendaraan sebelum menjadi mobil utuh di Tanjung Priok, Jakarta.

Chevrolet yang berdiri pada 3 Oktober 1911, tepat hari ini 109 silam di Michigan, Amerika Serikat, merupakan mobil pertama yang melakukan kegiatan produksi di tanah air. Bisnis Chevrolet pun berkembang pesat, bahkan sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Naik Turun Permintaan Chevrolet

Pabrik GM di Tanjung Priok diperbesar pada 1938 guna menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan. James juga mencatat, di tahun tersebut GM turut membuka sejumlah dealer di beberapa kota besar untuk menawarkan mobil-mobil Chevrolet, Pontiac, Cadillac, hingga Buick.

Namun usai perang kemerdekaan, GM harus rela melepas pabrik utamanya di Indonesia pada pertengahan 1950-an. Selain karena suksesi kepemimpinan, tingginya permintaan akan kendaraan murah yang tahan lama di Asia Tenggara turut menjadi faktor menurunnya permintaan mobil Chevrolet yang terkenal mengusung mesin berkapasitas besar.

Selang beberapa tahun, tulis James, pabrik GM yang terbengkalai itu akhirnya diakuisisi pemerintah dan namanya diganti menjadi Gaya Motor, yang kemudian dimiliki oleh Astra untuk memasarkan produk-produk Toyota.

Pada saat yang sama sekitar tahun 1969, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan peraturan yang mengharuskan perusahaan pembuat mobil dari luar negeri untuk mendirikan ATPM alias agen tunggal pemegang merek (hlm 105).

Merek Chevrolet di Indonesia akhirnya diteruskan oleh PT Garmak Motor pada 1970 yang dimiliki oleh Probosutedjo, adik tiri Soeharto. Perusahaan ini kemudian juga memegang merek Opel, akan tetapi usahanya tetap tak bisa mengalahkan superioritas merek Jepang yang tumbuh subur di kemudian hari.

Dilansir dari Reuters, GM kembali ke Indonesia pada 1993 sewaktu ekonomi Indonesia sedang tumbuh pesat di Asia. Sebanyak 60 persen kepemilikan Garmak Motor diambil alih dan berganti nama menjadi GM Indonesia. Mereka lantas membangun kembali sebuah pabrik di Bekasi, dan memproduksi SUV Opel Blazer.

Tak disangka-sangka Blazer laku keras. Setelah Opel, merek Chevrolet juga menjual model Blazer dalam beberapa varian yang dijual sekitar Rp 200 juta hingga Rp 230 juta. Jauh lebih mahal dari Toyota Kijang varian teratas yang saat itu dijual Rp 128.




Sayangnya usaha GM kembali menemui kebuntuan. Setelah sanggup memproduksi sekitar 3.500 unit Blazer pada 1997, penjualannya langsung merosot ke volume 640 unit pada 2001. Blazer sempat populer di pasar otomotif tanah air, bahkan hingga kini mobil bekasnya cukup digemari pecinta SUV lawas.

Situs resmi Chevrolet juga menuliskan, pabrik GM di Indonesia sempat tutup lagi pada 2005 dan kembali dibuka pada 2013 untuk memproduksi Spin. Produk berkapasitas tujuh penumpang ini terjun langsung di kelas Low MPV, segmen yang paling besar volume penjualannya di Indonesia.

Mengutip data wholesales Gaikindo, waktu itu Spin secara konsisten menjadi tulang punggung Chevy. Tahun 2013 misalnya, MPV ini laku sebanyak 10.943 unit. Angka ini melorot pada 2014, dengan perolehan 7.475 unit. Sedangkan pada 2015, tahun terakhir Spin resmi dijual, penjualan mobil ini hanya mencapai 3.552 unit.

Cherolet Bertahan dengan SUV

Kini usia Chevrolet di Indonesia genap 100 tahun. Merek asal Negeri Paman Sam ini praktis jadi yang terlama, sekaligus jadi APM yang sudah merasakan pasang surutnya iklim bisnis otomotif tanah air. Yuniadi di sela-sela press conference Chevrolet 101 Festival mengatakan, pihaknya tak hanya jadi merek mobil tertua di Indonesia, tapi juga turut mewarnai sejarah berdirinya republik ini.

“Kami berada di sini bukan baru-baru ini, tapi sudah dari 1920-an. APM General Motors Indonesia itu berdiri 1990-an, tapi itu pun setelah mengalami beberapa evolusi. Karena cikal bakal Chevrolet itu sudah ada sebelum masa 80-an atau 70-an,” terangnya.


Chevrolet bahkan jadi satu-satunya brand Amerika yang masih berada di bawah naungan APM resminya di Indonesia. Seperti diketahui sebelumnya Ford telah lebih dulu hengkang pada 2016, sementara merek lainnya jikalau ada didatangkan oleh importir umum maupun dealer distributor.

Yuniadi juga berujar, resep Chevrolet bisa terus bertahan adalah dengan menyediakan model yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Ia menambahkan bahwa selera konsumen bisa berubah-ubah, sehingga Chevrolet harus cepat melakukan penyesuaian agar terus eksis di mata konsumen.

Salah satunya dengan menyediakan line-up SUV yang lengkap, untuk diketahui jajaran produk Chevrolet hanya menyisakan Spark yang notabene merupakan city car. Sisanya diisi kendaraan gagah dan cocok di segala kondisi jalan seperti Trax, Trailblazer, dan pikap Colorado.

“Kami sekarang melihat tidak hanya volume saja, tapi pertumbuhannya, pergeserannya ke mana. Pada saat kami turun dengan Trax di tahun 2015 – 2016, saat itu pasar sudah bergeser dari MPV ke arah SUV. Akhirnya apapun yang kami luncurkan kembali lagi ini adalah arah dari pasar,” pungkasnya.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 28 Juni 2019. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait CHEVROLET atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Windu Jusuf
DarkLight