tirto.id - "Perang dapat memunculkan sisi terburuk dan terbaik dari manusia." Begitulah kata Richard Davis Winters, alias Dick Winters, penulis cum veteran Perang Dunia ke-2.
Dick Winters bukan sosok termasyhur di arena Perang Dunia II. Dia bukan jenderal agung yang bisa menentukan arah angin pertempuran, seperti Patton, Montgomery, Rommel, dan Zhukov.
Winters ketika itu masih sangat muda. Dia baru lulus kuliah, lalu bergabung dengan dinas militer sebagai seorang pasukan terjun payung (paratrooper) dalam kompi berjuluk Easy Company.
Meski demikian, kepemimpinan di Easy Company membuat Winters cukup dihormati. Sampai akhirnya, jelang Perang Dunia II berakhir, dia naik pangkat menjadi mayor, membuatnya membawahi satu batalion sekaligus.
Sebagai orang yang terjun langsung di garis depan sejumlah operasi terbesar dalam Perang Dunia II, mulai dari D-Day (pendaratan di Normandia) sampai pengambilalihan markas Adolf Hitler (Eagle's Nest), Winters paham betul kaitan antara perang dan manusia. Maka itu, meski terdengar sederhana, ucapannya, sebagaimana dikutip di atas, sulit dibantah. Apalagi, sekitar setengah abad setelah Perang Dunia II berakhir, ucapan itu pun masih terbukti dalam Perang Bosnia, yang berlangsung dari 1992 sampai 1995.
Salah satu bentuk kengerian Perang Bosnia, selain kamp konsentrasi dan genosida, adalah peristiwa pengepungan ibu kota terlama dalam sejarah perang modern. Dari 5 April 1992 sampai 29 Februari 1996, ibu kota Bosnia, Sarajevo, dikepung oleh Tentara Rakyat Yugoslavia, yang kemudian dilanjutkan oleh Tentara Republik Srpska.
Selama kurun tersebut, Sarajevo secara konstan dibombardir dan ditembaki oleh penembak jitu. Akibatnya, kota berpenduduk sekitar 400 ribu orang tersebut acap kali kehilangan akses terhadap makanan, obat-obatan, air bersih, dan aliran listrik. Total, lebih dari 11 ribu orang meninggal.
Hantu di Tengah Perang
Seperti kata Winters, tidak semua hal yang diakibatkan oleh Pengepungan Sarajevo adalah soal kebiadaban. Di antara desing peluru dan ledakan mortir, sesosok "hantu" bergerak cepat mengantarkan berbagai macam bantuan yang dibutuhkan oleh penduduk Sarajevo. Ia berwarna hitam pekat, berlapis plat baja anti-peluru, bermoncong bemper anti-ranjau, dan berbekal beberapa tangki nitrous oxide untuk bisa lari cepat dari situasi yang bisa merenggut nyawa.
"Hantu" itu adalah sedan Chevrolet Camaro keluaran 1979 yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Dengan begitu, ia bisa bergerak lincah di kota yang sedang terkepung dan terus-menerus dihujani misil. Di kursi pengemudinya, duduk seorang mantan anggota pasukan khusus Jaeger Corps Denmark bernama Helge Meyer.

Sebenarnya, di tengah Pengepungan Sarajevo, berbagai upaya memberikan bantuan secara resmi sudah dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya PBB dan NATO. Akan tetapi, kebanyakan bantuan itu disalurkan dengan kendaraan tempur lapis baja dan truk, yang jelas tidak bisa bergerak cepat dan kerap kali justru dibajak sebelum sampai ke tujuan.
Melihat itu, Meyer tergugah. Dia menjalin kontak dengan seorang komandan militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Rhein-Main di Jerman. Dia mengungkapkan ide untuk bisa secara efektif mengantarkan bantuan dengan cepat dan aman. Ide tersebut, tak lain, adalah menggunakan sebuah sedan yang bisa bergerak jauh lebih lincah di Sarajevo, ketimbang truk atau kendaraan tempur lapis baja.
Secara kebetulan, di pangkalan udara tersebut, seorang tentara AS memiliki satu unit Chevrolet Camaro keluaran 1979 yang tengah menganggur. Meyer lantas membeli mobil tersebut. Sejumlah tentara AS yang berada di Jerman itu pun diberi tugas untuk memodifikasi mobil supaya bisa dijadikan pengangkut bantuan yang gesit di tengah konflik.
Camaro keluaran 1979 tidaklah se-powerful Camaro edisi-edisi sebelumnya. Regulasi emisi membuat Chevrolet harus membatasi pembakaran dalam mesin sehingga tenaganya berkurang. Jika generasi pertama bisa menghasilkan tenaga sampai 430 hp (horsepower), Camaro yang digunakan Meyer hanya bisa menghasilkan 170 hp.
Maka, modifikasi di bagian mesin pun dilakukan. Menurut catatan CarBuzz, setelah dimodifikasi, mobil tersebut mampu menyemburkan 220 hp. Jika ditambah dengan sistem nitrous oxide alias NOS, energi yang dihasilkan bahkan bisa mencapai 440 hp.
Di bagian dalam pintu, dipasang pula pelindung berupa kevlar. Di bodi bagian luar serta jendela bagian belakang, plat baja anti-peluru dipasang untuk proteksi. Bemper bagian depan dilengkapi penyapu ranjau dan kepingan-kepingan lain untuk memperlancar perjalanan.
Tak sampai di sana, Camaro 1979 milik Meyer juga dilengkapi dengan perangkat teknologi tinggi, seperti GPS militer, kamera pencitraan termal, night vision, inframerah, serta sistem komunikasi radio, yang memungkinkannya meminta bantuan udara.
Fitur canggih itu disematkan karena, sering kali, Meyer memang beroperasi di waktu malam. Dia berlindung di balik kegelapan untuk menjalankan misi kemanusiaannya. Sebagai wujud perlindungan ekstra, mobil itu dicat hitam matte layaknya jet tempur sehingga tidak terlihat oleh radar atau kamera pencitraan termal.
Satu modifikasi terakhir dilakukan pada bagian ban. Mengingat ban adalah bagian paling rapuh, para serdadu AS mengganti ban standar dengan ban berisi busa khusus sehingga, ketika bocor pun, mobil bisa terus dikendarai.
Singkat cerita, mobil sport itu berubah menjadi mesin tempur pasca-apokalips khas Mad Max. Menariknya, Meyer tidak ingin mobil tersebut terlihat terlalu seram dan menakuti anak-anak. Oleh karena itu, di bagian depan bull-bar, dia memasang mainan bebek berwarna kuning.

Setelah selesai dimodifikasi, Camaro 1979 itu resmi menjadi The Ghost Camaro yang, selama kurang lebih tiga tahun, wara-wiri di Sarajevo dan sekitarnya. Ia mengantarkan berbagai bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan warga yang terjebak di dalam kota.
Beroperasi di kegelapan, mobil tersebut menjelma jadi semacam urban legend bagi mereka yang kala itu ada di Sarajevo. Orang-orang, baik kawan maupun lawan, berbisik-bisik mengenai keberadaan mobil beperforma tinggi yang mampu menyelinap di antara ladang ranjau, tank, dan gerombolan bersenjata.
Namun, bukan berarti Ghost Camaro milik Meyer itu selalu bisa menyelinap. Ada kalanya mobil tersebut dihujani tembakan yang, salah satunya, nyaris bersarang di tengkorak Meyer. Beruntungnya, ketika itu Meyer mengenakan helm kevlar, hadiah dari para tentara AS. Tak jarang juga dia harus melewati blokade yang membuatnya harus memutar otak, misalnya meminta penumpang di sebelahnya berpura-pura membawa senapan.
Lucunya, Meyer tidak pernah membawa pistol ataupun senapan selama menjalankan misi. Dia hanya bergantung pada pisau, kapak, serta Injil. Ya, Meyer memang seorang penganut Kristen taat yang sangat berpegang teguh pada ajaran agamanya. Keyakinan itu pulalah yang turut mendorong Meyer membantu sesama, tak peduli apa pun agama mereka.
Suatu kali, Meyer bahkan pernah membaca Injil bersama sebuah keluarga muslim yang menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur'an. Kepercayaan Meyer pada Tuhannya yang amat kuat ini juga membuatnya dijuluki Rambo Utusan Tuhan (Gottes Rambo).
Selama bertugas di Sarajevo, Meyer berhasil menjalankan setidaknya 100 misi, sehingga muncul pula julukan-julukan lain, termasuk The Bosnia Express.
Kini, Camaro 1979, yang sudah menempuh 100 ribu kilometer lebih, itu masih jadi milik Meyer. Bedanya, mobil tersebut sudah tidak lagi dicat hitam, melainkan oranye. Penyapu ranjaunya pun sudah dihilangkan, meski bagian bull-bar tetap dipertahankan. Selain itu, pelat baja yang melapisi mobil sudah dipereteli.
Meski punya sejarah luar biasa, Ghost Camaro sudah diubah kembali menjadi mobil biasa oleh Meyer. Meyer pun demikian, meski punya jasa besar sepanjang Perang Bosnia, menolak disebut sebagai pahlawan.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Denmark, Rinkoping Skjern Dagbladet, pada 2018, dia berkata, "Apa pun yang Anda lakukan, itu semua pasti ada gunanya, dan Anda tidak perlu mengendarai sebuah Camaro ke zona perang untuk berbuat sesuatu. Yang terpenting adalah membantu sesama, sekecil apa pun itu."
Di tengah kecamuk perang, di tengah rentetan kebiadaban, selalu muncul sosok malaikat penolong yang mengingatkan kita semua betapa pentingnya kemanusiaan. Di Sarajevo, Bosnia, kurang lebih tiga dasawarsa silam, malaikat itu muncul dalam wujud laki-laki sangar, lengkap dengan cerutu serta muscle car berkelir gelap. Wujudnya memang seperti hantu, tetapi yang dia lakukan benar-benar mencerminkan utusan Tuhan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































