Melacak Eddy Tansil (5)

Gurita Bisnis Eddy Tansil di Tiongkok: Raja Bir dari Fujian

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 1 Agustus 2019
Dibaca Normal 6 menit

Di kota kelahirannya Eddy Tansil pernah dijuluki Raja Bir dari Fujian.

tirto.id - Kiprah Eddy Tansil (陈子煌) alias Chen Zihuang/Tan Tjoe Hong sebagai pebisnis Indonesia mentereng di Tiongkok patut diacungi jempol. Dengan kecerdikannya, anak Makassar kelahiran 1954 yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi ini memoles bisnis yang dipimpinnya menjadi gurita raksasa di Fujian.

Gurita bisnis Eddy Tansil di China merentang dari perakitan sepeda motor, peleburan baja, plastik, mebel, pengolahan teh, perkebunan lengkeng, hingga produksi bir dan kaca. Pada 1993, investasi Golden Key Group miliknya di Provinsi Fujian mencapai 600 juta dolar AS. Ini mendapuknya menjadi salah satu perusahaan asing paling jorjoran berinvestasi di Fujian.

Di kawasan pesisir selatan Tiongkok itu Eddy Tansil berupaya menguasai banyak lini, dari bahan baku hingga manufaktur. Misalnya di Fuzhou, ibu kota Fujian, ia memiliki pabrik perakitan sepeda motor bernama Fuzhou Golden Key Motorcycle Co., Ltd.

Berdiri pada Oktober 1991, pabrik perakitan motor produksi Jepang dan Taiwan itu ditunjuk pemerintah China sebagai penggerak industri otomotif nasional, yang didistribusikan ke 29 provinsi. Guna menopang pabrik motor tersebut, Eddy Tansil mendirikan Fuzhou Golden Key Casting Co., Ltd., yang memproduksi alat listrik dan peleburan baja. Ia juga membangun Fuzhou Golden Key Plastic Co., Ltd., serta Fuzhou Golden Key Aclyric Co., Ltd. untuk membuat komponen sepeda motor.

Tak cuma produk manufaktur, bisnis Eddy Tansil merambah ke sektor konsumsi, salah satunya pabrik pengolahan teh bernama Fuzhou Chaosen Tea Co., Ltd., meski kemudian berumur pendek.

Kendati punya banyak bisnis di Fuzhou, nama Eddy Tansil tercium lebih harum di Putian, kota di sebelah timur Fujian tempat asal orangtuanya, lewat pabrik bir dan kaca.


'Raja Bir dari Fujian'

Pada 1983, Eddy Tansil mendirikan pabrik bir 'Cap Kunci' di Bogor, Jawa Barat. Dengan modal awal Rp2 miliar, melalui PT Rimba Subur Sejahtera, ia berkongsi dengan Koesno Achzan Zein, pensiunan mayor jenderal Angkatan Darat.

Pabriknya saat itu bisa dibilang tercanggih di Asia Tenggara. Agar kualitas terjaga, ia menggandeng perusahaan bir asal Jerman bernama Beck’s Beer. Pada November 1986, bir Cap Kunci mulai diproduksi. Tapi, ia gagal total di pasaran. Kalah bersaing dengan pemain lama. Alhasil, pada 1988, pabrik bir itu ditutup.

Tapi, Eddy Tansil tak jera. Semua mesin pembuat bir diboyong Eddy Tansil ke Fujian. Ia mendirikan perusahaan Putian Golden Key Brewery Co., Ltd., berlokasi di daerah industri Xialin, Distrik Chengxiang.

Meski saat itu pemerintah Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok, bagi Eddy Tansil hal itu bukan perkara sulit. Sejak 1981, ia sudah hilir mudik ke China dengan bapaknya, Harry Tansil. Lawatan ini membuatnya kenal dengan para pejabat Partai Komunis Tiongkok, seperti Chen Guagnyi dan Xi Jinping (kelak menjadi Presiden China). Saat itu Fujian tengah berkembang dan memang butuh investasi asing untuk membangun banyak pabrik.

Saat membangun pabrik bir, ia berkongsi dan berbagi saham dengan pemerintah Kabupaten Putian. Lahan seluas 40 hektare yang jadi lokasi pabrik merupakan lahan milik negara.


HL Eddy Tansil 5
Pabrik bir Eddy Tansil di Putian di puncak sukses tahun 1990-an. (Sumber foto: Tim riset Tirto)


Bisnis bir miliknya semakin moncer sejak 1992. Ia kembali menjalin kongsi dengan Beck’s Beer. Bedanya, jika di Indonesia perusahaan bir asal Jerman ini hanya menyokong teknologi dan konsultasi, kali ini Eddy diberi wewenang memegang lisensi produk Beck’s Beer di kawasan Asia-Pasifik. Alhasil, produksinya tak cuma melayani pasar lokal tapi juga internasional.

Untuk menyokong produksi pabrik semakin berkembang, pada 2 Desember 1992 pemerintah Kota Putian dan Golden Key Group (Hong Kong) Co., Ltd., perusahaan induk Golden Key Brewery, menyepakati perjanjian baru tentang perluasan pabrik bir. Produksinya dinaikkan dari 30.000 ton menjadi 200.000 ton per tahun.

Dalam beberapa tahun, Putian Golden Key Brewery menjadi salah satu perusahaan paling bonafide di Fujian. Ia dianugerahi banyak penghargaan dari pemerintah, di antaranya pembayar pajak terbesar di Fujian pada 1995 atau merek minuman beralkohol terbaik di seantero China pada 1998. Pada fase inilah warga setempat mengenal Eddy Tansil sebagai 'Raja Bir dari Fujian'.

HL Eddy Tansil 3
Pabrik bir Eddy Tansil di Putian menjalin kongsi dengan Beck's Beer dan memperluas areal pabrik pada 1992. (Sumber foto: Tim riset Tirto)


Hancur akibat Kredit Macet

Namun, kiprah manis Eddy Tansil dalam bisnis bir mengalami guncangan ketika Beck’s Beer memutus kontrak pada 1999 karena menilai Eddy Tansil bertindak culas dengan mengakali pajak. Sejak itu Putian Golden Key Brewery kembali memproduksi bir dengan merek sendiri seperti “Beide”, ”Beiwang” dan “Benteng emas”.

Sampai 2003, Eddy Tansil mampu bertahan tanpa bergantung pada Beck’s Beer, menjadi pemain tunggal yang menguasai pasar ekspor bir ke Taiwan, negara kepulauan yang dipisahkan oleh selat di sebelah timur Fujian.

Kehancuran bisnis bir Eddy Tansil mulai terasa setelah berurusan kredit macet dengan Bank of China. Kasus ini merembet ke keuangan perusahaan yang menipis. Media lokal memberitakan pabrik bir itu menunggak tagihan listrik hingga 4 juta renminbi atau setara Rp8 miliar pada 2005.

Pada fase itu pula pabrik bir Eddy Tansil digugat hak cipta oleh Anheuser-Busch Brewing, produsen merek Budweiser, di pengadilan. Logo pada kaleng bir produksi Putian Golden Key Brewery terindikasi menjiplak logo Budweiser. Kalah di pengadilan, Eddy Tansil harus menarik seluruh produk bir dan membayar ganti rugi 500 ribu renminbi.

Puncak kehancurannya terjadi pada 2007. Setelah bersengketa selama empat tahun, seluruh aset pabriknya disita negara, dilelang, dan berpindah tangan ke kompetitornya, Fujian Xuejin Beer Co., Ltd., yang dikenal sebagai pemegang merek “Inbev Sedrin”.

Dalam laporan keuangan internal, sejak 1986 hingga 2002, total investasi yang dikucurkan untuk pabrik bir Eddy Tansil mencapai 760 juta renminbi. Jika dikalkulasikan dengan nilai inflasi sekarang, angkanya mencapai 1,150 miliar renminbi atau Rp2,3 triliun.

Kasus kredit macet itu membuat bisnis bir yang dibangun Eddy Tansil itu tak menyisakan apa pun sekarang ini. Tak ada lagi aktivitas produksi saat kami mengunjungi lokasi pabrik bir pada akhir tahun lalu.


Sejak 2010, Inbev Sedrin tidak memakai pabrik itu lagi karena kelewat usang dan lokasinya berada di tengah kota. Sepeninggal Inbev Sedrin, sepertiga area pabrik dirobohkan dan dibangun ulang menjadi Putian Art Museum, yang resmi dibuka pada 30 Oktober 2018. Bila Anda datang ke sana, Anda masih bisa melihat sisa-sisa komponen bekas pabrik seperti pipa besar, tangki raksasa, dan asrama karyawan.

Bagi masyarakat Putian, pabrik ini punya arti tersendiri. Sebagai perusahaan investasi asing pertama yang diperkenalkan oleh pemerintah daerah Putian dan menjadi tulang punggung ekonomi kota pada akhir 1980-an, pabrik bir Eddy Tansil menyerap ribuan lapangan kerja. Ia turut mengubah ekonomi bertani masyarakatnya perlahan menuju ekonomi berbasis industri.

HL Eddy Tansil 1
Pabrik bir Eddy Tansil kini menjadi Putian Art Museum. Tirto/Huang Waq Wam


Putian yang semula kampung kusam dan gersang kini menjadi sebuah kota modern—sebagaimana cita-cita Deng Xioping, 'Bapak Reformasi China', yang mendorong “haluan China ke arah pasar bebas” pada 1980-an. Wajah Kota Putian benderang dan resik, mengalahkan kawasan elite Sudirman sekalipun.

Sebagai tanda bahwa pabrik bir itu telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat setempat, sebuah plakat di pintu masuk museum tertulis: “The old baker distillery is a collective memory for a geneartion and the Tan of the area replaces the color of the beer in people's lives, allowing this rare memory to continue.”

‘The Tan’ yang dimaksud adalah marga ‘Tan’ dari keluarga Eddy Tansil—marga yang sangat umum di kalangan keluarga Tionghoa di Indonesia yang moyangnya berasal dari China selatan.

Infografik HL Indepth Eddy Tansil
Infografik Gurita Bisnis Eddy Tansil. tirto.id/Lugas


Bos Pabrik Kaca

Selain menjadi ‘Raja Bir dari Fujian’, Eddy Tansil membangun pabrik botol kaca berskala besar di Putian, persis bersamaan saat ia mendirikan pabrik bir di Bogor pada 1980-an.

Bernama Putian Golden Key Glass Co., Ltd., pabrik kaca ini disambut hangat oleh pemerintah setempat, bahkan peletakan batu pertamanya pada 28 September 1986 dihadiri oleh Jia Qinglin, orang nomor satu di Fujian. Kelak, pada dekade 90-an hingga 2000-an, Jia Qinglin menjadi anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok di Beijing.

Dana investasi awal untuk membangun pabrik ini mencapai 150 juta renminbi, yang jika dikalkukasikan dengan nilai sekarang setara Rp600 miliar. Pabrik kaca inilah yang menyuplai botol kaca bagi pabrik bir di Bogor dan Putian.

Seiring waktu, pabrik botol kaca ini menjadi perusahaan besar di Fujian, bahkan pernah didapuk pabrik botol kaca terbesar di China pada awal 1990-an.

Produksinya tak cuma untuk melayani merek sendiri yang berkongsi dengan Beck’s Beer, tapi dipakai oleh merek bir kompetitor seperti Blue Ribbon, Budweiser, Huiquan, Shanghai Suntory, dan Xuejin.


HL Eddy Tansil 6
Pabrik kaca Eddy Tansil kini ganti kepemilikan dan ganti nama, berlokasi di dekat pusa Kota Putian. Tirto/Chen Bi Yo


Ketika Eddy Tansil terjerat kredit macet dengan Bank of China pada 2003, aset pabrik kaca disita oleh negara. Pada 2007, seluruh aset dilelang dan pabrik pindah kepemilikan dan berganti nama Fujian Great Wall Huaxing Glass Co., Ltd. Pabrik ini berlokasi di dekat pusat Kota Putian, menyempil di antara ruko-ruko.

Sampai kini pabrik masih beroperasi. Namun, tak ada lagi karyawan lama Eddy Tansil yang bisa ditanyai saat kami datang ke sana pada akhir tahun lalu.

“Manajemen baru memilih untuk memecat semua karyawan lama, jadi tidak ada lagi yang bisa bercerita banyak soal tuan Chen Zihuang," ucap seorang satpam pabrik menyebut nama Eddy Tansil.

Setelah pabrik di Putian disita, Eddy Tansil berupaya membuka pabrik kaca di tempat lain. Pada 5 Maret 2006, sebuah berita lokal menyebut Eddy Tansil melobi Wang Tie, Wali Kota Xinyang, kota industri di Provinsi Henan, sebelah selatan Beijing.

Dalam kliping berita itu diilaporkan Putian Golden Key Group akan berinvestasi di Xinyang untuk membangun pabrik kaca. Dana pembangunannya senilai 90 juta renminbi diambil dari pinjaman bank milik pemerintah lokal, yakni Xinyang Bank dan Xinyang Construction Bank.

Pada 27 September 2008, Eddy terdeteksi berada di Fucheng, kabupaten di Hengshui, selatan Provinsi Hebei. Ia dan pemerintah setempat sepakat membangun pabrik kaca dengan kapasitas produksi 160.000 ton per tahun. Proses penandatanganannya berlangsung di Balai Kota dan dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Partai Komunis Provinsi Hebei Jing Chunhua, Wali Kota Hengshui Gao Hongzhi, dan Wakil Wali Kota Dai Guohu.

Namun, dari hasil penelusuran kami, dua proyek pembangunan pabrik kaca itu wacana belaka dan tak pernah terealisasi.

Baca juga artikel terkait EDDY TANSIL atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Arbi Sumandoyo
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight