Sudomo, Tentara Nyentrik Pemberi Katebelece untuk Eddy Tansil

Ilustrasi: Sudomo dan Eddy Tansil. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 31 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Nama Sudomo dikaitkan dengan kasus Eddy Tansil karena Sudomo yang memberikan surat referensi.
Jika ada menteri Orde Baru yang dikenal nyentrik, Sudomo adalah salah satunya. Ketika kasus Eddy Tansil mencuat ke permukaan, Sudomo ikut terseret pula. Saat itu, Mantan Pangkopkamtib (Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) ini menjabat sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung, yang sering diplesetkan sebagai Dewan Pensiunan Agung). Ketika kasus Eddy Tansil “dimeja-hijaukan”, Sudomo menjadi salah satu saksinya.

Menurut Julius Pour dalam Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan (1997: 392), terbawa-bawa dalam kasus itu karena memberikan katebelece (surat referensi) kepada Eddy hingga dengan mudah mendapat kredit Rp1,3 triliun dari Bapindo. Tak hanya Sudomo saja, salah satu putera Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, yang jadi rekan bisnis Eddy Tansil, juga disebut-sebut dalam kasus itu.

“Saya kenal Tansil, waktu itu saya masih Menteri Tenaga Kerja (Menakerr) periode 1983-1988. Waktu itu memang diperkenalkan kepada saya oleh kakaknya. Namanya Hendra (Rahardja),” aku Sudomo seperti dimuat dalam buku Megaskandal: Drama Pembobolan dan Kolusi Bapindo (1994:286).

Sudomo dapat cerita jika Eddy punya pabrik botol dan sepeda motor di Republik Rakyat Cina (RRC). Kepada Hakim, Sudomo mengaku bahwa dirinya membujuk Eddy agar mengalihkan bisnisnya ke Indonesia, khususnya di bidang petrokimia. Eddy pun berjanji akan penuhi rayuan Sudomo itu.


Karena itu pula, Sudomo mau memberi katebelece kepada Eddy untuk meminjam kredit di Bapindo pada 1989. Saat itu Sudomo tidak lagi jadi Menaker, melainkan sudah jadi Menteri Koordinator Politik Keamanan (Menko Polkam).

Hubungan mereka berdua dekat. Saking dekatnya, Eddy memanggil Sudomo dengan panggilan Papi. Ketika kasusnya terkuak, Sudomo seolah pasang badan. Dia bilang, "Jangan takut, ia tak akan lari. Kalaupun itu terjadi, saya yang akan menangkap dia.”

Sayang, Sudomo salah besar, pun tak menepati janjinya.

Eddy akhirnya kabur pada 13 Mei 1996. Hingga Orde Baru tumbang dan Sudomo tidak menjadi apa-apa lagi, dia tak pernah bisa menangkap Eddy. Bahkan pada 1996, ketika banyak media "menagih" Sudomo soal kaburnya Eddy, dia tidak memberi jawaban tegas dan seolah cuci tangan.

“Itu kan dulu. Sebelumnya kan belum pernah kabur,” kata Sudomo seperti dimuat di majalah Tiras No. 17 yang terbit pada 13 Mei 1996.

Ketika ditanya lagi soal tanggung jawab sebagai orang yang menjamin bahwa Eddy Tansil tak akan kabur, Sudomo hanya mengelak.

"Lho, kok tanggungjawab? Itu kan Menteri Kehakiman yang harus bertanggungjawab," elaknya sembari menuding kementerian yang mengurus lapas, termasuk Lapas Cipinang, tempat Eddy dipenjara dan akhirnya kabur.

Satu Nama, Berbagai Julukan

Selain Harmoko yang sering dipelesetkan namanya menjadi Hari-hari Omong Kosong, Sudomo termasuk menteri Orde Baru yang dapat banyak olokan dan julukan dari masyarakat. Namun mereka berdua bukan tipe orang yang mudah tersinggung soal singkatan-singkatan lucu itu.

Nama Sudomo kerap dikaitkan dengan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Bagi yang belum pernah dengar istilah ini, SDSB merupakan lotere nasional yang legal dan punya izin dari Departemen Sosial. SDSB adalah pengganti Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB) dan Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB). Lotere nasional ala SDSB riwayatnya berakhir pada 1993, ketika Soeharto memilih mesra dengan umat Islam.

Nama kupon itu lantas dipelesetkan menjadi Sudomo Datang, Semua Beres. Maklum, di zaman Orde Baru, Soeharto memang mengandalkan Sudomo sebagai pemberes masalah. Singkatan SDSB, belakangan juga dikaitkan dengan Soeharto, dengan berbunyi: Soeharto Dalang Segala Bencana. Nama lotere itu kemudian juga diplesetkan menjadi Sisca Datang, Sudomo Bahagia; dan Sisca Datang, Sudomo Bertekuk Lutut.




Sisca yang dimaksud adalah Fransisca Diah Widowati, mantan model asal Yogyakarta yang dinikahi Sudomo pada 1990. Ketika menikah, usia Sisca 31 tahun dan Sudomo sudah 63 tahun. Perkawinan kedua ini tidak awet. Julius Pour (1997:401) mencatat Sudomo minta cerai pada 1994. Istri pertama Sudomo juga bernama depan Fransisca. Lengkapnya Fransisca Piay, biasa disapa Ciska, berdarah Minahasa.

Jika Sisca mantan model, maka menurut catatan Marthias Dusky Pandoe dalam A Nan Takana (Apa yang Teringat): Memoar Seorang Wartawan (2001:132), Ciska pernah ikut kontes ratu kecantikan orang-orang Minahasa, Ratu Kawanua di Jakarta. Pada 1961, Sudomo menikahi Ciska, dan pindah menjadi pemeluk agama Kristen Protestan.

Menurut catatan Julius Pour, Ciska minta cerai pada 1980. Perkawinan itu memberikan empat orang anak bagi Sudomo. Dari Sisca, Sudomo tak punya anak. Mengatasi gelombang lautan, bahkan kehidupan, Sudomo tergolong mampu, bahkan ahli. Namun gelombang dalam rumah tangga tidak mudah baginya.

Meski biduk rumah tangganya pernah dua kali karam, Sudomo tak jera dan sempat menikahi Aty Kusumawaty pada 1998. Sebelum menikahi Aty, Sudomo kembali jadi pemeluk Islam pada 1997. Sudomo pernah mengaku menyesal karena “murtad selama 36 tahun.” Menanggapi pernikahan ketiga yang dia lakukan ketika sudah berusia 72 tahun, Sudomo memilih bercanda.

"Dari perut ke atas, saya memang Pepabri, tapi dari perut ke bawah saya masih Akabri.”

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight