Mochtar Riady: Jejaknya dari Bank ke Bank Hingga Proyek Meikarta

Oleh: Petrik Matanasi - 17 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Proyek Meikarta di bawah naungan Lippo Group sedang menjadi sorotan terkait kasus dugaan korupsi. Nama besar Lippo tak terlepas dari sosok Mochtar Riady.
tirto.id - Lie Moe Tie kecil sering terpesona dengan gedung-gedung megah bergaya Eropa saat pergi sekolah. Ia juga tersengsem dengan orang-orang berpakaian parlente yang bekerja di dalamnya. Belakangan ia tahu gedung megah itu adalah: bank.

Ia pun berangan-berangan ingin bekerja di bank tapi keinginan itu tak langsung kesampaian. Saat umur Lie sudah 20-an tahun, ia malah jadi pengelola toko milik mertuanya, di Jember, Jawa Timur. Namun, mimpinya bekerja di bank masih belum kandas.

Demi mimpinya, Lie meninggalkan hidup sebagai pengelola toko milik mertua. Lie memilih hijrah ke Jakarta. Namun, kesempatan menjadi pegawai bank tak langsung datang, dan ia memilih berbisnis di Jakarta. Namun, melakukan kegiatan bisnis di zaman demokrasi liberal (1950-1959) bukan hal mudah bagi para keturunan Tionghoa.

Orang Tionghoa tak dapat kemudahan Program Benteng yang sangat memanjakan pengusaha pribumi. Lie tetap memutuskan untuk berbisnis sepeda, sambil terus menjaga asa bekerja sebagai orang kantoran di bank.

Pada 1959, ia berkenalan dengan Andi Gappa—abang kandung dari Andi Muhamad Jusuf yang jadi menteri di zaman Sukarno dan Panglima ABRI di zaman Soeharto. Andi Gappa sang pemilik Bank Kemakmuran itu mengajak Lie bergabung sebagai mitra usaha. Mimpi Lie akhirnya kesampaian, Lie yang dikenal sebagai sosok Mochtar Riady, taipan pendiri Lippo Group ini akhirnya memulai petualangan di dunia perbankan.

“Ketika itu, aset bank tersebut sekitar US$ 3 juta dan modal kerja sekitar US$100 ribu. Syarat menjadi mitra baru harus menyuntik modal segar US$ 200 ribu untuk mengusai 66 persen saham,” kata Mochtar dalam memoarnya Manusia Ide (2016:39).

Mochtar langsung menyambut kesempatan itu, tapi ada syarat dari Mochtar yaitu agar bank ini diaudit terlebih dahulu oleh lembaga berwenang.

Ia lalu menghubungi kolega-kolega Tionghoanya, demi berharap ada kerja sama. Posisi Mochtar dipercaya sebagai presiden direktur Bank Kemakmuran. Ia merasa masih buta soal laporan keuangan kala itu. Namun, ia berusaha tetap percaya diri dan mencoba meyakinkan bawahannya bahwa dirinya mengusai masalah keuangan. Mochtar diam-diam belajar bagaimana membaca laporan keuangan.

Bekas Kepala Keuangan Bank Great Eastern Yang Ting Liu—yang ahli keuangan dan ekspor impor—ditarik menjadi asisten Mochtar untuk urusan administrasi dan keuangan. Mochtar merasa harus paham akuntansi karena posisinya sebagai presiden direktur. Ia belajar dari Gotama, Kepala Akuntan Standart Chartered Bank. Ia butuh setahun untuk benar-benar paham caranya mengurus bank, hingga kemudian Bank Kemakmuran pun jadi bank terpandang di Jakarta.

“Di Bank Kemakmuran, saya banyak mendapat pelajaran dan pengalaman sehingga bisa mengenal sifat manusia yang umumnya serakah dan egoistik,” aku Mochtar dalam memoarnya (2016:41-43).

Di dunia bank tak semudah yang ia bayangkan. Mochar punya pengalaman-pengalaman menarik yang perlahan menambah jam terbangnya. Mochtar punya pengalaman merasa risih dengan komisaris muda yang punya kebiasaan dugem dan kerap meloloskan kredit nasabah yang tidak memenuhi syarat hingga jadi penyebab kredit macet.

Sementara itu, komisaris dari kalangan tua suka memanfaatkan fasilitas dan kekuasaan untuk menerima dana deposito juga memberi kredit untuk kepentingan pribadi. Mochtar pun memilih mengundurkan diri dari Bank Kemakmuran karena merasa tidak berhasil menegur komisaris-komisaris.

Pelajaran dari Bank Kemakmuran membuatnya berpikir “harus berusaha mencari partner yang berprilaku baik sekaligus memiliki modal yang lebih kuat untuk bergabung membangun bank baru.”

Mochtar lalu bermitra dengan Lim Tek Chang; Oey Guan Chang, Tan Kang Su, dan Tan Song Kie. Kesemua mitra dikenal sebagai pedagang komoditas hasil bumi. Para mitra barunya yang membuat badan PT dan tugas Mochtar mencari bank yang hendak mereka akuisisi. Saat itu kebetulan kawannya yang bernama Ma Zhong, pemilik Bank Buana sedang merugi karena menajemen yang tidak beres. Bank Buana diakuisisi Mochtar dan para mitranya.

Bank Buana itu mulai beroperasikan pada 1963. Mochtar mulai melakukan perbaikan dari yang paling kecil, antara lain memoles desain buku giro dan formulir agar lebih menarik. Ia juga berani menggelontorkan uang untuk kepentingan promosi bank barunya. Mochtar juga berani menawarkan bunga deposito lebih tinggi dan bunga kredit lebih rendah dibandingkan bank-bank lain.

Bank Buana bekerja sama dengan Bank Dagang Negara di bidang transaksi devisa dan impor-ekspor. Bank Buana tak hanya ada di Jakarta, tapi juga di Manado, Medan, Jambi, Pekanbaru, Lampung, Makassar, Malang, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Di tangan Mochtar dan kawan-kawannya, Bank Buana akhirnya tumbuh sehat.


Mochtar mengaku, “dalam kurun waktu 1962-1965, Bank Buana telah berada di peringkat enam besar diantara bank-bank di Indonesia. Ketika krisis perbankan antara 1965-1966, Bank Buana termasuk bank yang selamat." Manusia Ide (2016:46)

Berkebalikan dengan Bank Buana, Bank Kemakmuran yang ditinggalkan Mochtar malah bernasib suram kena krisis. Akhirnya Bank Kemakmuran diambilalih oleh Mochtar. "Tak hanya Bank Kemakmuran dan Bank Buana saya yang dipegangnya di masa krisis, tapi juga Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI) dan Bank Industri Jaya Indonesia."

Belakangan, pada 1971, Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI), Bank Industri Jaya Indonesia dan Bank Kemakmuran dimerger menjadi satu bank baru. Bank itu pun dinamai: Pan Indonesia Bank—yang belakangan dikenal sebagai Panin Bank.

Menurut Joe Studwell dalam Asian Godfather: Menguak Takbir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa (2017:315), Bank Panin dikuasai keluarga istri dari Mochtar Riady. Semula Bank Buana juga hendak dimasukkan, tapi pemegang sahamnya enggan merelakan. Nasib Bank Buana sendiri setelah era Soeharto lengser dibeli oleh bank asal Singapura, United Overseas Bank International, dan menjadi UOB Indonesia.

Di masa Orde Baru, Mochtar sudah punya reputasi besar di bidang perbankan. Ia sempat didekati Liem Sioe Liong untuk urusan bisnis. Liem dan Mochtar pernah satu pesawat ke Hong Kong pada pertengahan 1970-an. Kala itu Liem sudah punya dua bank: bank Windu Kencana dan Bank Central Asia (BCA). Reputasi dua bank itu sebelum pertengahan 1970-an masih biasa-biasa saja.


Infografik Mochtar riady


Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016:215) mencatat: “lingkaran kecil perbankan Jakarta waktu itu dilanda rumor bahwa Mochtar sedang merencanakan untuk berpisah dengan saudara iparnya (yang juga sepupunya), pemilik mayoritas Panin Bank.”

Sehingga Liem pun memberi tawaran kepada Mochtar. “Anda mau membesarkan bank saya?” tanya Liem. Mochtar pun langsung berminat. Namun pembicaraan soal bisnis kedua taipan itu sempat tertunda. Keduanya melanjutkannya lagi sewaktu pulang ke Indonesia dari Hong Kong.

Di antara pilihan Bank Windu dan BCA, Mochtar tanpa ragu memilih BCA karena tak ada keluarga Liem di BCA. Pada 1975 BCA punya aset US$1 juta dengan 27 karyawan. Bagi Mochtar, dibanding Panin, BCA lebih punya potensi lebih untuk dikembangkan. Mochtar juga yakin nama Liem adalah jaminan di masa orde baru itu. Belakangan, BCA memang dikenal sebagai salah satu bank swasta nasional yang terbesar.

Setelah membesarkan BCA, Mochtar Riady keluar baik-baik dari BCA pada 1991. Mochtar keluar BCA tanpa tangan kosong, ia sudah membangun Lippo Bank pada 1989 yang merupakan gabungan dari Bank Perniagaan Indonesia (BPI) yang dibeli Mochtar Riady pada 1981, dan Bank Umum Asia.

Tonggak penting dari bisnis Mochtar adalah Bank Lippo, dari sinilah Mochtar banyak memiliki aset sitaan nasabah berupa lahan antara lain di Karawaci, Tangerang, yang berikutnya menjadi jantung bisnis Mochtar yaitu properti dengan bendera Lippo Group. Bisnis properti Lippo dimulai dengan PT Tunggal Reksakencana—menjadi cikal-bakal Lippo Karawaci.

Kini Lippo dikenal dikenal juga mengembangkan mal-mal. Dua tahun terakhir, Lippo juga mengembangkan kawasan kota mandiri hunian vertikal yang disebut Kota Meikarta di Kabupaten Bekasi, di bawah kendali putranya Mochtar, James Riady. Di dunia pendidikan Lippo mendirikan sekolah dan universitas Pelita Harapan di Tangerang, sekolah Dian Harapan dan Univeristas M Chung di Malang. Di bidang kesehatan, Lippo mengembangkan rumah sakit Siloam.


Selain Mochtar yang jadi orang penting di Lippo Group, putranya, James Riady dan Stephen Riady juga mengikuti jejak sang ayah yang menjadi taipan. Forbes, mencatat pada 2017, Mochtar masuk daftar nomor ke-9 sebagai orang terkaya di Indonesia.

Baca juga artikel terkait KASUS SUAP MEIKARTA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra