Melacak Eddy Tansil (2)

Eddy Tansil Kabur dari Indonesia lalu Bikin Onar di China

Oleh: Arbi Sumandoyo, Aqwam Fiazmi Hanifan - 30 Juli 2019
Dibaca Normal 5 menit
Seorang pejabat keuangan di Tiongkok menyebut apa yang dimiliki Eddy Tansil adalah "sesuatu yang hanyut tersapu air.”
tirto.id - Sudah 23 tahun Eddy Tansil kabur dari Indonesia. Selama itu publik disuguhi informasi sumir tentangnya. Apakah ia masih hidup atau sudah mati? Jika masih hidup, di mana ia berada?

Ada yang menyebut ia tinggal di Australia. Ada juga yang bilang di Amerika Serikat. Namun, ada yang menyebutnya di China. Lagi pula, beberapa kali Kejaksaan Agung pernah mendeteksi Eddy Tansil pulang ke kampung halamannya di Fujian, salah satu provinsi di pesisir selatan Tiongkok, tempat lahir mayoritas keluarga-keluarga migran Tionghoa terdahulu dari Indonesia.

Meski begitu, laporan itu nyatanya tak pernah ditindaklanjuti oleh otoritas Indonesia. Betapapun ia masuk daftar buron Interpol sejak kabur dari penjara Cipinang pada 1996, namanya sepi dari pemberitaan sejak Basrief Arief, saat itu Jaksa Agung, menyebut Eddy Tansil “terlacak di China” pada 2013.

Sesulit itukah mencari Eddy Tansil?

Ternyata tidak. Tak sampai lima menit, kami bisa memastikan Eddy Tansil memang berada di Tiongkok. Dan buron koruptor kakap ini menjalani kehidupan normal.

Narasi yang menggambarkan ia hidup sebagai pelarian yang mengendap-endap, bersembunyi, memalsukan identitas dan berganti nama—itu omong kosong belaka.

Untuk temuan ini, berterima kasihlah kepada mesin mencari, khususnya bikinan produk lokal China seperti Baidu, Shenma, dan Sogou. Dengan sekali mengetik nama 陈子煌 (Chen Zihuang), nama Tionghoa-nya, ratusan informasi mengenai Eddy Tansil bermunculan.


Terjerat Kasus Kredit Macet Ratusan Juta Renminbi

Salah satu kabar yang bikin pusing otoritas Tiongkok adalah Eddy Tansil mengulang tindakan culasnya dengan membobol bank di China.

Satu dekade setelah kabur dari penjara Cipinang, sebuah media lokal di Tiongkok mengulas kiprah Eddy Tansil yang mengelabui Bank of China Limited. Skema penipuannya nyaris sama dengan apa yang dia lakukan di Indonesia.

Menjual pengaruh koneksinya dengan pejabat tinggi China, Eddy Tansil meminjam uang dari bank pemerintah Tiongkok itu dengan total 389,92 juta renminbi pada 2002—setara Rp791 miliar dengan kurs saat ini. Jaminannya, ia menggadaikan aset tanah dan dua pabrik miliknya di Putian, sebuah kota di sebelah timur Fujian tempat moyangnya berasal, yakni pabrik bir Golden Spoon Brewery (莆田金匙啤酒有限公司) dan pabrik kaca Golden Spoon Glass (莆田金匙玻璃制品有限公司).

Namun, Eddy membelot dari kewajiban bayar kredit. Karena itu Bank of China menyeretnya ke jalur perdata. Pada 23 Juli 2003, pengadilan memenangkan gugatan bank, menyita aset Eddy, dan memutuskan agar segera melakukan proses lelang.

Meski begitu, pria kelahiran Makassar ini mengajukan banding, meminta waktu buat menyelesaikan persoalan utang piutang. Normalnya, jika ada iktikad baik pengusaha melunasi utang, kasus kredit macet bisa beres. Alhasil, pihak pengadilan dan bank setuju atas skema tersebut.

Persetujuannya, Eddy Tansil wajib menyetor 2-6 juta renminbi, plus penyerahan aset tanah 325 hektare yang jika diuangkan senilai 30 juta renminbi, selama 31 Oktober 2003 hingga 31 Desember 2004. Bank memberikan keringanan: sejak 2005 Eddy dibebaskan dari bunga, hanya membayar pokok pinjaman.

Tetapi, perjanjian itu tak lebih dari selembar kertas semata. Eddy kembali ingkar janji.

Setelah tiga tahun berlarut-larut, Bank of China angkat tangan. Mereka melimpahkan kasus ini kepada Great Wall Asset Management Co., Ltd., lembaga keuangan negara yang menangani aset-aset bermasalah dari kredit macet bank-bank komersial berpelat merah di China. Kasusnya bahkan diulas dalam laporan utama Legal Daily, majalah Kementerian Hukum Pemerintah Tiongkok, pada edisi Juni 2006.

Pengacara Great Wall Asset Management Zheng Decheng menyebut pengajuan penangguhan penyitaan aset oleh Eddy Tansil adalah “caranya untuk mengakali putusan pengadilan.”

Majalah Legal Daily menulis Eddy Tansil telah memakai semua jenis metode “cerdik” sehingga putusan pengadilan cuma macan kertas: melempem saat proses sita dan lelang aset. Sebaliknya, Great Wall menempuh pelbagai cara buat melawan trik Eddy Tansil. Salah satunya pada 28 September 2005 meminta Pengadilan Tinggi Fujian menunjuk dua kurator untuk menaksir valuasi aset dua pabrik Eddy Tansil di Putian.

Namun, Eddy menolak hasil kurasi itu. Ia berdalih lembaga kurator yang ditunjuk pengadilan tidak memenuhi syarat. Ia menolak taksiran aset yang dinilianya terlalu rendah. Alhasil, penyelesaian kasus kembali buntu.

“Menurutku, dia memang orang yang sangat lihai,” kata Gong Chunqi, Direktur Great Wall Asset Management perwakilan Kota Fuzhou, kepada kami.

Infografik HL Indepth Eddy Tansil
Infografik Jejak Eddy Tansil di Tiongkok. tirto.id/Lugas

Pola Penipuan yang Sama

Kami menemui Gong Chunqi di Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian, pada Desember 2018. Ia menyambut kami dengan ramah, menyuguhkan secangkir teh hijau hangat dan kudapan kue kering di ruangan kerjanya.

Kepada kami, Gong Chunqi berkata Eddy Tansil pandai memainkan jerat kucing dan tikus, mengulur-ulur waktu. “Eddy emoh asetnya kami ambil tapi juga enggan membayar kewajiban utang,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Eddy Tansil adalah pola penipuan untuk mencuri uang negara, sama saat ia melakukannya di Indonesia dengan membobol Bank Pembangunan Indonesia alias Bapindo.

Pada 1991, Eddy Tansil mendapatkan kredit dari Bapindo berkat kedekatannya dengan Sudomo, saat itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, dan Menteri Keuangan J.B. Sumarlin. Berkongsi dengan Tommy Soeharto, kredit itu dipakai buat bikin pabrik petrokimia bernama PT Hamparan Rejeki, anak usaha PT Golden Key Group. Tapi, perusahaan itu cuma akal-akalan. Uangnya masuk ke kantong pribadinya.

Maka, bak balon meledak di udara, negara Indonesia menanggung kerugian 1,3 triliun. Pada 1995, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Eddy Tansil 20 tahun penjara, plus membayar denda Rp30 juta serta uang tebusan Rp500 miliar. Setahun kemudian, ia kabur ke China.


Di Tiongkok, Eddy melakukan pola yang sama.

Zheng Decheng, pengacara Great Wall Asset Management, menerangkan pertama-tama Eddy Tansil mengajukan kredit dalam jumlah besar kepada bank pemerintah. Demi mendapatkan kepercayaan, ia biasa menjual diri sebagai keluarga “diaspora patriotik” yang dicitrakannya sejak akhir 1980-an kepada Tiongkok.

Ia menggunakan pelbagai cara agar uang korporasi dialihkan ke kantong pribadi. Kemudian, perusahaanya pailit dan pemerintah mengakuisisi asetnya. Pola ini dilakukannya saat membangun Fuzhou Golden Key Motorcycle Co., Ltd.

Berdiri pada Oktober 1991, pabrik perakitan motor produksi Jepang dan Taiwan itu ditunjuk pemerintah China sebagai penggerak industri otomotif nasional, memproduksi sekitar 25.000 unit per tahun dan didistribukan ke 29 provinsi. Anehya, sejak 1991 hingga 1999, pabrik itu selalu merugi sekitar 10 juta renminbi per tahun—setara Rp20,3 miliar dengan kurs saat ini.

Data inspeksi tahunan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Tiongkok menemukan dari total investasi Fuzhou Golden Key Motorcycle senilai 119,3 juta renminbi, total pinjaman bank buat mengoperasikan pabrik itu mencapai 113,91 juta renminbi—setara Rp231,4 miliar.

Audit terakhir menemukan total kerugian negara mencapai 720,373 juta renminbi atau sekitar Rp1,5 triliun.

“Pada saat itu, produksi sepeda motor adalah yang paling menguntungkan. Sulit membayangkan Golden Key malah akan merugi,” ujar Zheng Decheng.

Namun, laporan audit itu mengungkapkan, sekalipun terus merugi, uang yang dibawa ke luar negeri oleh Eddy Tansil mencapai 1,12 miliar renminbi atau setara Rp2,3 triliun dengan kurs saat ini. Ketika mendirikan pabrik motor tersebut, Eddy Tansil memakai perantara sebuah perusahaan konsorsium berbasis di Taiwan.

“Ini menunjukkan alasan sebenarnya kerugian perusahaan itu—dia secara ilegal membawa uang perusahaan ke luar negeri,” ujar Decheng.

Hasil penyelidikannya, semua perusahaan yang dikelola oleh Eddy Tansil di Tiongkok terbelit kondisi serupa.

Ihwal itu dibenarkan Xie Deshou, manajer umum Bank of China cabang Fuzhou. “Cara seperti itu digunakan juga oleh dua perusahaan Golden Key yang juga menjadi perhatian terbesar kami,” kata Deshou merujuk pabrik bir dan pabrik kaca Eddy Tansil di Putian.

Golden Spoon Brewery dan Golden Spoon Glass menghabiskan dana operasional lebih dari 2 juta renminbi saban bulan. Karena statusnya aset sitaan negara, pemerintah Tiongkok menanggung biaya tersebut.

Menurut statistik Biro Perpajakan Negara Kota Putian, selain bermasalah secara keuangan, pabrik bir juga menunggak pajak pendapatan hingga 30 juta renminbi (setara Rp61 miliar) sejak kembali berdiri pada 1996 hingga 2003.

Kantor great wall management
Kantor Great Wall Asset Management di Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian, selatan Tiongkok. Kantor ini berurusan dengan aset bermasalah Eddy Tansil. Buron kakap kasus Bapindo ini menilep uang di bank China sedikitnya Rp1 triliun . tirto.id/Apqwam


Menurut Gong Chunqi, cara ini dilakukan Eddy Tansil untuk melakukan penarikan dana terselubung. Begitu perusahaan yang disita itu dilelang, hasilnya akan diprioritaskan untuk membayar tunggakan pajak. Sementara kreditur menerima kompensasi lebih sedikit. Dalam hal ini pajak yang mestinya dibayarkan Eddy Tansil malah ditanggung Bank of China dan Great Wall Asset Management. Pola licin dan licik ini mirip dilakukan Eddy Tansil saat menggasak Bapindo di Indonesia.

Setelah lebih dari empat tahun bersengketa, akhirnya Eddy Tansil menyerah. Pabrik birnya kini diakusisi kompetitornya, Fujian Xuejin Beer Co., Ltd., sementara pabrik kacanya diambil alih oleh Great Wall dan berganti nama menjadi Fujian Great Wall Huaxing Glass Co., Ltd.

Gong Chunqi dari Great Wall perwakilan Kota Fuzhou menyebut masalah Eddy Tansil adalah hal lumrah di China. Perkara utang piutang bisa diselesaikan secara baik-baik. Namun, katanya, Eddy malah memilih jalan yang berbeda.

“Kalau dia mau jujur dan fair dalam berbisnis, kasus seperti ini tak akan ada yang merugi. Kami sih enggak ada masalah karena kami mewakili negara. Tapi, bagi dia, dia tidak dapat keutungan apa pun,” ujar Chunqi, lalu menambahkan, “Apa yang dimilikinya sekarang sudah hanyut tersapu air.”*

=======

Sejak kami meminta keluarga Eddy Tansil untuk mengatur pertemuan dengan sang buron kakap, beberapa pekan kemudian banyak tautan berita, jurnal, dan blog yang menyebut namanya tiba-tiba saja hilang, rusak, atau dihapus. Namun, beberapa di antaranya telah kami simpan. Majalah Legal Daily edisi Juni 2006 yang mengulas kasus Eddy Tansil menipu Bank of China juga secara tiba-tiba hilang di situswebnya. Namun, kliping versi cetak sudah kami simpan. Anda bisa klik di tautan berikut: Laporan halaman satu, laporan dua, dan laporan tiga.

Kami menerima informasi lanjutan mengenai Eddy Tansil maupun buronan koruptor lain, sila kontak email: aqwam@protonmail.ch.

Baca juga artikel terkait EDDY TANSIL atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo & Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo & Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight