Melacak Eddy Tansil (3)

Kiprah Eddy Tansil di China: Menikmati Kedekatan dengan Beijing

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan, Arbi Sumandoyo - 31 Juli 2019
Dibaca Normal 6 menit
Eddy Tansil menikmati privilese di China.
tirto.id - "Saya memang sempat kejar dia ke China, tapi mentok sampai Beijing,” kata Gagoek Soebagyanto, jaksa yang dulu ditugaskan memburu Eddy Tansil, kepada kami pada akhir Juni lalu melalui telepon.

Sebagai spesialis yang menangani kejahatan kerah putih, Gagoek ditunjuk mengepalai tim pemburu Eddy Tansil oleh Jaksa Agung Singgih saat itu. Tim itu melibatkan detektif swasta dari Kroll Associates, yang direkrut Menteri Keuangan saat itu Mar’ie Muhammad.

Temuan Kroll cukup positif. Saat kabar keberadaan Eddy Tansil masih buram, yang mencoreng muka hukum rezim Soeharto, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah tahu Eddy Tansil berada di Tiongkok. Temuan itulah yang mengantarkan Gagoek dikirim ke China pada akhir 1996.

Tapi, kepergiannya sia-sia. Belum sampai ke Fujian, pesisir selatan Tiongkok yang jadi provinsi kelahiran keluarga Eddy Tansil, otoritas pemerintah China melarangnya.

“Pihak kejaksaan China melarang saya pergi ke Fujian dengan alasan administratif,” kata Gagoek. “Karena dilarang, ya saya pulang lagi.”

Meski demikian, nama Eddy Tansil sebagai penggasak duit negara Rp1,3 triliun tetap jadi santapan hangat publik Indonesia, lebih-lebih ia mewakili sebuah koneksi antara segelintir pengusaha Tionghoa yang dekat dengan lingkaran Keluarga Cendana, fondasi kopong dari sistem korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menopang pemerintahan Soeharto.

Tujuh bulan selepas Soeharto mundur dari kekuasaannya, sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Gerakan Masyarakat Peduli Harta Negara mengeluarkan rilis mengejutkan tentang Eddy Tansil. Lembaga itu sesumbar menemukan koruptor paling diburu pemerintah Indonesia tersebut mengelola pabrik bir di Provinsi Fujian lewat bendera perusahaan Putian Golden Key Brewery Co., Ltd. Di China, sang buron dikenal dengan panggilan Mr. ET—Tuan Eddy Tansil.

Laporan itu bikin panas kuping Beijing, yang merespons esok harinya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China saat itu Zhu Bangzao membantah “isu” tersebut. “Pemerintah Indonesia memang telah meminta bantuan untuk menemukan Eddy Tansil, tapi sejauh ini keberadaannya belum ditemukan,” bantahnya kepada AAP Newswire.

Di sisi lain, pemerintah Putian angkat bicara. Putian adalah kota industri di Provinsi Fujian tempat operasional pabrik bir milik Eddy Tansil. Kepada Wall Street Journal, pemerintah setempat menegaskan tidak ada investasi dari warga negara Indonesia di pabrik tersebut. Juga berdalih tak pernah mendengar nama Eddy Tansil.

Kenyataannya adalah basa-basi belaka demi menjaga hubungan diplomatik kedua negara. Faktanya, setelah kabur dari penjara Cipinang pada 4 Mei 1996 kemudian mampir sebentar ke Singapura, Eddy Tansil menjalani kehidupan normal di China. Ia dikenal sebagai konglomerat di Fujian.


Kami sempat berbincang dengan salah seorang staf Eddy Tansil, yang kini menjabat salah satu direksi di perusahaan bir lain di Tiongkok. Ia berkata setelah bikin geger di Indonesia, Eddy Tansil mengurus pabrik bir di China.

Informasinya sinkron dengan fakta di Indonesia. Setelah gagal mendirikan pabrik bir lewat kongsi dengan pensiunan tentara, Koesno Achzan Jein, Eddy Tansil memboyong mesin-mesin pabrik bir ke Fujian, yang membuatnya dikenal sebagai Raja Bir dari Fujian.

Informasi serupa dikatakan Huang Wei, pegawai di Fujian Great Wall Huaxing Glass Co., Ltd., perusahaan yang dulunya bernama Golden Key Glass Co., Ltd. Pabrik kaca ini dulunya masih satu grup dengan perusahaan bir milik Eddy Tansil. Pada 2007, setelah ketahuan gagal mengembalikan kredit ratusan juta renminbi alias ratusan miliar rupiah ke Bank of China, otoritas Tiongkok di Fujian menyita aset dua pabrik Eddy Tansil di Putian lewat Great Wall Asset Management Co., Ltd.

Nama terakhir adalah lembaga keuangan negara Tiongkok yang menangani aset-aset bermasalah dari kredit macet bank-bank komersial pemerintah. Aset pabrik kaca Eddy Tansil diambil alih oleh Great Wall dan berganti nama.

Huang Wei berkata sering melihat Eddy Tansil mengunjungi pabrik kaca di Putian. Selain itu, ia sering melihat Indriana Tansil, istri Eddy Tansil.

Secara legal, nama Eddy Tansil memang tidak muncul terang-terangan dalam hierarki profil perusahaan. Namun, dokumen pengadilan menyebut Eddy Tansil adalah pemilik pabrik bir dan kaca itu.

Catatan transkrip pengadilan perdata mengungkap jajaran direksi perusahaan bir dan kaca selalu memberi jawaban yang mengambang: “Kami tidak bisa mengambil keputusan atas masalah ini” dan “Saya ingin bertanya kepada bos kami.”

Dan, bos yang dimaksud mereka adalah Eddy Tansil.

Dekat dengan Beijing

Koneksi alias guangxi adalah faktor terpenting bagi kalangan pengusaha China agar bisnisnya tetap eksis. Faktor inilah yang membuat kasus sengketa kredit macet Eddy Tansil dengan Bank of China dan penyitaan aset oleh Great Wall berlarut-larut, sejak 2003 hingga 2007.

Gong Chunqi, Direktur Great Wall Asset Management cabang Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian, berkata kepada kami bahwa Eddy Tansil bukanlah orang sembarangan di kota pesisir selatan Tiongkok itu.

Saat perang sengketa di pengadilan, alih-alih berkomunikasi dengan otoritas keuangan di kota itu, Eddy Tansil memilih upaya penyelesaian kasus “secara langsung berangkat ke kantor pusat kami di Beijing,” ujar Chunqi yang kami temui di kantor kerjanya pada akhir tahun lalu.

“Kami pun terpaksa mengirim orang ke sana,” tambahnya.

Laporan Legal Daily edisi Juni 2006 yang dipublikasikan Kementerian Hukum Pemerintah Tiongkok mengutip salah seorang staf Golden Key. Ia mengisahkan setelah bertemu pejabat Great Wall di Beijing, Eddy Tansil langsung mengadakan rapat internal.

Staf itu membocorkan Eddy membanggakan koneksinya di Beijing dalam rapat. “Saya sudah mengontak Great Wall Asset di Beijing, kita tidak perlu takut dengan mereka. Kita punya bekingan kuat,” ujar staf itu menirukan ucapan bosnya.


Lazimnya dalam industri keuangan dan perbankan, nasabah yang kedapatan nakal bakal terdaftar sebagai debitur hitam. Normalnya hal itu juga terjadi di China. “Dia tidak bisa lagi berurusan dengan bank,” ujar Gong Chunqi.

Namun, fakta berkata sebaliknya. Meski ditetapkan sebagai debitur hitam, Eddy Tansil tetap leluasa mengelola bisnisnya secara normal. Malahan ia sempat mengembangkan bisnis gelas kaca ke provinsi lain.

Pada 27 September 2008 atau setahun usai seluruh asetnya di Fujian dilelang oleh negara, Eddy terdeteksi berada di Fucheng, sebuah kabupaten di Hengshui, selatan Provinsi Hebei. Ia dan pemerintah setempat sepakat membangun pabrik kaca dengan kapasitas produksi 160.000 ton per tahun. Proses penandatanganannya berlangsung di Balai Kota dan dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Partai Komunis Provinsi Hebei Jing Chunhua, Wali Kota Hengshui Gao Hongzhi, dan Wakil Wali Kota Dai Guohua.

Investasi itu menelan 230 juta renminbi dan Eddy bisa menjalankan bisnisnya dengan memanfaatkan pinjaman dari bank.

Salah satu artikel yang terbit di Xinhua, kantor berita resmi pemerintah Tiongkok, menulis bisnis itu tak akan terjadi tanpa intervensi pemerintah pusat di Beijing. Wali Kota Gao Hongzhi harus pergi bersama Eddy Tansil ke Beijing untuk bernegosiasi agar proyek itu bisa lancar.

Belakangan, salah seorang pengusaha Fucheng berkata kepada kami bahwa proyek itu cuma omong kosong. Sebab, proyek pembangunannya dibatalkan.

“Saya tidak tahu penyebabnya,” katanya.


Bertemu dengan Petinggi Partai Komunis Tiongkok

Relasi Eddy Tansil dan otoritas Beijing tercermin dari rekam jejaknya yang punya hubungan akrab dengan Partai Komunis Tiongkok.

Pada 24 Februari 1993, pabrik bir Eddy Tansil di Putian kedatangan tamu penting. Dia adalah Song Ping, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Song termasuk gerbong generasi kedua para penguasa China yang dipimpin Deng Xiaoping. Pada era kepemimpinan Deng inilah China mengubah haluan ekonominya menjadi liberal. Song juga dikenal mentor Presiden Republik Rakyat Tiongkok ke-6 Hu Jintao.

Setelah berjumpa dengan Song Ping, Eddy Tansil mendapatkan akses bertemu Tian Jiyun, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok, pendukung “reformasi” Deng Xioping. Perjumpaan ini terjadi pada 9 Juli 1993 atau lima bulan setelah Eddy bertemu Song Ping. Eddy diundang personal ke Beijing oleh Tian Jiyun.

Dalam pertemuan itu Eddy Tansil mengenalkan potensi perdagangan internasional yang bisa dikembangkan di China. Pada awal dekade 1990-an, Tiongkok sedang getol mengembangkan pasar bebas. Tian Jiyun, saat itu baru empat bulan menjabat wakil ketua, membutuhkan masukan Eddy Tansil untuk mengembangkan konsep “perekonomian baru yang lebih liberal” di China.

Pada 28 September 1993, giliran Wang Hanbin datang berkunjung ke pabrik bir Eddy di Putian. Jabatan Wang sama dengan Tian Jiyun di Partai Komunis Tiongkok.

Dua sosok yang ditemui Eddy Tansil itu menduduki posisi naratetama—orang yang sangat amat penting.

Di China, Lembaga legislatif tertinggi adalah Kongres Rakyat Nasional—setara DPR. Kongres memiliki 2.980 anggota, di dalamnya ada komite terpenting yang disebut Komite Tetap, diisi hanya 150 orang. Dari hierarki politik ini kita bisa membayangkan pengaruh Tian Jiyun dan Wang Hanbin di parlemen.

Eddy Tansil juga memiliki koneksi ke Dewan Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok—semacam MPR. Ketika kabur ke Tiongkok pada 1996, ia memiliki paman bernama Chen Zizhen, saat itu anggota MPR perwakilan Fujian.

Betapapun Song Ping, Wang Hanbin, Tian Jiyun, maupun Chen Zizhen kini telah pensiun dari dunia politik, bukan berarti terputus pula koneksi Eddy Tansil ke Beijing. Ia masih punya keponakan bernama Chen Yuanshou, sekarang anggota MPR perwakilan Fujian. Chen adalah putra Hendra Rahardja, kakak Eddy Tansil.

Bila koneksi politikus setingkat provinsi masih terlalu jauh dengan pusat kekuasaan di Beijing, informasi penting lain yang kami dapatkan datang dari seorang anggota organisasi diaspora Tionghoa.

Ia berkata Eddy Tansil masih memiliki koneksi dengan anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Tapi, ia takut mengungkapkan sosoknya secara terang-terangan.

Kami menelusuri nama-nama anggota Politbiro. Dari 25 orang, ada lima nama yang mengawali karier politik di (dan berasal dari) Fujian. Mereka adalah Cai Qi, Chen Xi, Huang Kunming, Sun Chunlan, dan ... Presiden Tiongkok saat ini: Xi Jinping.

Infografik HL Indepth Eddy Tansil
Infografik Orang-orang Indonesia di Sekitar Eddy Tansil. tirto.id/Lugas

Kiprah Xi Jinping dan Irisannya dengan Eddy Tansil

Sebelum diangkat sebagai presiden pada 2013, hampir 17 tahun karier politik Xi Jinping dihabiskan di Fujian. Kali pertama Xi Jinping berkarier di Fujian pada 1985 saat ditunjuk jadi Wakil Wali Kota Xiamen, salah satu kota besar di Fujian.

Pada September 1991, tiga bulan setelah China dan Indonesia menormalisasi hubungan diplomatik yang lama dibekukan, Xi Jinping memimpin delegasi khusus ke Jakarta. Ia dipertemukan dengan para konglomerat Indonesia, seperti Liem Sioe Liong (Sudono Salim), Djuhar Sutanto, keluarga Riady dan keluarga Tansil. Pada periode awal 1990-an, Xi Jinping ditugaskan sebagai corong pemerintah China agar orang-orang Tionghoa perantauan menanam investasi di “kampung halaman” mereka.

Saat itu Xi Jinping menduduki posisi terkemuka dalam struktur Partai Komunis Tiongkok di Fujian, termasuk sebagai Sekretaris Komite Kota Fuzhou, ibu kota Fujian. Pada masa awal karier politik Xi Jinping di Fuzhou inilah Eddy Tansil membawa konsorsium dari Taiwan membangun banyak pabrik besar di kota tersebut, dari pabrik manufaktur, perakitan motor, mebel, hingga plastik.


Koneksi bisnis Eddy Tansil di Fujian bisa dilacak dari kepemilikan sahamnya, salah satunya pabrik kaca miliknya di Putian, Golden Key Glass Co., Ltd.,—kerap ditulis juga Golden Spoon Glass Co., Ltd.

Akta perusahaan itu menunjukkan mayoritas sahamnya dimiliki korporasi asing berbasis di Hong Kong bernama Beiwang Group Hong Kong. Data dari otoritas Hong Kong memaparkan perubahan komposisi saham pabrik kaca itu terakhir kali pada 23 Agustus 2000. Dari dokumen ini terungkap ada pemilik selain Eddy Tansil. Ia adalah Fujian Hua Min Export and Import Co., Ltd.

Nama terakhir adalah perusahaan negara milik pemerintah Provinsi Fujian, notabene di bawah kendali gubernur. Saat perubahan komposisi saham itu diteken, Fujian masih dipimpin Xi Jinping, yang menjabat gubernur dari 1999 sampai 2002, kini orang nomor satu di Republik Rakyat Tiongkok.

Irisan tipis antara Eddy Tansil dan Xi Jinping juga bisa dijelaskan oleh Zhao Qiang. Ia menjabat direktur di Beiwang Group Hong Kong. Namanya juga muncul sebagai direktur di Fujian Golden Key Group—yang berbasis di Hong Kong tapi menaungi perusahaan di luar pabrik bir dan kaca milik Eddy Tansil.

Lalu, siapa Zhao Qiang?

Dia adalah pejabat pemerintah Provinsi Fujian, orang yang ditugaskan buat mengurusi perusahaan negara. Dalam akta perusahaan, dia tercatat tinggal di Beijing. Dan dia adalah anak buah Xi Jinping.


=========

Sejak kami meminta keluarga Eddy Tansil untuk mengatur pertemuan dengan sang buron kakap, beberapa pekan kemudian banyak tautan berita, jurnal, dan blog yang menyebut namanya tiba-tiba saja hilang, rusak, atau dihapus. Namun, beberapa di antaranya telah kami simpan. Majalah Legal Daily edisi Juni 2006 yang mengulas kasus Eddy Tansil menipu Bank of China juga secara tiba-tiba hilang di situswebnya. Namun, kliping versi cetak sudah kami simpan. Anda bisa klik di tautan berikut: Laporan halaman satu, laporan dua, dan laporan tiga.

Kami menerima informasi lanjutan mengenai Eddy Tansil maupun buronan koruptor lain, sila kontak email: aqwam@protonmail.ch.

Baca juga artikel terkait EDDY TANSIL atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight