Menuju konten utama
Gearbox

(Kawasaki) Binter Merzy, Eddy Tansil, dan Reinkarnasi

Jatuh bangun (Kawasaki) Binter Merzy di Indonesia erat dengan bisnis "problematik" milik Eddy Tansil era Orba. Tapi, ia mampu bangkit lagi di era reformasi.

(Kawasaki) Binter Merzy, Eddy Tansil, dan Reinkarnasi
Motor Binter Merzy KZ200. foto/istockphoto

tirto.id - Eddy Tansil bukan bandit biasa. Namanya mungkin kurang familiar bagi generasi kiwari. Akan tetapi, setidaknya, bagi generasi yang sempat merasakan senjakala Orde Baru, nama Eddy Tansil masih acap terdengar, entah dari berita di televisi, laporan di surat kabar, maupun sebagai olok-olokan lucah yang dilontarkan orang dewasa kala itu.

Pada 1994, Eddy Tansil, yang lahir dengan nama Tan Tjoe Hong, divonis 17 tahun penjara usai menggarong duit sebesar 420 juta dolar dari Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo)—kini sudah tidak ada lantaran dilebur ke Bank Mandiri sejak 1999.

Eddy Tansil sempat mendekam kurang lebih dua tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang sebelum kabur dan menghilang hingga kini. Diduga, ada keterlibatan sipir korup yang membantu sosok kelahiran 2 Februari 1953 itu kabur.

Sejak pelarian itu, jejak Eddy Tansil samar dan misterius. Ia sempat dikabarkan terlacak di Cina, menjalankan usaha bir yang kemudian bangkrut. Pada 2015, pernah dikabarkan bahwa pria kelahiran Makassar itu tinggal di Makau, tetapi tak ada yang bisa memastikannya.

Namun, lepas dari itu, tak banyak yang tahu bahwa Eddy Tansil lekat dengan industri otomotif; bahwa ia berandil besar dalam produksi salah satu sepeda motor paling legendaris di Indonesia.

Bintang Terang Kawasaki

Awal dekade 1980-an adalah masa ketika kebijakan lokalisasi industri mendorong pabrikan asing untuk merakit produknya di Indonesia melalui skema CKD (Completely Knocked Down). Artinya, kendaraan datang ke sini dalam wujud seperti Lego yang belum jadi, tetapi sudah siap dirakit.

Kawasaki, perusahaan otomotif terkemuka asal Jepang, termasuk di antaranya. Mereka masuk lewat PT Bintang Terang Indonesia (BTI) sebagai agen pemegang merek resmi. Nama “Binter”, singkatan dari Bintang Terang, digunakan sebagai merek lokal Kawasaki di Indonesia. Strategi ini mengikuti aturan pemerintah Orde Baru yang mewajibkan pabrikan asing bermitra dengan entitas lokal untuk bisa berproduksi dan berjualan di dalam negeri.

DI balik BTI, berdiri pula Tunas Bekasi Motor Company (TBMC), pabrik perakitan dan jaringan distribusi besar milik pengusaha bernama Eddy Tansil. Dari fasilitas di Tambun, Bekasi, komponen-komponen Kawasaki dikirim dalam bentuk CKD, dirakit, lalu dipasarkan dengan emblem Binter pada tangki dan brosur penjualan.

BTI bertindak sebagai wajah legal dan pemegang merek, sementara TBMC menjadi tulang punggung produksi dan distribusi.

Pola seperti itu umum pada masa Orde Baru. Honda bekerja sama dengan Federal Motor, Toyota dengan Astra, Suzuki dengan Indomobil, dan Mitsubishi dengan Krama Yudha. Teknologi dan desain datang dari Jepang, sedangkan perakitan dan penjualan ditangani mitra lokal.

Namun, ada satu hal yang membedakan Binter dari merek-merek lain. Honda, Toyota, Suzuki, dan Yamaha, tetap menggunakan nama globalnya, sementara Kawasaki tampil dengan "kearifan lokal".

Model-model seperti Merzy (KZ200), AR125, dan GT, memperkuat kehadiran merek Binter di pasar domestik. Dalam waktu singkat, merek ini lekat di jalanan Indonesia, meski tidak banyak orang awam menyadari bahwa di balik emblem itu berdiri Kawasaki Jepang.

Merzy: Sang Penanda Zaman

Di antara berbagai model yang lahir pada masa kejayaan Binter, Merzy menempati posisi istimewa. Motor ini mulai dipasarkan pada 1980-an dan dengan cepat menjadi ikon jalanan Indonesia.

Secara teknis, Merzy merupakan versi lokal dari Kawasaki KZ200, motor bergaya naked dengan mesin satu silinder berkapasitas 200cc. Karakter mesinnya dikenal halus tapi bertenaga, cocok untuk perjalanan jauh, dan mudah dioprek oleh mekanik rumahan (menurut komunitas penggemarnya). Kombinasi desain sederhana dan konstruksi tangguh membuatnya cepat menonjol di pasaran, yang saat itu didominasi motor bebek dan motor sport ringan.

Merzy hadir pada masa ketika banyak pengendara Indonesia mulai mencari motor yang tidak hanya efisien, tetapi juga memberi kesan prestise, sebagaimana tergambar dalam iklan dan kesaksian komunitas penggemar. Pada awal 1980-an, kepemilikan atas Merzy menandakan kenaikan kelas ekonomi. Ukurannya lebih besar dari motor bebek. Suaranya dalam. Tampilannya memberi kesan “motor gede” tanpa harus membayar harga Harley atau motor Eropa. Merzy juga kondang di kalangan pengendara turing dan pekerja kota yang ingin tampil berbeda.

Popularitas Merzy turut ditopang oleh kemudahan perawatan dan ketersediaan suku cadang. Struktur mesinnya sederhana sehingga bengkel kecil pun mampu menangani. Banyak pemilik Merzy mengandalkan bengkel umum atau melakukan perawatan sendiri, praktik yang ikut membentuk kultur mekanik mandiri di kalangan penggemar motor klasik.

Lebih dari sekadar kendaraan, bagi komunitas penggemarnya, Merzy mencerminkan aspirasi sosial pada masanya. Ia sering diasosiasikan dengan kebebasan, maskulinitas, dan kemandirian.

Oleh berbagai komunitas motor, Merzy dikenang sebagai “motor dewasa pertama” bagi banyak pengendara muda. Getaran mesin khas dan posisi duduk tegap memberikan pengalaman berkendara yang berbeda dari motor bebek atau motor sport ringan. Bahkan, setelah produksinya berhenti, Merzy tetap hidup sebagai penanda zaman.

Masa Keemasan dan Keruntuhan

Kehadiran Merzy menandai puncak kejayaan Binter di awal dekade 1980-an. Dalam waktu singkat, ia berkembang menjadi salah satu pemain penting di pasar motor nasional. Kapasitas produksi TBMC meningkat, dan berbagai model baru diluncurkan untuk memperluas pangsa pasar.

Selain Merzy, Binter menghadirkan model lain, seperti AR125, GTO, dan Joy, yang menyasar segmen sport dua-tak dan bebek. AR125 menonjol karena teknologi canggih, seperti pendingin cairan dan monoshock belakang, fitur yang belum umum di Indonesia pada awal 1980-an.

Namun, ekspansi cepat itu berdiri di atas fondasi bisnis yang rapuh. TBMC, tulang punggung perakitan dan distribusi Binter, dikelola oleh jaringan usaha Eddy Tansil yang di kemudian hari terbukti penuh masalah.

Pada saat sama, lanskap industri otomotif Indonesia juga berubah. Merek-merek besar, seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki, mulai memperkuat jaringan produksi dan distribusinya. Honda dan Federal Motor lambat laun mendominasi segmen bebek. Yamaha menarik pasar anak muda dengan RX Series. Sementara itu, Suzuki mengandalkan jaringan Indomobil yang luas.

Dalam situasi itu, Binter berada dalam posisi sulit. Merek lain memiliki dukungan finansial dan organisasi yang jauh lebih kuat, sementara Binter bergantung pada satu jaringan bisnis terpusat pada TBMC.

Akhir era Binter terjadi relatif cepat. Produksi mulai tersendat pada pertengahan 1980-an, dan dalam beberapa tahun kemudian, kegiatan perakitan berhenti sepenuhnya. Ada yang menyebut periode penghentian produksi berada antara 1983 hingga 1985, meski beberapa unit masih beredar hingga sekitar 1986 karena stok lama yang tersisa.

Ketika jaringan TBMC terguncang oleh persoalan keuangan, merek Binter ikut tenggelam. Tidak ada upaya restrukturisasi besar atau penyelamatan merek, dan perlahan namanya menghilang dari pasar motor Indonesia.

Warisan dan Reinkarnasi Binter Merzy

Di tengah arus modernisasi industri dan hadirnya motor injeksi, skuter matik, serta teknologi listrik, Merzy tetap hidup sebagai simbol era yang berbeda. Komunitasnya mungkin tidak sebesar dulu, tetapi loyalitasnya kuat. Pertemuan komunitas, konten restorasi di YouTube, dan kelompok penggemar di media sosial, menjadi ruang untuk melestarikan pengetahuan teknis dan kisah personal di sekitar motor ini. Dengan cara itu, Merzy terus hidup melalui ingatan dan kerja tangan para penggemarnya.

Selain itu, sebenarnya ada sebuah upaya resmi untuk menghidupkan kembali spirit Binter Merzy, yakni melalui Kawasaki W175 yang saat ini begitu mudah ditemui di jalan raya.

Setelah Binter tumbang pada pertengahan 1980-an bersama runtuhnya jaringan usaha Eddy Tansil, pasar Kawasaki di Indonesia mengalami kevakuman panjang. Baru pada 1994 pabrikan Jepang itu kembali secara resmi melalui pendirian PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI). Kali ini, Kawasaki tidak lagi menggandeng distributor swasta, seperti BTI atau TBMC, melainkan membentuk joint venture yang melibatkan kekuatan bisnis Orde Baru.

Melalui anak perusahaannya, PT Bimantara Nukla, Grup Bimantara milik Bambang Trihatmodjo menjadi salah satu pemegang saham lokal dalam proyek tersebut. Struktur kepemilikannya terdiri atas Kawasaki Heavy Industries (51%), Danmotors Vespa (29%), Bimantara Nukla (15%), dan PT Sumber Selatan Nusantara (5%). Investasi awal mencapai sekitar 40 juta dolar AS, dengan kapasitas produksi mula sebanyak 36.000 unit per tahun, kemudian naik hingga 60.000 unit dalam waktu singkat. Kala itu, Bimantara melihat Indonesia sebagai pasar sepeda motor yang sangat potensial dibanding negara-negara Asia Tenggara lain.

Menariknya, kebangkitan Kawasaki di Indonesia pada 1990–2000-an tidak lagi bertumpu pada warisan Binter. Merek ini membangun popularitasnya sendiri melalui lini Ninja (ikon ''motor balap" anak muda sejak '90-an), bebek Kaze yang tahan banting, trail KLX yang tersedia dalam berbagai pilihan cc dan ukuran bodi, serta Blitz sebagai alternatif entry-level.

Satu-satunya isyarat halus ke masa lalu hanyalah penggunaan nama “Joy” pada Blitz Joy, yang mengingatkan pada Binter Joy era 1980-an. Di luar itu, Kawasaki menancapkan mereknya secara mandiri, tanpa ketergantungan pada identitas Binter.

Baru bertahun-tahun kemudian, setelah posisinya di pasar menguat dan identitas Kawasaki berdiri kokoh, pabrikan ini mulai melirik kembali ke masa lalu. Tiga dekade setelah Merzy pertama kali mengaspal, tepatnya pada 2017, Kawasaki merilis W175, motor bergaya klasik yang menghidupkan kembali aura Merzy.

Mesin satu silinder berpendingin udara, lampu bulat, tangki teardrop, jok datar, dan posisi berkendara tegap, menjadi pernyataan desain yang berbeda dari arus skuter matik dan motor sport modern. Kawasaki tidak sekadar menjual nostalgia; mereka membangun kembali brand memory yang pernah hilang. W175 dengan cepat menjadi motor retro paling populer di kelasnya, bahkan banyak bikers senior menyebutnya “Merzy zaman now".

Dengan demikian, kisah Binter Merzy tidak pernah benar-benar berakhir meski pabriknya gulung tikar dan "sang empunya" jadi buronan internasional. Motor itu terus bertahan lewat memori kolektif, modifikasi dan restorasi, serta reinkarnasinya dalam wujud Kawasaki W175.

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin