tirto.id - Sejak awal kedatangannya ke Indonesia, saat dipasarkan dengan merek Binter (Bintang Terang), Kawasaki sudah identik dengan motor "laki", yaitu sepeda motor dengan mesin tegak dan tangki yang terekspos di bagian depan. Dengan seri Merzy-nya, Binter sempat menjadi idola anak muda dekade 1980-an.
Binter akhirnya mesti gulung tikar akibat masalah keuangan dan administrasi. Akan tetapi, sejak 1994, Kawasaki resmi comeback ke pasar Indonesia dengan menggandeng, salah satunya, konglomerasi milik putra mantan Presiden Soeharto, Bambang Tri Hatmodjo. Sejak saat itu, Kawasaki identik dengan dua jenis sepeda motor: motor sport dan trail.
Ninja adalah seri sport Kawasaki yang telah melegenda. Sejak pertama kali dirilis dalam versi 2-tak dalam wujud Ninja R (naked) dan Ninja RR (fairing) hingga akhirnya berevolusi ke versi 4-tak dalam wujud Ninja 250R, seri yang satu ini menjadi idola anak muda, khususnya laki-laki, yang menyukai kecepatan.
Selain Ninja, seri masyhur dari Kawasaki lainnya adalah KLX, yaitu motor trail yang hadir dalam berbagai kubikasi mesin, mulai dari 110cc s/d 250cc. Bersama Ninja, seri ini membentuk identitas Kawasaki di Indonesia sebagai motornya orang yang, kalau tidak doyan kebut-kebutan, ya, doyan pertualangan.
Belakangan, ada satu seri lagi yang perlahan mulai menyaingi Ninja dan KLX, yaitu seri W, khususnya W175. Sepeda motor ini bisa dibilang sebagai bentuk reinkarnasi Binter Merzy sebagai motor "laki" yang nyaman digunakan di perkotaan. Desainnya klasik dengan garis serba bulat, membuat W175 jadi ikon baru retro klasik di Tanah air.
Sebenarnya, selain seri-seri di atas, ada dua seri underbone Kawasaki dari masa lalu yang cukup mudah ditemukan di jalan-jalan, yaitu Kaze dan Blitz. Kaze, bisa dibilang, adalah underbone flagship dari Kawasaki setara Suzuki Shogun dan Yamaha Jupiter. Sementara, Blitz merupakan underbone entry level setara Suzuki Smash dan Yamaha Vega.
Kini, seri underbone itu sudah tidak lagi tampak di line-up terbaru Kawasaki. Selain seri Ninja, KLX, dan W, Kawasaki Indonesia sebetulnya menyediakan cukup banyak seri, yaitu Z (naked sport), Versys (adventure), Meguro (retro klasik), Eliminator (cruiser), Vulcan (sport cruiser), D-Tracker (supermoto), Stockman (off-road), KX (motocross), dan versi elektrik dari Ninja dan seri Z. Namun, tidak ada lagi tempat bagi seri underbone.
Harus diakui, underbone memang sudah kehilangan pamor. Akan tetapi, yang jadi misteri adalah mengapa Kawasaki tidak ikut bermain dalam segmen "pembunuh" underbone, yaitu skuter matik alias skutik?

Skutik Hasil Kolaborasi
Menyebut Kawasaki tidak punya skutik sebenarnya kurang tepat. Bahkan, sejak dekade 2000-an lalu mereka sebetulnya sudah bermain di segmen tersebut. Saat itu mereka sudah memiliki produk bernama Kawasaki Epsilon yang tersedia dalam kubikasi 150cc dan 250cc. Setelah Epsilon, Kawasaki pun memiliki apa yang disebut J-Series. Dari 2013 sampai 2020, mereka sempat mengedarkan J300 (yang berkapasitas mesin 300cc) dan J125 (125cc).
Akan tetapi, skutik-skutik tersebut bukan benar-benar buatan Kawasaki. Selain itu, seri-seri itu juga tidak pernah dipasarkan di Indonesia.
Epsilon adalah hasil kolaborasi Kawasaki dengan Suzuki yang terjalin pada 2001. Saat itu kedua pabrikan sepakat untuk membagi sumber daya, merampingkan proses pengembangan, dan menjual sebagian model bikinan partner-nya dengan cara rebadging. Dari situlah lahir seri Epsilon.
Kawasaki Epsilon versi 250cc merupakan hasil rebadging dari Suzuki Burgman, sementara versi 150cc aslinya merupakan Suzuki Avenis 150. Kawasaki Epsilon 150cc dipersenjatai mesin yang mirip dengan mesin milik Suzuki FXR150, salah satu motor sport 4-tak paling kencang pada masanya. Bedanya, jika FXR150 menggunakan oil cooler, mesin Epsilon 150 atau Avenis 150 tadi sudah menggunakan pendingin cairan (radiator).
Jika Kawasaki kebagian menjual skutik Suzuki, Suzuki mendapat manfaat dengan menjual cruiser bikinan Kawasaki yang sudah disesuaikan. Versi aslinya adalah Kawasaki Vulcan Mean Streak 1600. Oleh Suzuki, sepeda motor itu dimodifikasi sedikit lalu dijual dengan nama Suzuki Boulevard M95.
Namun, kerja sama itu tak berlangsung lama. Pada 2006, kedua pabrikan memutuskan untuk berhenti bekerja sama. Dengan berakhirnya kerja sama tersebut, Kawasaki pun otomatis tidak lagi berhak untuk menjual Epsilon.
Kawasaki baru memiliki skutik kembali pada 2013, ketika merilis J300. Menariknya, skutik ini adalah hasil kerja sama yang sebenarnya sudah berlangsung sejak awal 2000-an. Jika Epsilon adalah hasil kerja sama dengan Suzuki, seri J adalah hasil kerja sama dengan Kymco, raksasa skutik asal Taiwan.
Awalnya, kerja sama Kymco-Kawasaki tidak ada kaitannya dengan skutik, melainkan ATV atau All-Terrain Vehicle, kendaraan off-road roda empat yang dikendalikan dengan setang. Ya, selain jadi pemain besar di segmen skutik, Kymco memang punya kapabilitas khusus di bidang ini. Jadilah kemudian kerja sama dengan Kawasaki itu diresmikan. Sejak 2005, Kymco-lah yang menyuplai ATV untuk Kawasaki.
Lambat laun, kerja sama tersebut semakin berkembang. Pada 2009, misalnya, kedua belah pihak sepakat untuk bersama-sama mengembangkan mesin bensin untuk keperluan umum bagi anak perusahaan Kymco di Tiongkok, Changzhou Kwang Hsing Precise Machine Co., Ltd. Sampai akhirnya, pada 2013, Kawasaki mengumumkan bahwa mereka memiliki skutik baru bernama J300 yang merupakan versi rebadged dari Kymco Downtown 300i.
Dengan kapasitas mesin 296cc, J300 memang diperuntukkan bagi pasar Eropa. Seri ini pun tampaknya cukup laris karena Kawasaki kemudian memutuskan untuk membuat versi mininya, yaitu J125. Lagi-lagi, basisnya adalah seri Downtown milik Kymco. Namun, meskipun punya kapasitas mesin yang ideal untuk pasar Indonesia, skutik bongsor ini pun tetap tidak dimasukkan ke Tanah Air oleh Kawasaki. Skutik itu tetap mereka peruntukkan bagi pasar Eropa.
Sebenarnya, Kawasaki sempat pula menggunakan skutik Kymco untuk berjualan di Asia Tenggara, tepatnya dengan seri Kawasaki Curve yang memiliki basis Kymco Free LX. Ukurannya kompak, kapasitas mesinnya 112cc, dan seri ini tersedia dalam berbagai warna; tak seperti Epsilon dan J-Series yang didominasi warna hitam beraksen hijau. Akan tetapi, Kawasaki Curve ini pun tidak masuk ke Indonesia lantaran hanya dipasarkan di Filipina.

Fokus di Pasar yang Spesifik
Dari contoh-contoh sebelumnya, sebetulnya bisa disimpulkan bahwa Kawasaki tidaklah alergi dengan segmen skutik. Ya, mereka memang seperti ogah-ogahan mengembangkan dan memproduksi skutik sendiri. Akan tetapi, mereka bukannya sama sekali tak berusaha. Toh, dengan menggandeng Suzuki dan Kymco, pabrikan asal Akashi ini mampu menjual skutik berkualitas meski "hanya" lewat rebadging.
Namun, mengapa Kawasaki tak pernah mau memasukkan skutiknya ke Indonesia? Padahal, dulu Kawasaki pernah memasarkan motor bebek yang notabene merupakan motor rakyat pendahulu skutik.
Michael C. Tanadhi, selaku Head Sales & Promotion PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), pernah ditanya soal hal itu dan dia menjawab, "Pasar motor kita memang ada di segmen yang cukup niche market. Kami tidak melihat pabrikan lain yang juga fokus ke matic. Komitmen kami sejak tahun 2008 di Indonesia segmennya di sport, akan full throttle, full gas di sport, motor dengan kopling."
Jawaban itu menunjukkan bahwa Kawasaki memilih untuk tidak bermain di pasar yang sudah jenuh. Saat ini, semua pabrikan besar yang ada di Indonesia memang bermain di segmen skutik, mulai dari Honda, Yamaha, Suzuki, bahkan Kymco dan TVS (India) sekalipun. Sementara itu, Kawasaki tampak menikmati pasar yang, di saat bersamaan, sulit ditaklukkan pabrikan lain, yaitu motor sport dan trail. Menurut Michael, setidaknya sampai 2022 lalu, segmen trail mendominasi penjualan Kawasaki di angka 60 persen.
Selain soal segmentasi niche market, keberadaan Kymco di Indonesia tentunya jadi persoalan tersendiri bagi Kawasaki. Dengan kekuatan brand yang lebih besar di Indonesia, Kawasaki bisa dengan mudah menyingkirkan Kymco dari peta persaingan skutik. Ini, tentu saja, bukan hal yang bakal disepakati begitu saja oleh Kymco yang bahkan sampai sekarang pun belum bisa benar-benar berbicara banyak di Indonesia.
Lalu, mengapa Kawasaki tidak memproduksi skutiknya sendiri sehingga bisa menjualnya dengan harga terjangkau di pasar seperti Indonesia? Kemungkinan jawabannya ada dua. Pertama, lagi-lagi karena mereka sudah bekerja sama dengan Kymco. Kedua, karena untuk mengembangkan skutik dari nol secara mandiri mereka butuh uang yang sangat besar.
Akan tetapi, per 2021 lalu, divisi sepeda motor Kawasaki sudah resmi berpisah dari perusahaan induknya, Kawasaki Heavy Industries (KHI). Ini adalah keputusan yang diambil oleh KHI menyusul kerugian senilai US$47 juta pascapandemi akibat anjloknya penjualan sepeda motor di kawasan Asia Tenggara.
Ini artinya, divisi sepeda motor Kawasaki, atau Kawasaki Motors, sengaja dilepas untuk mendapat keleluasaan dalam mengambil keputusan dalam hal apa pun, mulai dari mencari pendanaan sampai melakukan kolaborasi. Mengingat pentingnya pasar Asia Tenggara dalam penjualan Kawasaki, tidak menutup kemungkinan mereka bakal serius menggarap pasar skutik meskipun harus memulai dari nol.
Apakah mereka bakal melibatkan Kymco seperti yang dilakukan di Filipina? Bisa jadi juga. Akan tetapi, hingga kini memang belum ada informasi apa pun mengenai program pengembangan skutik atau rencana perilisan skutik baru dari Kawasaki, baik secara mandiri maupun dalam kerja samanya dengan Kymco. Artinya, meski kemungkinan untuk itu terbuka lebar, itu semua masih sebatas kemungkinan.
Yang jelas, Kawasaki saat ini masih menguasai ceruk yang mereka ingin kuasai. Selama itu dirasa cukup, ya, kita bisa apa?
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































