Menuju konten utama
Gearbox

GAZ-13 Chaika: Hadiah buat Sukarno, Andalan Intel Soviet

Sukarno pernah punya mobil dinas mewah edisi terbatas, GAZ-13 Chaika, hadiah dari Nikita Khrushchev. Tapi, mobil itu juga jadi andalan intel Soviet.

GAZ-13 Chaika: Hadiah buat Sukarno, Andalan Intel Soviet
Mobil GAZ 13 Chaika. wikimedia/Torsten Maue

tirto.id - Terpilihnya Prabowo Subianto sebagai presiden Republik Indonesia membawa sejarah mobil kepresidenan ke dalam babak baru. Tak seperti para pendahulunya, mantan Komandan Jenderal Kopassus itu memilih Maung MV3 Garuda Limousine buatan Pindad sebagai mobil kepresidenan. Dengan demikian, Pindad pun menjadi pabrikan dalam negeri pertama yang mendapat kehormatan sebagai pembuat mobil kepresidenan, sekaligus memutus dominasi Mercedes-Benz selama puluhan tahun.

Mercedes-Benz pertama kali digunakan oleh Soeharto pada 1980. "Tradisi" menggunakan mobil bikinan Jerman itu berlanjut sampai masa kepemimpinan Joko Widodo yang berakhir pada 2024. Bisa dibilang, ini adalah era "stabilitas" mobil kepresidenan yang begitu berbanding terbalik dengan perjalanan mobil kepresidenan era Sukarno yang begitu volatil. Maklum saja, ketika itu Indonesia sebagai negara masih "bau kencur".

Sukarno kerap bergonta-ganti mobil kepresidenan. Tidak sesering dia bergonta-ganti istri, memang, tetapi cukup sering. Setidaknya, ada enam mobil yang pernah digunakan Sukarno selama masa kepemimpinannya, baik sebagai presiden, Pemimpin Besar Revolusi, maupun Padoeka Jang Mulia.

Dari enam mobil tersebut, lima di antaranya merupakan buatan Amerika Serikat, yaitu Buick 8, Chrysler Windsor, Chrysler Imperial, Lincoln Continental, dan Cadillac Fleetwood yang sempat pula dilungsurkan kepada Soeharto.

Mobil-mobil tersebut punya kisah menariknya tersendiri. Misalnya, Buick 8 merupakan hasil rampasan dari seorang Jepang dan Chrysler Imperial yang, konon, punya kekuatan mistis lantaran sanggup menyelamatkan Sukarno dari ledakan granat di Perguruan Cikini.

Namun, tak ada dari mobil-mobil tersebut yang memiliki kisah seperti GAZ-13 Chaika, satu-satunya mobil kepresidenan Indonesia bikinan Blok Timur, tepatnya Uni Soviet, yang merupakan hadiah dari Nikita Khrushchev kepada Sukarno pada 1961.

Kehadiran GAZ-13 Chaika sebagai mobil kepresidenan Sukarno berawal dari... toilet. Ceritanya, saat berkunjung ke Istana Bogor, Khrushchev justru mendapat curhatan dari kameradnya, Sukarno, bahwa salah satu WC di istana tersebut rusak. Akhirnya, pada 6 Juli 1961, curhatan Sukarno itu mendapat respons. Khrushchev mengirimkan satu unit WC untuk dipasang di Istana Bogor.

Namun, WC itu bukan satu-satunya kiriman Khrushchev. Dalam paket yang sama terdapat satu unit mobil mewah, sama persis yang juga digunakan Khrushchev sebagai mobil dinas. Mobil itu adalah GAZ-13 Chaika berwarna hitam, dengan desain khas mobil-mobil mewah AS pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, lengkap dengan lapisan krom pada bagian grille, bemper, fender, serta frame kaca dan jendela.

Bodi mobil itu bongsor. Panjangnya mencapai 5.600 mm, lebar 2.000 mm, dan tinggi 1.580 mm, dengan jarak antarsumbu roda 3.520 mm. Bodi bongsor itu pun disokong oleh mesin berkapasitas besar, yaitu mesin konfigurasi V8 8.500cc yang mampu menghasilkan 195 tenaga kuda. Dengan transmisi otomatis, GAZ-13 Chaika mampu mencapai kecepatan maksimum 160 km/jam.

Pada dasarnya, GAZ-13 Chaika adalah sebuah limusin, lengkap dengan interior mewah berbahan utama kayu dan aksen krom. Desain joknya masih memanjang seperti mobil-mobil era tersebut. Ditambah dengan ruang kaki yang luas, makin nyamanlah mobil ini untuk menjadi kendaraan dinas seorang presiden. Satu fitur lain yang tak kalah penting adalah keberadaan pembatas kaca tebal antara kabin depan dan belakang untuk menjaga privasi.

Meski merupakan satu-satunya produk Blok Timur yang pernah jadi mobil kepresidenan Indonesia, GAZ-13 Chaika, atau Camar dalam bahasa Rusia, sebenarnya menyimpan DNA Amerika Serikat.

Dari desain saja sudah terlihat bahwa ia tampak seperti mobil bikinan Negeri Abang Sam. Itu bukan kebetulan. Selain karena GAZ, pada awal berdirinya antara 1929-1938, pernah bekerja sama dengan Ford, secara umum industri otomotif Blok Timur memang sangat bergantung pada Blok Barat, utamanya dari sisi desain.

GAZ-13 Chaika yang pertama kali diproduksi pada 1959 itu disebut-sebut terinspirasi oleh dua mobil buatan Packard, yaitu Packard Patrician dan Packard Caribbean. Adapun, Chaika sebenarnya merupakan lini dari mobil limusin mewah buatan GAZ, pabrikan yang bermarkas di Nizhny Novgorod. Dalam lini Chaika, ada dua tipe yang pernah diproduksi, yaitu GAZ-13 (1959-1981) dan GAZ-14 (1977-1988).

Awalnya, mobil mewah Uni Soviet hanya diproduksi oleh pabrikan ZIS--belakangan namanya diganti menjadi ZIL setelah kematian Joseph Stalin. Mobil-mobil ZIL tersebut dibuat sepenuhnya dengan tangan dan hanya diproduksi satu atau dua unit per bulan.

Akan tetapi, pasca-Perang Dunia II, mendadak kebutuhan akan mobil mewah meningkat. Maka, GAZ yang sebelumnya cuma memproduksi mobil kelas menengah pun ikut dilibatkan.

GAZ berhasil menciptakan GAZ-12 ZIM. Namun, karena dianggap belum memenuhi standar, terutama dari segi mesin kurang bertenaga, mobil ini pun kebanyakan hanya dijadikan taksi di Moskow.

Di tengah keterlibatan GAZ, ZIL tak mau kalah. Mereka sempat menawarkan mobil yang diberi nama "Moskva", tetapi Politbiro menolaknya untuk dijadikan kendaraan dinas pejabat Uni Soviet.

Pada 1957, purwarupa GAZ "ZIM-2" pun selesai dan disukai oleh para petinggi negara tersebut. Jadilah kemudian mobil ini diproduksi dengan nama GAZ-13 Chaika.

Statusnya sebagai mobil mewah membuat GAZ-13 Chaika tidak bisa dibeli oleh sembarang orang. Mobil-mobil ini dibuat dalam edisi terbatas dan hanya dijual ke kalangan pejabat teras Uni Soviet.

Rakyat jelata sebetulnya bisa merasakan nikmatnya berkendara di atas Chaika tetapi mereka cuma bisa menyewanya untuk acara-acara khusus seperti pernikahan. Chaika yang sudah melebihi masa pakai diambil lagi oleh negara, diperbaiki, dicat putih, lalu diserahkan ke penyedia jasa wedding carriage. Tradisi ini pun masih berlangsung sampai saat ini.

Di tangan Nikita Khrushchev, GAZ-13 Chaika pun tidak cuma jadi kendaraan para pembesar, melainkan juga alat diplomasi. Sukarno bukan satu-satunya pemimpin "new emerging forces" yang pernah dihadiahi mobil tersebut olehnya. Para pemimpin Partai Komunis di berbagai negara pernah mendapatkannya, juga tokoh-tokoh besar, seperti Jiang Qing (istri keempat Mao Zedong), Fidel Castro (pemimpin Kuba), Raja Sisavang Vathana (Laos), serta Raja Norodom Sihanouk (Kamboja).

Namun, tragedi kecelakaan mengubah masa depan GAZ-13. Pada 1980, petinggi Belarusia, Pietr Masherov, tewas usai GAZ-13 yang ditumpanginya menubruk sebuah truk GAZ 53 yang sedang mengangkut kentang.

Peristiwa tersebut, sedikit banyak, membuat GAZ akhirnya memensiunkan seri legendaris GAZ-13, kemudian dilanjutkan oleh GAZ-14 yang sebetulnya sudah mulai diedarkan sejak 1977.

Seiring dengan dihentikannya produksi GAZ-13, status dan citranya pun berubah. Beberapa unit GAZ-13 disebut-sebut pernah menjadi favorit KGB dalam interogasi maupun mengejar targetnya.

Meski pembuatan mobilnya distop, mesin GAZ-13 tetap dipertahankan, bahkan diadopsi oleh "keturunannya", yakni GAZ-31012 dan GAZ-31013. Model tersebut juga dipakai oleh agen inteligen Soviet pada masanya, di samping seri Volga yang merupakan mobil mid-level GAZ.

Mobil yang tadinya identik dengan kesan elegan, perlahan-lahan berubah menjadi seram. Itulah latar belakang munculnya urban legend di negara-negara eks Blok Timur bahwa Volga Hitam adalah mobil penculik orang. Bahkan, dalam urban legend tersebut, bukan cuma KGB yang dituding jadi penyebab, melainkan juga kelompok Satanis, bahkan iblis.

Mobil GAZ 14 Chaika

Mobil GAZ 14 Chaika. wikimedia/Matti Blume

Seri Chaika secara resmi berakhir pada 1988 setelah Mikhail Gorbachev memerintahkan penghentian produksinya. Alasannya bukan soal keamanan seperti saat GAZ-13 dihentikan produksinya, melainkan karena Gorbachev tidak ingin pejabat Uni Soviet bermewah-mewahan sebagai bagian dari Glasnost dan Perestroika-nya. Karena chaika dianggap sebagai simbol hedonisme, para pejabat era Gorbachev diminta menggunakan Volga sebagai mobil dinas yang lebih "merakyat".

"Kebencian" rezim Gorbachev terhadap Chaika pun tak setengah-setengah. Sebab, GAZ tidak cuma diperintahkan untuk menyetop produksi mobil mewah itu tetapi juga menghancurkan seluruh dokumentasi teknisnya. Alhasil, upaya membangkitkan Chaika pada dekade 1990-an pun menemui kegagalan.

Bisa dibilang, seluruh perjalanan Chaika, khususnya GAZ-13, selalu dipengaruhi oleh situasi politik. Ia lahir dari kebutuhan para politisi, menjadi masyhur di luar Uni Soviet berkat Khrushchev yang menjadikannya alat diplomasi, dihentikan produksinya karena kematian seorang politisi, dan, saat masa jayanya pudar, ia digunakan oleh para agen rahasia untuk mempertahankan eksistensi Tirai Besi.

Meski begitu, unit mobil yang dihadiahkan Khruschev kepada Sukarno sampai saat ini masih eksis. Ia terawat dengan baik di tangan seorang kolektor asal Surabaya bernama Budi Santoso.

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF MOBIL atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin