Sejarah Perusahaan

General Motors, Perintis Industri Mobil di Indonesia

Oleh: Mawa Kresna - 8 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
General Motors, pabrik otomotif dari AS, pernah merajai pasar Indonesia. Belakangan kalah bersaing dengan produk mobil Jepang.
tirto.id - “Apa yang perlu kita ketahui tentang kecepatan di jalan?”

Kalimat itu adalah salah judul artikel di Sopir, majalah berbahasa Indonesia yang diterbitkan di Yogyakarta pada awal tahun 1930-an. Artikel itu mengulas perbandingan kecepatan moda transportasi saat itu.

Gerobak sapi 4km/jam, kereta kuda 5km/jam, sepeda biasa 18 km/jam, trem 35 km/jam, kereta cepat 60 km/jam, kapal laut 45km/jam, kuda balap 45km/jam, kereta "klutuk" (kereta uap) 45km/jam, kereta cepat 60 km/jam, kereta ekspres 75 km/jam, mobil di jalanan cukup 60km/jam dan pesawat terbang 150km/jam.

Artikel lain yang kerap muncul di majalah itu adalah panduan merawat mobil hingga saran membeli mobil bekas. Ada pula saran untuk memulai bisnis mobil taksi pada masa itu.

Ulasan tentang majalah Sopir itu ditulis sejarawan Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni (2006). Mrazek menjelaskan, perkembangan industri mobil akhirnya melahirkan profesi sopir. Kala itu sopir menjadi profesi yang dianggap oleh pribumi sebagai pekerjaan bergengsi. Mereka bahkan membentuk serikat pekerja sopir, tujuannya untuk mencapai masa depan sopir Indonesia yang lebih baik.

Munculnya profesi baru ini tidak lepas dari lahirnya industri mobil pada masa kolonial. Pada Mei 1927 NV General Motors Java Handel Maatschappij yang membuka pabrik di Tanjung Priok, Pelabuhan Batavia. Setahun kemudian 5.732 mobil Chevrolet dipasarkan dari pabrik General Motors di Hindia Belanda, Singapura, Malaya, dan Siam.

Perusahaan Chevrolet motor didirikan pada 1911 di Amerika Serikat. Perusahaan ini hasil kerjasama Louis Chevrolet dan William Durant, seorang pengusaha dan pendiri General Motors. Produk pertama Chevrolet adalah The Classic Six yang dibanderol 2.500 dollar AS.

Pembangunan pabrik di Hindia Belanda itu mendapat sambutan baik dari publik. Salah seorang pembaca koran untuk pembaca Melayu berkomentar, “Kini, kita semua dapat melihat bagaimana kemajuan besar dan usaha manusia itu dan, bersama setiap hari, bagaimana semua itu makin dekat kepada kita sendiri.” (Engineers of Happy Land, hlm. 25)

Industri mobil pun berkembang cukup cepat. Menurut catatan Mrazek, pada 1939, jumlah mobil di Hindia Belanda sudah mencapai 51.615 unit, tersebar di Jawa 37.500 unit, di Batavia 7.557 unit, di Bandung 4.945 unit, dan di Jepara 675 unit.

Jumlah ini sudah termasuk truk yang jumlahnya 12.860 unit. Saat itu truk menjadi salah satu penyebab menurunnya keuntungan perusahaan kereta api di Jawa. Pada 1933, penurunan pemasukan itu hingga 40 persen.

Sebagian besar pemilik mobil itu adalah orang Eropa yang bermukim di Hindia Belanda. Sementara kaum bumiputra hanyalah menjadi sopir.

Baca juga: Sejarah Truk di Indonesia Sejak Zaman Kolonial

Infografik HL Indepth Mobil

Kembang-Kempis Pasca Kemerdekaan

Saat pendudukan Jepang (1942-1945), pabrik General Motors diambil alih dan operasional pabrik dihentikan sejak Maret 1942. General Motors pun menarik semua investasi di Hindia Belanda. Barulah, usai Perang Dunia Kedua, General Motors kembali ke Indonesia dan membuat cabang di Jakarta untuk mengoperasikan pabrik perakitan mobil.

Kejayaan General Motors lewat produknya Chevrolet menjadi salah satu merek mobil yang familier di Indonesia. Beberapa seri Chevrolet yang terkenal di Indonesia antara lain Chevrolet Deluxe tahun 1952, Chevrolet Corvette tahun 1954, Chevrolet Bel Air tahun 1955, Chevrolet Nova tahun 1966, dan Chevrolet Impala tahun 1962.

Selain memproduksi Chevrolet, General Motors juga memproduksi merek mobil lain, salah satunya Buick 8 yang dirilis pada 1938. Dalam sejarahnya, Buick 8 menjadi mobil kepresidenan Indonesia pertama yang dipakai Sukarno.

Pada 1960-an industri mobil di Indonesia mulai menggeliat. Muncul pemain-pemain besar baru di Tanah Air. Salah satu yang paling kuat adalah Astra Internasional, yang memegang beberapa merek dagang mobil-mobil Jepang. Gempuran mobil Jepang ini membuat Generals Motors limbung, dan sempat buka-tutup pabrik.

Sayangnya, setelah sekian lama merintis industri mobil di Indonesia, General Motors akhirnya mengundurkan diri dari persaingan dengan mobil Jepang. Pada Juni 2015 General Motors mengumumkan angkat kaki dari Indonesia. Alasannya, penjualan tidak berkembang.

Baca juga:

Maaf, Tak Ada Tempat untuk Mobil Amerika di Indonesia
Cerita Kehancuran Industri Mobil Amerika dan Inggris
Seluk-Beluk Mobil Presiden dari Era Sukarno hingga Jokowi
Kisah Buick "Curian" untuk Sukarno
Trivia: Sejarah Mobil Nasional

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight