Melacak Eddy Tansil (6)

Jejak Maling Keluarga Tansil

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan, Arbi Sumandoyo - 2 Agustus 2019
Dibaca Normal 5 menit
Ayah, abang, hingga keponakan Eddy Tansil terlibat dalam kejahatan kelas berat.
tirto.id - Kiprah Eddy Tansil yang membobol Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada 1993 bukanlah cerita penipuan terbaru dalam keluarga Tansil.

Bila Anda menyempatkan waktu untuk Googling sebentar mengenai keluarga ini, Anda sangat mungkin menemukan keculasan Eddy Tansil, yang menggasak uang negara Rp1,3 triliun pada dekade terakhir pemerintahan Soeharto, itu juga (seakan) diturunkan dari ayah dan kakak tertuanya.

Bila Anda masih punya waktu buat melongok sebentar ke silsilah pohon keluarga Tansil, Anda sangat mungkin menemukan bacaan jauh lebih kaya: keponakannya, Rudy Kurniawan, bikin geger dunia kolektor wine di Amerika Serikat—The Guardian menyebutnya ‘The Great Wine Fraud’. Penipuannya jadi sumber film dokumenter Sour Grapes.


Cek Kosong Harry Tansil yang Bikin Pusing Sukarno

Bila Eddy Tansil kelak mencairkan duit negara lewat transaksi gelap melalui perusahaan induknya di Hong Kong bernama Golden Key Group, sang ayah, Harry Tansil, menipu negara dan masyarakat dengan membagi-bagikan cek kosong palsu.

Pada 1963-1964, tahun kacau politik dan ekonomi Indonesia, pemerintahan Sukarno dibuat pusing ihwal peredaran cek kosong palsu di Jakarta. Bikin negara rugi ratusan juta rupiah.

Sementara pemerintah terpimpin Sukarno tengah menghadapi kondisi moneter nasional yang merosot tajam. Terjadi hiperinflasi—uang banyak beredar; harga barang-barang cepat naik dan tak menentu. Defisit anggaran negara melebihi 50 persen.

Setelah ditelusuri, cek kosong palsu itu bermuara pada Bank Benteng Republik Indonesia, yang dimiliki oleh Harry Tansil sekaligus menjabat manajer umumnya.

Harry ditangkap. Pada 16 Agustus 1966, di tengah tahun politik pembantaian terhadap ratusan ribu mereka yang dianggap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia, Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta menghukumnya 9 bulan penjara.

Namun, belum tuntas menjalani masa tahanan, Harry dilaporkan kabur dari Rumah Pemasyarakatan di Glodok, Jakarta Barat, pada 4 Oktober 1966. Ia terindikasi kabur ke Hong Kong.

Persis ditiru putra bungsunya kelak saat mendekam di penjara Cipinang, Harry menyogok penjaga penjara Glodok agar bisa mendapatkan fasilitas dan leluasa keluar-masuk penjara. Sebagaimana ditulis Harian Kompas, ia tak pernah ada di selnya di kamar penjara nomor satu saban siang hari.

Saat kabur, Harry mengantongi “surat sakit” dari Kejaksaan Agung, sehingga gampang menghirup udara bebas, rutin mengunjungi Rumah Sakit Husada.

Saat kasus ini mencuat, pihak rumah sakit dan Kejaksaan Agung saling lempar tanggung jawab. Rumah sakit menyangkal Harry pernah berobat, sedangkan Kejaksaan emoh disalahkan.

Pengawasan di luar, ujar otoritas Kejaksaan, adalah tanggung jawab rumah sakit.


Pelarian Harry Tansil adalah skandal otoritas Indonesia dalam situasi perubahan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto. Pihak kepolisian dan imigrasi saling menyalahkan. Harry bisa melenggang bebas ke Hong Kong melalui Bandara Kemayoran dengan pesawat Garuda.

“Ini luar biasa,” tulis Harian Kompas edisi 21 Oktober 1966.

Jusuf Kalla, pengusaha Bugis yang kelak menjadi wakil presiden, mengisahkan sekelumit kiprah bisnis Harry Tansil. Bocah 21 tahun itu datang ke Makassar dari Fujian pada 1934, ikut saudara iparnya, dan memulai bisnis lewat bengkel sepeda.

Kalla mengklaim dalam kasus Bank Banteng, Harry tak hanya memalsukan cek kosong tapi juga merampok dana nasabahnya sendiri.

“Tidak tanggung-tanggung, uang koperasi polisi pun ikut dibawa kabur,” kata Kalla kepada Harian Kompas edisi 4 Mei 1998.

Gelombang anti-Cina pada tahun politik pasca-peristiwa 1965 membuat rumah keluarga Tansil di Botolempangan, Kota Makassar, diambilalih mahasiswa. Rumah itu kelak menjadi asrama Polwan.

Dari Hong Kong, mengamati situasi politik Indonesia yang sudah mereda dan ‘ekonomi pembangunan’ Soeharto membuka diri pada investasi asing, Harry Tansil kembali lagi ke Indonesia, lima tahun setelah kabur. Kasusnya menguap begitu saja. Tak ada penyelesaian hukum.

Ia kembali menjalani kehidupan normal sebagai pengusaha, merintis usaha perbankan dengan mendirikan Bank Sulawesi, ujar Kalla.

Pendirian bank itu demi menopang usahanya dalam impor becak dan sepeda motor, dengan mengajak putra bungsunya Eddy Tansil. Ia tak perlu kesulitan mendapatkan dana tambahan. Uang nasabah dijadikan sumber pendanaan bagi bisnis tersebut.

Tapi, Bank Sulawesi bernasib serupa seperti Bank Benteng. Pemerintah menyatakan Bank Sulawesi bangkrut. Meski begitu, sebagai pengusaha panjang akal, ia sudah menata diri sebagai pengusaha sukses.

Pada usia 68 tahun, Harry Tansil pulang ke kota kelahirannya di Fuqing, Provinsi Fujian, membantu ekonomi-sosial kehidupan warga setempat dengan membangun jalan, irigasi, sekolah, hingga rumah sakit. Selama 10 tahun, sebelum kematiannya Juni 1991, total sumbangan Harry untuk kota halamannya mencapai 25 juta dolar AS.


Si Raja Tilep Hendra Rahardja

Jejak culas sang bapak rupanya diikuti putra tertuanya, Hendra Rahardja, buron Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Akhir September 1997, ekonomi nasional mendidih. Harga dolar melonjak dua kali lipat. Bank megap-megap. Suku bunga terus didongkrak. Biaya bunga deposito naik, tapi pendapatan kredit menukik. Mustahil pada masa itu ada pebisnis yang mampu membayar bunga pinjaman di atas 30 persen.

Kondisi ini membuat sikap nasabah bank terpecah dua. Ada kubu tetap percaya pada bank dan ingin memetik bunga setinggi mungkin, lalu ramai-ramai mengantre membuka deposito. Ada juga yang ketakutan bank bakal kolaps.

Pilihan kedualah yang lebih banyak diambil publik. Penarikan dana gila-gilaan alias rush money dari rekening bank terjadi di mana-mana. Antrean panjang mengular di depan ATM, di seluruh pelosok sudut kota.

Dalam situasi itu, sebagai pemilik Bank Harapan Sentosa (BHS) dan Bank Guna Internasional, akal bulus Hendra Rahardja bekerja. Dengan cerdik, ia membuat laporan keuangan palsu bahwa BHS dibuat seolah-olah akan ambruk akibat insiden penarikan uang gila-gilaan oleh publik.

Alhasil, ia meminta bantuan likuiditas dari Bank Indonesia hingga mencapai Rp1,95 triliun—jumlah yang dipolesnya hampir sembilan kali lipat dari kebutuhan semestinya.

Dengan sejumlah transaksi fiktif, sebagian besar dana kasbon dari negara itu dilempar dia ke beberapa lembaga keuangan miliknya ke Singapura, Hong Kong, dan dua perusahaan cangkang di British Virgin Islands. Sama seperti tabiat bapak dan adiknya, sebelum ditangkap aparat, ia memilih kabur ke Hong Kong.

Selama jadi pelarian itu ia dengan ketat memantau gerak-gerik kabar yang beredar di Bank Indonesia. Informan dan koneksinya kelas wahid. Ia mendapatkan informasi valid bahwa dua banknya, BHS dan Bank Guna Internasional, akan dilikuidasi.

Berbekal bocoran itu, sehari sebelum bank sentral bergerak, ia sudah mengosongkan seluruh aset BHS. Hendra menjual seluruh sahamnya kepada pihak lain. Dalam kasus ini, yang dirugikan tentu masyarakat. Waktu itu BHS punya rekor pelanggaran BMPK (batas maksimum pemberian kredit) yang tidak rasional.

Dana masyarakat yang tersedot mencapai Rp3,8 triliun. Uang ini ia gelontorkan kepada 123 perusahaan milik keluarga dan kerabatnya sendiri. Maka, wajar belaka jika orang memplesetkan BHS sebagai Bank Hendra Sendiri.


Pada 2002, selagi dalam pelarian, pengadilan Indonesia menghukumnya penjara seumur hidup. Kasus ini juga menyeret istri dan anaknya, Sherny Kojongyan dan Eko Edi Putranto, yang divonis 20 tahun penjara, sebagai direktur kredit dan komisaris Bank Harapan Sentosa.

Beda dari bapak dan adiknya, yang lebih beruntung bisa hidup bebas dalam pelarian, Hendra tertangkap di Australia pada 2003.

Di Sydney, pria kelahiran Makassar ini jatuh sakit. Ia didiagnosis kanker ganas menggerogoti ginjal dan empedunya. Empat bulan setelahnya, ia meninggal “dalam sunyi [dan] tanpa keluarga besar,” tulis Majalah Tempo edisi 21 Februari 2005.

Sementara istrinya, 10 tahun kemudian setelah vonis, tertangkap di San Fransisco, sebuah kota di California. Sherny kini mendekam di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, untuk menjalani hukuman yang belum dia lakukan.

Adapun putranya masih dalam status buron. Dalam rilis publik, Kejaksaan Agung mengetahui informasi terakhir posisi Eko Edi Putranto berada di Australia Barat.

Infografik HL Indepth Eddy Tansil
Infografik Jejak Culas Keluarga Tansil. tirto.id/Lugas

Rudy Kurniawan, Penipuan Wine Terbesar di Dunia

Bila penipuan yang dilakoni Harry Tansil dan Hendra Rahardja sebatas di Indonesia dengan memanfaatkan situasi krisis di era Sukarno dan Soeharto, sementara Eddy Tansil menambahkan China sebagai panggung petualangannya, sebaliknya ulah Rudy Kurniawan telah menghebohkan dunia.

Rudy adalah putra Lennywati Tan. Eddy memanggil Lennywati sebagai “Jiejie” alias kakak. Lennywati anak keempat dan Eddy anak ketujuh.

Lenny menikah dengan Makmur Widjodjo. Eddy dan Makmur pernah sama-sama membangun pabrik motor Kawasaki Binter di Bogor.

Saat kasus Hendra dan Eddy menggegerkan publik Indonesia, keluarga Lenny merantau ke Amerika Serikat pada 1998. Ia tinggal di sana hingga sekarang.


Rudy, yang dikenal bergaya hidup mewah, telah menipu para miliarder yang terhubung sebagai kolektor anggur. Sebuah dunia yang sangat spesialis dan dihuni oleh orang-orang berduit.

Petualangan Rudy sebagai penipu punya sejarah panjang. Ladang anggur hanya dipunyai oleh baron dan konglomerat sehingga minuman ini diasosiasikan sebagai hidangan para elite. Anggur juga minuman yang kompleks, dengan proses pembuatan yang rumit, dan mengharuskan penyimpanan khusus dalam durasi lama agar rasanya makin sedap.

Rudy muncul dalam dunia yang sangat khusus seperti itu. Tampil sebagai kolektor anggur pada 2005, ia dipuja karena bisa memikat orang sebagai pria cerdas. Menyandang status sebagai salah satu wine tester terbaik di Amerika Serikat, ia dipercayai sebagai kolektor wine langka.

Pada 2006, Rudy bekerja sama dengan balai pelelangan Acker, Merrall & Condit mengadakan dua lelang koleksi anggurnya sendiri, yang semuanya jarang ada di pasaran. Lelang ini sukses. Ia berhasil menipu dan meraup 24,7 juta dolar AS. Penjualan tertinggi dalam sejarah pelelangan anggur di dunia. Tapi, penipuan itu tercium juga.

Pada 2008, saat Rudy kembali melelang anggur palsu miliknya, Laurent Ponsot, pemilik wine Burgundy, terbang ke AS buat membatalkan pelelangan itu.

Rudy memalsukan wine milik Domaine Ponsot, ayah Laurent. Ia memalsukan anggur Clos St. Denis yang sama sekali tak pernah dibuat keluarganya. Dalam lelang itu, orang-orang membeku saat Laurent berteriak bahwa semua wine yang dilelang Rudy adalah palsu.

Rudy ditangkap FBI. Dari hasil penyelidikan, ia diketahui membuat wine palsu di rumahnya di California. Ia juga memalsukan tutup, logo, hingga kertas seolah-olah wine itu asli belaka berumur langka.


Pada 2012, Rudy divonis bersalah dan dihukum 10 tahun penjara. Ia juga diharuskan mengganti rugi atas penipuan terhadap Bill Koch, miliarder AS yang dikenal kolektor seni dan wine.

Total keuntungan Rudy yang dia dapatkan dari membodohi konglomerat-konglomerat di AS mencapai 550 juta dolar AS—setara Rp770 miliar dengan kurs sekarang.

Saat ini hampir 30 persen wine langka yang beredar di tangan kolektor diperkirakan anggur palsu bikinan Rudy. Kasus Rudy diangkat dalam film dokumenter Sour Grapes (2016) yang tayang di Netflix.


Film itu mengaitkan Rudy dengan sang paman, Eddy Tansil. Jerry Rothwell, sutradara film, mengakui kepada kami bahwa argumen mengaitkan penipuan Rudy dibantu Eddy Tansil atau sebaliknya masih cukup lemah.

“Memang tidak ada bukti yang ditemukan FBI bahwa ada aliran dana dari Asia. Sebaliknya, malah sejumlah besar uang dari Rudy pergi ke Asia,” ujarnya.

=======


Baca juga artikel terkait EDDY TANSIL atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight